
Angga membawa Gerald ke tempat yang pernah menjadi perlindungannya, sebuah rumah kecil di dalam hutan, namun Gerald langsung melongo melihat isinya, fasilitas penjagaan lengkap dengan ruangan-ruangan yang sangat hebat, juga alat-alat kedokteran yang canggih, semua orang ada di sana, Gerald tak menyangka ternyata Angga memiliki bunker seperti ini.
Angga mengetuk mejanya yang berbunyi sedikit nyaring, Gerald menggantikan posisi Asisten Lin yang berdiri di belakangnya, dia memegang beberapa berkas yang Asisten Lin berikan sebelum mereka pergi, ketukan meja Angga itu semakin lama semakin membuatnya tegang.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka, 2 orang dengan seragam mereka masing-masing masuk ke dalam ruangan itu, dari tanda yang tersemat di seragam mereka, sudah pasti mereka punya kedudukan yang tak main-main, Angga segera berdiri dan segera menyambut mereka dengan sebuah jabat tangan yang hangat.
"Senang bertemu dengan Anda Tuan Angga," kata Jendral Ferdinan dengan senyumannya.
"Aku juga, Jendral Ferdinan," kata Angga membalas senyuman Jendral Ferdinan dengan senyuman kaku khasnya, dia lalu beralih ke pria yang lain, "apa kabar Anda Jendral polisi David?" basa basi Angga yang langsung disambut hormat dari pria itu.
"Saya baik-baik, Tuan Angga," kata Jendral polisi David, wajahnya yang tegas langsung berubah sebuah senyuman.
"Terima kasih menyisakan waktu Anda-Anda sekalian untuk menemui saya di sini," kata Angga, Gerald yang ada di belakangnya hanya diam melihat petinggi-petinggi militer itu ada di sana.
"Tidak masalah Tuan, kami juga harus mempertanggungjawabkan kesalahan kami sebelumnya," kata Jendral Ferdinan yang dikawal oleh 2 orang ajudannya.
"Baiklah, silakan masuk," kata Angga.
__ADS_1
Kedua petinggi di masing-masing sektor mereka itu hendak melangkah ketika tiba-tiba seorang tentara muda mendorong seorang pria yang tampak masih sangat gagah walaupun dia harus duduk di kursi roda, dia memakai baju tentara yang lebih sederhana, namun begitu Jendral Ferdinan dan Jendral Polisi David melihatnya, kedua orang itu langsung memberikan salam hormat yang sempurna, Angga yang melihatnya pun menaikkan sudut bibirnya.
Pria itu memberikan hormatnya lalu dia menurunkan tangannya baru kedua Jendral itu menurunkan tangannya.
"Jangan mulai tanpa diriku," suaranya terdengar tegas.
"Tidak akan Jendral Indra," kata Angga menyodorkan tangannya pada Jendral (Purn.) Indra, membuat Gerald yang ada di belakang Angga langsung membesarkan matanya, ternyata menjadi asisten Angga benar-benar berat dan harus siap mental untuk bertemu dengan orang-orang hebat belum lagi banyak hal yang sangat mengejutkan.
"Mari kita mulai," kata Angga mempersilakan semua orang masuk ke dalam ruang rapatnya, mereka segara mengambil posisi masing-masing, Jendral Indra duduk di antara Angga dan Jendral Ferdinan, di depannya ada Jendral polisi David.
"Rain," kata Jendral Indra terlihat sedikit berpikir, dia menyilangkan jari-jemarinya dan meletakkannya di depan wajahnya, "Aku kenal dia.”
Pernyataan Jendral Indra membuat semua perhatian menuju ke arahnya, semua orang mengerutkan dahi.
"Bagaimana Anda mengenalnya? " tanya Angga terlihat mengerutkan dahi.
"Dia adalah dalang dari penyeranganku, setelah Anda memindahkanku ke sini dan memalsukan kematianku, aku sudah menyelidiki tentang orang-orang yang menyerangku malam itu, dan akhirnya aku mendapatkan satu nama, pantas saja dia sangat ingin melenyapkanku, dia pasti ingin balas dendam karena aku membunuh ibunya," kata Jendral Indra menatap Angga, yang lain pun ikut melihat Angga.
