
"Selamat pagi Paman dan Bibi," suara riang Jenny mengisi seluruh ruangan, dengan wajahnya yang cantik dan ceria dia masuk, di tangannya terdapat sebaquet bunga lili putih yang tampak indah. Di belakangnya Jared terlihat berdiri, memberikan salam penuh pada bibi dan pamannya yang berkumpul di sana.
"Wah, Jenny dan Jared juga datang? Bangkitlwh Jared," Bella tampak sedikit terkejut dengan ketangannya.
"Iya, Bibi, bagaimana keadaanmu?" tanya Jenny begitu sumringah, mendekat ke arah Bella, sedangkan Jared mununggu di dekat pintu.
Suri sedikit gugup melihat Jared, masih teringat apa yang mereka lakukan terakhir kali, namun Jared seolah bergeming, diam saja, dan tak sedikitpun menatap ke arah Suri, seolah tak pernah ada sesuatu dengan mereka. Entah kenapa Suri malah merasa tak enak dengan keadaan ini.
"Baik, kalian tidak perlu repot-repot seperti ini, hari ini juga aku akan pulang," ujar Bella yang lagi-lagi bersikukuh dia ingin pulang hari ini.
"Tidak apa-apa Bi, aku dan kakak hanya sekalian mampir ke sini, kami tak bisa lama, paman menyuruh kami untuk menemuinya di rumahnya, ada hal penting yang ingin dia katakan pada kami," ujar Jenny yang sangat luwes mengatakan kata-kata itu.
"Oh, begitukah, apakah paman dan bibimu baik-baik saja? aku sangat jarang melihat mereka sekarang," tanya Bella yang ingat sudah lama tak bertemu Aurora.
"Ya, baik-baik saja, bibi sepertinya sibuk mendekorasi rumah kami, jadi maaf jika mereka jarang berkumpul lagi," ujar Jenny, senyum cantiknya itu mengingatkan Bella pada ibunya.
"Baiklah, terima kasih sudah mengunjungi bibi, " ujar Bella.
"Cepat sembuh ya, Bi, sekali lagi kami minta maaf, tapi kami harus segera bertemu paman dan bibi, kami izin pergi dulu ya Paman dan Bibi, " ujar Jenny sekali lagi dengan wajah sungkan, hanya bisa singgah sebentar di sana. Jenny mundur beberapa langkah agar bisa berdiri di samping kakaknya yang hanya diam saja dari tadi.
"Baiklah, kirimkan salam kami pada pamanmu," ujar Angga dengan suara berat sedikit serak, tak pernah meninggalkan kewibawannya.
"Akan kami sampaikan," Jawab Jared membalas, dia memberikan hormat lalu membukakan pintu untuk Jenny, Jenny yang sekilas melihat ke arah William, lalu membuang mukanya, William yang melihat itu hanya mengerutkan dahi, apa masalah wanita itu padanya? Membuat William menjadi penasaran.
Jared sekali lagi memberikan salam sebelum menutup pintunya, ternyata tak hanya Suri yang terperangkap pesona Jared yang walaupun diam saja dari tadi disana benar-benar bisa membuat perhatian tertuju padanya, bahkan Nakesha setuju, pria itu begitu punya pesona.
__ADS_1
"Anak itu, bahkan diam saja menggoda, jika saja aku punya anak perempuan, aku pasti akan menjodohkannya pada Jared," ujar Nakesha geleng-geleng kepala, dia memang tidak bisa menyimpan apapun di dalam pikirannya, membuat Suri dari tadi larut dengan pikirannya menjadi tersadar, sebegitu menggodanya kah Jared?
"Ibu!" tegur William pada Nakesha, tak bersyukurkah dia memiliki anak setampan William?
"Oh, ibu juga senang memiliki anak laki-laki, ibu hanya berandai, siapa wanita yang tidak tertarik dengan pria seperti Jared, tinggi, tampan, tatapannya meluluhkan, dan jika dia bisa romantis, maka dia sangat sempurna, wanita buta yang akan menolak dan mematahkan hatinya," ujar Nakesha lagi, untunglah suaminya bukan orang yang pecemburu, jadi Daihan hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
Suri mendengar hal itu seperti tertampar sesuatu, perasaannya sungguh tak enak, beberapa minggu ini Jared lah yang ada di sampingnya, menghiburnya, terkadang malah melakukan hal yang tak semestinya dia lakukan, entah kenapa Suri merasa dia menjadi sangat jahat, ketika Archie pulang, dia sama sekali tidak ingat sedikit pun pada Jared.
