Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
335 - Bertahan lah.


__ADS_3

Jenny menjalankan mobilnya, hujan cukup deras hingga menghalangi pandangannya, dia baru bisa menyetir baru-baru ini dan hujan seperti ini tentu membuatnya gugup, apa lagi saat ini sudah sangat larut malam, bahkan sudah lewat tengah malam.


Jenny memajukan wajahnya, mencoba melihat lebih jelas karena jalanan mulai gelap berkabut, mobilnya berjalan pelan menyusuri jalan yang bahkan sedikit susah dia ingat, benarkah ini jalan menuju istana.


Tiba-tiba Jenny menginjak remnya dengan sangat mendadak, melihat barier di jalan, dia memposisikan mobilnya ke posisi parkir, dia lalu melihat ke sekelilingnya, semuanya terlihat samar dan berkabut, tiba-tiba saja Jenny merasa takut di tempat berkabut yang gelap itu, dia baru saja ingin memundurkan mobilnya ketika tiba-tiba 5 orang mengelilingi mobilnya, semua orang itu mengetuk kaca yang ada di mobilnya, dua di depan, dua lagi di jendela kanan dan kirinya ada juga yang mengetuk kaca di belakangnya, Jenny tampak panik, hujan deras membuatnya takut, apa lagi dia baru sadar, di belakangnya sudah ada mobil yang terparkir.


Pria-pria yang berbadan besar itu seperti marah, beberapa mereka seperti memaksa untuk membuka pintunya, Jenny benar-benar panik, bingung harus apa, apa dia melajukan saja mobilnya? namun dia seketika ingat dengan pembatas itu, bagaimana jika dia jalan dan ternyata ada jurang di ujungnya.


Napas Jenny cepat karena panik, dia sangat takut sekarang,berulang kali melihat ke segala arah, dia hanya seorang wanita kecil, jika pria-pria itu ingin mengambil mobilnya silakan, tapi yang dia takutkan pria-pria ini akan melukai dia juga, atau paling buruk membunuhnya.


Ketukan pintu dan suara pintu yang di buka paksa dari luar itu terdengar semakin keras dan semakin cepat, mengalahkan suara hujan, sebuah ketukan sangat keras terdengar di sebelah jendela Jenny, membuat Jenny terpekik ngeri, dia sudah sangat ketakutan sekarang.


Tiba-tiba saja saat dia merasa sangat tak berdaya, pria yang terus mengetuk pintu dan jendelanya tiba-tiba berhenti, Jenny melihat semua orang itu berhenti mengetuk mobilnya namun gantinya mereka tampak sedang berkelahi, seorang pria tampak menghajar mereka, di bawah hujan deras itu, Jenny tidak bisa melihat dengan jelas siapa pria itu, karena samar-samar sekali tertimpa kabut dan air hujan yang membasahi jendelanya.


Namun Jenny cukup bisa melihat keadaan di sana, pria itu sendirian melawan 5 orang pria itu, dan 2 orang tumbang dengan mudah di buatnya, namun 3 orang melawannya secara bersamaan, memukul perutnya hingga dia harus mundur beberapa langkah dan juga membuatnya menahan sakit di bagian perutnya, Jenny yang melihat itu sedikit cemas, kasihan melihat pria itu, mereka kembali memberikannya pukulan namun kali ini dia menghindar dengan mundur beberapa langkah, sekarang mereka pindah tepat di depan mobil Jenny yang lampunya masih menyala.


Wiper di mobil Jenny bergerak kencang menghalau air hujan yang deras, saat wiper itu menyapunya, samar Jenny bisa melihat wajah pria itu, matanya membesar, serasa tak percaya dengan apa yang dia lihat, tak mungkin, tidak mungkin itu Jonathan, mana mungkin itu dia?


Jonathan berdiri di sana, hujan deras membuat semua pemandangan kabur, lampu dari mobil Jenny sedikit membuat dia bisa melihat lebih jelas, 3 orang berwajah begis itu tampak, salah satu dari mereka membawa pisau, Jonathan waspada melihat semunya, salah satu dari mereka segera memberikan serangan, sebuah pukulan yang hampir saja mengenai wajahnya namun Jonathan langsung menangkisnya, dan dengan cepat Jonathan memerikan pukulan balik yang telak terkena wajah pria itu, pria itu jatuh di atas kap mobil Jenny yang membuat Jenny berteriak kaget, ada orang pingsan di kap mobilnya.


Dua orang itu menyerang Jonathan secara bersamaan, satu melayangkan pukulan ke arahnya, dia langsung menangkisnya, namun dia tidak bisa menapis hunusan pisau dari orang yang satunya, dia sempat mengelak namun pisau itu menyerempet bagian pinggangnya, itu menaikkan  marahnya, dia segera memukul kedua pria itu, hingga membuat semuanya tersungkur jatuh, bahkan pria yang memegang pisau itu hingga pingsan di buatnya.


