
Jendral Ben tampak serius menatap layar lebar yang ada di depan mereka, melihat pulau itu seksama, mencari sesuatu yang bisa menarik perhatiannya, hingga dia berhenti di salah satu tempat dengan lahan luas dan juga rumah besar di sekitar pantai bagian utara pulau itu.
"Itu, perbesar daerah itu, bagaimana ada rumah sebesar itu di sana," kata Jendral Ben hingga berdiri memperhatikan hal itu, Archie pun yang melihat itu segera tampak serius dan fokus, benar, tempat itu sangat kontras dengan tempat lain yang masih tertutup oleh tanaman.
"Persiapkan semua pasukan khusus dan senjata, dalam waktu 1 jam kita berangkat untuk melakukan misi penyelamatan sesuai dengan yang sudah kita rencanakan," kata Jendral Ben langsung.
"Siap, Jendral," kata para prajurit itu serempak, setelah mengatakan itu dan memberikan hormat mereka segera bergegas melakukan tugasnya.
Jendral Ben pun segera bersiap-siap, seorang tentara segera mengambil barang-barang yang dibutuhkan oleh Jendral Ben, dia akan turun tangan langsung dalam tugas ini, Archie melihat itu merasa dia harus melakukan sesuatu juga.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Archie.
"Tunggulah di sini Pangeran, serahkan semua ini pada kami, saat fajar tiba, kami pasti sudah akan membawa Nona Ceyasa kembali," kata Jendral Ben yang sibuk memasang alat pelindung di tubuhnya.
"Aku ingin ada disana," kata Archie dengan wajah serius. Gerald yang mendengar hal itu tentu tidak setuju, keamanan Archie tak terjamin di sana.
"Maaf Pangeran, permintaan Anda ditolak, di sana tidak ada hukum sama sekali, jika mereka berhasil melukai atau membunuh Anda, Bahkan Presiden dan Raja Angga pun tak bisa membantu Anda," kata Jendral Ben menatap Archie serius. Archie tampak diam, Tidak, dia tidak bisa lagi menunggu di sini seperti tadi, dia bisa gila menunggu setiap detik yang akan berlalu, lagi pula, dia ingin menjemput istrinya.
"Ku perintahkan kalian melindungiku di sana," kata Archie berdiri dan segera menatap Jendral Ben dengan tajam, "Atas nama Yang Mulia Raja Angga dengan lencana wewenangnya, Aku minta kalian mengizinkan aku ikut dan melindungiku di sana," kata Archie lagi.
"Pageran," kata Gerald yang benar-benar tidak setuju, dia sudah membayangkan bahwa penyelamatan ini akan seperti pertempuran, dia sangat takut akan terjadi sesuatu pada Archie, Rain adalah orang yang tak akan segan-segan melakukan hal itu, apalagi Jendral Ben sudah mengatakan bahwa pulau itu adalah pulau tanpa hukum sama sekali, pembantaian bisa saja terjadi.
"Kenapa? kau juga sudah berani melarangku?" tanya Archie dengan pandangan tajam yang sekejab langsung membuat Gerald tak berani melakukan apapun, dia tak bisa melarang Archie, apa lagi melihat sorot matanya yang tampak begitu teguh dan tajam.
Gerald tahu apapun yang dia katakan, Archie tidak akan terpengaruh dan dia sudah membulatkan tekat, seakan dia sudah siap dengan segala resikonya, Gerald jadi menyesal memberitahukan tentang lencana itu pada Archie, dan akhirnya dia tahu kenapa Raja Angga memberikan lencana itu padanya, bukan pada Archie, benar, Archie masih terlalu mengikuti emosinya.
__ADS_1
"Perintahkan pasukan khusus untuk melindungi Pangeran, prioritaskan penyalamatan Nona Ceyasa dan pengamanan Pangeran Archie," kata Jendral Ben yang tak mungkin melawan hal itu, mereka sudah disumpah untuk mematuhi semua perintah terutama jika langsung dari atasan seperti ini.
"Siap, Jendral," kata beberapa prajurit di sana, mereka segera menyiapkan semua pelindungan untuk Archie, termasuk rompi antri peluru, mereka langsung membantu memasangkannya pada tubuh Archie.
Gerald, William dan Nadia yang ada di sana hanya bisa diam saja mengamati Archie.
"Bisa menggunakan pistol, Pangeran?" tanya Jendral Ben menunjukkan pistol pada Archie.
"Aku bisa," kata Archie langsung, tak sia-sia papanya diam-diam menyuruhnya untuk mengambil pelatihan menembak dan mendapatkan surat izin menggunakan senjata api, walaupun harus bersembunyi-sembunyi karena Raja Angga sangat melarang pengunaan senjata api di kerajaan.
