
Ponsel Gerald berdering ketika dia dan Archie sedang serius mendengarkan presentasi, Gerald langsung mengeluarkan gestur meminta maaf, dan mengangkat ponselnya karena ini dari Hana.
"Halo?" kata Gerald, wajahnya yang tadinya sungkan langsung berubah, matanya membesar, tampak kaget sekali, Archie yang melihat hal itu langsung merasa ada yang tak beres, apalagi ada rasa tak enak yang dia rasakan dari tadi pagi.
"Ada apa?" tanya Archie langsung, tak peduli hal itu membuat presentasi dan rapatnya berhenti seketika.
"Yang Mulia Ratu disandra," kata Gerald langsung.
Mendengar itu mata Archie membesar, dia langsung bangkit dan meninggalkan ruangan itu dengan sangat cepat, dia bahkan berlari menuju lift khususnya, Gerald yang mengikutinya juga ikut berlari, dia langsung masuk ke dalam Lift.
"Siapa yang menyekapnya? hubungi markas militer untuk langsung bertindak, dimana dia?" tanya Archie sangat panik.
"Aku akan langsung menghubungkanmu dengan Hana," kata Gerald langsung menyerahkan ponselnya, Archie menyambarnya cepat,"aku akan menyiapkan helikopter," kata Gerald.
"Halo?" suara Hana terdengar di sana.
"Bagaimana bisa terjadi? siapa dia? apa yang dia mau?" tanya Archie buru-buru, dia harus tahu mendetail tentang ini, perasaannya begitu cemas, wajahnya begitu serius, kemarahan namun juga takut terlihat jelas di wajahnya, ternyata firasatnya dari kemarin benar, bodoh sekali dia tak mengikutinya.
"Kami sudah mencarinya dan namanya adalah Lidia, dia adalah adik angkat dari Tuan Rain, dan tadi dia mengatakan dia ingin Tuan Rain untuk datang ke sini, kami sedang mengurusnya, Tuan Rain sudah setuju untuk datang kemari," kata Hana langsung, berpikir itu lah yang harus dia lakukan sekarang.
Archie mendengar itu hanya menekan giginya, membuat rahangnya tegang karena tekanan yang keras itu, tangannya mengepal, ini semua pasti hanya akal-akalan Pamannya itu, Archie yakin sekali, Sial! apalagi yang akan dilakukan oleh Rain sekarang.
Archie keluar dari lift dan dengan langkah sangat cepat, dia keluar dari bangunan itu menuju Helipad, untung saja helikopternya sudah siap sedia.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama, Archie segera naik ke helikopter dan mereka segera menuju tempat Ceyasa disekap.
Archie bahkan melompat dari helikopter sebelum helikopter itu mendarat sempurna, dia tak bisa lagi duduk tenang di dalamnya, dia segera disambut oleh Jendral Ferdinan yang tanpa sepatah kata pun segera membawanya ke arah tempat Ceyasa.
Saat Archie sampai di sana, di ujung lorong yang satunya dia bisa melihat Rain masuk dengan kawalan dari pihak polisi, mereka berhasil sampai di sana sebelum 30 menit.
Archie awalnya hanya menatap diam Rain yang berdiri di depannya dengan wajah angkuh, dia benar-benar ingin membunuhnya sekarang, tangan Archie mengepal, dan tanpa peringatan dia segera melayangkan pukulan keras yang telak di pipi Rain, Archie masih beranggapan ini semua karena Rain, Archie menarik kerah baju Rain dengan mata merah penuh emosi.
Pihak militer dan polisi yang ada di sana langsung menahan Archie dan Rain agar tak melanjutkan aksi mereka.
"Apalagi yang kau rencanakan untuk memisahkan aku dan Ceyasa! dia sedang mengandung! bagaimana kau bisa begitu kejam?!" kata Archie sudah tak tahan, marah dan histeris di depan Rain, untung saja dia di tahan beberapa orang, jika tidak mungkin Rain sudah babak belur dibuatnya karena pasti Rain tak bisa membalas, tangannya masih terkunci borgol.
