Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
31 - Bersihkan Rumah Ini.


__ADS_3

Archie terganggu tidurnya karena suara-suara keras dari luar kamarnya yang sangat berisik menurutnya, Archie mencoba menutup telinganya dengan tangannya tapi suara itu bahkan masih mengganggu, dia mencoba menutupnya dengan bantal, tetap saja, bagaimana kita bisa tidur dengan menutup telinga kita dengan bantal? jadi dia putuskan untuk bangun, padahal dia masih sangat ingin menikmati tidurnya.


Archie mengambil handphonenya yang diletakkan di samping tempat tidurnya, melihat jam yang masih pukul 5.30, ini masih terlalu pagi untuk seorang Archie, biasa dia bangun hampir pukul 7, itu juga karena dia harus ada di meja makan bersama Pamannya pukul 7 pagi.


Dengan wajahnya yang masih sembab karena baru saja bangun tidur dia, dia segera menurunkan kakinya ke lantai yang langsung menyengatnya, terasa sangat-sangat dingin, ah, tempat apa ini, dia tak tahan dinginnya.


Archie dengan sedikit sempoyongan membuka pintunya, melihat ke arah ruangan yang kosong itu, benar-benar masih kosong dan tidak menemukan siapa pun di sana, lalu suara ribut itu kembali lagi, seperti sebuah besi diketukkan di besi yang lain, dia lalu berjalan menuju ke arah dapur tempat suara itu berasal.


Archie terdiam, melihat Ceyasa sudah sangat sibuk menyiapkan makanan, dia tampak sibuk memasak makanan yang cukup banyak, untuk apa? pikir Archie, toh mereka juga hanya berdua bukan.


"Kau sedang apa? ini masih pagi," kata Archie melihat Ceyasa.


"Ya, memang masih pagi, tapi sebentar lagi kau harus makan, aku juga harus pergi bekerja, aku harus menyiapkan makan pagi, makan siang, dan makan malam sekaligus," kata Ceyasa.


Archie menekukkan dahinya, dia mau bekerja lagi, bukannya dia sudah bekerja malam tadi, masa pagi begini dia mau bekerja lagi?.


"Kau ingin bekerja lagi?" tanya Archie masih tak percaya, mungkin dia salah dengar.

__ADS_1


"Iya, pekerjaan utamaku, karena kau sudah bangun, ayo, bantu aku membersihkan rumah," kata Ceyasa hanya melirik wajah kantuk Archie.


Archie kembali mengerutkan dahinya, membersihkan rumah? dia tidak pernah melakukan hal itu, semua tempat di istanannya di bersihkan oleh pelayan yang lebih dari 10 orang banyakknya, jadi dia tidak pernah melakukan hal itu.


"Aku tidak tahu cara membersihkannya," kata Archie dengan tampang bingungnya.


"Masa? Masa orang amnesia juga lupa cara menyapu?" kata Ceyasa sedikit tidak percaya dan akhirnya melihat Archie dengan benar.


"Benar, aku tidak tahu caranya," kata Archie polos.


"Begini, ambil sapu, lalu sapu kotorannya menuju ke arah pintu keluar, bagaimana? Mudah bukan? nih …. " kata Ceyasa mengambil sapu yang ternyata ada di samping Archie, dia memperagakan sedikit caranya menyapu, lalu menyerahkan sapu itu pada Archie.


"Ini, peganglah, dia tidak menggigit, aneh sekali amnesia bisa sampai melupakan hal seperti ini, kenapa tidak sekalian lupa cara makan atau lupa cara tidur saja," gerutu Ceyasa sambil memaksakan Archie mengambil sapu itu dari tangannya, Ceyasa memegang tangan Archie dan segera menyerahkannya.


"Begini? " kata Archie mengibas-ngibaskan sapu itu maju dan mundur.


"Kalau begitu kotorannya akan ada di situ saja, majukan saat dia terkena lantai, lalu angkat, dan mundurkan, lalu majukan lagi, nanti ada kotoran itu dan kau harus mengumpulkannya sampai ke pintu keluar, mudah kan? Ayolah, bahkan anak kelas 3 SD saja bisa melakukannya, kau sebesar ini tak bisa," kata Ceyasa mengajari Archie perlahan, Archie masih sedikit ragu apakah dia bisa melakukan hal sederhana itu atau tidak, tapi mendengar ledekan dari Ceyasa itu, dia jadi tersulut, dia pasti bisa melakukannya, dia segera memegang sapu itu dengan mantap. "Bersihkan saja ruangan depan dan semua kamar, setelah itu tugasmu selesai," kata Ceyasa yang melihat Archie mulai terpengaruh oleh kata-katanya.

