
Ceyasa baru saja selesai melihat kepergian Archie untuk pergi bekerja, dia lalu menatap ke arah istana yang megah itu, menarik napasnya dengan panjang, hari ini dia harus bisa bertahan mengikuti semua pelatihan yang akan diberikan oleh Ibunda Ratu Ayana.
"Lusy, kapan aku harus mengikuti pelatihan?" tanya Ceyasa pada Lusy yang setia ada di sampingnya.
"Pelatih kepribadian Anda akan datang jam 9 nanti pagi, Anda bebas melakukan apapun hingga pukul 9 nantinya, saya akan mengingatkan ada tentang pelatihan itu nantinya," kata Lusy dengan senyuman ramahnya.
"Baiklah, terima kasih Lusy," kata Ceyasa yang tak tahu dia harus melakukan di istana sebesar ini, apa yang biasanya putri lakukan setiap pagi seperti ini?
Ceyasa melangkah perlahan, melewati ruang demi ruang, dia tak tahu harus apa, jadi dia hanya putuskan untuk kembali ke kamarnya, setidaknya itu saja yang bisa dia lakukan sekarang, dia takut jika dia keluar malah menjadi masalah nantinya.
"Nona Ceyasa," tegur seseorang, Ceyasa mengenal suara itu, dia langsung mencari sumber suaranya, Gerald berjalan ke arahnya, Ceyasa mengerutkan dahi, bukannya biasanya Gerald selalu bersama dengan Archie?
Gerald berhenti di depan Ceyasa, dia memberikan sedikit hormat, lalu melihat ke arah Lusy, tanpa perlu diberikan perkataan apapun, Lusy sepertinya tahu apa yang diinginkan oleh Gerald, dia segera mengangguk pelan dan lalu meninggalkan Ceyasa dan Gerald sendirian.
Ceyasa mengerutkan dahinya, melihat tingkah Gerald dan Lusy ini sedikit aneh, bukannya semua tahu bahwa Ceyasa dilarang untuk berbicara dengan pria lain selain Archie, lagi pula Gerald yang mengatakan bahwa dia tidak pantas berbicara pada Ceyasa, namun suasana memang sedang sepi, Ceyasa jadi penasaran apa yang ingin dikatakan oleh Gerald.
"Nona Ceyasa, maafkan kelancangan saya, namun saya mendapat tugas dari Yang Mulia Raja Angga, beliau ingin bertemu dengan Anda sekarang," kata Gerald lagi.
Mendegar itu wajah Ceyasa menjadi berubah, dia kaget dan juga bingung, kenapa Yang Mulia Raja Angga ingin bertemu dengannya? bukankah dia tidak boleh berbicara dengan Raja tanpa ada Archie di sisinya? Tapi apa haknya membantah, jadi Ceyasa hanya mengangguk saja.
__ADS_1
"Baiklah, silakan Nona," kata Gerald mempersilakan, dia lalu melihat ke arah Lusy, Lusy langsung mendekati Gerald dan mereka berjalan berdua di belakang Ceyasa.
Ceyasa di arahkan untuk pergi ke istana utama namun tidak dari pintu utama melainkan pintu belakang, mereka juga langsung mengarahkan Ceyasa untuk masuk ke dalam ruangan kerja Yang Mulia Raja Angga, Asisten Lin segera membukakan pintunya, membiarkan Ceyasa masuk begitu juga Gerald dan juga Lusy.
Ceyasa berjalan dengan sangat gugup, melihat ruangan kerja yang begitu mewah itu dan melihat sosok Raja yang penuh wibawa sedang melihat beberapa pekerjaannya, Lusy yang mengarahkan ke mana dan kapan Ceyasa harus berhenti, berjarak 1,5 meter dari meja kerja Angga, Lusy menghentikan Ceyasa lalu mengeluarkan gestur agar Ceyasa memberikan hormat pada Raja Angga.
"Selamat Pagi Yang Mulia Raja Angga," kata Ceyasa langsung memberikan salam formal yang terus dia latih di setiap saat dia sedang sendirian. Angga yang mendengar hal itu segera menghentikan pekerjaannya, melihat salam formal Ceyasa yang jauh lebih sempurna dari pada kemarin.
"Bangkitlah, duduklah di sana," kata Raja Angga menunjukkan tempat duduk yang sama seperti saat dia memanggil Archie dulu.
