Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
87 - Gadis Itu Harus Diingatkan Siapa Aku Sebenarnya!


__ADS_3

"Oh, tak tahu kau ingin dengar ini atau tidak," ujar Gerald lagi, kepalang tanggung dia sudah ada di sana.


"Kenapa?" tanya Archie sedikit mengerutkan dahi.


"Ehm, penjaga yang menjaga Ceyasa menemukan seorang pria yang mencurigakan, mereka sudah mengamati pria itu, pria itu mengikutinya terus menerus, setelah melakukan penyelidikan, mereka menemukan bahwa ada sekelompok penjaga yang lain, juga mengikuti Ceyasa, " ujar Gerald


"Benarkah?" tanya Archie, Archie mengerutkan dahinya, mencoba berpikir, pantas saja tadi dia melihat pria yang mencurigakan, tapi siapa lagi yang melakukan pemantauan dan penjagaan pada Ceyasa? bukannya dia baru saja sampai di sini? "aku rasa tidak mungkin ada yang melakukan pemantauan padanya, kau tahu sendiri dia baru datang, bagaimana bisa ada yang ingin memantaunya selain kita, apa mungkin ada orang yang ingin mencelakainya?" tanya Archie terduduk, memikirkan segala hal yang bisa saja terjadi.


"Aku juga tidak tahu, para penjaga mengatakan mereka saling memantau, dan salah satu penjaga mengatakan dia mengenal kelompok mereka, mereka juga penjaga profesional, mereka biasanya di sewa oleh orang-orang berpengaruh untuk melakukan penjagaan dan pemantauan kepada seseorang," jelas Gerald, "kau yakin Ceyasa itu hanya gadis desa biasa?" tanya Gerald lagi dengan penuh kerutan di wajah. Archie melirik ke arah Gerald.


"Ya, setauku dia Cuma seorang guru di desa," ujar Archie.


"Ya, tapi dilihat dari penjaga lain yang menjaganya, seseorang yang memata-matainya pastilah bukan orang biasa," kata Gerald lagi.


"Apa pun itu, aku ingin kalian secepatnya tahu siapa yang melakukan pemantauan padanya, dan pastikan dia terus aman," jawab Archie  tampak begitu serius.


"Baiklah, itu saja, kau bisa lanjutkan istirahatmu,"  ujar Gerald berdiri.


"Aku sudah tidak lelah, majukan saja rapatnya, aku tunggu 30 menit untuk memulainya," kata Archie yang merasa lelahnya hilang malah berganti rasa penasaran yang sangat.


"Tapi … " ujar Gerald lagi.


"Tak ada bantahan, aku CEOnya, aku tunggu 30 menit dari sekarang," ujar Archie serius, membuat Gerald tak berani membantah.

__ADS_1


"Baiklah," kata Gerald lagi, Archie segera berdiri dan sengera pergi meninggalkan kamar hotel yang hanya ditempatinya 30 menit saja, mereka langsung menuju ke perusahaan kembali.


------****------


Rain menyipitkan matanya karena sinar matahari yang membuatnya silau, dia menyeruput sedikit jus jeruk dingin yang sudah dihidangkan untuknya, senyum nakalnya merekah kala melihat seorang wanita dengan pakaian olahraga yang cukup minim, dengan postur tubuh yang begitu menggoda, sedang menggoyang-goyangkan sedikit pinggulnya, mencari posisi untuk bisa memukul bola golf itu, tak lama wanita itu lalu memukul bola golf yang segera melambung jauh meninggalkan mereka.


Rain sedikit mendongak, melihat ke arah mana bola itu pergi dan berhenti tak jauh dari lubangnya, dia mengangguk-angguk, merasa pukulan wanita itu tidak terlalu buruk.


"Bagaimana?" tanya wanita dengan suara renyah, terlihat sangat puas mendekati Rain yang tampak santai di bawah naungan payung, terduduk menikmati semuanya.


"Tidak buruk, tapi aku sedang tak punya mood untuk meladenimu, aku hanya ingin santai di sini ," ujar Rain lagi, kembali meneguk jus jeruk dinginnya, bahkan dia tidak melirik sedikit pun pada wanita yang sudah tersenyum lebar di sampingnya itu.


"Ah, Tuan Rain apa kau tidak tergoda denganku?" ujar wanita itu to the point, sudah 2 minggu ini dia mengikuti kemana saja Rain pergi, tapi sedikit pun Rain tidak menyentuhnya, hanya memamerkannya seolah boneka porselen yang cantik di dalam lemari, itu juga jika dia menunjukkan dirinya dulu, jika tidak, Rain akan bertingkah seolah dia tak ada, benar-benar pria yang susah ditahlukkan, pikir wanita itu menatap wajah dingin Rain yang cendrung tak ramah.


"Menurutmu? Gadis seperti dirimu bisa aku dapatkan bahkan lebih dari 10 setiap malam, jadi jangan berpikir kau sudah cukup untuk menggoda diriku," ujar Rain ketus.


