
Aurora tampak mondar mandir di kamar hotelnya yang tampak sangat mewah, dia bersikeras selama di sini untuk tidak tinggal di rumah yang disediakan oleh Liam, awalnya dia juga tidak ingin untuk tinggal di hotel milik Liam karena dia tak ingin merasa membebani Liam, namun sebagai permintaan Liam karena Aurora menolak tinggal di rumah yang sudah di sediakan olehnya, Aurora akhirnya setuju untuk tinggal di salah satu kamar hotel milik Liam.
Aurora juga awalnya sangat tidak ingin pergi ke negara ini, dia tidak ingin meninggalkan istana dan berharap suatu saat, tiba-tiba saja saat dia bangun tidur, ada wajah Jofan yang sedang tidur tenang di sampingnya, namun karena Jenny terus meminta dan memaksanya, akhirnya Aurora luluh juga, Jared pun mengatakan untuk bibinya bisa berlibur jadi Aurora berpikir mungkin dengan begini dia bisa sedikit melupakan Jofan, namun nyatanya tak sedetik pun pria itu keluar dari pikirannya.
Pagi ini Aurora tampak begitu sibuk, dia berulang kali mengitari ruangan yang cukup besar itu, dia mencari sesuatu, entah bagaimana, dia kehilangan cincin pernikahannya dengan Jofan, kebiasaan Aurora memang melepas cincin itu selama tidur, namun mungkin karena kemarin dia mengambil air minum di samping cincin itu, dia tidak sengaja menjatuhkannya atau entahlah dia lupa meletakkan cincin yang sangat berharga itu, mungkin karena faktor umurnya yang menua, tapi hingga sekarang, dia tidak mendapatkan cincin itu.
"Bibi, apa yang bibi lakukan? " tanya Jenny yang melihat bibinya sibuk pagi-pagi seperti ini.
"Bibi sedang mencari cincin, cincin pernikahan bibi dengan pamanmu," kata Aurora yang tetap sibuk mencari tanpa melirik putri kecilnya itu. Jenny memasang wajah tidak sukanya, dia lalu menyandarkan tubuhnya di kusen pintu berwarna putih itu, cocok sekali dengan kertas dindingnya yang berwarna krem dengan aksen ukiran berwarna emas muda.
"Untuk apa mencari lagi bibi, mungkin itu adalah tanda Tuhan agar bibi tidak lagi memikirkan paman," kata Jenny ketus, entah kenapa merasa begitu anti dengan pamannya itu.
Mendengar hal itu keluar dari mulut Jenny, Aurora segera melihat keponakannya yang sedang dengan tenang memakan yogurt, dia tahu bagaimana pemikiran Jenny tentang Jofan, bagaimana dia kecewa dengan sosok suaminya itu, tapi Aurora tidak ingin Jenny berpikir begitu jadi Aurora hanya memberikan senyuman hangatnya.
"Bagaimana pun aku dan dia tetap suami istri, tak bisakah kau menerimanya? Dia adalah paman kandungmu, tanpa dirinya, aku tidak akan bisa bertemu dengan kalian," kata Aurora memandang Jenny. Jenny memainkan bibirnya, yang dikatakan bibinya benar juga, namun dia tidak suka jika bibinya terus memikirkan pamannya yang dalam pikirannya adalah pria paling egois yang dia tahu, meninggalkan istrinya begitu saja tanpa kabar hingga kini.
__ADS_1
"Tapi dia juga sudah meninggalkan kita," bela Jenny pada dirinya sendiri.
"Jenny, mungkin ada alasan kenapa dia harus begitu, lagi pula bibi lah yang memilihnya untuk menjadi suami bibi, bagaimana pun kelakuannya dan apa yang dia perbuat, dia adalah pilihan bibi dan bibi sudah berjanji pada diri bibi sendiri, tak ada kata pisah bagi kami, bibi mengingat semua janji dan sumpah bibi pada Tuhan saat menikahi pamanmu, kau boleh menganggap bibi adalah orang yang bodoh, namun selain bibi mencintainya, bibi juga takut pada Tuhan, karena menyesali dan juga berpisah akibat apa yang sudah dilakukannya, sama saja bibi tidak tepat janji dan tak menghargai sumpah bibi pada Tuhan, untuk menerimanya dalam keadaan apapun dia," kata Aurora menatap wajah cantik putrinya.
