
Jared tampak membenarkan jas resmi kerajaan pertamanya, untunglah ukurannya tak jauh beda dengan Archie hingga dia bisa menggunakannya, Jenny duduk di salah satu sofa di ruangan yang sengaja di sediakan untuk mereka di taman itu, wajahnya cemberut.
"Kenapa wajahmu seperti itu?" kata Jared yang melihat adiknya sudah siap dengan gaun berwarna peachnya.
"Kenapa sih harus buru-buru menikah begini? Bukannya seharusnya ini pesta pertunaganmu?" kata Jenny yang tak menyangka kakaknya akan melepas masa lajangnya begitu cepat, dari dulu dia yang selalu bergonta ganti pacar, tapi malah kakaknya yang menikah duluan.
"Memangnya kenapa, toh akhirnya kakakmu juga harus menikah juga, jika kau sudah menemukan orang yang tepat, kau akan cepat-cepat ingin bersama dengannya," kata Aurora yang masuk ke dalam ruangan itu ingin sekali lagi melihat bagaimana penampilan putranya yang tampak begitu gagah.
Aurora tampak mengamati wajah Jared, tak mengerti kenapa semua harus mendadak seperti ini, tapi sebagai ibu, dia hanya bisa menerima walaupun Jared tak ingin menjelaskan apa alasannya, dia hanya mengatakan tak ingin terlalu lama menikahi Suri, itu saja.
Jared memandangi bibinya yang sudah tampak begitu anggun dengan gaunnya, dia tidak bisa mengatakan apa sebenarnya alasannya melakukan hal ini, jika bibinya tahu, bibinya pasti merasa sangat tertekan dan sedih mengetahui bahwa putranya ini akan menikah dengan wanita yang bisa dibilang hidupnya dalam masa kritis, tidak Jared tidak bisa lagi menambah kesedihan bibinya ini.
Pada Jenny pun begitu, jika adiknya tahu alasannya yang sebenarnya, dia pasti akan marah dan malah merusak segalanya, jadi Jared memutuskan untuk diam saja, menyimpan semua beban itu sendiri untuknya.
"Tampan sekali, " kata Aurora melihat anaknya.
"Aku selalu ingin mengucapkan ini, tapi aku tak pernah bisa mengucapkannya, tapi sebelum aku melangkah ke kehidupanku yang baru, aku hanya ingin bilang, Terima kasih, Bu," kata Jared melihat ke arah Aurora yang ada di depannya, senyuman ringan nan tampan itu mengembang di bibirnya.
Aurora yang mendengar itu segera menatap wajah anaknya, terlihat sangat mirip dengan Jofan, Aurora segera memeluk putranya itu, menepuk pundaknnya dan berbisik lembut.
"Aku yakin Suri adalah wanita paling beruntung di dunia, karena dia dicintai olehmu, jangan pernah membuatnya menangis, jagalah dia dengan semua perasaanmu, hanya itu pesan Ibu," kata Aurora memberikan nasehat pada anaknya, dia melepas pelukannya, menatap wajah Jared sekali lagi.
"Paman Liam akan datang," kata Jenny yang akhirnya wajahnya tampak ceria. Aurora mengerutkan dahinya menatap anak perempuannya ini.
__ADS_1
"Kau mengundangnya lagi?" tanya Aurora yang tak percaya Jenny melakukannya lagi.
"Tidak, aku tidak mungkin melakukannya, ini kan pesta tertutup, Yang Mulia Raja yang mengundangnya," kata Jenny dengan wajah cemberut karena ibunya berpikir dia mengundang Liam, padahal dia senang untuk bibinya.
"Kenapa kau begitu senang dengannya?" tanya Jared yang tak mengerti kenapa adiknya begitu mengagumi sosok pria itu.
"Entahlah, aku hanya merasa bibi dan dia sangat cocok," kata Jenny sumringah melihat wajah cantik bibinya.
"Jangan berbicara yang tidak-tidak, bibi sudah tua, tidak ingin menikah lagi, lagi pula bibi masih mempunyai suami," kata Aurora yang mencoba bersabar dengan tingkah segala Jenny.
"Untuk apa menunggu suami yang tidak akan pernah kembali lagi, lagi pula dia tidak mencintai Bibi," kata Jenny asal keluar saja, membuat Aurora yang tadinya sedang sibuk merapikan sesuatu menjadi terdiam, Jared yang mendengar dan melihat perubahan ibunya itu langsung menatap Jenny dengan tajam, Jenny akhirnya sadar, dia sudah salah bicara.
