
Rain duduk di sofa bundar itu, dari jendela di depannya, masih terlihat matahari berlum sama sekali menyapa bumi, langit masih gelap namun suasana kota itu sama sekali tidak berubah, seperti semua kota itu tidak pernah tidur, bergeliat tak kenal waktu.
Namun bukan itu yang menjadi fokusnya, Lidia tampak lemas tergantung di dekat sisi jendela itu, penjaga berhasil menemukannya dan menyeretnya kembali ke depan Rain. Seberapa pun dia memohon, menangis, dan meminta ampun, tapi Rain seolah tak peduli, dia tetap ingin Lidia merasakan yang sama seperti dirasakan oleh Ceyasa, penyiksaan itu terjadi begitu saja di depan matanya, seolah itu adalah tontonan lumrah baginya, dia juga sangat menikmati hal itu.
Api rokok di tangannya tampak terkadang redup, terkadang menyala, membiarkan asapnya naik ke atas, rintihan sakit sudah lama tak terdengar, Lidia sudah tak sadarkan diri, tapi Rain belum punya niatan untuk melepaskan Lidia, bukankah mereka juga menggantung tubuh tak berdaya Ceyasa semalaman?
Selain itu dia mendapatkan kabar yang tak mengenakkan yang mengusik dirinya hingga dia tak bisa untuk menutup matanya malam ini, seorang teman di angkatan bersenjatanya memberitahukan bahwa dia sedang dimata-matai dan mereka menemukan bahwa rumah pantainya di serang.
"Lapor Tuan Rain," ujar seorang tentara dengan tegas.
"Bagaimana keadaannya?" kata Rain tampak santai namun sebenarnya dia sangat ingin tahu apa yang terjadi di sana?
"Mereka berhasil mengepung dan menyerang kediaman Anda, kediaman Anda sekarang rusak total, bahkan bala bantuan yang dikirimkan dapat mereka lumpuhkan sepertinya mereka memang sudah merencanakannya dengan baik, apalagi keseluruhan mereka adalah pasukan khusus yang sangat terlatih, mereka meliris di database mereka, mereka berhasil melumpuhkan semuanya, semua tewas," kata tentara itu dengan sangat jelas.
Rain kembali menghisap rokoknya, merasa geram sekali, dia terlalu larut dalam permainan bersama Lidia hingga meninggalkan tempatnya terlalu lama, saat dia ingin kembali, temannya ini melarangnya karena dia mengatakan, hanya akan menyerahkan nyawa jika kembali ke pulau itu sekarang, dan menurutnya juga sudah terlambat, biarkan dia merasa mendapatkan Ceyasa sesaat, setelahnya, dia akan merebutnya selamanya.
"Asisten Qie?" kata Rain mematikan rokoknya.
__ADS_1
"Salah satu dari orang yang tewas," kata tentara itu lagi dengan wajah sedikit simpati.
"Sayang sekali, carikan aku Asisten yang lain," kata Rain seolah kehilangan ini tidak ada apa-apanya.
"Saya sudah melakukannya untuk Anda Tuan, dia sudah ada di sini," kata tentara itu, tahu betul bagaimana menjilat pada Rain, membuat Rain menaikkan sudut bibirnya.
"Panggilkan dia," kata Rain lagi.
"Silakan masuk," kata tentara itu segera memanggilkan seorang pria dari pintu luar, seorang pria masuk, tubuhnya tinggi dengan postur yang tidak terlalu besar, berjas rapi khas setelan para asisten profesional, Rain mendengarnya melangkah masuk, dia segera berdiri dan melihat ke arah Asisten pribadinya yang baru, ingin menganalisa apakah pria ini bisa dia terima atau tidak.
"Bagaimana dengan bosmu sebelumnya?" tanya Rain melirik pada pria itu.
"Saya adalah ajudan pribadi dari Letnan Jendral Richard," kata Asisten Ken sambil menatap tegak, menjelaskan siapa yang menjadi bosnya, Rain sedikit terkejut karena ternyata dia adalah ajudan dari pria yang melaporkan hal ini padanya. Lentan Jendral Richard memberikan senyuman tipis.
"Saya tidak bisa memberikan Anda seseorang yang tidak bisa saya percaya, Ken sudah sangat terlatih dalam segala bidang, saya yakin dia tidak akan mengkhianati Anda, juga akan melakukan segala tugas dengan baik," kata Letnan Jendral Richard pada Rain, benar-benar ingin membuat pria ini terkesan.
"Baiklah, aku ingin tahu keadaannya, siapa yang melakukan hal ini? dan bagaimana yang terjadi di sana?" tanya Rain lagi memberikan perintah pertama untuk Asisten Ken, dia kembali mengambil posisi santai duduk menikmati suasana dini hari yang cukup tenang, mereka berbicara seolah-olah tubuh wanita tergantung dengan luka cambukan parah hanya sebuah hiasan dirumah itu, tak sedikit pun ada yang kengerian melihat pemandangan itu.
__ADS_1
"Dari hasil seluruhnya data yang didapat penyerangan ini diperintahkan langsung dari Pangeran Archie di bawah komando Jendral Ben, mereka melakukan misi penyelamatan untuk membawa kembali Nona Ceyasa," kata Asisten Ken dengan lugas.
Rain menendengarkan nama Ceyasa langsung tersulut emosinya, dia sama sekali tidak peduli seberapa banyak orang-orangnya itu mati, namun yang sangat membuatnya marah adalah mereka mengambil kembali apa yang sudah menjadi miliknya, bagainya Ceyasa adalah miliknya seutuhnya, dan tak ada yang boleh mengambilnya.
Rain mengenggam erat tangannya, matanya tampak memerah menahan emosi yang sangat, tak ada yang boleh menyentuh wanitanya, apapun yang terjadi dia harus kembali mendapatkan wanita yang bahkan tak pernah keluar dari kepalanya sejak meninggalkan tempat itu.
"Kemana mereka membawanya?" kata Rain lagi tanpa melihat ke arah Asisten Ken yang ada di belakangnya.
"Mereka membawa Nona Ceyasa kembali ke istana," kata Asisten Ken tegas.
"Benarkah?" kata Rain melepaskan kepalan tangannya, diantara kedua alisnya segera berkerut, dia sedikit memalingkan wajahnya ke belakang walaupun matanya tidak melihat ke arah Asisten Ken.
"Ya."
"Baiklah, jika begitu saatnya kita memasuki istana," ujar Rain dengan senyuman tipis misterius sambil kembali menikmati kopi hitamnya, wajahnya tampak licik, senyuman itu bertahan menjadi senyuman sinis, sepertinya dalam pikirannya dia sudah mendapatkan sesuatu yang lebih menantang kali ini dan itu seketika membuatnya bersemangat.
Aku akan mendapatkanmu, dan kali ini jangan harap bisa lari dari ku, Ceyasa, kau milikku selamanya, pikir Rain dengan senyuman sinis tak tertahankan.
__ADS_1