Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
285 - Dulu kita punya hubungan bukan?


__ADS_3

Apakah dia harus pergi ke sana? Tapi kemana Ceyasa harus pergi, setidaknya di istana pangeran dia lebih mengerti seluk beluknya, ada taman belakang istana pangeran yang tertutup tembok yang menurutnya bisa dia gunakan untuk keluar dari area kerajaan ini, untung saja waktu itu Ibunda Ratu Ayana mengajaknya minum teh, hingga dia bisa mengamati taman belakang itu dengan seksama.


Ceyasa memutuskan untuk menyeberang ke istana pangeran, kakinya sudah tak lagi merasakan apa pun, jika dia tak sengaja menginjak sesuatu yang kasar pun dia tidak lagi menghiraukannya, yang penting sekarang dia harus kabur dari sini.


 


Hingga saat dia ingin mengendap masuk ke dalam istana pangeran melawati balkon tempat dia pernah melihat bunga-bunga pagi hari itu, dia langsung kaget saat dia berbalik dan menemukan sosok pria sudah ada di sana, Archie ada di depannya dengan tatapan dinginnya.


 


Ceyasa memandang pria itu dengan wajah kaget dan juga napas yang terengah-engah, sorot mata Archie yang dingin mengingatkannya bahwa sosok pria ini bukan lagi Archie yang dia kenal.


 


"Aku  … aku …." kata Ceyasa sambil mengatur napasnya, menelan sedikit ludah yang sangat susah dia telan.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Archie dengan suara datar yang sangat ketus, hal ini membuat Ceyasa sedikit terdiam, rasa sedihnya keluar lagi, sial! dia tak boleh sedih sekarang, tiba-tiba dia ingat perkataan Rain tentang bagaimana jika Archie tahu bahwa dia adalah anak dari orang yang sudah membunuh ayahnya.


 

__ADS_1


"Aku mohon, aku hanya ingin pergi dari sini, pria itu, dia sangat kejam," kata Ceyasa sedikit memelas, jika memang tak ada lagi hati Archie padanya, setidaknya mungkin masih ada belas kasihnya sebagai sesama manusia.


 


"Pamanku? " kata Archie sambil memasukkan kedua tangannya pada saku celananya, menunjukkan sikap angkuhnya.


 


"Ya, aku akan keluar dari sini, aku, aku janji tidak akan melakukan apa-apa," kata Ceyasa lagi, hatinya terasa teriris mendapatkan tatapan tajam itu dari mata Archie, terlalu berbeda dengan tatapan lembut penuh perasaan yang sangat dirindukan oleh Ceyasa.


 


Archie bergeming, Ceyasa yang melihat hal itu merasa tak perlu untuk mengatakan hal apa-apa lagi, bisa saja sekarang mereka sudah tahu Ceyasa kabur, Ceyasa langsung ingin pergi lari dari sana, namun tangannya secepat kilat ditangkap oleh Archie, membuat langkah Ceyasa langsung terhenti.


 


Seperti sebuah petir yang menyambar dikeheningan malam yang dingin itu, pertanyaan Archie membuat hati Ceyasa serasa ingin lepas dari tempatnya, membuat lukanya terasa berdenyut, haruskah Ceyasa mengatakan yang sebenarnya? Percayakah dia kalau dia mengatakan bahwa mereka adalah suami istri sebelumnya.


 

__ADS_1


Tapi Ceyasa yang kembali menatap mata dingin Archie itu membuatnya sadar, itu hanya pertanyaan ingin tahu dari Archie, lagi pula jika Archie tahu dirinya adalah anak dari orang yang membunuh ayahnya, cepat atau lambat, bisa-bisa cinta itu juga akan berubah jadi amarah dan yang pasti itu akan membuat mereka akan terluka.


 


"Kita tidak punya hubungan apapun," kata Ceyasa menatap Archie dengan air mata yang sudah berkumpul di kelopak mata bawahnya, membuat pandangannya pada wajah tampan itu mengabur, bibirnya yang bergetar hanya bisa digigit oleh Ceyasa.


 


Archie memandang Ceyasa dengan pandangan yang mulai melembut, tatapan dan wajahnya syahdu tertimpa cahaya rembulan yang entah sejak kapan menerobos pintu kaca itu.


 


"Dulu kita punya hubungan bukan? Kau dan aku adalah pasangan, apa kita sudah menikah?" tanya Archie menatap Ceyasa dalam, membuat hati Ceyasa bergetar melihatnya, air mata Ceyasa turun membasahi pipinya, entah sudah berapa kali dia menangis hari ini, tetap saja air matanya deras turun dari matanya. Apa lagi hangatnya tangan Archie terasa begitu memenangkan, hangat yang sudah lama dia rindukan, namun Ceyasa tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


 


 


Archie menarik tangan Ceyasa dengan perlahan dan dengan tanpa sadar tubuh Ceyasa seolah tertarik mendekati Archie. tatapan sendu itu begitu dirindukannya, membuat Ceyasa menatap lekat pada mata Archie, air matanya turun begitu saja.

__ADS_1


 


"Maafkan aku," kata Archie, yang dengan cepat melayangkan pukulan ke bagian belakang kepala Ceyasa, dan dengan cepat Ceyasa langsung terkulai lemas. Archie segera mengendong tubuh Ceyasa, membawanya kembali ke istana utama.


__ADS_2