Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
42 - Kau Mencintainya, Dia mencintaimu, Apa Lagi Masalahnya?.


__ADS_3

"Tidak, itu curang namanya," protes Archie saat dia mulai berdiri, membersihkan sedikit tangan dan celananya dari debu.


"Curang? Tidak, kan tidak ada yang menyuruhmu mendatangiku,"  kata Ceyasa membela diri.


"Ya, itu curang, kau memakai keadaanmu, itu namanya curang, harusnya permainan itu diberhentikan dulu dan baru dilanjutkan saat sedah memastikan keadaanmu baik-baik saja, itu baru permainan yang adil," protes Archie lagi.


"Tidak, itu tidak curang, kau hanya tidak bisa menerima kalau kau kalah denganku," kata Ceyasa mulai kesal.


"Memang aku tidak bisa menerimanya karena kau menang dengan cara curang, seharusnya aku yang menang karena aku tidak bisa ditangkap olehmu," kata Archie lagi mengikuti amarahnya.


"Tidak, aku yang menang, dasar pria menyebalkan," kata Ceyasa yang sudah kesal dan tidak ingat bahwa mereka sedang di kerumuni anak-anak yang bingung kenapa kakak-kakak ini malah bertengkar? anak-anak didik Ceyasa hanya menatap mereka heran.


"Menyebalkan? kau yang curang, gadis aneh," kata Archie yang tidak mau kalah.


"Kalau aku aneh, kau pria tak tahu malu."


"Wanita gendut," kata Archie, Ceyasa yang mendengar itu langsung tambah kesal. Bagaimana dia suka sekali menyindir bentuk tubuhnya.


"Dasar kau pria brengs*k!" Ceyasa dengan suara yang sangat kesal.


"Kakak, apa itu brengs*k?" tanya seorang gadis kecil menarik jumper yang dipakai oleh Ceyasa, seketika itu Ceyasa dan Archie sadar mereka sudah dikerumuni anak-anak didik mereka dengan wajah yang kebingungan.


"Ha? Oh, itu, tidak baik, hanya orang dewasa yang boleh mengatakannya ya, jangan diikuti," kata Ceyasa mencoba untuk mencari alasan yang tepat agar anak-anak tidak mengikuti langkah mereka. Setelah menjalaskan dengan perlahan, Ceyasa melirik ke arah Archie yang hanya menatapnya dengan wajah tak bersalah.

__ADS_1


"Kakak, apakah kita boleh makan sekarang?" tanya seorang anak tampak bersemangat.


"Oh, benar, ayo kita makan di bawah pohon," kata Ceyasa menggiring anak-anak didiknya ke bawah pohon lagi di tempat dia mengajar tadi. Mereka segera tampak senang sambil memakan makanan mereka, Archie yang melihat itu tidak ingin mengganggu jadi dia memisahkan diri dan duduk di akar pohon yang lain, tidak terlalu jauh dari mereka.


Semilir angin yang sejuk menerbangkan rambutnya, dia duduk sambil meletakkan kedua tangannya di atas lututnya, mencoba menenangkan dirinya dan melihat secuil gambaran surga itu lagi, sinar matahari menembus di antara dedaunan yang lebat, menjatuhkan bayangan-bayangan daun di wajah putih Archie, wajahnya yang tadinya penuh tawa berubah kembali diam dan muram.


Archie menutup matanya, mengadahkan wajahnya ke atas, merasakan sedikit kehangatan yang diantarkan oleh matahari, saat dia menutup mata perlahan-lahan bayangan di kepalanya muncul, senyuman, tawanya, begitu dirindukannya. Seminggu sudah Archie tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati wanita itu karena kepergiannya yang tanpa pesan, egoiskah dia meninggalkan semuanya begitu saja tanpa memberikan alasan pada Suri? Wanita itu pasti sangat marah padanya, jangan-jangan dia juga sudah membencinya, hati Archie kembali tak nyaman, namun jika Suri tahu apa alasan yang membuat dia harus melakukan hal ini, akankah dia mengerti dan bisa merima Archie kembali sebagai kakaknya?


Rindu yang bergejolak perlahan-lahan sudah bisa terima olehnya, dia mulai bisa mengatur perasaannya, menikmati sedikit demi sedikit perasaan itu yang sudah merasuk hingga sukmanya, biar lah, sedikit lagi mungkin Archie akan terbiasa.


