
Archie duduk menatap dinding kosong yang kelabu di dalam kamarnya, seluruh jendela di kamarnya di tutup, semua lampu pun di matikan, hanya sedikit celah di jendela kamar yang tertutup gorden putih yang memberikan cahaya di ruangan kamarnya, tak ingin melakukan apapun, sudah hampir 1,5 jam dia hanya menatap dinding kosong itu saja.
Tangannya memainkan gelas yang ada di atas meja kecil di samping tempat duduknya, sebotol minuman keras ada di sampingnya, dia sudah meneguknya, mungkin lebih dari 2 gelas kecil itu, namun perasaan dan kepalanya masih saja kalut dan berat, kenapa dia tidak menjadi mabuk dan hilang ingatan saja.
Apa yang salah dari dirinya? Semua orang tak percaya tentangnya, dari kecil dia dianggap seperti seseorang yang sewaktu-waktu akan berubah menjadi monster, dia sudah berusaha untuk menunjukkan, bahwa dia adalah anak yang baik, namun entah kenapa tak ada yang percaya.
Archie mengambil gelas itu, membawanya tepat ke depan matanya, melihat cairan berawarna keemasan itu dari dalam gelas kristalnya, tak penuh, juga tak kosong, tepat di tengah gelas itu. Semakin dia melihat gelas itu, semakin sakit hatinya, membayangkan semua hal yang terjadi padanya hari ini, namun dari semuanya, yang paling nyeri adalah melihat tawa Suri, secepat itukah dia melupakannya? perasaan Archie sekarang bercampur aduk, sebentar memikirkan Suri, sebentar memikirkan nasibnya.
Archie sudah tak tahan lagi, napasnya mulai membuatnya sesak kembali, dia segera ingin meminum minuman keras itu, namun baru saja pinggiran gelas itu menyentuh bibirnya, pintu kamarnya diketuk dari luar, membuatnya diam sejenak, siapa yang berani mengetuk pintunya saat ini, bukannya seluruh rumah tahu kalau dia sedang begini, tak boleh ada yang mengganggunya, kecuali ….
Archie meletakkan gelas itu kembali, entah kenapa malah merasa perlu membuka pintu untuk gadis gila yang ada di balik pintu itu, ya, siapa lagi yang berani mengganggunya kalau bukan gadis aneh itu, namun anehnya, dia tetap ingin mengetahui apa yang dibutuhkan Ceyasa padanya, dia ingin melihat wajah wanita aneh itu, mungkin dia bisa melampiaskannya dengan bertengkar dengan wanita itu. Archie bangkit walaupun malas, dengan langkah yang lamban dia berjalan ke pintu yang sekali lagi di ketuk untuknya.
Archie membuka pintu, dia sudah siap-siap memarahi wanita aneh itu, namun bibirnya langsung terbungkam ketika melihat Gerald yang berdiri dengan wajah sedikit sungkan dan takut. Archie menekuk bagian tengah dari kedua alisnya, kenapa Gerald, bukannya kalau Gerald sudah tahu bagaimana dirinya jika saat seperti ini.
__ADS_1
"Nona Ceyasa meminta Anda melihat ke arah jendela Anda," kata Gerald sedikit segan, Gerald langsung menutup pintunya, membuat Archie semakin bingung, ada apa ini?
Archie segara pergi ke jendela kamarnya, membuka satu persatu gorden yang menutupinya, jendela pertama dia tidak melihat apa-apa, jendela kedua dan ketiga pun sama, wanita itu mau menunjukkan apa sih? Pikir Archie kesal, dia lalu berjalan ke arah jendala yang mengarah ke taman belakang yang menyuguhkan pemandangan kolam renang. Kali ini jika Ceyasa tidak ada lagi, dia tak akan mencari wanita aneh itu lagi, pikir Archie kesal.
Archie menyibakkan gorden itu, seketika terdiam melihat Ceyasa berdiri di tepi kolam renang rumahnya, dan entah kenapa ada air yang menguncur di atas kepalanya, sengaja di arahkan seperti itu seolah-olah sedang bediri di bawah hujan, padahal hari ini terang benderang. Di tangannya dia membawa sebuah papan tulis putih, begitu Ceyasa melihat wajah Archie di jendelanya, dia langsung menunjukkan papan tulis itu.
