
Ceyasa berjalan perlahan menikmati setapak demi setapak perjalanannya menuju sekolah, merasakan segarnya embun yang menusuk dan putihnya kabut yang menutupi hamparan permukaan danau yang tenang.
Bau khas rerumputan hijau pagi hari itu membuat siapa pun merasa ketagihan, suasana sepinya menentramkan sekaligus membuat semangat tumbuh. Dia berjalan dengan ceria, sesekali berdendang kecil, dia sudah menyelesaikan semua tugasnya tadi di rumah, memasak cukup banyak untuk dirinya dan pria menyebalkan itu dan membersihkan rumah, lama-lama dia cukup terbiasa dengan kehadiran Archie walaupun tidak pernah sehari saja mereka tidak saling sindir.
Senyapnya jalan itu tiba-tiba terpecah dengan bunyi ranting dari belakang Ceyasa, dia berhenti dan dengan wajahnya yang imut itu melihat ke sekeliling, dia lalu meletakkan kedua tangannya di pinggangnya.
"Keluarlah, aku tahu kau mengikutiku," kata Ceyasa sedikit keras. Namun tidak ada yang terjadi, hanya jalan kosong yang tampak tertutup kabut.
"Hati-hati loh, di sana banyak ularnya," kata Ceyasa dengan nada sedikit menakuti.
"Benarkah?" Archie yang langsung keluar dari salah satu pohon di sana, melihat ke arah tempat dia bersembunyi.
Selama dia di sana, ini yang selalu di lakukannya, mengikuti Ceyasa setiap pagi seolah menjadi rutinitasnya, karena dia tidak ingin tinggal sendiri di rumah dan mulai berpikir tidak-tidak.
Ceyasa melihat ke arah Archie dengan sedikit wajah kesal dan bertanya, Archie yang merasa bodoh karena baru saja percaya dengan kata-kata Ceyasa hanya menatapnya dengan pura-pura bingung, bagaimana dia tidak percaya, kan yang tahu wilayah ini adalah cewek aneh ini.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Ceyasa tak ramah.
"Siapa yang mengikutimu? Aku sedang mencari udara segar, tuh segar banget," kata Archie menarik udara dalam-dalam hingga dia terbatuk karena dinginnya, dia tak pernah tahan dingin.
"Itu akibatnya jika kau berbohong, kau pikir aku bodoh," kata Ceyasa menatap Archie sinis.
"Aku kan ingin memastikan kau selamat sampai tujuan," kata Archie mencoba untuk mencari alasan.
Ceyasa menyipitikan matanya dengan tatapan yang penuh curiga, melihat wajah Ceyasa yang seperti itu Archie sedikit salah tingkah, baru di sini dia selalu ditatap curiga seperti ini.
"Iya, iya, aku mengikutimu karena bosan di rumah, di rumah tidak ada apa-apa, masa begitu saja tidak boleh?" Archie akhirnya mengaku.
__ADS_1
"Sudah ku sangka alasannya tak sebaik itu, orang sepertimu mana bisa seperhatian itu," kata Ceyasa tetap memandang Archie sinis, "tinggal katakan saja kan kau tidak perlu seperti penguntit seperti itu."
"Memangnya jika aku katakan kau akan mengajakku pergi?"
"Tidak," kata Ceyasa berbalik arah melanjutkan perjalanannya.
"Sudah aku tebak, kau juga tak seperhatian itu," kata Archie membalas, Ceyasa berhenti dan melihat ke arah Archie lagi.
"Moodku sedang baik pagi ini, jangan menghancurkannya," kata Ceyasa dengan wajah mengancam Archie yang sekarang berjalan di belakangnya.
"Siapa juga yang mau menghancurkan moodmu," kata Archie seadanya, sudah terbiasa berbicara begitu dengan Ceyasa, serasa adapnya yang selalu sopan sudah hilang begitu saja jika berhadapan dengan Ceyasa
Ceyasa yang mendengar itu diam saja, tak ingin melanjutkan lagi pembicaraan ini karena dia benar-benar tidak ingin menghancurkan kesenangan yang ada di dalam hatinya, tidak tahu kenapa, yang pasti dia merasa hari ini dia akan sangat indah.
"Kenapa kau suka menjadi guru?" tanya Archie pada Ceyasa yang tampak sumringah menikmati perjalanan itu.
