Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
180 - Wanita penuh luka.


__ADS_3

Pagi menyingsing cepat,  Asisten Qie ditugaskan untuk melihat keadaan Ceyasa oleh Rain, itu menjadi sebuah kesempatan untuk  Asisten Qie, dia dengan cepat segera berjalan menuju ke tempat tahanan Ceyasa, entah kenapa merasa wanita itu tidak seharusnya mendapatkan perlakuan seperti ini.


Tapi untunglah, Tuan Rain tidak melakukan lebih dari tidak memberi makan Ceyasa, padahal biasanya dia orang yang sangat tega pada siapapun, dia bisa saja menyuruh penjaganya untuk melakukan kekerasan fisik pada Ceyasa, tapi sepertinya, Tuannya itu bahkan tak ingin seujung kuku Ceyasa terpotong.


Asisten Qie segera turun bersama 2 penjaga yang memegang kunci untuk penjara Ceyasa, saat dia turun, mata Asisten Qie langsung membesar, dia tak percaya melihat Ceyasa yang  tak berdaya, wajahnya pucat pasi dan tangannya masih tergantung di atas jeruji penjara itu.


"Buka, cepat buka," kata  Asisten Qie yang kaget dan panik, apa yang terjadi pada Ceyasa? padahal setaunya Rain tidak melakukan atau memerintahkan apapun untuk menyiksa Ceyasa, dia hanya tak mengizinkan Ceyasa untuk di berikan makan.


Penjaga segera membukakan pintu penjara itu,  Asisten Qie segera masuk, namun dia langsung ternganga, matanya langsung membesar melihat pemandangan dari belakang tubuh Ceyasa, seakan melihat sebuah penyiksaan yang sangat parah yang hanya pernah dia lihat di film-film, seluruh tubuh Ceyasa  tampak babak belur, bekas cambukan itu ada yang meninggalkan warna merah, namun juga ada yang menjadi luka.


"Buka, buka tangannya, siapa yang melakukan ini padanya, apa kalian tahu jika Tuan Rain mengetahuinya kalian semua akan habis, dia ini tahanan Tuan Rain," kata  Asisten Qie, tak menyangka Ceyasa akan begini, siapa lagi yang melakukan hal ini pada Ceyasa.


"Nona Lidia yang melakukannya tengah malam, tapi dia tak ingin ada yang mengatakannya, kau tahu bagaimana Nona Lidia kan? kita bisa mati hanya karena aduannya kepada Tuan Rain," kata Penjaga itu perlahan menurunkan tubuh Ceyasa yang tampak lunglai, pucat, mereka rebahkan tubuh Ceyasa dengan posisi telungkup, tak tega dengan luka itu.


Asisten Qie memasang wajah cemas dan kecut, dia tahu bagaimana sayangnya Rain pada adik angkatnya itu, dari pada  Asisten Qie, dia pasti lebih percaya pada Lidia, lagi-lagi  Asisten Qie terlalu pengecut untuk melaporkannya.


"Nona Ceyasa, kau bisa mendengarku?" tanya  Asisten Qie.

__ADS_1


Ceyasa yang sudah sadar namun tak bisa apa-apa hanya mengangguk pelan, dia bahkan sudah tak sanggup lagi berbicara sepatah kata pun, terlalu lemah, tak punya tenaga sedikit pun untuk bisa membuka matanya seutuhnya.


"Panggilkan pelayan wanita, suruh mereka membawa pembersih luka, lalu ganti pakaiannya, jika dia meninggal, kita semua pasti akan dijatuhi hukuman oleh Tuan Rain," kata  Asisten Qie memerintahkan pada penjaga itu.


Mereka mengangguk melihat Ceyasa yang begitu lemah, mereka malah takut jika tiba-tiba Ceyasa meninggal di sana, kedua penjaga itu segera pergi,  Asisten Qie melihat mereka pergi langsung mengeluarkan air kemasan kecil untuk Ceyasa.  Asisten Qie menopang kepala Ceyasa, menatap sangat kasihan pada wajahnya yang pucat pasi, pasti sakitnya tak tertahankan.


"Nona Ceyasa, maafkan aku, aku tidak bisa membantumu lebih dari ini," kata  Asisten Qie meletakkan bibir botol itu pada bibir Ceyasa, Ceyasa menatap  Asisten Qie, dia lalu meminum sedikit air itu, perutnya terlalu perih dan kosong bahkan hanya untuk minum  air, tak banyak namun cukup membuat kerongkongannya basah.


