
Jared mengecangkan dasinya yang berwarna biru tua, dia tampak sangat tampan bahkan hanya menggunakan kemeja putih dan dasi itu, Aurora lalu mendatangi anaknya, melihat wajah yang tampak begitu gagah malam ini. Dia lalu mencoba merapikan kemeja yang digunakan oleh Jared.
Jared memperhatikan wajah ibunya, melihat ke arah kelopak matanya yang walaupun sudah ditutupi oleh riasan tipis, masih terlihat jejak kesedihan dan juga sedikit kekusaman tanda ibunya mungkin menangis tadi pagi. Jared tahu walaupun tampak begitu tegar namun sebenarnya wanita yang terus menyungingkan senyuman manis ini begitu rapuh.
"Aku tidak menyangka sebentar lagi kau akan punya keluargamu sendiri," kata Aurora dengan suara sedikit bergetar, mencoba mengusap kedua bagian dada anaknya, seperti yang sering dilakukannya pada Jofan.
Jared melihat itu sedikit tersenyum tipis, membuat Aurora menatap ke arahnya.
"Kau merindukannya Bi?" tanya Jared yang tahu benar bahwa tatapan sedih itu bukan karenanya. Aurora memalingkan matanya, terlalu susah ternyata untuk menutupi kesedihan hatinya.
"Hanya belum terbiasa, mungkin sebentar lagi Bibi akan terbiasa," kata Aurora dengan senyuman manis menenangkan, padahal dia yang butuh ditenangkan.
"Bibi boleh marah atau menangis, Bibi juga boleh berbicara padaku," kata Jared lagi memandang bibinya, tahu benar bibinya ini selalu memendam perasaan sedihnya, menangis ditengah malam hanya agar orang-orang tak tahu dia sedang menangis.
"Sudahlah ini bukan waktunya membahas tentang Bibi, ini adalah waktumu," kata Aurora lagi.
"Aku hanya berharap dia ada di sini malam ini, bagaimana pun ini adalah salah satu cita-citanya," kata Jared lagi sambil mencoba membenarkan ujung dari kemejanya.
"Jika dia di sini dia pasti sangat bangga padamu," kata Aurora lagi pada Jared, tersenyum kecut, sekecut hatinya sekarang.
"Aku yang menyuruhnya untuk pergi," kata Jared pada Aurora yang sedang memegang jas yang akan digunakan oleh Jared nantinya, mendengar perkataan Jared itu Aurora terdiam, Jared melirik ke arah ibunya, "sesaat sebelum Bibi sadar, dia datang untuk melihat Bibi, aku sangat marah padanya karena sudah meninggalkan Bibi disaat Bibi begitu membutuhkannya, aku sangat kecewa padanya, aku tidak mengerti kenapa dia harus memilih anaknya dari pada kita, jadi saat dia datang, aku menyuruhnya pergi, aku juga mengatakan untuk jangan kembali, maafkan aku Bi, mungkin karena kata-kataku, dia tak kembali lagi," kata Jared yang merasa bersalah melihat bibinya begitu tersiksa tanpa pamannya, dia kira bibinya akan lebih bahagia tanpa ada pamannya yang terus menyiksa batin bibinya, ternyata dia salah, yang bibinya butuhkan adalah pamannya.
Aurora kembali terdiam, dia tampak kosong menatap lurus entah kemana, mendengar hal itu hanya sebenarnya sakit, mengingatkannya pada rasa sakitnya tadi pagi.
__ADS_1
"Sudahlah, itu bukan salahmu, jika dia ingin tinggal, dia pasti akan tinggal, jangan bersedih, Bibi akan baik-baik saja, apalagi ada kalian di sini, ehm … dimana Jenny? bukannya dia mengatakan akan datang bersama Bibi Susan dan suaminya, kita masih butuh pria yang akan menyampaikan pinangan ini, kenapa lama sekali, sebentar lagi mereka akan selesai makan malam," kata Aurora melihat ke arah jam tangannya.
Namun tak lama setelah itu pintu kamar Jared terdengar diketuk dari luar.
"Nah, itu mereka datang, Bibi akan membukannya, bersiap-siaplah, jangan gugup, kau terlihat sangat tampan," kata Aurora dengan senyuman sumringah pada anaknya, Aurora dengan langkah cepat segera berjalan menuju pintu, dan segera membuka pintu itu, namun senyumannya langsung hilang, wajahnya tampak kaget melihat sosok yang ada di depan pintu itu, dia segera mengerutkan dahinya, Liam? Kenapa dia ada di sini.
"Bibi," kata Jenny yang ada di samping Liam, dia lansung memeluk bibinya dan mencium pipinya.
"Jenny, ada apa ini? mana bibi Susan dan paman Hendrick?" tanya Aurora bingung, kenapa malah Liam yang datang?
"Oh, iya, bibi Susan dan paman Hendrick tiba-tiba harus mengurusi Jhonson, karena itu mereka meminta maaf dan meminta Paman Liam untuk menggantikan mereka, tidak apa-apa kan? Yang penting ada pria dewasa yang mewakili keluarga kita bukan?" tanya Jenny yang menjelaskan dengan senyuman merekah, sangat senang sudah bisa membawa Liam ke sini.