‘Pada suatu hari ada seorang Pangeran yang sedang sedih’ tulisnya di papan tulis itu, Archie membaca itu segera mengerutkan dahinya, Ceyasa segera menghapus papan tulis itu dan segera menuliskan sesuatu lagi.
‘Wajahnya murung sekali, seperti ini nih,’ tulis Ceyasa lagi, setelah dia yakin Archie sudah membacanya, dia menghapus dan segera menggambarkan wajah cemberut di papan tulis itu.
‘Lihatlah, dia sudah tertawa, dan wajahnya seperti ini,' tulis Ceyasa lagi sambil sesekali mengusap wajahnya yang penuh dengan air yang masih mengucur membasahi tubuhnya seolah benar-benar seperti air hujan.
Archie yang membaca itu lansung terdiam, tak lama dia tersenyum, Archie tak menyangka walaupun aneh dan selalu membuatnya kesal, Ceyasa ternyata cukup peduli padanya.
__ADS_1
Ceyasa kembali sibuk mengambarkan sesuatu, membuat sebuat gambar wajah senyum yang menggunakan mahkota, melihat gambar Ceyasa yang tak lebih bagus dari pada gambar anak TK, Archie kembali tertawa kecil, gadis ini konyol sekali.
‘Turunlah, kalau tidak turun aku akan terus hujan-hujanan seperti ini,' Tulis Ceyasa lagi, membuat Archie menggelengkan kepalanya, apa sih yang dipikirkan wanita aneh ini? apalagi sekarang Archie melihat Ceyasa dengan wajah berharap yang dibuat-buat, membuat wajahnya semakin lucu, Archie tertawa dan tanpa sadarnya dia langsung menuju keluar dan turun untuk menemui wanita aneh yang sukses membuatnya tertawa.
Gerald yang melihat Archie keluar dengan wajah yang cukup membaik menjadi sedikit kaget, dia hanya mengikuti Archie yang buru-buru keluar dan turun menuju ke taman belakang, Archie langsung berhenti ketika melihat Ceyasa yang ada di hadapannya, masih bergeming di tempat itu, Archie baru tahu bahwa Lusy lah yang menyemprotkan air dengan selang ke arah Ceyasa yang sudah basah kuyup, Archie berdiri di pintu keluar, memandang aneh pada Ceyasa, Lusy yang melihat pangerannya hanya menunduk, namun tetap menyiramkan air pada Ceyasa.
"Kau ini melakukan apa sih?" tanya Archie dengan wajah yang dikesal-kesalkan.
"Aku pernah baca, jika ingin meminta maaf, minta maaflah dibawah rintik hujan, orang akan merasa permintaan maafnya akan sangat tulus, karena hari ini tidak hujan dan tak mungkin menunggu hingga hujan jadi aku terpaksa begini," kata Ceyasa yang basah kuyup, wajahnya penuh air hujan buatan yang disiramkan oleh Lusy.
Archie yang mendengarkan itu sedikit merasa kelakuan Ceyasa ini benar-benar konyol dan lucu, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya namun dia berusaha tetap bersikap dia sedang kesal, dia hingga menggigit bibir dalamnya agar tak tertawa. Gerald yang melihat Ceyasa yang basah kuyup itu tak menyangka, gadis ini ada-ada saja.
"Lalu?" kata Archie yang akhirnya bisa berbicara kembali setelah mencoba untuk menahan tawanya.
__ADS_1
"Maafkan aku," kata Ceyasa dengan wajah bersalah yang cendrung imut, membuat Archie menatapnya dengan senyuman tipis, Gerald saja setuju, wajah Ceyasa sekarang tampak begitu mengemaskan terlepas dengan air yang terus mengalir di atas kepalanya. "Aku tahu semua ini gara-gara aku, tapi bisakah jangan terlalu bersedih atau marah," kata Ceyasa lagi pada Archie.