"Asisten Qie, ter-maka-sih," ujar Ceyasa dengan senyuman tipis yang dipaksanya, membaut  Asisten Qie terdiam, bahkan begini saja pun dia masih bisa tersenyum,  Asisten Qie benar-benar miris melihatnya, gadis begini baik, kenapa nasibnya sangat buruk?


"Aku akan membantumu sebisaku, Nona Ceyasa, aku tak bisa menghubungi orang luar, di sini tak ada sinyal sama sekali, tapi aku akan berusaha, Nona bertahanlah," kata  Asisten Qie dengan wajah sangat cemas, Ceyasa mengangguk dengan senyuman manis, cukup senang, walaupun Tuhan sekali lagi tidak mengabulkan permintaannya, ternyata masih ada orang yang menyayanginya walau dalam lubang penyiksaan seperti ini.


"Kalian tunggu apa lagi, bersihkan lukanya, juga ganti pakaiannya dengan yang baik," kata  Asisten Qie dengan wajah cemas.


"Ya, Tuan, baik," kata pelayan itu segera,  Asisten Qie segera melepaskan Ceyasa agar bisa ditangani oleh pelayan wanita, dia perlahan meninggalkan Ceyasa yang tampak memandangnya, dia langsung menghilang dari pandangan ketika para pelayan mulai membuka baju Ceyasa.


Suara Ceyasa menggema, teriaknya bahkan begitu terdengar dari pintu atas,  Asisten Qie dan penjaga juga bisa merasakan sakitnya, bagaimana luka perih itu diberikan obat agar lukanya tidak infeksi,  Asisten Qie benar-benar tak tahan mendengarnya.

__ADS_1


"Tak boleh ada yang turun lagi ke sana, bahkan Nona Lidia, katakan saja Tuan Rain yang memberikan peraturan," kata  Asisten Qie pada para penjaga, penjaga itu seolah ada di ujung tanduk, mana berani dia mengatakan hal itu.


Asisten Qie lalu segera pergi dan menemui Rain yang sedang santai menikmati pemandangan laut di balkon khusus tempatnya, seperti biasa mengawali harinya dengan kopi hangat pahitnya.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rain yang tahu  Asisten Qie sudah ada dibelakangnya.


"Dia tampak lemah Tuan," kata  Asisten Qie yang masih menimbang, haruskan dia mengatakannya? "Tuan  …. " kata  Asisten Qie yang memberanikan dirinya untuk mencoba berbicara, namun baru saja dia ingin mengatakannya, Lidia tampak datang ke arah mereka, membuat bibir  Asisten Qie terkunci segera.


"Ya?" kata Rain lagi menatap  Asisten Qie.


"Nona Lidia datang," kata  Asisten Qie mengalihkan perhatian Rain.


"Selamat pagi Kakakku sayang," kata Lidia manis memeluk Rain dari belakang,  Asisten Qie hanya bisa meliriknya, bagaimana wanita ini bisa bertingkah begitu manis padahal kelakuannya semalam begitu parah.


"Helikoptermu sudah siap," jawab Rain dengan nada datarnya.


"Apa? kenapa begitu pagi? Kakak benar-benar tidak ingin aku ada di sini?" tanya Lidia manja, mendengar suara manja yang memuakkan bagi Rain itu, dia berdiri.

__ADS_1


"Lebih cepat lebih bagus,  Asisten Qie bawa Nona Lidia ke halipad," kata Rain tenang saja, membuat wajah Lidia langsung terlihat masam, walaupun dia sangat marah, dia tidak bisa marah pada Rain,  Asisten Qie segera mempersilakan Lidia yang tampak begitu kesal, bahkan Rain tidak ingin melihatnya saat dia pergi.


Asisten Qie merasa cukup senang, setidaknya iblis wanita ini akan pergi dari sini dan tidak akan ada lagi yang akan membuat Ceyasa tersiksa, mudah-mudahan juga Tuannya hari ini tidak punya ide gila untuk melakukan sesuatu pada Ceyasa dan setidaknya Ceyass ada waktu untuk memulihkan tubuhnya yang penuh dengan luka itu.


__ADS_2