Lusy lalu mengarahkan Ceyasa untuk duduk, Lusy menarik salah satu kursi yang ada di sana, berjarak 1 kursi dari tempat duduk Angga nantinya.
Ceyasa menebak-nebak apa yang ingin dikatakan oleh Raja Angga padanya, apakah ini soal pernikahannya dengan Archie? tapi bukankah dia yang bahkan memberikan restu pada mereka? Atau apa ada masalah lain, contohnya ketidaksukaan Ibunda Ratu padanya?
Angga langsung duduk dengan sikap sempurnanya di tempat duduknya yang biasa, melihat Angga yang duduk dengan tegap, membuat Ceyasa menegapkan tubuhnya, namun gara-gara itu luka di punggungnya terasa tertarik dan perih, Ceyasa menunjukkan wajah kesakitannya.
"Duduklah senyaman mungkin," kata Angga yang memperhatikan hal itu.
"Terima kasih Yang Mulia Raja," kata Ceyasa, Lusy berdiri di dekatnya, sedangkan Gerald duduk di depan Ceyasa, Lusy harus menemani Ceyasa karena Ceyasa tidak boleh berada dalam 1 ruangan dengan pria lain selain Archie tanpa ditemani wanita lain, baik itu Asistennya atau dayang-dayangnya.
__ADS_1
"Nona Ceyasa, aku akan mengatakannya langsung, sejujurnya aku sangat penasaran dengan diri Anda, Anda benar-benar sangat misterius dan penuh kejutan, aku sangat kaget dengan pengakuan Archie tentang Anda semalam, dan ada beberapa hal yang menyangkut Anda yang hingga saat ini sangat menganggu pikiran saya, " kata Angga dengan suara berat yang bahkan ketika mendengarkannya orang-orang bisa gentar.
Ceyasa duduk kaku, dia bahkan mengenggam tangannya sendiri, tiba-tiba ingin sosok Archie datang untuk menolongnya sekarang.
"Aku dengar sebelumnya Anda juga memiliki hubungan dengan salah satu kolega saya yang membuat kolega saya harus membatalkan kerja sama dengan perusahaan kami, benarkah?" kata Angga lagi bertanya. Ceyasa terdiam, dia lalu memandang Gerald di depannya, Gerald mengangguk kecil seolah menyuruh Ceyasa untuk menjawabnya.
"Benar Yang Mulia," kata Ceyasa tak tahu harus menjawab apa, apakah Raja Angga masih marah dengan masalah pembatalan kerjasama dengan Rain itu? padahal Ceyasa tak tahu menahu tentang hal itu.
"Tadi pagi Gerald juga melaporkan tentang masalah penculikanmu oleh Tuan Rain, dan aku dengar Anda mengalami luka yang sangat serius karena itu, benarkah itu?" tanya Angga yang mulai mengurangi intonasi suara beratnya agar Ceyasa lebih merasa nyaman untuk menjawab semua pertanyaannya.
"Benar Yang Mulia," kata Ceyasa lagi.
Mendengar itu Angga mengerutkan dahinya, menyatukan jari jemari dari kedua tangannya di depan wajahnya, dia tampak berpikir.
"Nona Ceyasa, jika aku boleh tahu, apa yang mengakibatkan Tuan Rain harus sampai menculik dirimu dan juga menyiksa dirimu seperti itu?" tanya Angga.
Ceyasa sedikit mengangkat kepalanya, melihat ke arah Gerald dan Raja Angga sekilas, dia merasa tidak enak untuk berbicara tanpa melihat lawan bicaranya, bukankah itu salah satu adap berbicara, lagi pula untuk apa menunduk, dia tidak salah bukan?
"Aku punya selalu punya gambaran di kepalaku tentang seorang wanita yang tewas di dekatku, wanita itu tewas karena tembakan di kepalanya, selain itu aku juga melihat seorang anak laki-laki berumur 5 tahun yang ternyata menyaksikan kejadian itu, saat aku bangun aku baru sadar bahwa anak laki-laki berumur 5 tahun itu adalah Rain, dia bilang ibunya meninggal gara-gara diriku, namun aku sama sekali tidak bisa mengingat apapun tentang kenapa hal itu bisa terjadi, Rain menghukumku karena aku tidak mengingat hal itu," kata Ceyasa lagi.
__ADS_1