Para pria penyerang yang masih sadar segera membawa temannya yang tak sadarkan diri, mereka segera membawa teman-temannya ke dalam mobil dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


Jenny membesarkan matanya besar, dia benar-benar tak menyangka Jonathan bisa melakukan hal itu, Jonathan segera berjalan ke sisi mobil Jenny sambil memegangi lukanya yang terasa mulai sakit.


Jenny segera membukakan jendela mobilnya, kali ini dia baru yakin pria itu benar-benar Jonathan, seluruh tubuhnya basah kuyup, bibirnya terlihat sedikit bergetar, dia memandang Jenny yang masih menyisakan wajah panik dan sekarang bertambah cemas.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Jonathan.


Jenny tak menjawab, dia berpikir, kenapa Jonathan yang bertanya seperti itu, bukannya seharusnya Jenny yang bertanya itu padanya, namun Jenny tidak mungkin mengatakan hal itu, dia hanya mengangguk-angguk sejenak memandang wajah serius Jonathan itu.


"Baiklah, pulanglah segera, ini sudah dini hari," kata Jontahan, dia menepuk jendela Jenny agar Jenny menutup jendelanya kembali, Jenny mengerti maksudnya, dia segera menutup jendelanya, setelah tertutup sempurna baru Jonathan meninggalkan Jenny.


Jenny melihat pria itu dari spion mobilnya, berjalan sedikit terbungkuk seperti menahan sesuatu, entah kenapa perasaannya menjadi cemas, apalagi melihat Jonathan hampir tersungkur untung saja dia memegang tiang penyangga lampu, dengan tertatih dia kembali berjalan.


Melihat hal itu, Jenny merasa ada yang tidak beres, entah kenapa dia merasa harus melihat keadaan Jonathan bahkan hujan yang masih cukup deras walaupun tak sederas awal, tidak menghalanginya, Jenny segera keluar dari mobilnya, air hujan yang dingin segera bergulir menyentuh kulit putih Jenny, dia bergidik menahan dingin, namun dia segera berjalan mengejar Jonathan yang berjalan pelan.


Jenny kaget hingga mulutnya terbuka, kemeja putih Jonathan sudah bercampur dengan darah, dia tak tahu ternyata Jonathan terluka.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jonathan kaget melihat Jenny yang keluar dari mobilnya, dia kira Jenny sudah pergi. Tak menyangka melihat gadis itu berdiri di depannya dengan seluruh badan yang sudah basah kuyup.


"Kau terluka?" kata Jenny samar di tengah hujan.


Jonathan tak menjawab, dengan cepat dia membuka jasnya, menaruhnya ke atas kepala Jenny, walaupun tetap tak bisa lagi membuat Jenny kering, namun setidaknya Jenny tidak terkena hujaman hujan lagi.


Jenny yang melihat perlakuan yang diberikan oleh Jonathan hanya diam saja, memandang wajah pria yang tampak serius menutupi dirinya dengan jas itu, entah kenapa di dinginnya hujan itu hatinya dan perasaannya menghangat seketika.

__ADS_1


"Masuklah, aku tidak apa-apa? pulang sudah larut malam," kata Jontahan lagi.


"Tidak, kau harus di obati, aku akan mengantarmu," kata Jenny yang melihat sebuah motor besar di sisi jalan, sepertinya Jonathan mengendarai itu, dia tak akan membiarkan Jonathan pulang dengan motor itu, karena lukanya cukup banyak mengeluarkan darah.


"Aku tidak apa-apa," kata Jonathan lagi, padahal nyerinya sudah sangat terasa.


Jenny menatap Jonathan yang wajahnya memucat, tak tahu karena dinginnya hujan atau karena lukanya.


"Tak boleh, kau ikut aku atau aku akan terus di sini," kata Jenny kembali membuka jas Jonathan yang tadi menaunginya.


"Baiklah, pakai itu," kata Jonathan, dari awal tahu seberapa keras kepalanya Jenny ini.


Jenny memandang Jonathan dengan cemas, dia jalan perlahan sambil memandang Jonathan sejenak, dia lalu berjalan menuju ke mobilnya, Jonathan mengikutinya, dengan menahan pinggangnya yang perih dia sebisa mungkin berjalan di belakang Jenny, namun dia mulai sempoyongan.


Jenny yang sedikit melirik Jonathan tahu bahwa Jonathan sebenarnya tak begitu baik keadaannya, dengan inisiatifnya langsung memapah Jonathan, Jonathan kaget, namun dia hanya menatap wajah Jenny yang bibirnya tampak gemetar, terlihat sekali kedinginan, namun dia tetap memapah Jonathan.


Jenny membuka pintu mobilnya, dengan perlahan memposisikan Jonathan, setelah Jonathan duduk dengan baik dia baru menutup pintunya, lalu segera masuk ke dalam mobilnya.


Jonathan tampak tergeletak di kursi penumpang, menahan nyeri yang sangat, sepertinya lukanya cukup dalam, dia mengerang saat mencoba menekan lukanya agar darahnya tak lagi keluar.


Jenny hanya melihatnya sekilas, dan cepat-cepat bersiap-siap untuk pergi dari sana.


"Bertahan lah," kata Jenny panik menjalankan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2