Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
131 - Maafkan Aku Datang Terlambat.


__ADS_3

"Jenny, sudah ya, ini adalah rumah sakit, jika kau terus berteriak seperti itu, Bibimu pasti merasa sedih, dia sangat menyayangimu," kata Liam mencoba untuk menenangkan Jenny, Jenny yang mendengar itu terdiam sebentar, menatap Liam yang menatapnya penuh dengan pengertian, dengan wajah masih penuh dengan air mata, Jenny mencoba untuk mengikuti kata-kata Liam, Liam merangkul Jenny pergi, membawanya untuk kembali duduk agar dia tenang, Suri yang melihat hal itu hanya bisa diam, saling lempar pandang dengan Jared, Suri mengerti posisinya, dia segera mencoba untuk memenangkan Jenny, walaupun dia tak yakin apakah Jenny akan menerimanya atau tidak.


Jofan yang melihat Jenny yang tampak lebih tenang bersama Liam benar-benar terpukul, dia paman kandungnya, namun sekarang rasanya Jenny begitu membencinya. Jofan hanya bisa diam saja menatap keponakannya itu.


"Dia sangat kecewa dengan paman, dia terus menghubungi paman, namun tak satu pun dari kami bisa menghubungi paman," jelas Jared pada pamannya yang masih terpaku melihat keadaan Jenny, mendengar perkataan Jared, Jofan mengernyitkan dahinya.


"Kalian tidak bisa menghubungi aku?" kata Jofan lagi melihat ke arah Jared.


"Ya, panggilan kami dialihkan, aku tidak punya nomor  Asisten paman, menelpon ke perusahaan namun paman sudah tak ada, keadaan Bibi kritis awalnya, tapi sekarang dia sedang dipantau ketat, walaupun lemah, sampai sekarang dia stabil, dia masih belum sadar," kata Jared menjelaskan pada pamannya.


Jofan mendengar itu hanya terdiam, tak bisa berkata apa-apa, dia sudah bisa membayangkan bagaimana Aurora dengan semua alat-alat itu, baru saja pemandangan itu pergi darinya, sekarang dia harus melihatnya lagi, bedanya ini Aurora bukan Sania.


"Aku ingin melihatnya," kata Jofan dengan mata yang tiba-tiba basah.


"Kita tidak bisa masuk ke dalam ruangannya, kita hanya bisa melihat dari kaca, karena keadaannya masih sangat lemah," kata Jared.


"Ya, tidak apa-apa," kata Jofan menguatkan dirinya, Jared lalu memimpin langkah, berjalan ke arah pintu ruangan Aurora.


Jared membuka pintu ruangan itu, memimpin pamannya untuk masuk, Siena yang dari tadi mengikuti ayahnya, langsung dihadang Jenny yang melihat dirinya ingin ikut masuk.


"Bahkan jika aku mati, aku tidak akan pernah mengizinkan kau masuk menemui bibiku," kata Jenny meghentikan langkah Siena, membuat Siena sedikit kaget melihat sepupunya ini.

__ADS_1


"Jenny, sudah, kita duduk saja ya," kata Suri pelan merayu Jenny yang sepertinya sudah sangat siaga untuk begelut dengan Siena, dia mengikuti Suri yang menariknya kembali ke tempat duduk, namun matanya tetap menatap tajam pada Siena, Siena yang melihat itu hanya berwajah datar, tak tahu apa yang sedang di pikirkannya sekarang.


Jofan masuk bersama Jared, menatap ruangan yang kosong  dan dingin itu, langkah kaki mereka pun terdengar.


"Paman, ini baju khususmu, aku akan menunggu mu di luar, paman punya waktu selama paman mau di dalam, ini kartu yang paman butuhkan," kata Jared menyerahkan baju khusus, fan juga penutup kepala untuk Jofan, Jofan segera memakainya, setelah melihat pamannya selesai memakai semua perlengkapan, Jared segera membuka pintu untuk menuju melihat keadaan Aurora, setelah pintu terbuka, Jared segera menyerahkan kartu itu pada Jofan.


