Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
113- Pria yang ku nikahi.


__ADS_3

"Bawa aku pergi dari sini," ujar Suri yang mulai terbuai oleh seluruh kenyamanan di dalam mobil itu, entah karena memang mobil itu terlalu nyaman, ataukah karena ada Jared hingga dia merasa nyaman.


"Kemana?" suara Jared yang lembut seolah bagaikan sebuah lirik bagi telinga Suri yang mulai ke awang-awang, semalaman hanya meratap membuatnya sangat lelah saat ini.


"Berikan aku kejutan lagi," ujar Suri lagi dan tak lama menutup matanya hingga jatuh dalam alam mimpi.


Jared menghentikan sejenak mobilnya, menatap ke arah wajah Suri yang dengan begitu mudahnya sudah tertidur, wajahnya yang cantik benar-benar sangat menggoda, Jared sedikit tersenyum, sekali lagi cukup bodoh menjadi pria yang hanya dicari saat Suri sedih, namun tak apalah, mungkin memang hanya ini perannya dalam hidup Suri. Jared kembali menjalankan mobilnya karena melihat Suri mulai menggeliat tak nyaman saat mobil itu berhenti, Jared berkendara mengelilingi kota itu.


Suri membuka matanya yang sedikit terkena silauan matahari, matanya yang tampak indah seperti ibunya itu terbuka perlahan, memperhatikan pepohonan yang tampak rindang di sisi-sisi jalan, Suri memperhatikan jalanan, mereka masih ada di kota ini, Suri lalu melihat ke arah Jared yang masih setia mengendarai mobil itu untuknya.


"Sudah berapa lama aku tidur?" ujar Suri sedikit merapikan rambutnya yang jatuh ke wajahnya.


Jared tak menjawab, hanya menunjuk jam digital yang ada di perangkat mobilnya, Suri mengerutkan dahi, menunjukkan pukul 16.45.


"Kita tadi berangkat pukul 14.05, dan kau tidur tak lama setelah kita berangkat, " ujar Jared sedikit tersenyum.


"Apa? aku sudah tidur 3 jam lebih? dan kau terus mengemudi?" tanya Suri tak percaya.


"Ya, aku belum menemukan tempat yang bisa mengejutkanmu lagi, dan jika aku berhenti, kau tampak tidak nyaman, jadi aku putuskan untuk tetap berkeliling, aku sudah mengitari jalan ini lebih dari 5 kali sepertinya," ujar Jared lagi sedikit dengan senyum jahil.


"Benarkah? kalau begitu kau sudah mengejutkanku kembali, " ujar Suri dengan senyuman manis, membuat Jared semakin mengembangkan senyumannya, melihat senyuman Jared itu Suri terdiam, dia tahu maksud dari senyuman itu, Jared senang melihat Suri bisa tersenyum.


Suri membuang wajahnya, tak ingin menunjukkan wajahnya yang tersipu karena perlakuan Jared, lagi-lagi pria ini bisa membuatnya merasa sangat spesial, namun saat melihat ke arah luar, Suri melihat sebuah poster besar tentang festival bunga, Suri langsung tampat bersemangat.

__ADS_1


"Ayo pergi ke festival bunga, kemarin ayahku diundang untuk pembukaannya dan dia meresmikan sebuah labirin di sana, ayo ke sana," ujar Suri dengan nada semangat, sudah lama dia tidak menggunakan nada itu, mendengar dan melihat Suri yang cukup ceria membuat Jared tak bisa menolak.


"Baiklah," ujar Jared segera mengarahkan mobilnya ke arah Central Park dan tak lama mereka sampai di sana.


"Sepertinya tamannya sudah tutup,"   ujar Jared melihat ke arah gerbang Central Park yang sudah tertutup rapat.


"Tidak untuk seorang putri," ujar Suri sambil tersenyum melirik Jared sambil membuka sabuk pengamannya, membuat Jared sedikit mengerutkan dahinya namun dia segera mengikuti Suri yang sudah berjalan menuju pintu gerbang.


Jared segera berjalan ke sana, dan berjalan di belakang Suri yang langsung mendatangi beberapa penjaga gerbang Cenral Park itu.


"Selamat malam Nona," kata salah satu penjaga, Suri memberikan senyuman dan penjaga itu segera mengenali Suri. " Yang Mulia Putri Suri, selamat datang," ujar penjaga itu lagi begitu ramah.


"Maafkan aku, tapi bolehkah aku masuk ke dalam taman," tanya Suri dengan lembut dan anggun.


