Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
301 - Aku masih ingin berdekatan denganmu!


__ADS_3

Angga terdiam, matanya tampak jatuh ke bawah, seolah memikirkan sesuatu, tapi yang dikatakan oleh Archie ada benarnya, walaupun Suri adalah anaknya, dia tak berhak untuk memutuskan apakah Suri harus menjalani prosedur ini atau tidak, apalagi prosedur ini pasti akan sangat menyiksanya.


Jared pun memikirkan hal itu, sepertinya dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Archie, walaupun dengan mengatakan hal ini akan membuat istrinya sedih, namun Suri berhak tahu apa yang terjadi dan akan terjadi padannya nantinya.


Angga menarik napas panjang sebelum dia mengatakan sesuatu.


"Baiklah, aku setuju untuk mengatakannya pada Suri.”


"Aku rasa Jared lah yang harus mengatakannya terlebih dahulu pada Suri, dia suaminya, Suri akan sangat tertekan jika dia mendengarkannya dari kita, jika nantinya dia ingin tahu lebih lanjut, kita bisa mintanya untuk berbicara dengan dokter," kata Archie lagi.


Angga mengangguk-anggukkan kepalanya, Jared pun begitu, namun bebannya terasa berat, dia harus memberitahu istrinya, dia tak ingin melihat Suri sedih, dan sudah pasti Suri akan sedih mendengarnya.


"Terus lakukan penelitian dan uji coba, aku harap sampai dia siap, penelitian ini ada perkembangannya," kata Angga yang tak bisa lagi berkata apa-apa.


"Pasti Yang Mulia, Kami akan melakukan yang terbaik," kata dokter itu.


"Archie, aku harap kau menjaga kondisi tubuhmu," kata Angga melirik Archie, bagaimana pun, mereka tetap butuh serum dari Archie.


"Ya, pasti, apa saja yang terlarang untukku?" tanya Archie melirik ke arah dokter itu.


"Yang pasti jangan minum alkohol atau pun obat-obatan sembarangan,  dan cukup tidur, itu saja," kata dokter itu melihat Archie dengan serius.


"Baiklah," kata Archie.

__ADS_1


"Ya, itu saja malam ini, Jared aku serahkan Suri padamu, Archie beristirahatlah," kata Angga membubarkan pertemuan singkat ini.


Archie mengangguk, Jared pun begitu, mereka bangkit bersamaan, lalu memberikan salam sejenak, dan pergi dari ruangan itu.


Jared melangkahkan kakinya perlahan, tak semantap saat dia berjalan menemui Angga tadi, dia seperti mengulur waktu untuk tidak secepatnya tiba di kamarnya, dia masih bingung kapan dan bagaimana harus mengatakan hal ini pada Suri, namun mau tak mau dia memang harus melakukannya.


Dia masuk ke dalam kamarnya, perlahan menutup pintunya, dia lalu berjalan menyurusi ruangan kamar yang cukup luas itu, di pintu untuk masuk ke kamar utama dia bersandar di kusen pintunya, memperhatikan tubuh istrinya yang tampak sudah tertidur lelap tergulung selimut, dia menatapnya dengan tatapan berat, menarik napasnya dalam-dalam entah berapa kali, dia lalu berjalan dan mengecup sekali lagi sisi kepala istrinya, membuat Suri menggeliat, ternyata dia belum terlalu lelap, dia membuka matanya dan melirik suaminya dengan mata mengantuk.


"Sudah selesai?" racaunya diantara sadar dan mengantuk.


"Ya," kata Jared singkat.


"Ayo tidur," kata Suri menepuk-nepuk kasur yang ada di sebelahnya, tempat Jared selalu tidur, tapi matanya tampak berat untuk terbuka, melihat hal itu Jared menaikkan sedikit sudut bibirnya, mengusap kepala Suri sejenak, dia lalu pergi untuk kembali mengganti bajunya menjadi baju tidur.


Tidak malam ini, mungkin besok, Jared harus mencari waktu yang tepat untuk memberitahukan Suri segalanya.


Ceyasa mengeliat, mendengar suara ponsel yang bergetar di sampingnya, dia memang sengaja diberikan ponsel oleh ayahnya agar mudah untuk di hubungi, Ceyasa membuka matanya yang masih sepet, melihat dari jendela, keadaan masih gelap, dia lalu melihat tangan Archie yang menimpa perutnya, pria itu tidur tertelungkup di sampingnya.