Jofan berjalan perlahan, memasuki ruangan yang rasanya sedingin es, dia sudah mulai muak dan trauma mendengar suara-suara alat-alat penunjang hidup itu, dinding putih, dan bau disinfektan yang membuatnya mual, bahkan saat dia menatangkap tubuh Aurora di sana, dia terhenti sejenak, seolah langkahnya berat, dia tak mampu walau hanya untuk mengangkat kakinya, terlalu terpaku.


Jofan meraba dinding yang jauh dari kaca pembatas itu, perlahan mencoba memindahkan kakinya, selangkah demi selangkah hingga dia akhinya bisa melihat dengan jelas wajah Aurora. Dia terdiam, memandang wajah cantik istrinya yang selama ini selalu menyuguhkan senyuman, selalu dengan sabar memperhatikannya, kali ini hatinya jauh lebih sakit memperhatikan Aurora yang terbaring tak berdaya seperti ini, dia hanya bisa mematung bersandar pada tembok, tak selangkah pun berani untuk mendekati dinding kaca yang membatas mereka.


Aurora, maafkan aku, aku datang terlambat menemuimu, ujar Jofan dalam hati dengan mata yang berkaca-kaca.


---***---


"Paman sedang melihat Bibi," kata Jared menjelaskan, memasukkan kedua tangannya ke saku celananya, tak lama ponselnya bergetar, dia tampak mengerutkan dahinya, Suri yang masih memperhatikannya juga ikut mengerutkan dahinya.


"Ehm, aku harus ke bawah untuk mengambil sesuatu," kata Jared lagi memberitahu semua orang yang ada di sana.


"Oh, boleh kah aku ikut?" kata Suri langsung berdiri.


"Tentu," kata Jared sedikit tersenyum, Siena melihat mereka, menyimpulkan mereka adalah sepasang kekash.

__ADS_1


Suri berjalan ke arah Jared, namun sebelum Jared mulai melangkah, Suri menghalangi dengan berdiri di depannya, Jared mengerutkan dahinya, bingung dengan tingkah Suri.


"Kenapa?" kata Jared yang bingung.


"Oh, aku belum berkenalan dengan sepupu kalian, bolehkah aku bekenalan?" kata Suri yang langsung membalikkan badannya, suaranya sedikit besar membuat keheningan di sana terpecah, Jenny yang mendengar itu mengerutkan dahi, untuk apa Suri berkenalan dengan gadis itu? Jared pun agak kaget, tapi memang dia belum sempat mengenalkannya, Siena yang mendengar itu sedikit gugup, dia berdiri.


"Aku Suri," kata Suri menjulurkan tangannya pada Siena. Terlihat cukup ramah, membuat Jenny sedikit muak.


"Aku Siena," kata Siena menjulurkan tangannya untuk membalas tangan Suri. Suri mencengkram tangan Siena sedikit lama, mengamati sesuatu yang dari tadi ingin dia lihat karena melihat tingkah Siena yang cukup membuatnya curiga.


"Ehm, senang bertemu denganmu," kata Siena lagi yang merasa jabatan tangan ini cukup lama.


Jenny yang memperhatikan itu merasa tingkah Suri juga sedikit aneh, bukannya sebagai putri dia tidak boleh menjabat tangan siapa pun, dia hanya boleh memberikan salam formalnya, kenapa sekarang dia menjabat tangan Siena dan juga menahannya lebih lama.


"Oh, ya, aku juga, sudah ingin pergi?" tanya Suri melepaskan tangan Siena, lalu segera melirik ke arah Jared.


"Ya."


Suri berjalan duluan dan Jared mengikutinya dari belakang, sebelum dia masuk ke dalam lift dia berhenti sejenak, berbicara pada  Asisten Liam.


"Maaf, aku memberikan kartuku pada pamanku, bolehkan aku mendapat kartu yang lain," kata Jared lagi.

__ADS_1


"Anda bisa menunggunakan kartu milik saya," kata  Asisten itu mengambil kartunya dari jasnya.


"Baiklah, terima kasih, aku akan kembalikan setelah kembali ke sini," kata Jared lagi, dia segera memindai kartu itu dan lift itu terbuka, Jared mengarahkan tangannya ke pinggang belakang Suri, mempersilakan wanita itu jalan duluan, dan Jared baru masuk ke dalam lift itu.


__ADS_2