
Jofan terdiam, hasil tes itu menyatakan bahwa Siena adalah anak kandungnya dan Sania, Jofan menatap ke arah Jared, memandang Jared dengan sangat tajam.
"Mau berapa kali kalian melakukan tes DNA padaku? kalian masih butuh? Apa kalian masih ingin darahku lagi? bukannya sudah cukup aku melakukan tes DNA saat Ayah menemukan ku dulu? Kalau kalian tidak ingin mengakui aku sebagai keluarga kalian, kalian tidak perlu melakukan hal itu, Aku saja yang pergi dari sini!" kata Siena dengan penuh kebencian, menatap ayahnya, dari matanya menyatakan dia sudah tak tahan lagi ada di sana, Siena segera berjalan menuju ke arah lift.
"Siena!" panggil Jofan sambil menyerahkan berkas tes DNA itu dengan kasar pada Jared. Jofan segera mengejar anaknya.
Bersamaan dengan itu,
"Tuan! keadaan Nyonya Aurora memburuk!" ujar seseorang perawat yang keluar dari pintu khusus memberitahukan keadaaan Aurora di dalam sana.
Semua orang terdiam, Jofan dan Siena yang mendengar itu pun segera terhenti, Liam yang mendengarkan hal itu segera berjalan ke arah ruangan itu dengan wajah yang sangat khawatir, tak peduli dengan drama keluarga ini.
__ADS_1
Jared dan Jenny kembali melempar pandang pada pamannya, Siena yang berhenti sejenak segera melanjutkan langkahnya, suara sepatu hak tinggi Siena membuat perhatian Jofan jatuh padanya.
Jofan bingung harus apa, di sisi lain dia harus mengejar anaknya, di seberang sana ada wanita yang dia cintai sedang berjuang hidupnya, saat ini dia benar-benar bingung harus apa? dia melihat ke arah Siena yang sudah masuk ke dalam lift dan mulai menutup.
"Paman," lirik Jared dengan tatapan berharap, membuat Jofan memindahkan padangannya pada Jared, ini bisa jadi adalah momen terakhir bibinya, bibinya sudah berjuang untuk pamannya selama ini, menahan pedih, menahan sedih, menangis hingga lelah, hanya demi mengemis cinta pria yang selama ini memandangnya sebelah mata, namun dia tetap berhatan, Jika Jared bisa, dia akan memohon, bahkan berlutut agar pamannya tetap tinggal sekarang, memberikan sedikit semangat untuk bibinya, walaupun hanya sebatas kebohongan, pasti bibinya akan begitu senang jika tahu pria yang begitu dia cintai ini ada di sampingnya.
Jofan hanya menatap wajah Jared, sebuah pilihan yang benar-benar susah baginya, anak atau wanita yang di cintainnya, Aurora punya semua orang yang dia cintai di sini, namun anaknya, dia tak punya siapa-siapa lagi selain dirinya, lagi pula dia sudah berjanji akan melindungi anaknya selamanya.
"Paman!" teriak Jenny yang tak menyangka, pamannya lebih memilih Siena dari pada bibinya yang sedang meregang nyawa di dalam sana. Jared dan Jenny tak habis pikir dengan pamannya, Pamannya memang tak punya hati. Suri di sana hanya bisa terdiam, tak tahu harus bagaimana?
Jared memandang pamannya dengan tatapan marah yang tajam, melihat wajah pamannya yang perlahan tertutup oleh pintu lift, tangan Jared mengepal sangat kuat, menahan emosi yang sangat dalam pada pamannya, dia tidak akan pernah bisa memaafkan pamannya lagi.
__ADS_1
"Jared, Jenny," panggil Liam yang membuat Jared dan Jenny juga segera sadar, dan mereka segera masuk ke dalam ruangan itu.
Jared segera melihat ke dalam ruangan itu, melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana bibinya ditangani, Jenny melihat itu segera menangis, meratap di depan kaca pembatas, sedangkan Jared hanya terdiam, memengengam tangannya dengan erat, Suri yang melihat ke arah tangan Jared itu tahu bagaimana pria itu menahan segala emosinya, dia segera mengenggam tangan Jared yang mengepal, membuat Jared yang tadinya hanya menatap tajam ke dalam ruangan itu, mengalihkan perhatiannya pada Suri, Suri hanya memandang dengan tatapan simpati, membuat bahu Jared yang dari tadi terangkat menegang, sedikit turun.
"Bibi akan baik-baik saja, dia akan membaik," ujar Suri mencoba menenangkan Jared.
"Ya, dia harus, aku yakin itu," kata Jared lagi, dia berharap dengan sangat pada Tuhan agar Tuhan jangan mengambil bibinya sekarang, dia berhak untuk bahagia, apapun yang terjadi, dia berhak untuk bahagia,
Tolong jangan ambil salah satu malaikatmu ini terlalu cepat, kami masih membutuhkannya,
kata Jared dalam hatinya sambil memegang kaca pembatas mereka, tak lagi tahan membendung perasaannya, air mata lolos dari pipinya, jatuh hingga ke lantai.
__ADS_1