Jendral Ben sedikit tersenyum, dia lalu menyerahkan pistol itu dan langsung diambil oleh Archie, setelah memeriksa sedikit pistolnya, Archie lalu menyelipkannya pada holster dada yang juga dipasangkan padanya, setelah semua perlengkapannya selesai, dia kemudian menggunakan jasnya kembali, tampak seperti tak menyembunyikan apapun di dalam jasnya itu.
Jendral Ben dan rekan-rekannya segera keluar dari ruangan itu, Archie pun segera ingin mengikutinya, namun dia sedikit tertahan melihat wajah cemas dari Gerald.
"Aku tidak akan apa-apa, aku butuh kau menyiapkan segalanya di istana, juga termasuk keperluan medis, aku akan langsung membawanya ke istana," perintah Archie pada Gerald. Gerald yang tadi berwajah cemas segera mengangguk patuh.
"Ya, jaga dia sampai aku pulang," kata Archie melihat sosok Nadia yang masih saja bengong, hal seperti ini benar-benar hanya dia lihat di tv, tak menyangka dia akan mengalaminya sendiri.
Archie segera keluar dengan langkah mantapnya, Jendral Ben menunggunya, memberikan arahan agar dia segera mesuk ke helikopter militer miliki mereka, Archie harus masuk duluan, beberapa tentara sudah ada di dalam untuk membantunya, setelah Archie masuk barulah Jendral Ben dan 2 lagi tentara masuk.
Mereka menyerahkan headphone untuk Archie dan Jendral Ben, tak lama mereka segera mengudara, meninggalkan Gerald, William, dan Nadia yang menatap kepergian mereka, Nadia sampai tak bisa percaya yang dia lihat, keren sekali, pikirnya.
"Wah!" kagum Nadia melihat helikopter yang sudah pergi meninggalkan mereka.
"Wah? Baru melihat helikopter ya?" kata William yang melihat Nadia begitu terpukau. Nadia langsung melirik ke arah William.
__ADS_1
"Tentu tidak, sudah pernah lihat punya Cendro," kata Nadia pada William.
"Siapa Cendro itu sebenaranya?" tanya William pada Gerald yang ada di sampingnya.
"Nama samaran Pangeran Archie, ayo, kita harus menyiapkan segala keperluan di istana," kata Gerald langsung, dia harus cepat mengurus semua, bahkan dia harus menyiapkan segala sesuatu untuk situasi yang paling buruk sekali pun.
"Baiklah, tapi kau yakin membawa dia ke istana?" tanya William menunjuk ke arah Nadia. Nadia jadi mengerutkan dahi melihat sikap Nadia.
Gerald melihat Nadia, benar juga, mereka tidak boleh sembarangan membawa seseorang masuk ke dalam istana, apalagi saat ini Archie tidak ada di istana.
"Sudah, kau urus semua yang dibutuhkan kakak di istana, aku akan membawanya ke East Park, perintahkan saja beberapa penjaga untuk memperketat penjagaan di East Park, setelah kakak kembali, aku akan membawanya ke istana," kata William lagi.
"Baiklah, terima kasih Tuan Muda William, " kata Gerald.
"Sama-sama," kata William tersenyum manis.
Nadia melihat ke arah William yang tersenyum, ternyata terlalu tampan untuk tidak membuat hatinya gemetar, bagaimana semua orang disini terlihat seperti artis? Kenapa dari dulu dia tidak pindah saja ke sini?
"Apa yang kau lihat?" tanya William yang melihat wajah kagum Nadia padanya, terlalu berlebih seperti gaya Nadia yang biasanya.
"Kau juga sangat tampan, tak kalah dengan kakakmu," kata Nadia yang tak pernah canggung memuji orang, William yang mendengar itu langsung terlihat malu, pipinya yang putih memerah sesaat.
"Benarkah?" kata William yang sedikit senang, belum ada yang mengatakan bahwa dia tak kalah dengan kakaknya karena semua orang selalu memuji kakaknya.
"Ya, kau pasti punya banyak penggemar ya?" kata Nadia lagi. Mendengar itu William sedikit berdehem, menjaga sikapnya agar berwibawa.
__ADS_1
"Lumayan, baiklah, ayo pulang ke East park," kata William dengan gayanya yang salah tingkah.
"Baiklah, Tuan Muda," kata Nadia yang tampak cengegesan melihat tingkah William, dia mengikutinya dari belakang, mereka segera menuju van milik Archie.