
Archie duduk di jok belakang mobil kerjaan, supir kerajaan sudah menjemputnya dari tadi pagi, dia menggunakan pakaian formalnya, namun semenjak dia membuka mata tadi pagi, tak sedikit pun senyuman tersungging di wajahnya, hanya wajah datar, dingin dan suram.
Gerald memposisikan spion tengah menyorot wajah Archie, menatap Archie yang terlihat kosong seolah pulang ke istana adalah siksaan baginya, berulang kali dia memperbaiki ujung jasnya yang sebenaranya tidak ada yang salah, Gerald mengerti, pasti sekarang perasaan Archie sangat berkecambuk hingga tak ada yang berani untuk menyapanya, hanya diam dan hening hingga mereka masuk ke area kerajaan.
Mobil mereka berhenti sebentar di depan gerbang istana, penjaga melakukan pemeriksaan, saat melihat wajah Archie yang hanya melihat ke depan, mereka memberikan salam dan segera membukakan gerbang istana nan megah itu.
Pintu besar itu terbuka pelahan, memperlihatkan istana yang sangat besar, namun hal itu malah semakin menyesakkan buat Archie, dia memalingkan wajahnya, memperhatikan layar ponselnya yang padam dan retak, dia menekan giginya, membuang jauh-jauh pandangannya dari istana utama itu.
"Haruskah kita melapor dulu ke istana utama," tanya Gerald membuka pembicaraan saat mobil mereka mulai memasuki halaman luas istana yang bahkan lebih luas dari lapangan sepak bola. Mobil itu menyusuri taman-taman indah dengan berbagai bunga yang membuatnya begitu indah, namun hal itu tak merubah perasaan Archie sekarang.
"Tidak, kita langsung ke istanaku, jangan ada yang melapor ke istana Utama, Yang Mulia Raja juga sudah tahu aku akan pulang hari ini," ujar Archie begitu datar dan dingin.
"Baiklah," ujar Gerald yang tahu Archie sedang tidak ingin terlalu banyak berbicara.
Mobil itu langsung berbelok ke arah istana pangeran yang letaknya di bagian belakang dari istana utama, tak kalah megah dan mewahnya, mobil mereka berhenti tepat di depan pintu utama istana yang begitu besar. Jika ingin masuk, ada beberapa anak tangga yang harus di naiki, Archie melihat ke arah luar, dan akhirnya dia harus kembali lagi ke sini, pikirnya.
Penjaga pintu gerbang membukakan pintu mobil untuk Archie, dia keluar sambil memperbaiki jasnya, menunjukkan aura pangerannya yang kuat, dia manatap kembali ke istananya, dan dengan langkah mantap mulai memasuki istananya.
__ADS_1
"Pangeran Mahkota datang," ujar pelayan utama istananya menggema saat dia memasuki ruang tamu utama istananya, dia langsung berjalan menuju ke ruang tengah istana, menatap keluarganya yang tampak sudah menunggunya, mereka menatap Archie dengan tidak percaya, mata-mata haru langsung terlihat. Archie berhenti sebentar mengamati keluarganya, Daihan berdiri melihat anaknya, Nakesha bahkan langsung berjalan ke arahnya, dan langsung memeluk keponakannya yang sangat dia sayangi bahkan melebihi anaknya sediri.
"Kemana saja kau ini? kau membuatku cemas, kau ini memang selalu saja melakukan hal-hal tak terduga," tanya Nakesha antara haru juga sedikit kesal melihat tingkah laku anaknya ini, mata Nakesha tampak berkaca-kaca.
"Aku juga merindukanmu,Bu," ujar Archie seraya membalas pelukan hangat dari ibunya, tahu kata-kata itu arti sebenarnya adalah bahwa ibunya merindukannya
Daihan berhenti di depan anaknya, Archie melirik sekilas menatap papanya yang berdiri di depannya, selalu dengan wajah hangat, tak pernah ada di dalam ingatan Archie bahwa papanya ini pernah berwajah marah padanya.
"Selamat datang kembali di rumah, " ujar Daihan menyambut Archie dengan penuh kehangatan, Archie tersenyum hangat membalas perkataan papanya, memindahkan pelukannya ke Daihan, Daihan membalas pelukan anaknya dengan sesekali menepuk pundaknya, pertemuan kembali yang penuh haru.
"Kau tahu, kita harus bertemu dengan Ibunda Ratu sekarang, dia sangat terpukul akan kepergianmu," ujar Nakesha sambil menghapus air mata harunya melihat anaknya yang sehat pulang ke rumah, mereka sebenarnya sudah tahu Archie sudah pulang, namun Angga melarang mereka untuk menemuinya sebelum Angga menemui Archie.