Suri tiba-tiba berdiri, membuat seisi ruangan sedikit kaget, Nakesha yang ada di sampingnya sampai tidak bisa menutupi wajah terkejutnya.
"Permisi Ma, Pa, Paman, Bibi, aku harus keluar dulu," ujar Suri buru-buru, menambah rasa bingung dan kaget semua orang di sana.
"Suri?" teriak Bella namun Suri sudah buru-buru keluar dari pergi dari sana, meninggalkan orang-orang yang ada di dalam ruangan saling melempar tatapan.
Suri tak mengambil waktu lama, dia segera mengejar ke arah Jared pergi, dan untungnya dia masih bisa mengejar Jared di ujung lorong itu, sebelum dia keluar dari rumah sakit.
"Jared!" teriak kecil Suri yang berhasil membuat Jared dan Jenny berhenti, Jenny yang melihat Suri mengerutkan dahinya, wajahnya tampak tak suka, dia langsung melipat kedua tangannya di depan dadanya, mau apa wanita ini? pikir Jenny yang dari dulu memang tidak menyukai Suri.
Jared melihat ke arah Suri, dari wajahnya tampak sedikit terkejut, tidak menyangka bahwa Suri mengejarnya, namun wajah terkejut itu diubahnya dengan wajah bertanya.
"Ada apa mencari kakakku?" ketus Jenny pada Suri
"Aku ingin berbicara sebentar denganmu, bisakah?" tanya Suri yang tak peduli nada bicara Jenny, dia hanya memandang Jared, membuat Jenny semakin kesal.
"Tidak! kami …. " ujar Jenny langsung dengan nada marah, namun belum selesai dia bicara Jared segera memotong pembicaraan adiknya.
__ADS_1
"Jenny, tunggulah sebentar di mobil, aku akan segera ke sana," kata Jared lembut walaupun nada bicara adiknya begitu ketus.
"Tapi kakak!" ujar Jenny kesal melihat kelakukan kakaknya yang malah lebih memilih Suri.
"Sebentar saja, tunggulah di mobil," ujar Jared lagi, kelakukannya pada wanita memang tak pernah semena-mena, Suri bisa melihat bagaimana dengan sabar Jared meladeni adiknya yang manja ini, pantas saja dia bisa meladeni Suri dengan sangat baik. Jenny menghentakkan kakinya, menatap sinis pada Suri, namun mau tak mau dia mengikuti kakaknya ini, meninggalkan mereka dan segera pergi ke mobil mereka.
Jared melihat kepergian adiknya sejenak, lalu matanya yang tajam namun juga lembut itu menatap ke arah Suri, tak ada senyuman hangat biasanya, hanya wajah datar yang menyambut.
"Ada apa?" tanya Jared, nadanya masih terdengar cukup bersahabat.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," kata Suri lagi.
"Tentang dirimu dan Archie? aku sudah tahu dia sudah pulang, kau tidak perlu mengatakan apapun, tak perlu sungkan tentang apa yang sudah aku lakukan sebelumnya," kata Jared sedikit senyuman manis mengembang, namun malah menusuk hati Suri, Jared memasukkan tangannya ke kedua sakunya, menunjukkan sikap bertahannya.
"Kau sudah tahu?" tanya Suri.
"Ya, tenang saja, aku masih sama seperti yang aku katakan padamu, aku tidak suka memaksa, aku juga sudah katakan, jika akhirnya kau kembali padanya, itu adalah pilihanmu, tak perlu sungkan, aku melakukannya tanpa pamrih, tapi jika kau butuh orang untuk menangis, ingat aku akan selalu ada untukmu, mungkin hanya itu yang bisa aku lakukan padamu," ujar Jared terdengar sangat ringan, seolah hal itu memang seperti biasa saja baginya, namun bagi Suri, malah hal ini yang membuat hatinya semakin berat.
"Aku sudah berjanji pada kedua orang tuaku untuk tidak menemuinya lagi," ujar Suri terdengar lemah, kesuraman dan kesedihan terlihat jelas di matanya. Jared menaikkan sedikit sudut bibirnya.
"Temui dan katakan itu padaku jika nantinya kau sudah berjanji namun bukan karena terpaksa, aku akan ada di sana menunggu mu," ujar Jared lagi mengelus kepala Suri sedikit, seperti seorang kakak yang menenangkan adik kecilnya.
Mendengar itu Suri langsung menatap Jared, senyum Jared yang tipis kembali menusuk hatinya, Jared mengulum senyumnya kembali, lalu segera pergi meninggalkan Suri yang hanya bisa terdiam menatap punggung Jared yang perlahan pergi dan menghilang di balik pintu.
Apakah sekarang dia jadi gadis buta itu?
__ADS_1