Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
242 - Apa kau marah padaku?


__ADS_3

Semua orang bersorak ketika pengantin meninggalkan tempat pestanya, Archie dan Ceyasa masih menunggu di tempat itu sejenak, menemani sejenak tamu-tamu undangan yang sebagian besar masih menunggu di sana.


"Apa kita sudah boleh pulang," kata Ceyasa yang kakinya sudah pegal memakai sepatu hak tinggi.


"Sebentar lagi, memangnya kenapa?" tanya Archie melihat wajah istrinya tak nyaman.


"Kakiku sakit dan aku haus, aku tidak pernah minum minuman itu, rasanya bersoda dan aneh," kata Ceyasa jujur saja, membuat Archie langsung tertawa kecil mendengarnya, baru kali ini dia mendengar wanita begitu jujur, Ceyasa memang tak pernah meminum chanpange sebelumnya, baginya dia tak menyukai minuman itu, terlalu mewah untuk lidahnya.


"Baiklah, duduk saja dulu, aku akan meminta izin untuk pulang pada paman dan juga nenek, juga mengambilkan minuman untukmu," kata Archie lagi.


"Baiklah, aku boleh membuka sepatu ini kan?" tanya Ceyasa yang rasanya sepatu itu menggigit kakinya, Archie kembali tertawa kecil.


"Baiklah, lakukan sesukamu," kata Archie lagi.


"Ok," kata Ceyasa dengan senyuman senang, dia langsung duduk di salah satu kursi yang ada di dekatnya, melepaskan sepatu hak tinggi yang tingginya hampir 10 cm, di sesuaikan agar tingginya bisa mengimbangi Archie, tapi karena tidak terbiasa, betisnya rasanya tegang seluruhnya, membuat Ceyasa harus memijat kakinya.


"Nona, Apakah Anda kesakitan?" suara pria terdengar lembut, Ceyasa langsung kaget mendengar suara asing itu, belum selesai dia kaget, Ceyasa bertambah kaget melihat pria itu segera berjongkok di depannya, mensejajarkan tubuhnya agar dia bisa melihat kaki Ceyasa, Ceyasa langsung gelagapan.


"Oh, tidak, tidak apa-apa, aku tidak apa-apa," kata Ceyasa yang tidak tahu siapa pria yang ada di depannya ini, tiba-tiba saja begini, Ceyasa langsung menutup kakinya dengan gaunnya.

__ADS_1


"Biarkan aku menolongmu, aku seorang dokter," kata pria itu melihat ke arah Ceyasa yang tampak begitu manis, pria itu juga tersenyum begitu lembut dan manis, dari wajahnya terlihat usianya tak jauh beda dengan Archie.


"Bukan, aduh, aku seharusnya tidak boleh berbicara dengan Anda, Maafkan aku, aku harus pergi," kata Ceyasa yang buru-buru kembali memakai sepatu hak tingginya itu, namun pria itu terus saja melihat ke arah Ceyasa, terlalu terpukau.


"Kenapa?" kata pria itu yang tampak melihat Ceyasa tergesa-gesa, Ceyasa melirik sebentar pria itu, dia jadi kesal, kalau anggota kerajaan melihat dia sedang begini, bisa-bisa mereka berpikir yang tidak – tidak, apa lagi jika yang melihat adalah Archie, bisa gawat.


Archie berjalan menuju tempat Ceyasa, dia memutuskan untuk mengambil minuman untuk Ceyasa dahulu setelahnya baru meminta izin untuk pulang, tidak ingin membuat Ceyasa menunggunya lama, namun baru saja dia mengambil air mineral untuk Ceyasa, matanya langsung melihat hal yang tak mengenakkan, seorang pria tiba-tiba ada di depan Ceyasa, Ceyasa tampak gugup, hal itu langsung membuat Archie panas, bagaimana ada yang mendekati Ceyasa, padahal Archie meninggalkannya belum juga semenit.


Dengan langkah cepat dia segera berjalan menunju pria itu, Ceyasa tampak sedang menggunakan sepatunya, sepertinya ingin pergi dari pria itu, wajahnya pun tampak sungkan.