"Bibi, aku tidak maksudku … Aku minta maaf," kata Jenny yang tak bermaksud melukai hati bibinya.
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi," kata Jenny.
"Ya, sekarang ayo kita bersiap, bukankah acaranya akan sebentar lagi?" tanya Aurora mengembalikan senyuman sumringah itu di wajahnya yang cantik.
Jared mengangguk dengan senyum tipis, Jenny juga ikut mengangguk seolah hanya mengikuti kakaknya.
"Baiklah, kau harus sudah ada di sana sekarang, sebentar Bibi akan menyusul," kata Aurora menatap ke arah kedua anaknya, Jared mengangguk, melangkah keluar bersama adiknya.
Aurora menarik napas panjang, kata - kata Jenny cukup pedas namun bukan waktunya memikirkan itu, dia melihat semua perlengkapan, melihat sedikit wajahnya di kaca, namun entah kenapa saat melakukan hal itu, dia menangkap sesosok pria yang dia kenal postur dan perawakannya, melihat itu Aurora segera melihat ke arah jendela itu, ingin memastika apa yang dia lihat.
__ADS_1
Namun, ternyata kosong, bayangan yang dia yakin Jofan itu tak tampak lagi di sana, dia mungkin hanya berhalusinasi, ternyata tak semudah itu melupakannya.
Aurora kembali membereskan barangnya cepat, pesta anaknya akan segera di mulai, tanpa memperdulikan bayangan yang muncul lagi di ujung matanya, dia pergi meninggalkan tempat itu menuju lokasi pesta.
Semua orang sudah siap di tempatnya, Gerald mengambil lokasi acara itu tempat di tengah kebun bunga, sore itu terlihat sangat cerah dan indah, matahari masih menerangi namun sudah tak terasa kehangatannya, hanya memberikan sorotan cahaya keemasan yang seakan dikhususkan untuk hari ini, langit pun masih begitu biru, beberapa awan putih seringan kapas terlihat sedikit menghiasi cakrawala.
Tempat itu tampak begitu indah, jejeran kursi berwarna putih tampak berjejer sangat indah, jalan masuknya di lapisi kain berwarna putih di pinggir-pinggirnya tidak lupa sentuhan-sentuhan tanaman rambat dan bunga putih menghiasi begitu indah tertata, altah pernikahannya berwarna putih dengan lengkungan ranting-ranting berbalut bunga dan lampu LED, yang paling makjubkan adalah jejeran beratus lampu LED yang segaja dibuat di atasnya, seolah menaungi mereka dengan semua lampu indah itu, di tempat lain tersusun rapi meja untuk pada tamu makan, tak kalah indah dekorasinya di sana dan tentunya semua tempat itu dikelilingi bunga-bunga indah berwarna warni.
Archie mengenggam tangan Ceyasa, merasa tidak ingin melapaskan tangan wanitanya ini sekarang, walaupun sudah berbalut dengan baju yang jauh lebih terutup, bahkan menggunakan gaun dengan potongan leher tinggi dengan model putri duyung, Archie tetap saja merasa gaun itu terlalu berlebihan menonjolkan lekuk tubuh istrinya, tapi apa mau dikata, ibunya marah jika Archie tidak membolehkan Ceyasa menggunakan baju itu.
Ceyasa tampak takjub melihat dekorasi ini hanya memperhatikan semuanya, wajah Ceyasa begitu manis dengan riasan minimalis dan tatanan rambut sederhana, pantas saja dia banyak dilirik oleh orang-orang di sana, bahkan Presiden yang duduk di dekatnya tampak sekali terpana akan kemanisan wajah Ceyasa.
Tak lama akhirnya Ceyasa menyadari tatapan suaminya, wajah Archie tampak tak suka jika ada yang melihat istrinya walaupun hanya sekilas.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Ceyasa risih dengan tatapan Archie.
"Aku tidak suka gaun mu," kata Archie lagi.
"Ini masih masalah gaun, ibumu yang memilihnya," kata Ceyasa lagi, merasa lucu, Archie tak suka tapi dia juga setuju tadi.
"Ya, itu masalahnya, kau seharusnya menolaknya," kata Archie melirik Ceyasa kesal.
"Kau anaknya, kau yang seharusnya bisa menolaknya, aku hanya menantu," kata Ceyasa yang tertawa kecil melihat hal itu, Archie hanya diam, tak lagi bisa menjawab kata-kata Ceyasa, dia hanya terus menunjukkan genggaman tangannya pada semua orang agar mereka tahu wanita ini adalah miliknya.
__ADS_1