Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
340 -


__ADS_3

Setelah memastikan Anxel pergi, Jofan baru mendekati Jenny yang tampak cukup salah tingkah, bingung harus berkata apa.


"Dari mana saja kau ini?" tanya Jofan melirik Jenny sedikit lalu sedikit memicingkan matanya melihat ke arah Jonathan.


Jenny baru saja ingin membalas pertanyaan pamannya ketika Jonathan tiba-tiba langsung buka suara.


"Selamat pagi Tuan, maaf, karena membuat Jenny tidak pulang semalaman," kata Jonathan langsung, suara beratnya yang sangat berkarakter itu membuat Jofan mengerutkan dahinya, cukup berani untuk langsung berbicara dengannya.


"Siapa kau?" tanya Jofan.


"Maaf ketidaksopanan saya, nama Saya Jonathan Medison," kata Jonathan dengan tegas menjulurkan tangannya.


Jofan semakin mengerutkan dahinya mendengarkan nama terakhir dari Jonathan, Medison, jangan-jangan?


Aurora segera mengambil alih, dia meletakkan tangannya di bahu suaminya, membuat bahu Jofan yang tadinya sudah naik, segera turun kembali, Jofan melirik ke arah Aurora.


"Dia anak dari Liam dan Melisa," kata Aurora pelan dan lembut pada Jofan agar emosi sang suami tidak naik.


Mendengar hal itu , Jofan segera melemparkan kembali tatapannya, kali ini lebih tajam ke arah Jonathan, Jenny yang melihat tatapan tajam itu menggigit bibirnya, satu hal yang dia tahu tentang sifat paman yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri ini, pamannya ini  susah sekali untuk percaya pada orang lain, apa lagi jika orang itu atau salah satu keluarganya punya catatan  buruk baginya.


Suasana tegang terasa, Jofan masih bergeming hanya menatap dengan sangat tajam pada Jonathan yang juga bergeming, tangannya masih menjulur pada Jofan, namun tak di sambut sama sekali. Merasa tangannya tak mungkin disambut oleh Jofan, Jonathan menarik tangannya.

__ADS_1


Jenny yang berdiri di antara mereka hanya bisa melempar pangadangannya pada pamannya dan juga pada Jonathan.


"Paman, sebenarnya ini semua salahku, aku pergi ke club malam dan pulang dini hari, dan di jalan aku hampir saja di rampok, untung Jonathan ada di sana," kata Jenny mencoba mencairkan suasana yang terasa sangat tegang.


"Benarkah? lalu bagaimana? apa kau terluka atau bagaimana?" tanya Aurora yang kaget mendengarnya, Jofan pun mengerutkan dahinya menatap Jenny yang tampak berwajah bersalah.


"Tidak, aku tidak apa-apa, tapi Jonathan yang terluka, karena itu aku harus membawanya ke rumah sakit, dia harus menerima 14 jahitan karena itu," kata Jenny semangat agar pamannya bisa mendengar hal itu.


"Benarkah? apa kau tidak apa-apa Jonathan? " suara Aurora terdengar cemas, mendengar hal itu Jofan kembali melihat ke arah Jonathan, wajahnya sedikit melunak.


"Aku tidak apa-apa, terima kasih bibi," kata Jonathan dengan senyuman sopan. Jonathan sekilas melihat ke arah Aurora namun matanya itu kembali ke arah  Jofan.


Jofan masih melihat ke arah Jonathan namun wajahnya sudah jauh dari yang tadi, Jofan lalu mengamati sekali lagi wajah dan penampilan Jonathan.


Jofan memiringkan sedikit kepalanya, menatap pria yang tampak sangat percaya diri berdiri di depannya, suaranya dan tatapannya yang serius membuat Jofan merasa pria ini dapat di percaya.


"Jika ingin masuklah," kata Jofan langsung, hal itu membuat Jenny dan Aurora tampak sedikit terkejut, namun bernapas lega.