"Ehem!" suara deheman Archie terdengar keras membuat Ceyasa dan pria itu langsung sadar akan kedatangannya, wajah Archie tampak sangat tidak enak di lihat, pria itu langsung melihat ke arah Archie dan berdiri.


"Aku tidak perduli kau siapa, tapi jangan pernah lagi mendekati wanitaku," kata Archie memperingatkan pria itu dengan nada bicara yang cukup membuat orang ketakutan.


"Oh, maafkan aku, aku tak tahu dia adalah wanita Anda, dan juga dia tampak kesakitan," kata pria itu dengan senyuman yang tampak tenang, seolah tak takut dengan ancaman Archie, dia tak perlu takut, dia adalah anak pedana menteri yang sekarang, jika bisa dibilang, Archie dan dia sama kedudukannya.


Archie yang melihat gaya arogan pria itu semakin tersulut emosinya, dia pria yang sangat gampang untuk cemburu, melihat pria mendekati Ceyasa apalagi mencoba untuk menggodanya dengan menunjukkan perhatiannya, tentu Archie langsung tersulut dan terbakar, sialnya pria ini seolah tidak takut akan ancamannya.


"Aku peringatkan kau sekali lagi jangan mendekati dia," kata Archie yang langsung meremas botol air mineral itu hingga airnya keluar dari tempatnya, hal itu membuat Ceyasa kaget, Archie benar-benar menyeramkan saat dia marah, tapi pria itu hanya memandangi Archie saja, terlihat tenang saja.

__ADS_1


Archie lalu menarik tangan Ceyasa yang sedang duduk, tentu hal itu membuat Ceyasa kaget, dan dengan langkah yang cepat Archie menarik Ceyasa pergi dari sana, Ceyasa yang ditarik dengan sangat kasar itu hanya mencoba untuk bisa berjalan dengan baik, apalagi kakinya masih sakit dan gaunnya ini benar-benar merepotkannya.


"Pangeran, Anda harus menjaga emosi Anda, tak kasihankah Anda dengan wanita Anda sekarang," kata Anxel dengan nada tenang, dia tak punya maksud untuk menggoda Ceyasa, hanya saja dia melihat Ceyasa yang tampak kesakitan, nalurinya sebagai dokter memanggilnya, dia baru menyadari manisnya Ceyasa sesudahnya.


Archie berhenti, dia melihat pria itu lagi dengan penuh kebencian, Archie lalu melihat Ceyasa yang meringis kesakitan, bukan hanya karena kakinya, tapi juga pengangan tangan Archie yang sangat ketat, melihat wajah kesakitan Ceyasa, Archie merasa sedikit kasihan.


"Kita pergi," kata Archie yang tak tahan, bisa-bisa nanti dia akan menghajar pria itu, namun dia masih ingat seluruh keluarganya ada di sana, jika dia melakukannya, akan sangat memalukan bagi keluarganya.


"Iya," kata Ceyasa lagi yang tahu bagaimana keadaan Archie.


Archie kembali menarik Ceyasa namun kali ini lebih lembut setelah meminta izin pada keluarganya, dia langsung membawa Ceyasa menuju mobil mereka, dia lalu membukakan pintu untuk Ceyasa baru dia masuk ke dalam mobil itu dengan wajah yang masih tidak enak di lihat.


"Jalan," kata Archie dengan suaranya yang tampak tak bersahabat, mobil itu segera berjalan dengan cepat.


Suasana perjalanan itu hening, tidak ada yang saling berbicara awalnya, Ceyasa menatap Archie yang hanya melihat ke arah depan, Archie menyandarkan dirinya di jok mobil, wajahnya begitu diam. Ceyasa sudah ingin bertanya beberapa kali, namun melihat wajah Archie yang sangat ketat itu Ceyasa berulang kali pula harus mengurungkan niatnya.


"Kau marah padaku?" tanya Ceyasa yang akhirnya sudah tidak tahan melihat wajah Archie yang benar-benar tak enak dilihat itu.


"Menurutmu?" tanya Archie balik tampa melihat ke arah Ceyasa.

__ADS_1


__ADS_2