
Tak lama mereka sampai di depan UGD rumah sakit yang paling dekat dan bisa diingat oleh Jared, dia tak tahu harus membawa bibinya kemana, yang penting bibinya mendapatkan pertolongan pertama.
Sesampainya di sana, Jared segera bergegas, para petugas medis pun segera membantu untuk mengeluarkan Aurora dari mobil Jared, setelah itu, mereka segera memasukkannya ke dalam UGD untuk ditangani, membuat genggaman tangan Ceyasa yang dari mengenggam tangan Aurora terlepas, entah kenapa dia jadi merasa sedih karena genggaman tangan mereka terlepas, serasa tak rela, ada perasaannya ingin masuk ke dalam ruangan UGD itu, Ceyasa hanya bisa menatap ruangan itu tetutup untuknya dan Jared.
Sesaat mereka hanya diam, menatap pintu yang sudah tertutup beberapa menit yang lalu, Jared baru sadar saat ponselnya berdering, begitu juga Ceyasa, dia baru sadar, kenapa dia harus begitu merasa kasihan dengan wanita itu?
Jared melihat ke arah ponselnya, melihat nama adiknya ada di sana, dia langsung mengangkatnya.
"Halo?" kata Jared dengan nada yang cukup panik.
"Halo? Kak, ada apa, kenapa panik seperti itu? " ujar Jenny yang kaget kakaknya seperti membentaknya.
"Bibi!" ujar Jared yang masih begitu cemas hingga dia tak bisa berkata-kata, baginya Aurora adalah ibunya, jadi membayangkan wajahnya begitu pucat saja, sudah membuat Jared merasa sangat panik dan cemas, dia melirik ke arah Ceyasa, Ceyasa yang melihat Jared begitu panik langsung mengeluarkan gestur, Ceyasa mempraktekkan menarik napas panjang dan mengeluarkannya perlahan, seolah menyuruh Jared untuk melakukannya. Jared yang mengerti langsung mengikutinya, menarik napas cukup panjang, lalu mengeluarkannya namun matanya terus melirik ke arah Ceyasa yang tetap melakukan gestur itu.
"Ada apa dengan bibi! Kak?" ujar Jenny yang panik, dia tahu pasti ada sesuatu yang terjadi jika kakaknya saja yang biasanya setenang air itu panik begini.
"Bibi tak sadarkan diri karena ada kebakaran di rumah, aku sekarang ada di rumah sakit melati di dekat rumah paman, jika kau bisa, datanglah kemari," kata Jared yang terus melirik ke Ceyasa yang seolah memberikan pengarahan padanya, tentang apa yang harus dia katakan, bahkan Ceyasa yang menunjukkannya apa nama rumah sakit tempat mereka sekarang berada, setelah Jared mengatakannya, Ceyasa menjunjukan gertur ‘Oke’ dengan tangannya dan wajah cerianya karena Jared mengikuti instruksinya dengan baik.
"Apa? bagaimana keadaanya?" kata Jenny langsung dengan nada meninggi, panik hingga langsung tak bisa memikirkan apa-apa.
"Keadaannya tidak sadarkan diri, dia sedang ditangani oleh dokter di UGD, datanglah jika kau bisa, dan tolong carikan rumah sakit yang lebih besar, aku rasa kita harus memindahkannya, dan hubungi paman jika kau bisa," kata Jared memerintahkan adiknya.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menghubungi paman, Kak, kabari aku apapun yang terjadi," kata Jenny yang mulai terdengar sedih, Jared langsung diam mendengarkan adiknya yang mulai terisak.
"Baik, jangan menangis, telepon paman, aku juga akan menghubunginya," kata Jared lagi.
"Ya," kata Jenny segera mematikan panggilan teleponnya.
Jared yang dari tadi memperhatikan Ceyasa yang ada di sampingnya, lalu mengerutkan dahinya, wanita ini … tak bisa dikatakan apa yang sudah dilakukannya demi dia dan bibinya, padahal dia bukan siapa-siapa, namun dia dengan tulus menolongnya dan membantunya disaat seperti ini.
"Yak! Anda melakukannya dengan baik," ujar Ceyasa dengan gaya ceria seperti biasanya, mencoba untuk membuat mood Jared tak terlalu sedih dan panik. Jared mengerutkan kembali dahinya, merasa kelakukan wanita ini lain dari pada yang lain, karena senyumannya itu, Jared jadi mengangkat senyuman sedikit walaupun masih menatap Ceyasa aneh.
"Jangan menatapku terus, telepon paman Anda," ujar Ceyasa lagi, seolah mengarahkan Jared, padahal nama masing-masing pun mereka belum tahu.
"Oh, iya, benar," ujar Jared yang merasa cukup kosong pikirannya karena syok.
Tiba-tiba ponsel Jared berbunyi, dia melihat ke arah ponselnya, panggilan itu dari Jenny, mungkin Jenny sudah bisa menghubungi pamannya.
"Halo?"tanya Jared.
"Kakak! aku tidak bisa menghubungi paman, panggilanku dialihkan," ujar Jenny panik sambil terdengar menangis.
"Aku juga tidak bisa menghubunginya," ujar Jared kembali mengerutkan dahinya, ada apa dengan pamannya?
__ADS_1
"Kakak, aku akan ke sana segera, " kata Jenny lagi.
"Dengan siapa kau datang ke sini?" kata Jared yang tahu adiknya sama sekali tidak bisa mengendarai mobil, lalu dengan siapa dia ke sini?
"Aku sudah menghubungi seseorang, aku akan datang secepatnya," ujar Jenny, tanpa memberikan aba-aba langsung mematikan teleponnya, membuat Jared semakin bingung, namun Jenny sudah besar, dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri, pikir Jared.
"Bagaimana?" ujar Ceyasa yang membuat Jared tersadar.
"Ya, adikku akan datang ke sini," kata Jared melirik ke arah Ceyasa.
"Baguslah, tenang saja, ibumu akan baik-baik saja, aku yakin itu, " ujar Ceyasa memberikan semangat pada Jared.
"Terima kasih, oh, ya, siapa namamu?" ujar Jared dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya.
"Ceyasa," ujar Ceyasa membalas senyuman Jared.
"Jared," balas Jared lagi.
"Baiklah, ehm, apa kau masih butuh aku di sini? " tanya Ceyasa lagi merasa tugasnya sudah selesai.
"Tunggulah sebentar lagi hingga adikku sampai, bisakah?" tanya Jared pada Ceyasa. Ceyasa memandang Jared, memperhatikan wajah Jared yang tampak sedikit berharap, saat ini Ceyasa baru sadar, pria ini punya wajah yang sangat tampan, terutama matanya, sangat indah, ehm, kenapa di kota banyak sekali pria-pria tampan, di desa sangat susah mencarinya, pikir Ceyasa yang merasa tak enak menolak permintaan Jared.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu," kata Ceyasa sambil mengangguk.
"Terima kasih," ujar Jared dengan senyuman seadanya.