"Baiklah, terima kasih banyak," kata Suri memberikan senyuman, lalu dia berbalik melihat Jared, memberikan senyuman manis nan puasnya, Jared menganggap itu cukup hebat, sebuah keistimewaan untuk keluarga kerajaan.


Pintu gerbang Central Park itu terbuka bersamaan dengan seorang wanita yang sudah cukup berumur keluar dari sana.


"Selamat Sore Yang Mulia Putri Suri, senang sekai Anda datang kemari, Anda membuat saya terkejut karena biasanya keluarga kerajaan selalu memberi pemberitahuan sebelum datang kemari," ujar wanita yang ternyata adalah manager taman itu.


"Maafkan aku, tapi aku tiba-tiba saja ingin datang ke sini, apakah aku boleh masuk?" tanya Suri lagi.


"Tentu, kami sudah selesai membersihkannya tamannya, silahkan masuk dan menikmati taman kami, jika Anda butuh apa pun, Anda bisa memanggil kami," ujar wanita itu begitu ramah.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya ingin berjalan-jalan sedikit, Anda tidak perlu mengikuti kami," kata Suri lagi sambil sedikit tersenyum dan segera berjalan masuk ke dalam taman bunga itu, pintu gerbang langsung di tutup kembali, karena memang tempat itu sekarang sedang tutup.


Senja menyingsing, warna jingga mulai menghiasi langit, warna biru, jingga, dan putih semakin indah dilukis oleh sang pencipta, selain itu bunga-bunga yang bermekaran di sana menambah syahdu ruangan suasana di sana.


Jared hanya mengikuti Suri dari belakang, jarak mereka cukup jauh, suasana hening hanya suara sepatu hak tinggi Suri yang terdengar, semerbak wangi bunga-bunga yang ada di sana tercium cukup menyengat namun juga menenangkan. Bunga-bunga yang bermekaran pun berwarna warni dengan ke elokan mereka masing-masing.


"Sudah pernah ke taman ini, Jared?" tanya Suri berhenti sejenak dan melihat Jared yang berjalan dengan gayanya di belakang Suri.


"Belum," ujar Jared yang terus berjalan mendekat ke arah Suri, Suri membalikkan badannya ketika Jared sudah ada di dekatnya hingga mereka berjalan beriringan.


"Saat aku kecil, setiap tahun ayah dan ibuku akan selalu mengajakku dalam setiap pembukaan taman ini," kata Suri dengan wajah manisnya menyusuri jalan setapak dengan sisi-sisi tanaman membentuk tembok dengan bunga-bunga berwarna pink yang tampak bermekaran, di atas mereka, melengkung tanaman rambat yang indah, membuat pilar-pilar yang indah di sepanjang jalan itu.


"Pasti sangat menyenangkan," kata Jared sambil terus mengikuti langkah Suri yang perlahan, menikmati keheningan dan suasana yang mulai menggelap.


"Ya, sangat menyenangkan, lalu ibuku selalu mengatakan, ditempat inilah pertama kali ayahku mengatakan bahwa dia adalah wanitanya," kata Suri tersenyum manis mengingat masa-masa kecilnya saat ibunya menceritakan hal  itu. Jared yang melihat dan mendengar kata-kata Suri tertular senyumannya.


"Aku tidak tahu ternyata paman Angga bisa begitu romantis," ujar Jared lagi.


"Ya, tapi percayalah, ayahku benar-benar bisa begitu manis jika berhadapan dengan ibuku," ujar Suri.


"Baiklah, aku percaya," ujar Jared lagi.


"Sejak kecil bagiku ayahku selalu menjadi contoh pria yang ingin aku nikahi, sesorang yang punya wibawa namun memperlakukan wanita dengan sangat lembut, seseorang yang tegas namun juga bisa begitu pengertian," ujar Suri yang awalnya memikirkan sosok ayahnya, namun begitu dia melihat ke arah Jared wajahnya sedikit berubah, senyumannya yang awalnya mengembang, perlahan pudar, mempehatikan sosok Jared yang berjalan di sampingnya hanya menatap ke arah depan mendengarkannya dengan sabar.

__ADS_1


"Seseorang yang terlihat dingin di luar, namun penuh kehangatan di dalamnya,"  jantung Suri berdetak kencang, tak tahu yang sekarang di ucapkannya apakah deskirpsi ayahnya, atau malah Jared, dia tak pernah tahu pria yang selama ini dia cari seluruhnya ada di diri pria yang sekarang berjalan beberapa langkah di depannya, Suri terdiam memperhatikan punggung Jared yang bidang.


__ADS_2