
Suri sedang ada di kamarnya untuk sekedar sejenak beristirahat, walaupun hanya penerimaan pinangan dan pertunangan secara kekeluargaan saja, namun dia cukup tegang memikirkannya, dia merebahkan sejenak tubuhnya, pikirannya terbang, sedang apa Jared sekarang? pria itu bahkan tidak menghubunginya dari tadi pagi, kenapa malah semakin acuh menjelang waktu pertunangan mereka.
Tak lama tiba-tiba pintu kamarnya terketuk, Suri dengan sedikit malas berdiri, berjalan menuju ke pintu kamarnya, dia membuka sedikit pintunya dan melihat seorang dayangnya membawakan gaun di tangannya.
"Selamat sore Putri Suri, saya membawakan gaun yang Anda minta," kata dayang itu segera menunjukkan gaun yang dibawanya dengan sangat hati-hati.
"Oh, baiklah, tolong gantung di kamarku seperti biasa," kata Suri dengan senyuman manis, membuka pintu itu lebih lebar dan mempersilakan dayangnya masuk, dayang itu memberikan salam sejenak lalu segera masuk ke dalam kamar Suri.
Suri hendak mengikuti dayangnya masuk ke dalam kamarnya namun tetap membiarkan pintu kamarnya lebar terbuka karena menurutnya toh dayangnya akan keluar sebentar lagi, namun baru saja dia ingin melangkah, pergelangan tangannya langsung digenggam seseorang dan ditarik dengan sedikit kasar, membuat tubuhnya langsung mengikuti arah tarikan itu, keluar dari kamarnya.
Suri yang terkejut dan tak siap akan tarikan itu terasa lunglai dan hampir terjatuh, untung saja tubuhnya yang kurus itu langsung ditangkap dan masuk ke dalam pelukan Jared, Suri yang awalnya berwajah kaget langsung berwajah kesal ketika melihat siapa yang menariknya dengan begitu kasar.
"Dari mana saja?" tanya Suri kesal pria ini bahkan tidak mengucapkan selamat pagi padanya.
"Bekerja, ada rapat yang harus aku urus," kata Jared memandang wajah calon tunangannya dengan seksama.
"Kau masih bekerja di hari pertunangan kita? jangan-jangan saat kita menikah nanti kau akan lebih sibuk dengan pekerjaanmu," kata Suri terdengar merajuk namun dengan ciri khasnya yang manja.
"Tentu, aku harus terus bekerja keras untukmu," kata Jared terdengar cuek seperti biasa, namun tak sedikit pun menggendurkan pelukannya pada Suri.
__ADS_1
Suri mendengar itu mengerutkan dahinya lebih dalam, wajahnya yang kesal tampak makin kesal, bahkan dia tampak sedikit marah dan dia berontak dalam pelukan Jared, mendorong tangan pria itu sehingga lepas dari tubuhnya. Jared yang melihat itu hanya tersenyum tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam sakunya, siap menerima ledakan dari Suri dengan tenang.
"Kalau begitu tidak usah menikah, untuk apa menikah jika kau lebih sibuk dengan pekerjaanmu dari pada aku, kau memang tidak romantis sama sekali," ujar Suri ngambek ingin kembali masuk ke kamarnya.
"Kau sudah boleh pergi," kata Suri dengan sedikit nada ketus pada dayang yang sebenarnya dari tadi sudah ingin keluar, namun karena tak sengaja melihat Jared dan Suri berpelukan dia jadi memutuskan untuk menunggu sejenak di dalam, tidak ingin mengganggu momen mereka.
"Baik, Putri," kata dayang itu segera keluar, Jared yang mengikuti Suri ke dalam kamarnya hanya senyum-senyum melihat tingkah Suri yang tampak kesal namun dia seperti orang bingung ingin melakukan apa.
"Kenapa kau masuk? Kau tidak boleh masuk ke dalam kamar seorang putri, " kata Suri melihat Jared yang ada di belakangnya, Suri berbalik hingga dia berhadapan dengan Jared, yang tidak dia tahu ternyata Jared sudah sangat dekat dengannya, sehingga mereka hampir berhimpitan, Suri memandang wajah Jared yang tampak seperti biasa, sangat dingin dengan sorot mata tajam yang indah.
