Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
357 - keadaan yang membaik.


__ADS_3

Archie tidur terduduk, tak ada yang mampu merayunya agar bisa beristirahat di ruangan yang sudah di sediakan, dia tak ingin beranjak dari ruangan itu, dia ingin bisa melihat keadaan Ceyasa, dia tak ingin tiba-tiba Ceyasa sadar dan dia tak ada.


Dia hanya memandang Ceyasa yang tertidur pulas dari ruang tunggu berbatas kaca itu, tak sadarnya dia masuk ke dalam alam mimpi, meninggalkan sejenak lelah dan penat.


Tidurnya terusik tatkala mendengar suara sedikit berisik, dia membuka matanya yang langsung membesar melihat Ceyasa yang terbangun histeris.


Archie mendekati kaca pembatas mereka, dia melihat kengerian dan ketegangan di wajahnya, mata Ceyasa serasa liar menatap ke segala arah, dokter dan perawat mencoba untuk menenangkan Ceyasa, Ceyasa yang menatap wajah Archie langsung menangis histeris, akhirnya dia tahu kenapa dia harus melahirkan anaknya sekarang.


Melihat Ceyasa yang begitu, Archie langsung segera keluar dari ruangan itu, pergi menuju ruangan Ceyasa. Sebelum masuk dia dihadang oleh perawat yang menyuruhnya untuk mencuci tangannya, menjaga ruangan itu tetap steril.


Saat dia mencuci tangan, pintu itu terbuka, dokter keluar dengan wajah sedikit Khawatir.


"Ada apa? kenapa dia begitu?" tanya Archie yang kaget, terakhir kali dia melihat Ceyasa, istrinya itu tidur dengan sangat lelap.


"Yang Mulia Ratu sepertinya mengingat tentang kejadian sebelumnya, saat ini Ratu sudah mulai tenang, Beliau mengharapkan Anda ada di dalam sekarang," jawab Dokter itu.


"Baiklah," kata Archie, dia sudah tahu tak bisa mengharapkan Ceyasa melupakan hal itu seterusnya, walaupun tak tahu nantinya harus berkata apa, Archie harus siap bersama Ceyasa.


Archie membuka pintu, melihat Ceyasa yang jauh lebih tenang, namun dari sela matanya, air mata itu masih mengalir, hanya saja dia melakukan tangisnya dengan wajah datarnya, matanya kosong melihat langit-langit ruangan putih itu, melihat Archie datang, 2 orang perawat yang menemani Ceyasa langsung bergegas keluar.


Ceyasa melirik Archie, tangisnya menjadi melihat suaminya itu, Archie yang melihat wajah sedih Ceyasa sangat tak sanggup, dia mencoba menahan dirinya walau matanya pedih.


"Jangan menangis, aku di sini, kalau kau menangis, lukamu bisa bertambah berat," bisik Archie lembut mengusap buliran air mata yang menguasai sisi-sisi mata istrinya itu.


"Kenapa kau tak mengatakan sejujurnya padaku, kenapa tak mengatakannya?" kata Ceyasa menuntut pada suaminya.

__ADS_1


"Aku hanya tak bisa melihatmu sedih, keadaanmu masih lemah, jika aku katakan yang sebenarnya, keadaanmu akan memburuk," Ujar Archie, sekuat apapun berusaha, matanya tetap saja basah.


"Anak kita? bagaimana dia?" kata Ceyasa lagi, napasnya terdengar berat, menahan rasa sakit yang dalam, bahkan luka bekas tusukan dan operasinya tak ada apa-apanya dibanding dengan luka batinnya.


"Dia ... dia baik-baik saja," ujar Archie, berbohong untuk sekian kalinya.


Mata Ceyasa yang sendu hanya memandang suaminya, menganalisa wajah Archie yang memandangnya dengan tatapan bersalah, mata Ceyasa bergerak-gerak, menangkap guratan kebohongan itu, Air mata Ceyasa kembali mengalir, membuat Archie makin merasa bersalah.


Ceyasa memalingkan wajahnya ke arah lain, tak ingin melihat Archie sekarang, dari tatapan Archie, Ceyasa tahu apa yang terjadi, membuat dadanya semakin sesak. Archie hanya mengerutkan dahi menatap Ceyasa.


"Kenapa kau berbohong terus padaku?" suara Ceyasa pelan terdengar, bergetar menekan kesedihan.


"Aku ...." kata Archie yang tak tahu harus mengatakan apa.