"Apa yang sebenarnya terjadi saat Anda melakukan penyelamatan itu?" tanya Angga.
__ADS_1
"Malam itu aku sedang ada di markas militer seperti biasanya, Anda pasti sudah tahu jika Tuan Jofan dan Nona Sania memiliki seorang anak, anak itu dimandatkan padaku untuk dititipkan pada seorang penjaga dan diasuh juga dibesarkan oleh mereka, Tuan Abraham akan memberikan semua kebutuhannya dengan syarat mereka harus mengakui bahwa anak itu adalah anak mereka, namun saat dia berumur 3 tahun, rumah mereka di serang dan kedua orang penjaga itu tewas, sedangkan anak itu diculik," kata Jendral Indra mengenang apa yang terjadi, "walaupun bukan cucu yang diinginkannya, namun Ceyasa tetaplah cucu keluarga Downson, mendengar kabar itu, Pedana menteri Abraham memberikan saya misi sangat rahasia bahkan tak boleh tercatat dimana pun, dia memerintahkan saya untuk menyelamatkan cucunya itu, dan seperti yang tadi di jelaskan juga ditayangkan, wanita itu tetap ingin membunuh Ceyasa karena itu aku menembaknya," kata Jendral Indra.
"Apakah dia memang mengatakan ingin membunuh Ceyasa karena dia keluarga yang membunuh suaminya," kata Angga.
"Ya, dia mengucapkan hal itu beberapa kali sebelum aku menembaknya," kata Jendral Indra.
"Namun jika dia adalah istri sah dari Yang Mulia Raja Leonal, keluarga Downson tidak ada sangkut pautnya dengan hal itu," kata Jendral Ferdinan yang juga mengetahui hal itu.
"Aku rasa aku mengerti dimana kesalahpahaman ini," kata Jendral Kepolisian David.
"Apa?" tanya Jendral Ferdinan yang sangat penasaran, bagaimana ini semua bisa terjadi.
"Sebentar," kata Jendral David, dia lalu berbicara dengan ajudannya, "Berikan aku semua berkas tentang penahan Pangeran Aksa selama dia di penjara.”
"Siap Jendral," kata ajudan itu, dia langsung mundur beberapa langkah dan segera.
"Menunggu hal itu, berarti kita harus membuat operasi penyelamatan, ada 3 orang yang harus kita selamatkan sekarang, Nona Ceyasa, Tuan Jofan, dan Ibunda Ratu Ayana," kata Jendral David.
"Benar," kata Angga singkat.
"Bukankah ada jalan khusus untuk masuk ke dalam istana yang pernah kita gunakan sebelumnya?" tanya Jendral Ferdinan.
"Aku sudah menutup semua akses jalan rahasia menuju istana saat aku menjabat, kita tidak bisa lagi melewati jalan itu," kata Angga lagi, tak menyangka akan ada hal seperti ini lagi dalam hidupnya.
"Tuan," kata Gerald yang tiba-tiba terpikir sesuatu. Karena intrupsinya itu semua orang menatap ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Angga.
"Ada tempat dimana aku dan Archie dulu sering bermain dan menjelajah, tempat itu menghubungkan menara yang ada di istana pangeran ke istana utama, dan jika tahu jalannya, Anda akan sampai ke gereja tua peninggalan zaman kerajaan dulu dan sampai sekarang gereja itu masih ada," kata Gerald yang ingat akan jalan yang sering mereka gunakan dulu untuk kabur dari istana.
"Benarkah? ada jalan seperti itu?" tanya Angga, dia merasa dia sudah menutup semua akses dari istana keluar.
"Ya, ada," kata Gerald segera menyambung tabletnya pada layar proyektor yang masih menyala, menampilkan gambar istana yang ada di proyektor itu, "ini menara yang aku maksud, ada jalan akses kecil di sana, jalan itu memiliki tanda khusus, tanda burung phoenix terpatri, setelah itu Anda bisa menekan batu itu lalu temboknya akan bergeser, dan ada tangga menuju bawah yang dan terowongan, namun terowongan itu punya banyak belokan dan setiap tempat menuju tempat yang berbeda," kata Gerald menggambar di tabletnya, Angga dan semua orang hanya mendengarkan dengan seksama, sedikit kaget ada akses seperti itu di istana.
__ADS_1