Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
223 - Siapa Jendral Indra?


__ADS_3

"Ceyasa, kau sudah bersama Archie, maka jika kalian nanti punya anak, kau harus selalu ingat tentang penyakit ini, kita tak tahu kapan mereka akan mengalaminya, bahkan saat balita pun, mereka bisa mengalaminya, siapkan hatimu untuk menerima penyakit ini, jangan marah padanya karena dia tak memberitahumu tentang penyakit ini, ini salah kami yang tak memberitahukannya dengan baik, jadi sebenarnya dia pun tak begitu mengerti tentang penyakit keluarga ini," kata Bella lagi dia merasa perlu untuk mengatakan hal ini pada Ceyasa sehingga nanti Ceyasa tidak lagi kaget melihat anaknya tiba-tiba sakit parah seperti ini dan juga marah pada Archie, bisa saja Ceyasa merasa terjebak menikahi pria dengan penyakit keturunan separah ini.


Wajah Ceyasa semakin memerah, memiliki anak dengan Archie? kenapa Ceyasa merasa hal itu sedikit jauh dari pikirannya, akankah mereka punya anak.


"Ya, Bibi," Jawab Ceyasa seadanya.


"Istirahatlah, jangan lupa makan malam," kata Bella tersenyum.


"Baiklah, Bi, terima kasih," kata Ceyasa melihat Bella berdiri dan segera berjalan menuju para pria yang sedang berbincang serius, ternyata mereka juga sedang membicarakan tentang penyakit keturuan itu, Angga menjelaskannya pada Jared yang tampak sedikit syok mendengarkan hal itu, namun dia tak mengatakan sepatah kata pun, bahkan Archie pun juga masih cukup kaget tentang penyakit keturunan mereka.


"Sudah malam, Archie menginaplah di sini, di sini ada dua ruangan untuk tidur, tak apa kan jika kalian harus menginap di sini? Suri harus di pantau 24 jam dan kami takut dia masih membutuhkanmu," ujar Bella secara halus meminta Archie untuk tinggal di rumah sakit.


"Baiklah, aku akan meminta Gerald untuk membawakan keperluanku di sini, permisi," kata Archie memberikan salam pada mereka.


Dia segera berjalan ke arah Gerald dan memerintahkannya, Gerald mengangguk kecil lalu segera pergi dari sana, setelah memerintah Gerald, Archie berjalan menuju istrinya yang dari tadi hanya duduk mengamati keadaan Suri.


"Kita akan menginap di sini malam ini, tidur di salah satu ruangan yang ada di sini karena mungkin Suri masih membutuhkan aku," kata Archie melihat ke arah tubuh Suri yang ada di dekatnya.


"Baiklah," kata Ceyasa patuh.


"Ayo, kau pasti sangat lelah, kita beristirahat di kamar saja," kata Archie menjulurkan tangannya pada Ceyasa, Ceyasa tak menjawab hanya menyambut tangan suaminya.


Mereka segera menuju salah satu ruangan yang ada di sana, di ruangan rawat Suri ada 2 ruangan tidur, 1 ruang tengah, 1 dapur, juga terdapat ranjang khusus penunggu di dekat ranjang Suri, benar-benar ruang rawat yang di rancang khusus untuk keluarga mereka.


Archie membukakan pintu ruangan mereka, tak banyak perabotan yang ada di sana, hanya sebuah ranjang cukup untuk berdua, 1 lemari keci, dan sebuah kamar mandi, namun terlihat sangat nyaman.


"Ingin mandi dulu?" tanya Archie yang melihat Ceyasa cukup lelah, dia juga baru saja sembuh.

__ADS_1


"Tidak, aku menunggu Gerald atau Lusy membawakan baju ku," kata Ceyasa lagi.


"Baiklah, aku yang akan mandi duluan, mereka tak akan lama, rumah sakit ini dekat dengan East Park," kata Archie lagi sambil membuka jasnya dan mengendurkan dasinya, membuat sedikit keadaannya lebih nyaman.


"Baiklah," kata Ceyasa lagi begitu penurut, saking menurutnya jadi aneh bagi Archie, biasanya istrinya ini selalu cerewet.


"Ada apa?" Kata Archie lagi yang merasa ada yang dipikirkan oleh Ceyasa.


"Ehm, aku berpikir tentang penyakit Suri, bibi tadi sudah menceritakannya padaku, dia bilang jika kita punya anak, ehm ... Dia akan memiliki hal itu juga," kata Ceyasa memikir kan hal itu, merasa apakah dia bisa setegar Bella saat anaknya terkena penyakit itu, tapi apa Archie ingin punya anak dengannya? kenapa Ceyasa malah menyesal menanyakan hal itu, takut Archie merasa Ceyasa ke 'ge-eran' menanyakan soal itu.


