Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
329 - Wanita yang penuh percaya diri.


__ADS_3

Jenny menjejakkan kakinya keluar dari mobil sedan Maserati Grand Carbio berwarna marun yang baru saja dia dapatkan dari pamannya, dengan segala pesona yang di punya, rambutnya yang hitam sedikit bersemu kecoklatan dibiarkannya berombak besar jatuh di bahu kecilnya yang terlihat sangat mulus, dandanan yang natural namun juga menawan, sebuah kaca mata berwarna coklat menghiasi matanya, gaun dengan tali satu yang tipis berkerah V sedikit rendah mengekspose bagian atasnya yang terlihat menggoda namun tak berlebihan, tampak seksi namun sekaligus elegan, gaya khas Jenny yang membuat setiap pria akan terpesona namun juga langsung tahu bahwa dia wanita yang berkelas.


 


 


Dia menutup pintu yang dia kendarainya sendiri, dia sudah belajar untuk mengendarai mobil sendiri, wanita modern yang tidak bisa mengendarai mobil, rasanya akan sangat ketinggalan zaman, karena itu semenjak bibinya mengalami kecelakaan  karena kebakaran itu, dia bertekat untuk bisa mengendarai mobilnya sendiri, dan untungnya dia cepat belajar dan dia hari ini harus pergi keluar untuk sekedar mengisi waktu kosongnya, tinggal di istana sendirian, sungguh tak enak, kakaknya harus mengurus istrinya yang sakit, keluarganya juga sepertinya punya urusan masing-masing yang menurut Jenny bukanlah urusannya, karena itu dia putuskan untuk sekedar berjalan-jalan di kota, apa lagi yang bisa dia lakukan, lagi pula  dia mendapat undangan dari Anxel, anak perdana menteri yang dia kenal sebelum, Anxel mengajaknya pergi untuk makan siang di sebuah restoran mewah bergaya eropa kuno.


 


 


Jenny masuk berjalan dengan sangat anggun, gaun berwarna silver dengan aksen rumbai yang mewah itu bergoyang bersamaan dengan langkahnya, dia lalu masuk ke dalam restoran yang tampak sangat mewah itu, sebuah lagu klasik terdengar mengalun lembut menyambutnya. Seorang pria berbaju rapi mendatanginya.


 


"Tuan Anxel Bernando," kata Jenny melepaskan kaca mata coklat besar dari matanya, membuat pria yang dia tanya tadi sedikit terkesima.


"Ehm, Tuan Anxel Bernando, beliau menunggu Anda di bagian taman tengah, silakan saya akan mengantar Anda, " kata pria itu yang mencoba berbicara sesopan mungkin, tahu bahwa Jenny pasti bukan wanita sembarangan.


"Oh, baiklah," kata Jenny lagi, dia segera berjalan, pria yang dia ajak bicara tadi menuntunnya mengarah ke sebuah pintu yang tak sembarang orang bisa membukanya, pintu itu dbukakan, udara hangat segera menerpa kulitnya yang halus seputih salju, matanya kembali sedikit silau dengan cahaya matahari, dia mengedarkannya ke sekeliling hingga menemukan sosok seorang pria yang duduk tenang sambil minum teh di ujung taman itu, di bawah sebuah pohon rindang dengan bangku taman yang tampak indah.

__ADS_1


 


Jenny melangkahkan sepatu hak tingginya ke arah pria itu, wajahnya sedikit dinaikannya, sebuah hal yang selalu Jenny lakukan, menunjukkan begitu percaya dirinya dia.


 


Anxel yang tadinya sedang fokus dengan ponselnya pun segera teralihkan, melihat wanita yang berjalan menujunya, bahkan sebelum dia sampai di dekatnya, semerbak bau bunga yang tercium manis namun juga lembut di terbangkan angin yang terasa sepoi menerpa wajahanya, Anxel menaikkan sedikit sudut bibirnya.


 


Wanita itu cantik, cantik sekali,  namun baginya wanita cantik bukan lah hal yang harus dihebohkan, hampir seluruh wanita yang dia kenal adalah wanita cantik yang punya keunikan masing-masing, tidak, Anxel bukan tipe cowok yang suka dengan hal itu, dia hanya akan berhubungan dengan wanita yang menurutnya menarik perhatiannya, sayangnya, dia tidak mudah untuk bisa tertarik dengan wanita.


