Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
182 - Nadia?


__ADS_3

Mobil William langsung masuk ke area rumah sakit pemerintah itu, dia menyerahkan tanda khusus co-assnya sehingga dia biasa langsung masuk dan parkir di tempat khusus para koas dan dokter.


Begitu mobil mereka berhenti, Archie segera ingin membuka pintunya, sebelum William kembali menegurnya.


"Kak, kau ingin keluar begitu saja di rumah sakit pemerintahan seperti ini? bisa-bisa kau akan dikerumuni orang-orang," kata William lagi melihat kakaknya yang cukup gegabah jika sedang panik begini. William segera menyerahkan maskernya pada Archie, lalu William segera menggunakan jas co-assnya.


"Cepatlah," kata Archie tak sabar melihat adiknya dengan tenang menggunakan jasnya.


"Sabarlah, dia tak akan kemana-mana," kata William tenang,hanya mengira ini tentang Nadia, lupa bahwa ada penculikan yang harus di tanangi.


"Kau keluar sekarang atau kalau tidak aku akan meminta papa memotong tabunganmu," kata Archie kesal, kenapa adiknya ini sangat santai.


"Iya, iya, baiklah," ujar William segara keluar dari mobilnya dan mengunci mobilnya, mereka segera berjalan masuk, William mengarahkan Archie untuk berjalan melewati pintu yang ada di samping, bukan pintu utama, dia lalu memindai kartu khususnya, dan mereka segera masuk, Archie melirik William, merasa ada gunanya juga membawa adiknya yang menyebalkan ini.


Saat Archie berjalan menuju ruang khusus isolasi, ponselnya berdering.


"Halo?" kata Archie pada Gerald yang meneleponnnya.


"Aku sudah ada di rumah sakit umum pemerintah, dimana kau?" tanya Gerald lagi yang baru saja masuk dari pintu utama rumah sakit itu.


"Aku sedang menuju ruang isolasi khusus penderita gangguan jiwa, temui aku di sana," kata Archie yang tampak cemas, Gerald yang baru saja ingin bertanya ada apa sebanarnya, hanya bisa menelan rasa penasarannya karena Archie segera menutup panggilannya.


"Maaf, saya ingin ke ruang khusus isolasi khusus penderita gangguan jiwa, dimana tempat itu?" tanya Gerald pada seorang perawat yang baru saja melewatinya, melihat keadaan rumah sakit yang hiruk pikuk, sangat ramai dengan orang-orang yang berlalu lalang.


"Oh, Anda lurus saja, jika sudah tidak ada jalan lurus, Anda tinggal belok ke kiri, Ruangan isolasi ada di ujungnya," kata perawat itu mengarahkan  Gerald.


"Baiklah terima kasih," kata Gerald yang langsung segera berjalan, menerobos lalu lalang  para pengunjung dan pasien rumah sakit yang sudah seperti pasar.


Gerald terus berjalan, sesakali berlari kecil jika dia bisa, lalu mengikuti seluruh arahan dari perawat tadi dan benar saja dia sudah sampai di tempat yang bertuliskan  ruang isolasi khusus pasien gangguan jiwa, tempat benar-benar terisolasi jauh sekali, jauh dari tempat-tempat lain, dan anehnya di bagaian pintunya terdapat jeruji besi, seorang pria menjaganya di depan.


"Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu? " tanya pria itu pada Gerald.


"Eh, saya ingin melihat keadaan saudara saya di dalam," kata Gerald asal saja, dia sampai menggaruk belakang kepalanya untuk mencari alasan.


"Pasien atas nama?" kata pria itu sambil melihat ke daftar nama pasien, apakah pasien itu termasuk pasien yang boleh dikunjungi atau tidak.

__ADS_1


"Eh, siapa lagi? aduh, eh … siapa yang ada di sana?" kata Gerald bingung, membuat penjaga itu mengerutkan dahinya karena merasa pria ini hanya mencari alasan untuk masuk, sedangkan daerah itu adalah daerah terlarang karena para pasien di dalam bisa menyakiti siapapun yang mereka jumpai.


"Maaf Tuan, tanpa menyebutkan nama pasien, Anda tidak boleh masuk ke dalam ruangan ini," kata pria yang bertubuh cukup tegap itu menatap Gerald dengan tajam, mencoba menunjukkan bahwa tempat itu adalah tempat kekuasaannya. Gerald melihat penjaga itu yang membusungkan dadanya menjadi mengerutkan dahi, sedikit mundur, tak perlu juga menunjukkan gestur seperti itu, pikirnya.


Gerald segera mengambil ponselnya, menyingkir sedikit menjauh dari pria yang tampak menatapnya curiga, kemana Archie? pikirnya.


"Halo?" kata Gerald setelah Archie mengangkat panggilannya.


"Ya? dimana kau?" kata Archie langsung.


"Harusnya aku yang bertanya, aku sudah ada di depan ruang isolasi, tapi karena aku tidak tahu siapa yang ingin kita temui, jadinya aku tidak bisa masuk ke dalam," kata Gerald sedikit kesal sebab Archie selalu menutup panggilan sebelum dia bisa tahu untuk apa dan siapa yang ingin mereka temui di rumah sakit ini.


"Nadia," kata Archie langsung, mendengar nama itu Gerald langsung mengerutkan dahinya.


"Nadia?  Maksudmu Nadia yang mana?" kata Gerald sedikit lupa siapa Nadia.