"Ingin yang romantis? Ayo ku tunjukkan yang romantis itu bagaimana," kata Jared langsung kembali menggenggam tangan Suri, menarik Suri langsung tanpa aba-aba, keluar dari kamarnya dan segera menyusuri lorong istana.
Suri yang awalnya kaget karena terkadang Jared benar-benar susah di tebak, terkadang terlalu cuek, terkadang terlalu manis, namun di detik berikutnya dia terlalu misterius untuk bisa pahami, tapi itu pula yang membuat Suri semakin menyukai pria yang lain dari pada yang lain ini.
"Kenapa kita ke sini? memangnya mobilmu diparkirkan di belakang? " tanya Suri mengerutkan dahi.
"Siapa bilang kita akan naik mobil? Kita tidak punya cukup waktu jika menaiki mobil," kata Jared segera keluar dari pintu belakang, Suri yang mendengar itu langsung mengerutkan dahinya, melihat helikopter sudah siap dengan baling-baling yang berputar kencang.
"Kita akan naik ini?" tanya Suri pada Jared.
__ADS_1
"Ya, ayo," kata Jared segera melindungi Suri dari terjangan angin akibat baling-baling helikopter itu, Suri segera naik helikopter itu disusul oleh Jared yang duduk di sampingnya.
Suri bukannya baru pertama kali menaiki helikopter, bahkan ayahnya memiliki 2 helikopter pribadi, namun untuk berkencan menggunakan helikopter, baru kali ini dia melakukannya.
Jared memakaikan headphone ke Suri dengan wajah seriusnya yang menawan, Suri bahkan tak bisa berkedip melihat wajah tampan itu di depannya, sebentar lagi pria ini akan menjadi pendamping hidupnya, tapi kenapa rasanya Suri masih tidak percaya?
Jared yang sibuk memasangkan headphone itu tidak menyadari tatapan kagum dari Suri, dia baru sadar setelahnya, melihat itu dia langsung tersenyum tipis, menggunakan *headphone-*nya lalu menggenggam erat tangan Suri dan tak lama mereka mengudara.
Perjalanan mereka tidak terlalu lama, hanya butuh waktu 20 menit hingga mereka mendarat, dan saat mereka mendarat Jared langsung membantu Suri untuk keluar dari helikopter mereka, Suri lalu melihat ke arah sekelilingnya, lebih seperti padang rumput yang sangat luas dengan pepohonan kecil.
"Ayo, " kata Jared yang langsung kembali menarik Suri menuju sebuah tempat, dia membuat Suri harus berjalan dan mengitari beberapa pepohonan kecil namun cukup rimbun, di balik pohon itu ternyata ada padang rumput yang lebih luas dengan pemandangan yang lebih indah, bukit-bukit kecil yang tersusun dengan lembah-lembah penuh dengan pepohonan, namun yang semakin membuatnya kaget adalah ketika dia melihat sebuah balon udara yang besar yang ada di dekat mereka.
"Kita naik itu?" kata Suri kaget hingga tak percaya, dia hingga menutup mulutnya karena terpana.
"Ya," kata Jared
"Kenapa tidak naik helikopter saja? bukannya sama seperti di udara?" tanya Suri bingung, mereka baru saja mengudara, melihat pemandangan dari udara, lalu sekarang naik balon udara? bukannya sama saja.
"Aku yakin kau akan tahu bedanya," kata Jared segera kembali menarik Suri menuju ke balon udara yang sudah siap mengudara.
__ADS_1
Suri segera masuk ke dalamnya, pilot balon udara itu segera melakukan tugasnya, Suri dan Jared mengikuti semua instruksi yang diberikan dan tak lama mereka mulai terbang meninggalkan daratan.
Suri tampak sangat menikmati dan kagum dengan pengalaman pertamanya ini, dia menikmati balon udara yang mulai mengambang di udara, menunjukkan lebih jelas seberapa indah pemandangan yang terlihat di sana, bukit-butik itu tampak lebih indah, tanaman hijaunya pun seolah bercampur dengan indahnya warna lukisan alam, warna jingga mentari yang mulai lelah dan ingin pulang keperaduannya membuat pemandangan di sana benar-benar menakjubkan, dan yang paling indahnya lagi, bukan hanya mereka yang sedang mengudara, terlihat beberapa balon udara dengan warna-warninya juga sudah mengudara dengan indah, menambah pemandangan yang bisa memanjakan mata.