"Apa?" kata wanita itu kesal, wajahnya yang terlihat cantik menggoda itu berubah merah, merasa terendahkan oleh kata-kata Rain. Dia bukan wanita penghibur, keluarganya pun bukan orang rendahan, dia punya pendidikan dan cukup berada, hanya saja dia punya ambisi menahlukkan seorang pria kaya, dan semua yang dia inginkan ada pada diri Rain. Namun kata-kata Rain seolah menyamakannya dengan wanita-wanita penggoda lain.


"Masih kurang jelas, Nona, selain fisikmu, kau tak punya apa-apa, bahkan otak untuk menganalisa kata-kata ku," ujar Rain semakin ketus.


"Jadi apa gunanya aku bersama denganmu selama ini? aku bersikap begitu baik padamu," ujar wanita itu benar-benar emosi, terasa sangat direndahkan oleh kata-kata Rain. Dia bahkan sampai membuang handuknya ke tanah, Rain melihat itu hanya melirik, 2 orang penjaga sudah siap siaga untuk membawa wanita itu pergi, dengan sedikit kode dari Rain mereka akan bertindak.


"Aku tidak menyuruhmu, kau saja secara suka rela mendatangiku, toh kau juga senang bukan, pamormu akan naik sebagai wanita penggoda yang pernah dekat denganku," ujar Rain sambil mengibaskan jari telunjuknya, dan sebelum wanita itu bisa membalas, dia sudah di seret pergi dari sana.

__ADS_1


Rain memegangi telinganya, merasa panas mendengarkan sumpah serapah yang keluar dari mulut wanita itu, entah kenapa semua wanita selalu melakukan hal itu jika dia sudah mengusir mereka, padahal sebelumnya mereka akan melakukan apapun untuknya, bahkan menjilat tanah pun mereka lakukan jika saja Rain memintanya.


"Lain kali tak perlu mengizinkan wanita-wanita seperti itu datang padaku," ujar Rain santai pada  Asisten Qie yang berdiri tegang di belakangnya,  Asisten Qie  menyediakan wanita seperti itu pada Tuannya agar Tuannya tidak kesepian, tak tahunya Tuannya benar-benar tak suka dengan wanita-wanita seperti itu, jangan-jangan memang dia alergi pada wanita, karena seumur dia bekerja dengan Tuannya, dia tidak pernah melihat Tuannya dekat dengan wanita mana pun.


"Baik Tuan, ehm, ada sesuatu yang harus aku beritahukan," ujar Asisten Qie pada Rain.


"Hmm?" jawab Rain yang tak terlalu menanggapi, masalah apa sih yang tidak bisa di tanganinya?


"Tentang Nona Ceyasa, aku rasa ada kelompok lain yang menjaganya," lapor  Asisten Qie yang langsung membuat Rain menghentikan minumnya, dia meletakkan gelasnya ke meja kecil di sebalahnya. Sorot matanya yang tajam menatap hamparan padang rumput yang luas. Wajahnya menunjukkan ada hal yang sedang dipikirkannya.


"Siapa?" kata Rain terdengar berat, namun matanya masih menyorot lurus ke hamparan lapangan golf yang ada di belakang rumahnya.


"Mereka dari kelompok penjaga profesional, tidak ada yang tahu untuk siapa mereka bekerja, mereka sangat menjaga kerahasiaan itu," ujar  Asisten Qie menjelaskan dengan hati-hati, Tuannya ini terlalu perfeksionis.


Rain kembali terdiam, kembali memikirkan sesuatu yang melintas dipikirannya, siapa yang menjaga Ceyasa?


"Aku tidak peduli siapa yang menjaganya, lanjutkan saja pengawasan tentangnya, buat senatural mungkin, dan aku ingin dia datang padaku secepatnya," ujar Rain sambil berdiri dan pergi dari sana,  Asisten Qie dengan sedikit kelabakan langsung mengikuti Rain, menjaga agar Tuannya tidak kepanasan.


"Baik Tuan," ujar  Asisten Qie.


Namun, baru beberapa langkah, Rain tiba-tiba berhenti, matanya yang setajam mata elang menatap lurus namun tak ada yang bisa menebak isi pikirannya, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celanannya.


"Satu lagi, aku tidak suka penolakan apalagi kegagalan, aku mau dia datang padaku," ujar Rain sekali lagi menegaskan pada  Asisten Qie, "Gadis itu perlu diingatkan siapa aku sebenarnya."

__ADS_1


Rain terlihat mengertakan kedua giginya, menahan emosi yang tiba-tiba saja muncul entah dari mana, dia lalu melirik sebentar ke arah  Asisten Qie yang terlihat tegang dan ketakutan, melihat hal itu dia sedikit tersenyum dan segera melanjutkan perjalanannya.


__ADS_2