Ceyasa mengapai ponsel yang layarnya masih bercahaya, melirik sedikit jam yang ada di sana, masih pukul 4 pagi, sebuah panggilan dari ayahnya yang tak terjawab, baru saja Ceyasa ingin menelepon ayahnya, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.


‘Ayah sudah ada di bandara, pesawat ayah baru saja mendarat, sebentar lagi ayah akan menuju istana,’


Awalnya Ceyasa belum bisa memproses pesan itu, tapi setelah mengerjapkan matanya beberapa kali, otaknya baru bisa menangkap isi pesan itu, ayahnya akan pulang, hal itu membuat mata Ceyasa terbuka lebar, dia langsung terduduk kaget.

__ADS_1


Apa yang terjadi jika ayahnya tiba-tiba tahu Ceyasa sekarang ada di kamar Archie dan tidur dengannya, bisa-bisa ayahnya akan marah dengan Archie dan mencabut restunya, walaupun ayahnya terkesan bercanda selama ini, tapi siapa yang bisa pastikan dia tidak serius dengan semua omongannya itu.


"Archie! Archie! Archie!" kata Ceyasa menggoyangkan bahu Archie sedikit keras, mencoba membangunkan suaminya yang susah sekali dibangunkan, Archie hanya menaikkan kepalanya, merasa belum cukup tidurnya.


"Ada apa?“ kata Archie malas, dia membalikkan tubuhnya menjadi terlentang dan dengan santainya menarik selimut menutupi tubuh atasnya yang tak menggunakan apa-apa, bertelanjang dada.


"Ayahku sudah pulang, dia sudah menuju kemari," kata Ceyasa panik, bagaikan anak gadis yang akan tertangkap basah tidur bersama pacarnya.


"Lalu? " kata Archie yang otaknya masih malas memproses segalanya, Archie tampak melanjutkan tidurnya, tentu membuat Ceyasa geram, Ceyasa mengambil bantal yang dia pakai lalu memukulkannya pada wajah Archie yang pulas, membuat Archie kaget hingga terduduk. Archie menunduk, bangun karena kaget itu sangat tak enak, melihat respon Archie, Ceyasa malah tertawa, ampuh juga, pikirnya.


Archie menekan kedua ujung mata di dekat hidungnya, setelah itu dia melirik ke arah Ceyasa yang masih sedikit tertawa, wajahnya kesal, dia lalu mengambil bantal yang di gunakan oleh Ceyasa lalu melemparkannya pada wajah Ceyasa, bantal itu empuk jadi dia yakin itu tidak menyakiti Ceyasa, namun dia ingin menumpahkan kekesalannya, wajah Ceyasa berubah kesal setelah Archie melemparkan bantal itu padanya.


"Ada apa sih, masih pagi, kau ini tak bisa melihatku tenang ya? dokter bilang aku harus tidur cukup," gerutu Archie yang sebenarnya dari tadi tidak mendengar kata-kata Ceyasa.


"Kau ini, aku sudah bilang, ayahku sudah pulang, " kata Ceyasa menyibakkan selimutnya, ingin turun dari ranjang dan ingin siap-siap untuk kembali ke kamarnya.


Butuh beberapa saat buat Archie memproses perkataan Ceyasa, matanya langsung membesar saat sadar apa yang dikatakan oleh Ceyasa.


"Ayahmu sudah pulang?" kata Archie yang langsung mengikuti Ceyasa, keluar dari selimutnya berdiri di pinggir ranjang menatap Ceyasa yang memakai gaunnya karena tadi dia tidur dengan pakaian dalam saja.


"Iya, Ayah bilang dia sudah akan menuju ke sini," kata Ceyasa melirik Archie yang baru bereaksi.


"Aduh, kenapa orang tua itu cepat sekali pulangnya, tak bisakah dia di sana 3 hari atau apalah?" gerutu Archie kesal, kenapa juga Jofan harus pulang begitu cepat.

__ADS_1


"Apa? kau bilang apa ayahku tadi?" kata Ceyasa melotot mendengar Archie mengatakan ayahnya orang tua, dia mengambil bantalnya dan segera melemparkannya lagi pada Archie, untung Archie bisa menangkapnya.


"Kenapa? kan benar dia orang tua, orang tuamu, lagi pula kenapa dia harus pulang sekarang, kenapa tak pergi lebih lama, aku masih ingin berdekatan denganmu," kata Archie kesal, melempar bantal itu lagi ke arah Ceyasa, untungnya Ceyasa menghindar hingga bantal itu terdampar di lantai, Ceyasa melihat itu melirik kesal dengan ujung matanya pada Archie.


__ADS_2