"Tidak, dia masih ada, dia ada di sana, Pangeran kecil kita masih hidup, Ceyasa, kita punya seorang Pangeran," kata Archie mengelus pangkal rambut Ceyasa, tersenyum sedikit walaupun saat mengatakannya seperti ada duri yang menahan tenggorokannya, sakit sekali, mendengar hal itu Ceyasa menunjukan raut bahagia, Pangeran? dia punya pangeran.


"Apa dia baik-baik saja?" kata Ceyasa lagi kembali menuntut.


"Keadaanya saat ini masih harus dipantau intensif, dia dilahirkan prematur, jadi dia butuh perawatan yang ekstra," ujar Archie yang membuat Ceyasa kembali menangis pilu, semua ini salahnya, jika saja dia tidak pergi ke sana, jika saja dia bisa lebih mengikuti kata-kata suaminya, anaknya sekarang pasti masih aman dalam kandungannya.


"Hei, jangan menangis seperti itu, seperti katamu, dia adalah Jagoanmu bukan? dia akan menjadi anak yang kuat dan tangguh, karena itu cepatlah pulih agar kita bisa melihatnya bersama-sama," lembut Archie mengatakannya, mengusap air matanya istrinya yang meleleh berbutir besar, dia mencium kening istrinya dengan dalam, tanpa sadar air matanya sendiri pun sudah jatuh mengalir begitu saja


"Maafkan aku, maafkan aku tak mengikuti kata-katamu, maafkan aku tak bisa menjaga anak kita," ujar Ceyasa merasa bersalah, kenapa tadi dia harus marah dengan Archie, padahal semua kejadian ini adalah salah dirinya.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, ini bukan salahmu, semua ini sudah jalannya, kita hanya harus melewatinya bersama, sekarang tenanglah, tidurlah kembali, masih terlalu pagi untuk bangun, dan kau harus banyak beristirahat agar kita bisa bertemu dengannya segera," ujar Archie dengan senyuman tipis yang menenangkan.

__ADS_1


Ceyasa hanya bisa diam sesaat, bola matanya kembali bergerak-gerak, dia lalu mengangguk dengan pelan, Archie kembali menghapus sisa air mata Ceyasa yang masih basah.


"Bisakah kau di sini saja?" tanya Ceyasa.


"Aku akan bertanya pada dokter, jika dokter mengizinkan aku akan ada di sini," kata Archie lagi.


"Baiklah," kata Ceyasa lagi.


Archie sedikit tersenyum, tak ingin melepaskan tangan Ceyasa namun dia harus mengikuti peraturannya, dia tak ingin membuat keadaan Ceyasa menjadi memburuk karena kehadirannya. Archie segera keluar ruangan dan menemui dokter yang ada di luar.


"Ceyasa memintaku untuk tinggal di sana? apa itu diperbolehkan?" tanya Archie.


"Silakan, kami sedang menyiapkan semuanya agar Yang Mulia Ratu dipindahkan ke ruangan rawat biasa, keadaan Yang Mulia saat ini sangat stabil, Beliau benar-benar menunjukkan perbaikan yang pesat," kata Dokter itu tersenyum.


Mendengar hal itu seperti angin segar di tengah Padang tandus yang Archie rasakan dari tadi, pundaknya yang dari kemarin tegang rasanya sudah mulai mengendur perlahan.


"Kapan kami bisa melihat putra kami?" tanya Archie, Ceyasa pasti akan terus bertanya tentang hal itu, setidaknya Archie tahu harus bilang apa.


"Dokter anak mengatakan keadaan pangeran masih belum stabil, jika Anda ingin melihatnya, Anda bisa melihatnya dari luar, Pangeran masih butuh bantuan pernapasan dan juga inkubator, keadaannya masih rentan,karena itu mungkin butuh waktu sedikit lebih lama untuk pangeran bisa bersama Anda," ujar Dokter itu lagi.


"Kapan Keadaan Ceyasa memungkinkan untuk melihatnya di NICU?" tanya Archie.


"Dilihat dari keadaannya saat ini, jika memang memungkinkan, besok mungkin sudah bisa," kata Dokter lagi.


"Baiklah, terima kasih banyak," kata Archie sedikit lega, setidaknya keadaan Ceyasa membaik, dia hanya tinggal memikirkan keadaan anaknya, mudah-mudahan dia pun menyusul ibunya, hingga semuanya membaik secepatnya.

__ADS_1


__ADS_2