Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
158 - (Au-L) Terima Kasih Telah Menolongku.


__ADS_3

Angga berdiri di luar ruangan Aurora, dari sana dia bisa melihat Bella dan Aurora tampak bercengkramah dengan sangat akrab, Angga meletakkan ponselnya ke dekat telinganya, menunggu panggilan yang dia buat untuk bisa tersambung, namun matanya terus tertuju ke ruangan Aurora. Tak lama panggilan itu akhirnya tersambung.


"Bagaimana?" kata Angga tanpa basa basi, dia tampak terdiam sejenak, mendengarkan penjelasan yang ada di seberang sana. "Lalu bagaimana? " kata Angga lagi dengan kerutan wajah yang mulai tampak, dia tampak begitu serius mendengarkannya, seolah tak ingin kehilangan sedikit pun informasi yang tersampaikan. "Baiklah, kabari aku jika kau punya informasi yang lain, aku butuh semuanya secepatnya," kata Angga lagi, melirik tajam ke arah ruangan Aurora , menatap Aurora yang tampak tertawa lepas bersama Bella.


Angga hanya menekan giginya, terlihat sedikit emosi dalam matanya, namun wajahnya masih tampak penuh dengan kerutan. Dia segera memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya dan mulai melangkah untuk kembali masuk ke dalam  ruangan Aurora, langkahnya terhenti saat dia melihat lift yang ada di sana terbuka, melihat seorang pria yang tak dikenalnya masuk. Pria itu dengan gagahnya berjalan menuju Angga dan juga senyuman yang tampak begitu manis.


"Yang Mulia Raja Angga, benarkah?" suara pria itu terdengar sedikit menggema di ruangan itu, Angga menatap pria itu, sejenak menganalisa, mencoba mencari di dalam pikirannya, apa dia pernah bertemu dengan pria ini? Liam berhenti di depan Angga dengan wajah penuh percaya diri, tersenyum begitu manis.


"Selamat datang di rumah sakit crown, apa Anda masih mengenali saya?" tanya Liam begitu ramah, dia menjulurkan tangannya pada Angga.


Angga sedikit memiringkan kepalanya, kembali menganalisa untuk membongkar memori-memori dalam otaknya, namun dia belum juga mendapatkannya, dia tetap menyambut tangan Liam.


"Liam Medison, saya adik sepupu   Tuan Andra Rafael Tadder, Anda dan Kakak sepupu saya sudah lama menjalani kerja sama, kita pernah bertemu saat peresmian perusahaan Kak Rafael yang baru," kata Liam lagi menjabarkan dimana dia pernah bertemu dengan Angga.


"Ya, maafkan saya Tuan Liam, sudah lama sekali, saya hingga tak mengenali Anda," kata Angga yang akhirnya berhasil mengingat Liam, mereka menyudahi salam mereka.


"Senang bisa kembali bertemu dengan Anda lagi Tuan Angga, saya diberitahu oleh  Asisten saya bahwa Anda datang kemari, maafkan saya tidak menyambut Anda dengan semestinya, ada beberapa hal yang saya urus di perusahaan saya," kata Liam lagi dengan senyuman ciri khasnya.


"Tidak apa-apa kami hanya ingin melihat keadaan Aurora," kata Angga yang mengucapkan hal itu sambil mengerutkan dahinya, menatap Liam, melihat wajah Angga, Liam tahu apa yang ada di dalam pikiran Angga.


"Ya, aku dan Aurora adalah teman saat di universitas,  baiklah, silakan Tuan," kata Liam lagi mempersilakan Angga untuk kembali masuk ke dalam ruangan Aurora. Mereka berjalan beriringan.

__ADS_1


Aurora dan Bella sedikit terdiam, mendengar percakapan yang terdengar di luar, Aurora mendengar suara Liam, senyumnya yang tadi lepas sekarang berganti senyuman tipis yang tampak sungkan, Bella melihat itu hanya mengerutkan dahi.


Tak lama Angga dan Liam masuk ke dalam ruangan itu, Bella menganalisa pria yang ada di belakang Angga, tampak gagah dan pastinya begitu tampan, melihat Angga dan Liam berjalan beriringan bagai melihat malaikat yang jatuh ke bumi, pria-pria dewasa yang masih saja terlihat tampan, punya pesonanya sendiri, Jenny saja yang ada di sana setuju akan hal itu, jika saja Liam, Angga, Daihan dan Jofan berkumpul, maka akan seperti sekumpulan pria-pria matang yang sangat menggoda.