Mendengar kata-kata Ceyasa Archie sedikit tersenyum, dia lalu segera duduk di samping Ceyasa.


"Tak perlu takut, ada aku, dan aku bisa menyelamatkan anak-anak kita nanti, makanya kau jangan galak-galak denganku, aku aset berharga loh," canda Archie pada Ceyasa.


"Apaan sih, aku serius?" Kata Ceyasa lagi.


"Ya, kapan dapatnya saja, memangnya kau ingin punya anak denganku?" tanya Ceyasa.


"Jadi kau pikir aku hanya ingin tidur denganmu dan tak mengharap apa-apa, dasar, bodoh sekali, istri macam apa kau ini?" Kata Archie jadi kesal.


"Eh? Soal pernikahan itu, surat pernikahan kita, kau masih menggunakan nama orang lain, bagaimana bisa aku mengatakan bahwa aku menikahi mu?" Kata Ceyasa lagi tak menanggapi Archie karena masih ada lagi yang mengganjal pikirannya dari kemarin.


"Aku akan perintahkan Gerald segera menggantinya, permohonan perceraian juga akan dibatalkan, lagi pula kita akan adakan pernikahan ulang nantinya, jangan khawatir, akan ku buat kau terikat padaku selamanya denganku," kata Archie mencubit hidung Ceyasa.


"Baiklah," kata Ceyasa sedikit tersenyum, setidaknya 1 masalah sudah akan beres nantinya


"Aku akan mandi dulu, setelah itu kau mandilah," kata Archie mengusap kepala Ceyasa lagi, mencoba menenangkannya.

__ADS_1


Archie segera masuk ke kamar mandi ruangan itu, tak lama Gerald datang membawakan beberapa kebutuhan Archie, Lusy juga datang membawakan keperluan Ceyasa, tak lama Archie selesai mandi, dan giliran Ceyasa yang membersihkan dirinya, setelah mandi, Ceyasa melihat makan malam mereka sudah disiapkan di meja dekat ranjang mereka, setelah makan malam yang cukup diam, Archie segera merebahkan tubuhnya, terasa sedikit lelah dengan segala kecemasan hari ini, Ceyasa masih duduk di sampingnya.


"Tidak lelah?" Tanya Archie menatap Ceyasa yang masih enggan tidur di sampingnya.


"Tidak, ehm, kau kenal seseorang bernama Jendral Indra?" Kata Ceyasa yang terngiang-ngiang nama itu, ternyata begitu banyak yang dia pikirkan satu hari ini.


Mendengar itu Archie segera kembali duduk di ranjang mereka.


"Jendral Indra? Aku belum pernah dengar, kenapa? Apa ada hubungannya dengan ingatanmu itu?" Kata Archie yang baru sadar dia belum menanyakan apapun tentang hasil hipnosis itu.


"Ya, dia yang membunuh wanita itu, wanita itu juga sebenarnya ingin membunuhku, dia menodongkan pistol pada diriku, dan Jendral Indra sepertinya terpaksa melakukan penembakan itu demi diriku, tapi kenapa? Dan mengapa ibu Rain sampai ingin membunuhku? Itu aku tidak tahu," kata Ceyasa lagi, mengingat jelas bagaimana keadaan mencekam dalam ruangan itu, membuat napasnya kembali sesak karenanya.


"Kapan hal itu terjadi?" Kata Archie menjadi serius.


"Saat aku berumur 3 tahun, itulah yang aku ingat," kata Ceyasa.


"Jadi jika wanita dalam ingatanmu itu adalah ibu Rain, maka sebenarnya ibunya Rain bukan meninggal gara-gara dirimu, dia yang malah ingin membunuhmu, namun kau di selamatkan oleh Jendral Indra, begitu?" Kata Archie menganalisa.


"Ya."


Archie tampak berpikir sejenak, setelah itu dia segera mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja, segera menelepon Gerald.


"Aku ingin kau mencari tahu tentang seseorang bernama Jendral Indra, beritahu aku secepatnya," kata Archie memberikan perintah, Ceyasa hanya bisa menatap suaminya itu, setelah menyelesaikan perintahnya, Archie kembali keranjangnya.


"Kita tinggal menunggunya, sekarang kau istirahatlah, kau juga baru pulih kan?" Kata Archie.


"Baiklah," kata Ceyasa yang merasa seluruh beban pikirannya hari ini sudah mulai menghilang satu per satu, Ceyasa segera merebahkan dirinya dan perlahan tertidur karena kelelahan.

__ADS_1


__ADS_2