
Berbeda dengan Jofan yang berdiri tak jauh dari sana, wajahnya dan sorot matanya suram, entah sudah berapa banyak minuman keras itu di teguknya, bahkan seperti minum air putih, namun sialnya kesadarannya masih saja menguasai, amarahnya menyelimuti, mengelirik seluruh sanubari, membakar jiwa, hingga rasanya sungguh tersiksa, dia hanya bisa menatap senyuman Aurora yang manis namun benar-benar tak dia sukai.
Jofan sudah tidak tahan menahan siksaannya, begitu sakit hingga rasanya susah bernapas, jantungnya berdegup kencang tapi terasa sangat sakit, seperti sebilah pisau yang menancap namun tetap harus berdetak.
Jofan menghantamkan gelas itu ke arah meja bar yang ada di ruang tengah itu, membuat gelas kristal itu pecah di tangannya, remuk di dalam gengamannya, Aurora yang dari tadi masih fokus dengan kadonya langsung kaget, melihat Jofan yang matanya sudah memerah terkuasai oleh minuman keras namun belum disadarinya.
Aurora melihat ke arah tangan Jofan, Jofan pun melapaskan gelas itu, serpihan kaca yang tajam ternyata menusuk tangan Jofan membuatnya terluka cukup dalam, Jofan bahkan kaget kenapa dia malah melakukan hal ini, darah segar keluar dan membasahi tangannya.
Aurora langsung kaget melihat gambaran itu di depan matanya, dia segera bergegas ke arah suaminya yang terlihat diam, hanya memandangi tangannya dengan darah segar yang mengalir di sela-sela jarinya.
"Bagaimana kau bisa begini?" tanya Aurora cemas, benar-benar cemas hingga dia hampir menangis melihat tangan Jofan seperti itu, "Kita harus mengobatinya," kata Aurora lagi menarik tangan Jofan, Jofan seolah tak punya tenaga, hanya mengikuti Aurora, saat ini pikirannya kosong, hanya mengulang-ulang gambaran pria itu merayu Aurora.
Aurora tergesa-gesa menarik Jofan masuk ke kamarnya, karena memang kamar mereka terpisah seperti kamar mereka sebelumnya, Aurora tampak begitu cemas, mencoba mencari apakah ada yang bisa dilakukannya untuk luka Jofan yang terus mengeluarkan darah.
__ADS_1
"Tunggu," kata Aurora, dia membiarkan Jofan berdiri terpaku melihat tangannya, rasanya nyeri tapi entah kenapa tak senyeri hatinya ketika melihat senyuman sumringah Aurora ketika dia mendapatkan kado itu, dia tampak begitu senang, seharusnya itu dia, seharusnya yang boleh memberikan Aurora kado itu hanya dia, tak da yang boleh melakukannya.
Aurora mencari-cari di laci kamarnya yang cukup luas, namun tak menemukan apapun di sana, bahkan perban pun tak ditemukannya, dia merasa dia sudah menyiapkan kotak P3K, namun dimana? jika cemas kita memang suka lupa dimana kita menyimpan sesuatu.
Aurora lalu teringat, bukannya dia punya scraf? Aurora segera membuka lemarinya, mencari scraf yang sepertinya dia bawa dan untungnya scraf itu memang ada, dia langsung mengambilnya, dan cepat berjalan ke arah Jofan yang masih terdiam seperti orang linglung, mata merahnya hanya mengikuti kemana saja Aurora bergerak, tajam dan menusuk.
Aurora segera mengangkat tangan Jofan, dia melihat luka yang cukup dalam itu, bagaimana bisa Jofan melukai dirinya sendiri, namun Aurora enggan bertanya.
"Apakah masih sakit?" tanya Aurora melirik Jofan yang terus memandangnya. Jofan tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya pelan, namun sorot matanya masih begitu dalam pada Aurora.
Entah kenapa semakin dia melilhat wajah cemas dan khawatir Aurora, dia malah merasa marah karena saat itu pula gambaran-gambaran tentang Aurora dan Liam kemarin muncul kembali, sebegitu senangnya dia bertemu Liam, dan sekarang dia berakting dengan wajah cemasnya di depan Jofan, apa dia tak tahu setiap senyumannya itu melukai Jofan, Jofan juga tak tahu kenapa, tapi itulah yang di rasakan sekarang, dia benar-benar tebakar api cemburu yang mengrongrong dirinya dari dalam.
