Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
115 - Cinta Seutuhnya Hanya Untukmu.


__ADS_3

Aurora duduk di ruang makan yang tampak tak hangat itu, Jofan duduk di sampingnya, matanya masih terlihat cekung karena 2 hari ini tidak lagi bisa tidur dengan tenang, dan dalam sejarah hidupnya, baru kali ini dia begitu banyak menangis.


Jenny memakan makanannya dengan malas, sedangkan Siena tak ada di sana, Jared pun belum pulang, ruangan Sania masih dibiarkan saja seperti itu, belum ada yang masuk ke dalam ruangan itu semenjak Sania pergi.


"Siena tidak ingin makan malam?" tanya Aurora pada Jofan.


"Aku akan membawakannya ke kamarnya," ujar Jofan sehabis dia meminum minumannya.


"Manja sekali, tidak bisakah dia datang ke sini, di sini yang tidak punya ibu bukan hanya dia, dia masih beruntung memiliki ayah, dia belum tahu rasanya harus kehilangan kedua orang tua pada saat yang bersamaan," acuh Jenny yang hanya menusuk-nusuk makanan yang ada di piringnya, sama sekali tidak punya nafsu makan dengan suasana seperti ini.


Jofan hanya melirik ke arah keponakannya ini, perkataan Jenny tajam, namun Jofan tidak bisa membalasnya.


"Jenny, makanlah, kau juga hanya makan sedikit beberapa hari ini," ujar Aurora yang tak ingin Jenny semakin marah.


"Aku tidak nafsu makan, aku rasa besok aku akan pulang ke istana, aku kira pulang kerumah akan menjadi lebih baik, tapi ternyata seperti ini," ujar Jenny yang merasa benar-benar sesak dengan keadaan yang menurutnya semakin memburuk, Jenny berdiri dan langsung pergi dari sana, Aurora hanya bisa mengerutkan dahi melihat anaknya.


"Aku akan memberikannya pengertian," ujar Aurora lagi melihat beban suaminya sudah cukup banyak.


"Ya," ujar Jofan yang tak tahu harus apa, karena memang selama ini semuanya adalah salahnya.


"Aku akan membuatkan makanan untuk Siena, semoga dia suka," ujar Aurora ingin bangkit dari tempat duduknya, melihat Aurora yang bangkit, Jofan segera memengang tangan Aurora dengan sangat erat, mencoba menahannya untuk tetap ada di sampingnya, karena baginya Aurora adalah kekuatannya sekarang.

__ADS_1


Melihat Jofan menahannya, Aurora kembali duduk di samping suaminya, menandang mata suaminya yang sendu, seolah mengadu padanya betapa suaminya lelah beberapa hari ini. Aurora tersenyum manis, sedikit memperbaiki rambut suaminya yang jatuh di dahinya.


"Kau terlihat sangat lelah," ujar Aurora tersenyum begitu manis.


"Aku hanya merasa cukup beruntung ada kau di sampingku, kalau tidak, aku tidak akan bisa melewati semua ini," ujar Jofan yang memandang istrinya dengan lembut.


"Jangan khawatir, aku akan selalu ada di sampingmu, itu janji pernikahan kita bukan?" ujar Aurora lembut.


Jofan tersenyum sedikit, melihatkan senyuman yang lelah, dia butuh tempat bersandar, karena itu dia menyadarkan kepalanya pada bahu Aurora yang kecil, mencium harum tubuh Aurora yang membuatnya sangat tenang, apa lagi lembut belaian Aurora membuat seketika matanya terpejam.


"Apakah aku sudah ketinggalan makan malam?" suara serak Siena membuat keduanya kaget, Jofan langsung menangkat kepalanya, melihat ke arah anaknya yang wajahnya masih terlihat bengkak karena terlalu sering menangis, berdiri di pintu sambil menatap ke duanya.


"Tidak, masuklah," ujar Aurora yang tampak senang, setidaknya Siena sudah mau keluar dari kamarnya, dari tadi siang dia hanya berdiam diri di kamarnya. Siena melihat ke arah Aurora dan Jofan bersamaan, lalu dia duduk di depan mereka, Aurora dengan cepat segera menyodorkan makanan di depannya.


"Sama-sama" ujar Aurora yang menganggap sikap itu hanya sikap anak yang berduka. Jofan yang melihat itu hanya bisa menahan dirinya, tahu betul bagaimana pandangan Siena terhadap Aurora.