"Yang Mulia Ibunda Ratu ada di kamarnya, kesehatan beliau menurun karena kepergianmu," ujar Nakesha lagi dengan nada sedikit sedih.
"Benarkah? aku ingin menemuinya sekarang," ucap Archie yang langsung bergegas berjalan menuju kamar neneknya yang tak terlalu jauh dari ruang tengah itu, Nakesha dan Daihan hanya mengikuti anaknya dari belakang.
Archie mengetuk pintu kamar neneknya, tak lama pintu itu terbuka, seorang pelayan khusus Ibu Ratu membukakannya, melihat Archie, dia langsung memberikan salam dan segera mempersilakan Archie untuk masuk, pelayan khusus itu ingin memberitahukan kedatangannya, namun Archie memberikan gestur agar pelayan itu mengurungkan niatnya.
__ADS_1
Archie berjalan menuju ke kamar utama, perlahan melihat ke arah ranjang neneknya, neneknya sedang terbaring lemah, matanya tertutup, Archie sedikit tersenyum, hanya memandang wajah cantik neneknya, bahkan di usianya yang sudah hampir kepala 9 dia masih terlihat sangat menarik, sisa-sisa kecantikannya tak bisa tertutupi walau dengan kerutan dan rambut yang seluruhnya sudah memutih, pantas saja jika Archie bisa mendapatkan seluruh kesempurnaan di penampilannya.
Archie lalu duduk perlahan di samping ranjang neneknya, menyentuh tangannya yang penuh dengan kerutan, terlihat bercak-bercak penuaan di kulitnya yang putih, jari-jarinya pun sudah terlihat lemah sesekali gemetar. Di genggamnya tangan hangat neneknya dengan penuh perasaan, Nakesha dan Daihan hanya bisa tersenyum melihat apa yang di lakukan oleh Archie.
Ratu Ayana sedikit terganggu akan kelakukaan Archie, dia perlahan membuka matanya yang di sekelilingnya sudah penuh kerutan namun tetap terlihat indah, awalnya dia melihat langit-langit kamarnya yang penuh dengan lukisan dan ukiran, lalu berpindah menatap seseorang yang duduk di sampingnya, samar-samar dia melihat sosok itu.
"Aksa?" ucapnya saat sekilas melihat anaknya di sampingnya, bagaimana pun kelakuan seorang anak, ibu tetap lah seorang ibu, dia tak akan bisa melupakan anaknya. Archie tersenyum mendengar kata-kata neneknya, pasti dia salah lagi mengenalinya sebagai ayahnya.
"Nenek, apa kabarmu?" ucap Archie mengusap-usap tangan neneknya, sama seperti yang sering dilakukan aksa saat menemui ibunya saat Ratu Ayana dikurung dulu. Ratu Ayana perlahan terduduk, Archie yang tanggap langsung membantu Ratu Ayana, Ratu Ayana masih seperti mimpi, sekilas melihat Aksa, dan sekarang samarnya sudah mulai berubah lebih jelas dan dia bisa melihat wajah Archie.
"Archie?" suara renta Ratu Ayana terdengar tak percaya.
"Ya? aku pulang," kata Archie pelan, suaranya begitu lembut, menentramkan siapapun yang mendengarnya, memancarkan kerinduan yang dalam.
Ratu Ayana tersenyum senang, matanya berkaca-kaca, walau hanya beberapa minggu tapi dia sangat merindukan cucu satu-satunya ini, tangannya sedikit bergetar menyentuh pipi Archie, Archie merasakan kehangatan dari sentuhan tangan neneknya yang terus memandangnya tak percaya.
"Maafkan aku," ujar Ratu Ayana lirih, selama Archie pergi dari istana, dia memang menyalahkan dirinya yang bertindak begitu keterlaluan pada cucunya ini, tak menyangka Archie mengambil jalan pergi dari sana, dia baru sadar ternyata cucunya ini begitu mencintai Suri, namun apa daya, bagaimana pun dipaksakan, mereka memang tak akan bisa bersatu.
__ADS_1
"Tidak, ini bukan salahmu Nenek, bukan salah siapa-siapa," ucap Archie lagi begitu lembut pada neneknya, sorot matanya memancarkan rasa sayang yang amat sangat, bagaimana pun neneknya lah satu-satunya keluarganya yang paling dekat dengannya.