Rain mengelap sudut bibirnya yang robek terkena pukulan Archie, rasa anyir darah terasa sekali, dia hanya memandang Archie diam, tak sepatah kata pun keluar, ketenangan Rain mengusik Archie.
"Yang Mulia, sabarlah, ini demi Ceyasa, biar kita lihat apa yang terjadi?" kata Jendral Ferdinan menenangkan Archie, mereka mencoba melepaskan Archie, untungnya Archie cukup bisa mengendalikan emosinya sekarang.
Rain lalu mengetuk pintu itu perlahan.
"Lidia, aku datang," Suara Rain berat.
Lidia yang mendengar ketukan dan suara Rain itu segera bersiap, dia kembali menarik tubuh Ceyasa yang dari tadi menunggu dengan meringkuk di sudut ruangan, tak bisa menutupi kecemasannya karena Lidia terus mengarahkan moncong pistol saku itu ke arahnya.
Lidia segera kembali bersembunyi di belakang Ceyasa, mengalungkan tangannya yang sekarang memegang pisau ke leher Ceyasa, sedangkan tangannya yang lain mengacungkan pistol ke sisi kepala Ceyasa, Ceyasa segera menangis ketika ujung pistol itu menempel di sisi dahinya, ingat perkataan Lidia, bahwa dia tidak punya rencana untuk melepaskannya walau Rain sudah datang, malah kedatangan Rain ini menandakan Lidia akan segera melakukan aksinya.
__ADS_1
Lidia mendorong tubuh Ceyasa mendekat ke arah pintu itu, saat pintu sudah di depan Ceyasa, Lidia berbisik padanya.
"Buka pintunya sekarang."
Ceyasa menahan napasnya, membuka dengan perlahan kunci dan memutar kenop pintu itu, dia juga perlahan menarik pintu itu untuk terbuka.
Di luar semua orang juga menanti, bahkan rata-rata menahan napasnya, Archie yang berdiri tegak di belakang Rain hanya bisa memperhatikan, dia tak tahu harus apa, dia hanya cemas, keselamatan Ceyasa dan anaknya hanya itu yang terngiang di kepalanya.
Daun pintu kamar mandi itu terbuka, membuat ketegangan semakin terasa, melepaskan hormon adrenalin bagi semuanya, jantung dan napas mereka bertambah kencang berpacu, mereka siaga.
Rain menahan napasnya, saat pintu itu terbuka penuh dia benar-benar kaget, melihat Ceyasa dengan wajah yang sudah basah, wanita itu tak berubah, secantik yang dia ingat, namun wajah panik dan takutnya itu, kenapa selalu ada saat Rain melihatnya, kenapa tak ada senyuman yang dia rindukannya?
Ceyasa kaget melihat wajah Rain yang sekarang ada di depan matanya, dia punya trauma tersendiri dengan wajah pria itu, membuat seluruh tubuhnya bertambah ngeri, apalagi di sekitarnya banyak polisi dan tentara yang siaga mengacungkan pistol ke arah mereka, Ceyasa merasa dia benar-benar tak bisa apa-apa lagi.
Mata Ceyasa bergulir, melihat sosok di belakang Rain, matanya membesar ketika melihat Archie yang juga membesarkan matanya, Archie sangat sakit melihat keadaan Ceyasa, mata berharap Ceyasa tampak, tapi Archie tak bisa gegabah karena melihat jelas pistol dan pisau yang melingkar di tubuh Ceyasa.
"Lidia, aku sudah datang, lepaskan dia," kata Rain mengepalkan tangannya, mendengar suara Rian yang berat itu Ceyasa memindahkan matanya ke arah Rain, Ceyasa memandangnya takut.
"Mundur, aku ingin kau mundur 3 langkah dari ku," kata Lidia.
Rain mau tak mau hanya bisa mengikutinya, dia mundur 3 langkah dari Ceyasa dan Lidia berdiri.
"Lepaskan dia! kami sudah menuruti permintaanmu," ujar Archie yang ingin semua ketegangan ini berakhir, dia sudah tak sanggup lagi, dia akan melakukan apapun, bahkan jika diminta berlutut di hadapan mereka, dia akan lakukan.
__ADS_1