__ADS_1


"Aku bisa kok, Lihat saja," kata Archie mempertahan ego dan gengsinya.


Archie memulai menyapu ruangan dengan gaya yang sangat kaku, bahkan jika ada orang yang melihatnya pasti akan merasa lucu dan juga tak sabar melihat gaya Archie menyapu, namun dia berusaha untuk tetap melakukan tugasnya, tidak ingin diremehkan oleh Ceyasa, pekerjaan seperti ini tentu mudah, hanya menggoyang-goyangkan tongkat itu, pikir Archie.


Ceyasa yang dari dapur memperhatikan gaya Archie menyapu hanya bisa geleng-geleng kepala tapi dia tidak ingin mengambil alih, jika dilakukannya Archie pasti akan keenakan dan besok jika dia diperintahkan untuk melakukan hal itu lagi, yang ada Archie malah mangkir dari tugasnya dengan pura-pura tak bisa, karena itu Ceyasa membiarkannya, walau pun sebenarnya dia sudah gemas melihat gaya kaku Archie.


Archie membersihkan ruangan itu perlahan, kaku dan sangat lama, bahkan Ceyasa sudah menyelesaikan 3 jenis masakannya dan mencuci piring, Archie masih separuh menyapu ruangan itu.


"Belum selesai juga, apakah kamar sudah di sapu?" tanya Ceyasa melipat tangannya, Archie yang melihat hal itu merasa geram, kenapa dia malah berlipat tangan begitu di depan Archie, ini pengalaman pertamanya menyapu, tentu lebih lama bahkan jika ada orang di istana yang melihat dia melakukan hal ini, pasti mereka akan sangat terkejut dan melarangnya melakukan hal ini, pikir Archie.


"Kamar juga di bersihkan?" tanya Archie


"Tentu, kau ingin kamarmu berdebu," kata Ceyasa sambil terus melipat tangannya, mendengar itu Archie jadi kesal, dia segera berjalan ke arah kamarnya, dia mulai menyapu kamarnya yang mulai membuat debu-debu di sana mulai berterbangan, Archie langsung bersin terus menerus, dia tak sanggup dan segera menggunakan masker yang untungnya dia bawa, sebenarnya dia bawa untuk menutupi identitasnya saat di bandara atau di keramaian karena takut ada yang mengenalinya karena wajahnya cukup sering masuk di dalam TV, namun sepertinya di desa kecil ini tak satu pun yang mengenalnya.


Dia lalu keluar setelah menyapu kamarnya yang cukup berdebu, Archie melihat ke arah kamar Ceyasa, apakah kamarnya juga harus dibersihkan? Ceyasa tadi mengatakan kamar, mungkin kamarnya juga harus dibersihkan, pikir Archie.


Archie mengetuk kamar itu, ingin bertanya apakah dia boleh masuk, sebuah tata krama yang dia dapatkan dari kecil, namun tidak ada jawaban dari sana, dia segera mengetuk pintu itu lagi, namun yang ada pintu itu malah terbuka, Archie melihat ke dalam, kamar itu lebih luas sedikit dari kamarnya, tertata sangat rapi, dia masuk ke dalam kamar Ceyasa, dan mulai menyapu kamar Ceyasa dengan gayanya yang masih saja kaku.

__ADS_1


Saat dia menyapu di dekat meja rias, dia melihat sebuah kartu ujian yang di gantung di sana, memperlihatkan foto Ceyasa dengan nama lengkap dan tanggal lahirnya, Archie menekuk dahinya, ternyata Ceyasa masih sangat muda, tahun ini dia akan berusia 20 tahun, usia sangat muda untuk bisa tinggal dan mandiri sendiri.


Archie lalu melihat ke arah sudut kamar itu, terdapat gulungan kertas yang sepertinya sengaja di buang di sudut itu, terlihat kontras dengan ruangan yang serba rapi ini, Archie segera mengambil gulungan kertas yang ternyata sebuah foto, rasa penasaran Archie membuatnya membuka foto itu, dan dia sedikit terkejut.


__ADS_2