"Selamat siang Nyonya Xavier," kata Liam dengan sedikit senyuman, mencoba menyapa dengan sopan. Bella mengerutkan dahinya, bangkit dari duduknya, lalu berdiri di samping Angga.


"Tuan Liam Medison, ingat dengan  Tuan Raphael, dia adalah adik sepupunya," kata Angga memperkenalkan Liam pada Bella.


"Oh, senang bertemu dengan Anda, Tuan Liam," kata Bella dengan senyuman indahnya membalas senyuman Liam, perhatian Liam lalu jatuh ke arah Aurora, dia terlihat sedikit mendekat ke arah Aurora, Aurora hanya tersenyum tipis.


"Bagaimana keadaanmu?" kata Liam dengan lembut, membuat Bella melirik ke arah Angga, merasa ada yang berbeda, dari nada bicara Liam, siapa pun langsung tahu, dia menyimpan rasa.


"Aku baik-baik saja, terima kasih," kata Aurora seadanya.


"Aurora, sepertinya kami harus kembali, " kata Bella kembali mendekati Aurora.


"Baiklah Kak, terima kasih sudah datang," kata Aurora dengan senyum manisnya.


"Ya, beristirahatlah, aku tak sabar untuk melihatmu pulang besok, aku akan menyuruh orang untuk mempersiapkan segalanya," kata Bella lagi.


"Baiklah, kami permisi dulu," kata Angga lagi memberikan salamnya pada semuanya di sana.

__ADS_1


"Ya, " kata Liam, Aurora hanya tersenyum pada Angga.


"Bibi, aku akan mengantar kalian," kata Jenny yang merasa dia harus memberikan waktu Liam dan Aurora berdua, Aurora mengerutkan dahinya, dia cukup segan dan enggan untuk berdua saja dengan Liam saat ini, tapi tak mungkin melarang Jenny, bagaimana pun itu memang adap kesopanan, mengantar tamu hingga keluar.


"Baiklah terima kasih," kata Bella.


Jenny segera mempersilakan Angga dan Bella, setelah memberikan senyuman terakhirnya, Angga dan Bella segera keluar dari ruangan itu, Angga tampak mesra merangkul pinggan Bella. Aurora hanya bisa tersenyum senang melihat kemesraan keduanya.


Ruangan itu tiba-tiba terasa sepi, Aurora tak tahu harus mengatakan apa pada Liam yang sekarang ada di dekatnya, ingin pergi namun tak bisa, suasana di sana seketika canggung sekali.


"Kau sudah makan?" tanya Liam menatap Aurora, wajah manisnya tak pernah berubah, masih semenarik pertama kali, Liam bergerak ke arah meja makan, ingin mengambil minuman yang ada di sana.


"Sudah, Jenny sudah menyuapiku tadi," kata Aurora lagi.


"Ya, baguslah," kata Liam yang segera menuangkan minuman itu ke dalam gelasnya.


Aurora memperhatikan pria itu dari belakang, bahunya yang lebar tampak sangat kokoh dan sangat cocok untuk dijadikan tempat bersandar, Aurora ingat dulu dia sangat senang bersandar di sana saat mereka sedang belajar dibawah pohon di halaman belakang kampus mereka, cinta remaja itu terngiang sangat indah. Namun sekarang semua hanya tinggal kenangan, Aurora tersenyum sedikit.


"Liam," kata Aurora lembut. Membuat liat bahkan menghentikan proses minumnya.


"Ya?" kata Liam segera berbalik.

__ADS_1


"Aku belum mengucapkan terima kasih padamu,"  kata Aurora lagi, wajahnya sudah tak secanggung tadi, tak mungkin berwajah enggan saat kita berterima kasih.


"Itu memang sudah seharusnya aku lakukan," kata Liam lagi dengan senyuman terlihat senang, dia senang karena sepertinya Aurora mulai bisa menerima keberadaannya di sana karena sejak Aurora bangun, Aurora bahkan tak mau melihat dirinya.


__ADS_2