"Sahabat Ceyasa yang ada di desa Giovert, dia ada di sini," kata Archie lagi.


Gerald membuat kerutan dahinya semakin dalam, Nadia? Pikirannya membuat kilasan tentang wanita yang menolong Ceyasa berjalan saat mereka membawanya.


"Dia bersamaku, izinkan dia masuk," kata William dengan wajahnya yang serius.


"Tuan Muda William," kata Gerald yang segera memberikan salam.


"Baik Dokter, silakan," kata penjaga itu segera membuka gembok untuk tempat itu, pria itu memandang Gerald dengan wajah curiga, Gerald pura-pura saja tidak melihat hal itu dan langsung saja masuk, ketika Gerald masuk, pintu itu ditutup dengan cukup keras dan langsung digembok ulang membuat Gerald merasa penjaga itu tidak menyukainya, belum lagi ruangan itu terdiri dari ruangan-ruangan kecil yang juga seperti penjara. Di dalamnya ada beberapa orang yang tampak tidur dengan tenang, Gerald lebih takut dengan orang gila dari pada dengan hantu.


"Ayo," kata William masuk ke dalam salah ruangan, ruangan itu terlihat sangat tak terawat, dia langsung melihat Archie ada di dalamnya, sedang berdiri di samping ranjang seorang wanita yang tertidur sangat lelap, Gerald menatapnya, ya wanita ini yang ada di pikirannya tadi.


"Selamat pagi Pangeran," kata Archie, Archie yang tampak mengamati Nadia hanya mengangguk.


"Kapan dia akan bangun?" kata Archie melihat ke arah William.


"Dari statusnya diluar, dia baru saja diberikan obat penenang jam 6 pagi tadi, pasti dia meracau lagi dan tak ada yang percaya jadi kita harus menunggu paling cepat 6 jam untuk dia bangun, itu juga paling cepat, efek obatnya 6-8 jam," kata William lagi menjelaskan keadaan Nadia.


"Tidak mungkin kita menunggu di sini selama itu," kata Archie yang terus mengamati.

__ADS_1


Gerald yang hanya diam mencoba untuk menahan dirinya untuk bertanya kenapa sahabat  Ceyasa ada di sini?


"Bagaimana cara mengeluarkan dia dari sini?" tanya Archie lagi.


"Harus dengan persetujan dokter spesialisnya," Jawab William enteng, namun membuat Archie kembali memutar otak, Gerald hanya diam bingung, "Atau kau bisa berpura-pura menjadi keluarganya dan meminta PAPS," kata William.


"Apa itu PAPS?" kata Archie yang tak mengerti, kenapa adik kecilnya ini malah mengatakan hal-hal medis di depannya?


"Pulang atas permintaan sendiri, jadi kakak harus menandatangani surat keterangan bahwa akan menanggung semua resiko jika dia dikeluarkan dari sini, setelah itu dia bisa kita bawa," kata William lagi.


"Ya, begitu juga boleh, Gerald urus semuanya, kita akan membawa dia pulang," kata Archie pada Gerald.


"Baik Pangeran," kata Gerald yang masih sangat bingung, namun kalau sudah diperintahkan begitu dia akan melakukannya, dia segera keluar dari ruangan itu.


Archie menatap kembali ke arah Nadia yang tidur sangat nyenyak, bahkan dia terdengar sedikit mengorok karena efek obat yang diberikan mereka.


"Bagaimana kalian bisa memberikan orang obat tidur seperti ini?" kata Archie yang tak habis pikir.


"Untuk pasien dengan halusinasi dan histeria seperti dia, pasti diberikan obat seperti ini, apalagi kami tidak tahu keluarganya, riwayat penyakitnya, jadi dari pada membahayakan, lebih baik dibuat tenang seperti ini," kata William menjelaskan dengan santai.


"Dan kalian mengurung mereka di ruangan seperti ini," kata Archie yagn melihat tempat ini tidak layak sama sekali.


"Ya, ini rumah sakit pemerintah, selain itu juga kau tidak bisa membuat orang-orang dengan gangguan kejiwaan untuk menjaga ruangan mereka tetap bersih bukan?" kata William lagi, Archie diam merasa apa yang dijelaskan oleh William masuk akalnya, tak sangka adiknya ini benar-benar bisa menjadi dokter.


Mereka menunggu, setelah beberapa menit akhirnya Gerald kembali bersama 2 orang perawat wanita dan pria.


"Bagaimana?" kata Archie pada Gerald.


"Sudah, kita sudah bisa membawanya pulang," kata Gerald yang tidak ingin menyapa Archie dengan pangeran di depan dua perawat ini, dari caranya berdandan, dia tahu Archie ingin menutupi identitasnya di sini.


"Dok, bukannya sudah selesai co-assnya?" tanya perawat wanita pada William.


"Iya kak, hanya ingin melihat pasien ini, ternyata dia seorang teman," kata William dengan senyuman ciri khasnya yang membuat perawat itu langsung tersipu, Archie melirik tingkah adiknya, pantas saja dia sangat nyaman menjalani co-assnya, dia merayu semua perawat yang ada di sini, pikir Archie lagi.


"Oh, baiklah," kata perawat itu, dia mencabut 3 ways dari tangan Nadia, menutup lukanya, lalu segera mengangkat tubuhnya ke ranjang dorong,  Gerald menyewa 1 ambulans untuk membawa tubuh Nadia dan mereka semua segera menuju ke East Park.

__ADS_1


__ADS_2