"Aku sudah mencoba meneleponmu 1 hari ini, namun kau sama sekali tidak mengangkat telepon dariku, karena itu aku tidak bisa memberitahumu, Susan yang menyuruhku mengantikannya," kata Liam masih berdiri di luar kamar Jared.
"Eh?" kata Aurora bingung harus apa, kalau dia menolak dimana lagi dia mencari orang untuk menjadi mewakili keluarga mereka, tapi dia merasa Liam bukanlah orang yang tepat.
"Sudah Bibi, Paman ayo masuk, aku ingin melihat kakak," kata Jenny riang sekali.
"Bolehkah?" tanya Liam dengan senyuman tipisnya meminta izin pada Aurora, Aurora yang melihat itu tidak mungkin mengatakan tidak, jadi dia hanya tersenyum, tidak mengiyakan tidak juga menolak. Liam mengembangkan senyumnya lebih lebar, dia langsung masuk ke dalam kamar Jared.
"Wah, kau sangat tampan kakak, aku jadi iri, kenapa aku jadi kembaranmu, kalau tidak aku akan menikah denganmu," ucap Jenny asal melihat kakaknya yang sudah gagah dengan jasnya.
"Selamat akan pertunanganmu malam ini," kata Liam dengan senyuman saat hendak masuk ke dalam kamar utama Jared, Jared yang melihat Liam sedikit kaget hingga mengerutkan dahinya, namun dia segera tersenyum menyambut Liam, Jared lalu melihat adiknya yang bertingkah riang, ini pasti akal-akalan Jenny lagi untuk bibinya.
"Terima kasih Paman," kata Jared.
__ADS_1
"Ehm, Liam akan menggantikan paman Hendrick untuk mewakili keluarga kita, mereka sedang ada halangan," kata Aurora menjelaskan, senyumnya sedikit terlihat terpaksa.
"Oh, baiklah, sekali lagi terima kasih Paman," kata Jared yang tak tahu harus bagaimana lagi, mau tak mau dia harus menerima Liam.
"Jenny, kau harus mengganti bajumu, gaunmu sudah Bibi siapkan di kamarmu, " kata Aurora yang melihat Jenny masih menggunakan baju kasualnya.
"Bibi, ayo bantu aku," kata Jenny mengambil tangan Aurora, merengek manja.
"Jenny, kau sudah besar, masa bibi harus memakaikan baju untukmu," kata Jared memandang adiknya yang manja.
"Biar saja, memangnya kenapa? Bibi, bantu aku agar terlihat cantik," kata Jenny lagi tidak mau kalah, padahal umur Jared dan Jenny sama, lahir pun bersama, namun sifatnya benar-benar berbeda.
"Tidak apa-apa, Bibi akan membantu Jenny sebentar, kau bersiap-siaplah," kata Aurora dengan suara keibuan, langsung pergi karena Jenny sudah menarik tangan ibunya ini.
Jared dan Liam sedikit merasa canggung karena ditinggal berdua begini, Liam hanya memperhatikan Jared yang sibuk kembali membenarkan jasnya yang sebenarnya sudah rapi.
"Gugup?" tanya Liam mencoba mencairkan susana.
"Pasti," kata Jared dengan senyuman tipisnya.
"Aku tahu kau pasti juga kaget melihat aku yang menjadi pengganti keluargamu, aku yakin kau juga berharap pamanmu yang melakukannya, aku tidak bermaksud apa-apa, aku datang bukan karena Aurora, aku datang karena kalian, dan percayalah aku hanya ingin menolong, aku tidak akan mendekati bibimu, " kata Liam lagi melihat ke arah Jared dengan senyuman ciri khasnya yang tampak sangat menawan.
"Tidak apa, tentang bibi aku tidak akan memaksa, jika memang nantinya dia menyukai paman, aku pasti akan terus mendukungnya, tapi jika dia tak suka, aku harap paman jangan memaksanya, dia sudah terlalu banyak tersakiti, aku hanya ingin dia bahagia," kata Jared pada Liam perlahan.
"Baiklah, aku tak akan melakukan hal itu, walaupun bukan dengan bibi kalian, anggap saja aku salah satu paman kalian," kata Liam berdiri di depan Jared, mencoba membenarkan kancing lengan kemeja Jared yang dari tadi berusaha dia benarkan, Jared diam saja melihat kelakuan Liam, Liam lalu memengang kedua bahu Jared, lalu mengusapnya.
"Jangan gugup, bagaimanapun mereka akan menerimamu," kata Liam dengan senyuman kebapakkan, seolah seorang ayah yang sedang memberikan nasehat sebelum acara pernikahan. Jared mengulum senyumnya, seharusnya pamannya lah yang melakukan ini padanya, apakah dia tahu dia akan bertunagan dengan Suri? Seharusnya dialah orang yang paling senang saat ini.
"Terima kasih Paman," kata Jared lagi, memberikan senyuman manis yang terasa asam baginya, Liam kembali tersenyum sambil menepuk bahu Jared, Jared menerimanya dengan senang, dalam hatinya ternyata dia juga merindukan sosok pamannya itu.
__ADS_1