"Sedang apa?" suara Ceyasa terdengar membuyarkan pikiran dan perasan Archie yang mulai tentram, Archie membuka satu matanya, melihat wajah Ceyasa yang tampak samar-samar karena membelakangi cahaya matahari.


Hah, dia berharap yang dilihatnya adalah Suri, tapi kenapa yang muncul malah gadis aneh ini, pikir Archie. Dia lalu membuka kedua matanya.


Ceyasa duduk di sampingnya sambil melihat ke arah anak-anak didiknya yang masing-masing sudah mulai selesai makan, beberapa sudah mulai berlari ingin bermain.


"Hati-hati, sehabis makan jangan berlari, duduk dulu," teriak Ceyasa kecil menegur muridnya, mereka langsung berhenti dan mengangguk, Ceyasa melihat itu tersenyum. Archie melihat ke arah kaki Ceyasa yang dia biarkan lurus ke depan, melihat lututnya yang lecet namun seperti dia tidak merasakan apa pun.


"Kau tidak mengobati lututmu?" tanya Archie pada Ceyasa.


"Oh, ini, ini hanya luka kecil, luka seperti ini tidak akan menjadi masalah sampai di rumah nanti baru aku bersihkan," kata Ceyasa lagi pada Archie, melirik pria itu sebentar yang sekali lagi meneguk air minumnya, bekas kemuraman itu terlihat di wajahnya.


"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Ceyasa memecah keheningan di antara mereka.

__ADS_1


"Ehm, apa maksudmu?" tanya Archie melirik ke arah Ceyasa.


Ceyasa mengulum senyumnya, memperhatikan kembali wajah sempurna Archie yang duduk di sampingnya, angin yang cukup sepoi menerbangkan rambut-rambut yang jatuh di dahinya, Ceyasa harus mengakui ini pemandangan yang indah.


"Jangan pura-pura lagi, aku tak tahu apakah kau benar-benar amnesia lalu ingat, ataukah tak pernah amnesia sama sekali, tapi aku bukan orang bodoh, kau ingat masa lalumu kan?" kata Ceyasa dengan lembut, Archie menatap Ceyasa, baru kali ini mendengar Ceyasa berbicara begitu baik nadanya dengan dirinya.


"Dari mana kau bisa menyimpulkan hal itu?" tanya Archie yang takut ini jebakan Ceyasa saja, dia masih butuh tempat tinggal, Gerald yang kurang ajar itu malah tidak bisa dihubungi hingga sekarang.


"Aku tahu sejak kau mengambil foto wanita yang ada di bukumu itu, wajahmu tampak muram saar melihatnya, jika kau tidak ingat dia atau kenangan yang ditimbulkannya, kau tidak akan semuram itu, wajahmu pasti heran dan bingung melihat foto itu," Jelas Ceyasa pada Archie, Archie yang mendengar itu awalnya kaget, namun dia lalu tersenyum sedikit, ternyata Ceyasa ini tak sebodoh yang dia kira, dia sudah tak bisa mengelak lagi jika begini.


"Maafkan aku," kata  Archie menatap Ceyasa.


"Alasanmu harus benar-benar bagus agar aku tidak merasa kesal karena kau sudah membohongiku," kata Ceyasa menatap Archie dengan tatapan yang mengintrogasi. Archie menarik napas panjang, sebenarnya tak ingin mengatakan hal ini pada siapa pun, Ceyasa yang melihat itu meresa masalah pria ini pasti sangat pelik, "apa alasanmu karena wanita itu?" tanya Ceyasa lagi.


Archie melihat ke arah Ceyasa, dia hanya tersenyum kecut, Ceyasa langsung mengerti.


"Apa dia mencintaimu?"


Archie menatap Ceyasa, lalu mengangguk pelan.


"Kau mencitainya, dia mencintaimu, apalagi masalahnya? aku lihat kalian pasangan yang cocok," kata Ceyasa mengutarakan apa yang ada di pikirannya.


"Aku dan dia tidak mungkin bisa bersama selamanya," akhirnya Archie buka suara, perkataan Ceyasa tadi benar-benar menusuk jantungnya, dia dan Suri sangat cocok? entah kenapa hal itu membuat perasaan Archie makin miris.

__ADS_1


"Kenapa tidak mungkin? tak ada yang tak mungkin di dunia ini," kata Ceyasa enteng.


__ADS_2