
"Ada apa? " tanya Aurora yang tahu Ceyasa mengamati wajahnya.
"Aku tidak pernah tahu wajah ibuku," kata Ceyasa menatap Aurora lekat-lekat, Aurora yang menatap pandangan sayu dari Ceyasa itu hanya tersenyum tipis.
"Apa kau ingin tahu bagaimana wajah ibumu? Ibu bisa meminta fotonya dari ayahmu, ibu rasa dia masih menyimpannya," kata Aurora lembut, tak ada kecemburuan yang terpancar. Ceyasa hanya diam memperhatikan wajah Aurora, dia sudah tahu cerita bagaimana rumitnya percintaan ayahnya, Jared menceritakannya di sela-sela menunggu di rumah sakit waktu itu, baik ibunya dan Aurora adalah wanita yang sangat tangguh, mereka begitu mencintai prianya, dan Ceyasa sangat yakin ibunya sudah menyerahkan pria yang dia cintai pada wanita yang tepat, wanita yang tegar menanti prianya untuk bisa mencintainya, jika Ceyasa menjadi salah satu dari mereka, mungkin Ceyasa tak akan sanggup.
"Tidak, aku tidak ingin melihatnya, biarkan menjadi kejutan di alam sana nantinya, saat ini, di sini biarkan aku hanya tahu satu wajah ibuku, biarkan aku tahu ibu adalah ibuku," kata Ceyasa menatap mata Aurora yang bergerak-gerak menatap wajah anaknya, perkataan Ceyasa menyentuh sanubari Aurora, membuat matanya terlihat berkaca.
"Dan ibu benar-benar bersyukur memiliki kau sebagai anak ibu, kemarilah," kata Aurora merentangkan sedikit tangannya, Ceyasa langsung membenamkan diri dalam pelukan ibunya, menghirup wangi menenangkan, seumur hidupnya dia belum pernah merasakan punya seorang ibu, ternyata rasanya begitu menyenangkan, hangat dan sangat tentram.
Aurora mengelus rambut Ceyasa yang sudah menangis di pelukan Aurora, Ceyasa sekarang begitu sensitif hingga menjadi sangat emosional di seluruh keadaan, jika dia kesal rasanya ingin menangis hingga dia bahagia pun dia menangis, mendengar tangis kecil Ceyasa, Aurora pun terpancing, air mata itu terkumpul di sudut matanya, mungkin orang-orang menganggap hidupnya sia-sia, namun baginya perjalanannya dalam hidup ini benar-benar indah, mempunyai anak-anak yang begitu baik, apalagi anugrah paling baik dari Tuhan yang bisa dia minta?
Jofan hanya diam, melihat ke arah dua orang wanita yang sangat penting dalam hidupnya kini, berpelukan dengan hangat, dia tak ingin mengakhiri momen ini namun ada yang harus dia katakan pada Aurora.
"Ehem, maafkan aku harus mengganggu kalian," suara Jofan membuat Aurora dan Ceyasa mengurai pelukan mereka, menatap sumber suara yang mulai mendekati mereka, baik Aurora maupun Ceyasa memberikan senyuman manisnya untuk menyambut Jofan.
"Bagaimana keadaanmu?" kata Jofan pada putrinya.
"Aku baik Ayah," kata Ceyasa.
"Ayah boleh meminjam ibumu sebentar? " kata Jofan melirik Aurora.
"Tentu, ayah boleh meminjam ibu terus," kata Ceyasa terdengar cukup manja.
"Haha, baiklah, beristirahatlah, ayah dan calon ayah mertuamu sudah sepakat untuk pernikahan kalian, minggu depan kita akan melakukan pernikahan itu, tapi apa kau yakin bisa melakukannya?" tanya Jofan sedikit khawatir di akhirnya.
"Aku rasa aku akan baik-baik saja," kata Ceyasa melirik ayahnya lalu berpindah pada ibunya.
__ADS_1
"Ya, lagi pula Archie meminta untuk pernikahan yang sederhana saja, dia juga meminta upacara kerajaan yang tidak terlalu mewah mengingat kondisimu sekarang," kata Aurora.
"Ya, itu tidak apa-apa, pesta bisa dilakukan kapan saja bukan? yang penting janji sucinya," kata Ceyasa tersenyum.
"Benar, ibu, ayah dan yang lain akan mengurus semuanya, jadi tak perlu dipikirkan terlalu stress, kau hanya tinggal memikirkan ingin memakai gaun yang bagaimana?" kata Aurora menggenggam hangat tangan Ceyasa.
"Aku tidak pernah berpikir ingin menggunakan gaun apa saat menikah, bagaimana jika ibu yang memilihkannya untukku, aku yakin itu akan sangat cantik," kata Ceyasa.
"Baiklah, nanti ibu akan mencarikan yang cocok untukmu, setelah itu kita akan lihat apakah kau suka atau tidak, " kata Aurora dengan suara keibuan yang membuat semua nyaman, dia segera berdiri di samping Jofan.