Jenny terdiam, perkataan bibinya cukup dalam untuk bisa dia balikkan kembali, jika sudah berkaitan dengan itu, Jenny tak bisa apa-apa lagi.
"Bagaimana dengan paman Liam?" kata Jenny.
"Dia pria yang bebas, tapi aku wanita yang sudah dan masih terikat dengan pernikahan, dia bisa mencari wanita yang beribu-ribu kali lipat dari bibi," kata Aurora yang kembali melihat ke arah sekelilingnya.
"Baiklah, aku akan membantu bibi untuk mencarinya," kata Jenny yang meletakkan yogurtnya dan lalu melihat ke arah sekitar.
Tak lama bel pintu terdengar, mereka sama-sama melihat ke arah pintu itu.
"Biar aku saja Bi, Bibi lanjutkan saja," kata Jenny yang bangkit dan berjalan menuju ke pintu hotel mereka yang luas, ada dapur, ruang makan, bahkan ruang tamu dan ruang tengah, sudah seperti apartemen di dalam hotel.
"Masuk Paman," kata Jenny yang mempersilakan Liam masuk.
"Bibimu dimana? " tanya Liam yang melihat ruangan itu kosong.
"Oh, bibi sedang ada di kamar, sedang mencari cincin pernikahannya yang hilang, tunggu sebentar ya paman, aku akan memanggilkan bibi dulu," kata Jenny dengan senyum manisnya meninggalkan Liam yang segera mengangguk.
Liam ingin duduk di salah satu sofa yang ada di sana, namun matanya tertuju pada sesuatu yang ada di karpet dekat sofa yang dia duduki, sebenarnya cukup bersinar karena terkena pantulan cahaya, dia segera melihatnya, sebuah cincin? Liam mengerutkan dahinya, melihat ke dalam cincin itu, ada nama Jofan yang terukir di sana, Liam langsung bisa menyimpulkan, cincin yang ada di tangannya sekarang itu adalah cincin pernikahan Aurora.
__ADS_1
"Paman," kata Jenny yang langsung membuat Liam kaget, dia dengan cepat memasukan cincin itu ke dalam jasnya dan berdiri, " bibi sebentar lagi keluar.”
"Oh, baiklah, kemana kau ingin pergi hari ini?" tanya Liam melihat ke arah Jenny.
"Sepertinya hari ini aku ingin seharian beristirahat di sini saja, sudah cukup lelah berjalan-jalan di sini," kata Jenny terlihat sedikit manja.
"Baiklah," kata Liam lagi dengan senyuman khasnya, melirik ke arah pintu yang perlahan memperlihatkan sosok yang dia tunggu dari tadi, Aurora memang berhasil dibawanya ke negeranya, namun wanita ini benar-benar susah untuk ditahlukkan hatinya, dia lebih banyak menghabiskan waktu di hotelnya dari pada ikut dengannya dan Jenny pergi berjalan-jalan, dan sepertinya sebisa mungkin dia menjauh dari Liam.
"Apa kabarmu?" tanya Liam lagi, selalu saja dia yang memulai menyapa.
"Baik, ada apa?" tanya Aurora melirik ke arah Liam lalu melirik ke arah Jenny.
"Oh, malam ini aku sudah memesan tempat di restoran Skylar," kata Liam tersenyum manis.
"Restoran Skylar, restoran nomor satu di negara ini?" kata Jenny yang sepertinya kaget mendengar nama restoran itu.
"Benar, aku punya tempat khusus di sana, aku sudah memesan untuk 4 orang," kata Liam lagi yang senang Jenny begitu semangat, dia tahu jika Jenny sudah serpeti itu, Aurora tak akan bisa lagi menolaknya.
"Kenapa empat?" tanya Jenny mengerutkan dahinya, bukannya mereka ada 3.
"Oh, karena Jonathan, anakku hari ini akan datang ke mari," kata Liam tampak sumringah.
"Benarkah?" tanya Jenny yang belum pernah melihat anak paman Liam ini.
__ADS_1
"Aku rasa malam ini aku ingin makan malam di sini saja, sudah terlalu sering makan malam di luar, lagi pula aku harus mencari sesuatu," kata Aurora yang merasa tak ingin datang untuk makan malam lagi dengan Liam apalagi ini ada Jonathan nantinya.