Archie diam mendengar jawaban Ceyasa yang menjelaskannya dengan penuh ekspresi, dia menaikkan sedikit sudut bibirnya, selama Archie mengamati Ceyasa, dia memang selalu terlihat bahagia saat ada di sekolah.
Tak lama mereka sampai di gerbang sekolah itu, Ceyasa langsung berhenti dan segera melihat Archie.
"Aku sudah sampai, aku pergi bekerja dulu," kata Ceyasa melihat ke arah Archie.
"Baiklah, ehm, kalau begitu aku akan pulang," kata Archie seadanya.
"Kau akan pulang sekarang?" tanya Ceyasa yang merasa aneh, baru sampai sudah ingin pulang lagi, padahal katanya Archie bosan di rumah.
"Ya, kan aku sudah bilang, aku hanya ingin melihatmu selamat sampai tujuan," kata Archie seenaknya.
__ADS_1
"Haha, aku tidak tetap tidak percaya, baiklah hati-hati di jalan, kau bisa bekeliling desa jika bosan," kata Ceyasa yang melihat Archie mulai berjalan meninggalkannya.
"Baiklah,"kata Archie seadanya, kembali menikmati perjalannya, sebenarnya dia hanya ingin mengisi waktu kosongnya, jika dia terus berdiam diri yang ada perasaannya makin kacau, pikirannya akan kembali pada Suri dan hal itu cukup menyiksanya, dia hanya ingin sibuk dan melupakan perasaan dan rindunya pada wanita itu.
Ceyasa berbalik dan berjalan beberapa langkah lalu terlintas suatu hal di pikirannya, beberapa hari bersama dengan Archie dia sering melihat Archie tampak begitu sedih, jika dia duduk sendiri dia akan terlihat begitu sendu, Archie sudah cukup baik hari ini mengantarkannya sampai ke sekolah, walau pun Ceyasa yakin bukan itu alasannya utamanya tapi dari pada dia harus pulang dan tampak sedih lagi.
"Hei, pria menyebalkan," teriak Ceyasa pada Archie, toh sampai sekarang dia tidak tahu nama Archie sebenarnya. Archie yang mendengar suara Ceyasa itu langsung melihatnya, Ceyasa tampak sedikit berlari mendatanginya.
"Ada apa?" tanya Archie dengan wajahnya yang sedikit serius.
"Hari ini kelasku akan melakukan belajar di luar ruangan, kami akan pergi ke bukit di atas, kalau kau mau, kau bisa membantuku menjaga anak-anak," kata Ceyasa lagi.
"Benarkah? apa itu diperbolehkan? Aku kan bukan guru," kata Archie
"Tentu, aku kan yang mengajakmu, lagi pula semua pengajar di sini itu melakukannya dengan suka rela, jadi siapa pun bisa jadi guru, bagaimana kau mau tidak?" Ceyasa menatap Archie.
"Baiklah, itu terdengar menyenangkan," kata Archie lagi.
"Ok, tapi aku akan memberikan peraturan, di sana jangan bertingkah menyebalkan, kita tidak boleh bertengkar di depan mereka atau mereka akan tingkah kita mengikuti kita, setuju?"
"Siapa yang bertingkah menyebalkan? bukannya kau yang selalu berbicara tidak baik padaku? " kata Archie membela diri. Ceyasa terdiam, dia menyipitkan matanya lagi pada Archie, apakah ini akan menjadi keputusan yang buruk untuk mengajak Archie bekerja?
"Pokoknya kau diam saja, itu sudah cukup," kata Ceyasa yang mulai kesal.
"Baiklah," kata Archie mencoba patuh, toh di sini Ceyasa adalah bosnya. Cayasa segera berjalan kembali ke arah sekolahnya, Archie hanya mengikutinya dari belakang.
"Selamat pagi kakak," anak-anak yang berjumlah 20 orang menyambut mereka dengan ramah.
__ADS_1
"Selamat pagi, hari ini kita akan pergi ke bukit atas dan bermain sambil belajar di sana, jadi apakah kalian sudah siap? barang-barang yang kakak minta kalian bawa, sudah kalian bawa kan?" kata Ceyasa dengan sangat ceria, Archie berdiri tak jauh darinya, hanya mengamati.