Siena mulai memakan makanannya, walaupun sedikit dia tampak cukup lahap memakannya, Aurora yang melihat hal itu sedikit tersenyum, Jofan pun cukup senang melihat anaknya bisa setenang ini.


Siena menyelesaikan makannya cukup cepat, dia segera meminum minumannya, setelah itu Siena sedikit terdiam. Aurora dan Jofan hanya menatap Siena, tak ingin merusak ketenangan Siena saat ini.


"Ayah, besok pagi bisa kah ayah mengantarku ke panti asuhan?"  tanya Siena menatap Jofan, Jofan dan Aurora yang mendengar itu sedikit terkejut, apakah Siena benar-benar tidak ingin lagi tinggal bersama mereka? Bagaimana Siena bisa melakukan hal ini?

__ADS_1


"Siena, Ayah …. " kata Jofan tak bisa melanjutkan kata-katanya, tak bisa memilih antara istrinya dan Siena, Jofan sedikit melihat ke arah Aurora, melihat hal itu, perasaan Aurora merasakan ada sesuatu hal yang tak benar tentang dirinya di sini.


"Bukan, aku hanya ingin mengambil bebarapa barang, aku akan percaya pada ayah, aku yakin ayah akan memegang janji ayah padaku," ujar Siena menatap tajam pada Jofan yang membuat Jofan tak lagi bisa membalas perkataan Siena.


Janji? Aurora bertanya dalam dirinya.


"Baiklah, ayah akan mengantarkanmu ke panti asuhan besok," ujar Jofan lagi setelah dia menenangkan dirinya.


"Terima kasih Ayah, aku akan ke kamar," ujar Siena yang bahkan tak ingin melihat Aurora ada di sana.


Siena segera pergi dari sana, membuat tanda tanya besar dalam pikiran Aurora, kenapa Siena bersikap begitu tak acuh padanya? Jofan lalu melirik ke arah Aurora setelah Siena meninggalkan ruangan itu, melihat ke wajah Aurora yang seperti ingin bertanya, namun Aurora seorang wanita yang sangat mengerti keadaan, seberapa penasaran pun dia, dia masih tahu kapan harus mengeluarkannya.


"Aku akan menjelaskannya padamu," ujar Jofan yang malah merasa tak enak menutupi hal ini pada Aurora.


"Baiklah, jangan terlalu dipaksakan jika kau merasa belum sanggup, kau bisa menjelaskannya nanti padaku," ujar Aurora lagi dengan segala pengertiannya.


"Siena hanya masih syok dengan yang terjadi, dia menganggap kita telah mengambil ibunya darinya, padahal dia baru saja bertemu dengan ibunya, dia masih tidak percaya bahwa Sania ingin direlakan, dia berpikir kau hanya mengada-ngada, tapi yakinlah, itu hanya karena dia masih terlalu berduka, dia masih dalam tahap penolakan," kata Jofan mencoba untuk menjelaskan kepada istrinya, agar Aurora tidak salah pengertian, karena jika Aurora sampai salah sangka, dan tak menyukai Siena, yang ada Jofan akan semakin bingung.


Aurora yang mendengar penjelasan suaminya langsung tersenyum, dia meletakkan tangannya pada tangan suaminya, menyelimuti tangan Jofan dengan kehangatan yang nyaman.


"Tenang saja, aku mengerti, aku sudah hidup denganmu 18 tahun, punya dua anak yang sifatnya berbeda sekali, tentang Siena itu bukan hal yang perlu kau takutkan," ujar Aurora begitu lembut.

__ADS_1


"Terima kasih," ujar Jofan memandang Aurora dengan penuh cinta, memengang pipi lembut Aurora, Aurora langsung meletakkan pipinya pada tangan Jofan, Jofan merasa cukup bersalah setelah sadar bahwa beberapa hari ini dia sama sekali tidak memperhatikan wanita ini karena sibuk dengan hal-hal lain, sekarang  Jofan merasakan, dia tak bisa apa-apa tanpa Aurora di sisinya.


Jofan mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Aurora dengan lembut dan tak lama, namun cukup untuk mencurahkan perasaannya, sekarang, cinta Jofan seutuhnya hanya untuk Aurora semata.


__ADS_2