"Ya, ayah ingin bicara dengan ibumu dulu, beristirahatlah, jika butuh sesuatu kau bisa katakan pada ayah, "kata Jofan.
"Haha, baiklah, aku serasa anak kecil sekarang," ujar Ceyasa sumringah di perlakukan seperti itu oleh ayahnya, ternyata seperti ini rasanya punya keluarga.
Jofan hanya mengulas senyumnya, dia segera melangkah keluar meninggalkan Ceyasa yang kembali memulai untuk memakan rotinya yang tertunda tadi.
Jofan meletakkan tangannya di pingang kecil Aurora, Aurora melirik ke arah Jofan, selalu saja punya wajah yang begitu menggoda, melihat itu Aurora tersenyum kecil.
"Tidak, apa yang ingin kau katakan padaku?" kata Aurora menyudahi senyumannya.
"Katakan dulu apa yang ada di dalam pikiranmu tadi, baru aku akan mengatakannya," kata Jofan mencoba menggoda istrinya.
"Haruskah?"
"Ya, kalau tidak aku akan diam terus."
"Baiklah, aku hanya suka melihat wajahmu, terlihat sangat menawan.”
__ADS_1
"Benarkah? apa masih sama dengan 18 tahun yang lalu?" goda Jofan lagi pada Aurora.
"Ehm … sepertinya sedikit berubah.”
"Ya, aku tahu aku bertambah tua, tidak bisa memungkirinya," kata Jofan sambil sedikit bernada kecewa.
"Bukan, dulu kau orang yang sangat serius setiap kali berhadapan denganku, kau ingat saat kau menyatakan setuju menikah denganku, aku hampir ketakutan saat kau mendekatiku," kata Aurora teringat bagaimana malam itu Jofan mengajaknya ke kamarnya dan mengatakan hal yang bisa dia bayangkan akan di katakan oleh calon suaminya padanya.
"Yah, maafkan soal itu, aku masih terlalu tersesat saat itu," kata Jofan.
"Tidak perlu minta maaf, aku rasa semua hal yang terlewati, sangat pantas untuk mendapatkan kebahagian seperti saat ini," kata Aurora lagi, Jofan terdiam sesaat, lalu dia tersenyum manis.
"Aku selalu kehabisan kata-kata jika bersamamu," kata Jofan mengiring Aurora ke ruang tengah istana itu, Jofan memberikan gestur agar Aurora duduk, Jofan pun duduk di sampingnya, begitu duduk wajah Jofan langsung tampak serius.
"Aurora, aku sudah memikirkan sesuatu," kata Jofan.
"Tentang apa?" kata Aurora yang ikut serius meliaht Jofan seperti itu.
"Tentang Siena, Aku rasa dia tidak bersalah, dia hanya terkena hasutan dan aku merasa hidupnya dari kecil hingga sekarang penuh dengan penderitan, padahal ayahnya adalah orang yang sangat berjasa bagiku, semenjak ayahnya meninggal dia harus kehilangan ibunya juga, dia di kirim ke panti asuhan dan mendapatkan pelecehan di sana, setelah keluar dia salah jalan dan harus mendekam di penjara karena berusaha membunuhmu dan aku," kata Jofan melirik ke arah Aurora, bagaimanapun Siena sudah sempat mewarnai hidup Jofan dan Aurora, walaupun sejenak dan dengan kesan tak baik, tapi hati Jofan cukup terketuk karena gadis itu.
"Benarkah? dia mengalami semua itu? " kata Aurora tak percaya, pantas saja di setiap kali Aurora melihat Siena selalu ada kesedihan tersimpan di matanya, dulu Aurora kira itu karena masalah keluarga mereka, tapi ternyata masalahnya lebih parah dari pada yang dia bayangkan.
"Benar, dia mengalami penyiksaan dan juga pelecahan, aku hanya ingin bertanya padamu, bolehkah aku untuk mencabut tuntutan terhadapnya, mungkin akan memberikannya fasilitas agar bisa hidup dengan lebih layak, aku merasa dia hanya salah jalan," kata Jofan pada Aurora, mata Jofan memandang Aurora dengan serius.
"Tentu, semua orang pantas mendapatkan kesempatan kedua, aku pun yakin dia bisa berubah nantinya, sayang sekali jika gadis cantik sepertinya harus menghabisakan masa muda di dalam penjara, lagi pula nantinya dia pasti tetap akan menaruh dendam pada kita, hal itu akan memunculkan masalah baru nantinya," kata Aurora.
"Baiklah, kalau begitu aku akan menemuinya di penjara hari ini, aku ingin melihat bagaimana keadaannya dan sikapnya sekarang untuk melihat dengan jelas apakah kita bisa mencabut tuntutan ini padanya," kata Jofan.
__ADS_1
"Bolehkah aku ikut?" tanya Aurora berharap pada suaminya.
Jofan berpikir sejenak, dia mengulas senyum lalu segera mengangguk memperbolehkan Aurora untuk ikut.