"Terima kasih paman, tapi aku harus mengejar pesawatku karena hari ini aku harus kembali ke negeraku," kata Jonathan sekali lagi menatap Jofan, kali ini sedikit ulasan senyuman tipis menghias di bibirnya, dia juga melihat ke arah Aurora, tapi dia tidak melirik sedikit pun pada Jenny yang cukup kaget mendengar perkataan Jonathan, dia tak tahu kalau Jonathan hari ini akan kembali ke negaranya, entah kenapa perasaan Jenny sekarang merasa tak rela.


"Oh, baiklah, hati-hati di jalan, terima kasih sudah mengantar Jenny," kata Jofan kali ini dia menjulurkan tangannya, Jonathan menambah senyuman manisnya, dia segera menyambut tangan Jofan.

__ADS_1


"Baiklah, Terima kasih Paman, saya permisi dulu," kata Jonathan lagi, Jofan melepaskan tangan Jonathan.


"Di sini tidak ada kendaraan, Aku akan memerintahkan supirku untuk mengantarmu pulang, sekali lagi terima kasih sudah menolong dan mengantar Jenny," kata Jofan, kali ini senyumannya terlihat, dia memanggil supirnya dan memberikan perintah untuk mengantarkan Jonathan.


"Sama-sama Paman," kata Jonathan lagi, Aurora hanya memberikan sebuah senyuman manis, tak lama supir Jofan segera mendatangi mereka dengan mobil yang sudah siap sedia digunakan.


"Saya pergi dulu Paman dan bibi," kata Jonathan membuka pintu mobil itu, Jofan dan Aurora mengangguk, Jonathan kali ini melirik ke arah Jenny, wajah Jenny tampak sedikit berharap, dia baru saja ingin mengatakan kata-kata perpisahan, namun Jonathan hanya melemparkan senyuman manisnya sebelum segera masuk ke dalam mobil itu, dan mobil segera melaju.


Jenny terdiam, begitu saja? tidak ada apa-apa? tak ada kata perpisahan atau apalah? Sekedar lambaian tangan juga tak ada, kenapa Jenny jadi merasa kesal melihat tingkah Jonathan itu, Pria itu! egh! Pikirnya sambil mengikuti paman dan bibinya berjalan masuk ke dalam istana.


"Jenny," kata Aurora menyapa Jenny.


"Eh? Ya? ada apa bi?" kata Jenny tersentak kaget karena dia masih bergumul dengan pikirannya. Aurora yang melihat Jenny yang tampak baru sadar dari lamunannya mengerutkan dahinya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Aurora.


"Oh, kepalaku sedikit pusing," kata Jenny memegangi kepalanya.


"Kau tampak sedikit kurang tidur, tidurlah dulu, makan siang masih beberapa jam lagi," kata Aurora yang melihat Jenny sedikit lesu.


"Ya, baiklah Bi, terima kasih," kata Jenny.

__ADS_1


Jenny duduk di pinggir ranjangnya, masih sedikit kesal dengan kelakuan Jonathan, tapi kenapa juga dia harus kesal, bukannya itu bagus jika Jonathan pergi dari sana, jadi dia tidak perlu bertemu lagi dengan pria itu, lagi pula, siang nanti bukannya dia akan bertemu dengan keluarga Anxel, paman dan bibinya juga akan bertemu dengan keluarga Anxel dan dia yakin sekali, pasti  mereka akan sangat setuju dan secepatnya ingin meresmikan hubungan mereka, kalau begitu untuk apa dia harus memikirkan Jonathan, belum tentu juga pria itu memikirkannya bukan? bahkan dia pergi meninggalkan Jenny begitu mudahnya.


Jenny menghempaskan tubuhnya, lagi-lagi merasa pusing, tak ingin memikirkannya tapi entah kenapa malah tak bisa mengeluarkan Jonathan dari pikirannya, jangan-jangan dia benar-benar tertarik dengan pria itu, oh! Itu tidak boleh! Jangan bodoh Jenny, Jonathan hanya seorang playboy yang kebetulan sekali punya segalanya, jatuh cinta dengan seorang playboy sama saja dengan jatuh ke dalam jurang, sudah, Anxel adalah pria terbaik untuk dirinya, benar! Benarkan?


__ADS_2