Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
148 - Pria yang akan membuat ibunya bahagia.


__ADS_3

"Ya, itu salahnya, bibi terlalu cepat untuk jatuh cinta dengan pria itu, mungkin itulah salah satu sifat buruk bibi, terlalu cepat jatuh cinta pada seorang pria tanpa melihat yang sebenarnya, dan seperti biasanya, kami semakin dekat, semakin dekat dan terus dekat,kami berada dalam satu kelompok belajar yang sama, dan semua begitu menyenangkan, bahkan semua orang akan mengatakan kami adalah pasangan yang serasi," kata Aurora, tampak sekali dulu dia benar-benar mencintai pria itu.


"Ya, benar, bahkan sekarang juga, kalian sangat serasi," kata Jenny tetap teguh pada pendiriannya, bahwa bibinya seharusnya bersama Liam, bukan pamannya. Aurora tertawa kecil mendengar jawaban Jenny yang terkesan memaksa.


"Tapi semua itu adalah sebuah kesalahan, suatu saat, diwaktu bibi pulang dari kuliah malam, bibi bertemu dengan wanita ini, namanya Melisa, dia wanita yang sangat cantik, sangat anggun dan juga sangat dewasa, bahkan bibi seorang wanita pun kagum melihatnya, bibi ingat bagaiman dia pertama kali menyapa bibi, dengan senyuman manis, dia hanya bertanya apakah bibi dan Liam adalah sahabat? Bibi menatapnya dan hanya bisa mengangguk, dan dia menjulurkan tangannya, berkata dengan lembut tanpa ada emosi sama sekali bahwa dia adalah tunangan Liam, bibi tahu pasti, sebenarnya dia sudah tahu hubungan kami, tapi dengan sangat lembutnya dia berbicara padaku begitu," kata Aurora mengenang wajah Melisa, Jenny yang mendengar itu kaget.


"Lalu? Apa yang bibi lakukan? bagaimana dengan paman Liam?" kata Jenny penasaran, kisah cinta bibinya, kenapa harus selalu dengan pria yang memiliki wanita lain dalam hidupnya.


"Saat itu Bibi masih muda, Bibi merasa yakin sekali bahwa wanita yang dicintai oleh Liam adalah diri Bibi, karena itu aku benar-benar tak menyukai Melisa, walaupun dia tak pernah marah atau melakukan apapun pada Bibi, Bibi benar-benar membencinya. Bibi berpikir untuk merebut Liam darinya, Bibi merasa tak kalah cantik darinya, lagi pula wanita itu dari negara Liam, dia hanya datang untuk berlibur, Bibi segera mengambil keputusan yang salah, mencoba untuk mempertahankan Liam, walau pun Melisa meminta Bibi untuk menjauhi Liam, karena Bibi begitu yakin pria itu milikku, " kata Aurora dengan mata yang sedikit memerah.

__ADS_1


"Jadi?" kata Jenny lagi yang tak menyangka bibinya pernah melakukan itu, itu sama saja bibinya menjadi wanita perebut tunangan orang lain.


"Tentu Bibi terus berhubungan dengan Liam walaupun Bibi tahu bagaimana hubungan Liam dengan Melisa, selain itu Liam juga sudah jujur pada Bibi, bahwa dia memiliki tunangan, mereka bertunagan bukan karena perjodohan, mereka saling jatuh cinta bahkan sejak mereka kecil, tapi Liam berkata, dia sudah jatuh hati pada bibi semejak pertama kali dia melihat bibi, tentu hal itu membuat bibi makin yakin untuk memilih bersama Liam, Melisa hanya wanita kasihan yang merasa tunangannya mencintainya namun tidak, itu yang selalu Bibi yakini dulu," kata Aurora sedikit malu pada dirinya yang dulu. Jenny tak habis pikir, wanita seperti bibinya ini bisa seperti itu.


"Bibi ingat bagaimana Bibi marah pada Melisa yang memohon pada Bibi untuk menjauhi Liam, Bibi mengatakan padanya bahwa Liam tidak mencintainya, dan hanya mencintai Bibi, Bibi mengatakan padanya Melisa, bahwa seharusnya malu, karena mengemis cinta pada pria yang tak lagi mencintainya Bibi bahkan menuangkan air ke wajahnya, dia hanya terdiam, tak ada marah sedikit pun pada Bibi, Bibi benar-benar tak menyukainya, gadis itu seolah ingin merebut cinta Bibi, padahal kenyataannya, Bibi lah yang menghancurkan dan merebut prianya," kata Aurora lagi, Jared hanya bisa mendengarkannya, cukup kaget dengan kisah bibinya.


"Bagaimana paman Liam?" kata Jenny masih saja penasaran.


"Liam terus mengejar Bibi, namun sejak itu Bibi berjanji, akan menjauhi pria itu selamanya, apapun yang terjadi, Bibi tak akan kembali padanya, Bibi terus menolaknya, dan suatu saat, saat dia harus pergi ke luar negeri, dia terus saja memohon untuk Bibi, lalu Bibi mengatakan, bahwa jika dia bisa mendapatkan tanda tangan penulis buku yang Bibi suka dan jika kami berdua sudah tidak memiliki pasangan, Bibi akan menerimanya, Bibi hanya ingin dia menjauh, tak di sangka dia kembali setelah Melisa meninggal dan menyerahkan pembatas buku itu," kata Aurora.

__ADS_1


"Jadi Bibi tidak ingin lagi bersama Paman Liam?" tanya Jenny lagi, menatap bibinya yang tersenyum lucu, terlalu polos pertanyaan anaknya ini.


"Liam adalah masa lalu, kami punya kenangan buruk, ketika Bibi bersama paman kalian, Bibi berpikir, mungkin inilah hasil perbuatan Bibi dulu, Bibi pernah merebut seseorang dari wanita lain, menghancurkan hati wanita itu, bahkan Bibi hampir membunuh 2 orang sekaligus, mungkin Liam tak sedingin pamanmu dalam menghadapi Melisa, tapi bagaimanapun, pernikahan mereka tidak baik karena Bibi, apa menurut kalian anak Liam bisa menerima Bibi jika dia tahu bibilah orang yang pernah hampir membuat dia tak jadi dilahirkan? Pandangan keluarga Liam terhadap bibi juga sudah pasti buruk, jadi dari pada bibi harus beradaptasi lagi, membuktikan pada mereka bibi tidak seperti dulu, lebih baik bibi bersama kalian bukan?" kata Aurora lagi, Jenny mengangguk, ternyata bagaimana pun bibi memang akan sulit bersama Liam, hal ini malah nantinya akan membuat bibinya semakin menderita.


"Tenang Bibi, jika memang tak ada pria yang bisa membuatmu bahagia, masih ada aku dan kakak yang akan membuatmu bahagia, kami akan melakukan semuanya untukmu," kata Jenny memberikan semangat pada Aurora, membuat Aurora tertawa kecil melihat tingkah anaknya yang manja ini.


"Bibi yakin itu," ujar Aurora.


Jared yang dari tadi hanya menyimak apa yang dikatakan oleh bibinya, menaikkan sudut bibirnya, ya, jika tak ada pria yang bisa membuat bibinya bahagia, dia berjanji dalam hati, dia pria yang akan selalu membuat ibunya ini bahagia.

__ADS_1


__ADS_2