Aurora baru selesai membuat simpul pada balutan luka Jofan, dia ingin pergi untuk mencari obat lagi, namun sebelum dia bisa pergi, tangannya digenggam oleh Jofan, Aurora kaget, tangan itu apa tidak sakit? Tangan Aurora digenggam begitu erat oleh Jofan, Aurora yang dari tadi cemas tidak memperhatikan tatapan mata Jofan, saat ini dia baru sadar, ternyata tatapan Jofan begitu tajam padanya, seolah begitu banyak kemarahan di matanya, Aurora melihat itu langsung takut, tak pernah melihat Jofan seperti ini sebelumnya.
__ADS_1
Jofan yang sudah dikuasai oleh alkohol benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih, yang ada di otaknya sekarang hanya bagaimana bisa melampiaskan semua kemarahan yang sudah dipendamnya, tidak ingin lagi merasakan perasaan ini, rasanya ingin mati saja, selalu merasa panas padahal ditempat yang begitu dingin, inikah rasanya cemburu? Jofan tak pernah merasakannya sama sekali, wanita-wanitanya sebelumnya selalu tunduk padanya, tak pernah mencoba-coba untuk menggoda pria lain di hadapannya, namun wanita ini, dia malah tersenyum pada pria lain.
Aurora merasakan nyeri di tangannya yang di genggam oleh Jofan, namun yang dia khawatirkan malah luka Jofan, dia takut akan semakin parah. Jofan menarik tangan Aurora, membuat tubuh Aurora segera menempel padanya, tangan Jofan yang lain menangkap dagu kecil Aurora, dan tanpa menunggu lama lagi mendaratkan bibirnya ke bibir Aurora, Aurora yang diperlakukan seperti itu tentu kaget, matanya membesar, merasakan bau alkohol yang menyengat dari mulut Jofan yang sekarang ******* bibirnya dengan sangat liar, namun Aurora tak bisa bergerak, tangan Jofan yang menahan dagu Aurora, mencengkram pipinya dengan sangat erat membuatnya bahkan tak bisa bergerak, tangannya yang tadi digenggam terus digenggam oleh Jofan, bahkan semakin keras, Aurora benar-benar tak bisa apa-apa, tangannya yang lain mencoba melepaskan diri pun tak ada apa-apanya dengan tenaga Jofan.
Jofan benar-benar sudah tak bisa berpikir apapun, dalam benaknya hanya ingin melampiaskan perasaannya, memberikan hukuman pada wanita yang sudah berani mempermainkan hatinya, dia bahkan mengigit bibir Aurora yang kecil hingga anyir darah terasa, Aurora hanya bisa menahan nyerinya, tak menyangka ciuman pertamanya dengan Jofan akan berakhir dengan pemaksaan dan bau alkohol yang kuat.
Jofan benar-benar ingin melampiaskan semua perasaannya pada Aurora, namun semakin dia melakukannya semakin parah perasaannya, seolah kehausan dia menghisap semua udara yang bisa dihirup oleh Aurora, membuat Aurora benar-benar tak bisa bernapas. Jofan melepas bibirnya dari bibir Aurora, namun bibirnya malah menyusur ke leher jenjang Aurora, mencium dalam-dalam wangi tubuh Aurora yang ternyata lebih memabukkan dari pada alkohol yang tadi diminumnya, kali ini dia bukan hanya dipenuhi oleh amarah, deru-deru nafsu perlahan menguasainya, mengantikan tahta amarah menjadi kebutuhan yang lain, Aurora menegang, merasakan sengatan-sengatan yang dihasilkan oleh ciuman membab*i buta dari bibir Jofan, tangan Jofan masih menahannya, dia tak membiarkan Aurora untuk bisa bergerak.
Jofan merasa tak puas, dia lalu menarik Aurora dengan kasar, dan menjatuhkan tubuh Aurora ke ranjangnya, Aurora yang terhempas sedikit merasa linglung dan limbung, tak memperhatikan Jofan yang sudah membuka pakaian bagian atasnya, memperlihatkan tubuh kekarnya walaupun usianya sudah tak lagi muda. Saat Aurora sadar, dia makin ketakutan melihat Jofan, balutan tangan Jofan sudah penuh dengan darahnya.
"Jofan, jangan, aku tidak mau begini," kata Aurora yang tahu Jofan sudah kehilangan akal sehatnya.
"Jadi kau inginnya dengan Liam? Benarkah?" kata Jofan lagi.
__ADS_1