 


"Baik," kata Anxel seadanya saja, jika saja ayahnya tidak mengatakan bahwa Jenny adalah calon terbaik untuknya, dia tidak akan mengajaknya makan seperti ini, Jenny adalah anak dari Mantan Presiden, Kakeknya adalah mantan pedana Meteri, Paman dari ibunya adalah Presiden saat ini, jadi menikah dengannya merupakan hal yang paling mudah untuk mengantarkannya masuk ke kursi pemerintahan, cita-cita keluarganya Anxel dapat menjadi seorang presiden tentunya.


 


"Di sini panas sekali, kenapa kau tidak memesan tempat di dalam saja?" kata Jenny terasa terganggu karena udaranya, kenapa Anxel memilih tempat seperti ini?


"Aku tak suka dingin, lagi pula seluruh tempat ini sudah aku booking, aku tidak suka keramaian, tak akan menyenangkan berbicara di tempat yang hiruk pikuk," kata Anxel tersenyum manis, Jenny hanya mengangguk kecil dengan wajah malas, pria seperti Anxel, dia tahu pria ini mendekatinya karena status keluarganya, sudah sangat terlihat sekali.

__ADS_1


"Ada apa kau mengajakku makan?" tanya Jenny dengan sikap acuhnya, Pelayan datang membawakan buku menu.


"Pesanlah dulu," kata Anxel tetap tak berubah posisi, bersandar santai di tempat duduknya.


Jenny memilih Soda Strawberry Mint Majito dan Charbroiled Kobe Filet Steak, setelah dia memesan, pelayan segera pergi meninggalkan mereka, Jenny menatap Anxel, pria dengan wajah yang tak terlalu menawan, karena menurut Jenny, dia sudah sering melihat pria-pria yang tentunya punya wajah lebih menawan dari pada Anxel, postur tubuhnya pun tidak ada yang terlalu menarik, namun juga bukan berarti Anxel buruk rupa, dia hanya terlalu standar bagi seorang Jenny, Jenny ingin berdekatan dengan dia apalagi kalau bukan karena statusnya sekarang, seorang anak pedana menteri, jika pamannya tahu, dia juga pasti sangat mendukung hubungan ini.


 


"Aku tidak punya maksud apa-apa, aku hanya ingin mengajakmu makan," kata Anxel, kali ini menegakkan tubuhnya, sedikit terlihat lebih serius menatap Jenny.


"Oh, begitu kah? Kau atau ayahmu?" tanya Jenny dengan senyuman yang terlihat di buat-buat, sangat mudah tertebak.


"Kau ternyata cukup pintar, tak seperti wanita cantik yang biasa aku kenal," kata Anxel lagi sedikit menaikan sudut bibirnya, mengaduk tehnya perlahan.


"Kau terlalu gugup bertemu denganku, atau itu caramu menunjukkan bahwa kau terpaksa ada di sini?" tanya Jenny menatap gerak gerik Anxel, Anxel menaikkan satu alisnya melirik Jenny yang tampak mengamatinya.


"Apa maksudmu?" tanya Anxel kembali memundurkan tubuhnya, perkataan Jenny cukup menarik minatnya untuk tahu.


"Kau mengaduk tehmu, padahal itu bukanlah teh yang berasa, kenapa? tak ada satu pun kantung gula yang tersobek, bahkan gula cairnya juga penuh, lagi pula aku sudah melihatmu meminum teh itu, jika gula itu belum tercampur dengan baik, pasti kau sudah mengaduknya dari tadi, setelah kau mencicipi teh itu," kata Jenny memberikan analisanya, Anxel sedikit terdiam, dia lalu memandang wajah Jenny yang selalu penuh percaya diri, gadis ini … menarik.


Jenny menaikkan sedikit sudut bibirnya, lalu dia menegakkan tubuhnya, sedikit memutar wajahnya mengamati seluruh bangunan bergaya eropa kuno bercat putih gading yang tampak begitu memanjakan mata, mengelilingi teman tengah ini, namun matanya tiba-tiba berhenti memperhatikan sosok yang berdiri melihatnya di sudut gedung tua itu, dia membesarkan matanya, mencoba untuk sekali lagi melihat lebih jelas, namun pria di sana bergeming, memandangnya sambil memengang minumannya. Pria dengan wajah yang tak mungkin dilupakan oleh Jenny,  Jonathan?

__ADS_1


__ADS_2