Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
296 - Melihat cintamu dengan orang lain.


__ADS_3

Liam berdiri di depan pintu kamar hotel Aurora, dia datang sesuai dengan yang dia janjikan, dia lalu menekan bel kamar itu, dan tak lama pintu pun terbuka, menampakkan sosok Jenny yang sudah siap dengan gaun malamnya yang begitu memukau, berwarna putih dengan potongan sederhana namun sangat mewah, Liam bahkan terpukau melihatnya.


 


"Wah, Jenny cantik sekali," kata Liam dengan senyuman yang tidak bisa menutupi kekagumannya pada sosok Jenny.


"Terima kasih paman," kata Jenny centil.


"Bibimu?" tanya Liam, dia khawatir Aurora akan membatalkan pergi malam ini, karena Aurora sudah beberapa kali melakukannya, dia harus membuat Aurora kesana, karena dia sudah memerintahkan orang untuk membawa Jofan ke restoran itu malam ini.


"Dia sebentar lagi keluar, mana anak paman?" tanya Jenny yang sedikit penasaran menerka bagaimana wajah Jonathan karena ayahnya saja begitu tampan di usia kepala hampir 5.


"Dia langsung menunggu di sana karena dia tadi ada urusan mendadak," kata Liam lagi.


 


Matanya langsung tertuju pada seseorang yang baru keluar menuju mereka, Aurora dengan wajah yang polos, hanya menggunakan pemerah bibir agar tak terlalu pucat, rambutnya ditatanya sedikit agar tak berantakan, menggunakan gaun berawarna orange muda yang tampak sangat cocok dengan kulit putihnya, potongannya sederhana namun sangat pas dengan tubuhnya, kali ini Liam tak bisa berkata-kata.


 


"Wah, bibi cantik sekali " kata Jenny memecah keheningan dan kecanggungan yang tercipta, Liam bagai pria ABG yang tak tahu harus mengatakan apa tentang Aurora yang menurutnya sempurna.


"Terima kasih, apa kita sudah akan pergi sekarang?" kata Aurora yang sedikit tak bersemangat, dia tidak menemukan juga cincin pernikahannya, dia merasa kosong pada tangannya, entah di mana dia meletakkanya.


"Oh, ya, Ayo, helikopter kita sudah menunggu," kata Liam lepas dari kekagumannya, dia beberapa kali berdehem namun matanya tak bisa lepas melirik ke arah Aurora yang bahkan tidak melihatnya sama sekali, padahal dia begitu tampan dengan setelan jas hitam itu.


 


Helikopter mereka pergi menjauh, tak lama mereka berhenti di sebuah helipad khusus di restoran itu, Liam turun duluan lalu dia membantu Jenny dan juga Aurora untuk turun.

__ADS_1


 


Di ujung sebuah tempat di restoran itu, Jofan bisa melihat Aurora turun dibantu oleh Liam, hatinya berdetak begitu kencang, tidak, bukan cemburu, namun karena rasa rindu yang mengerogoti begitu lama, hingga dia bisa melihat wajah cantik istrinya, hatinya begitu sakit hingga tak bisa tertahan, ingin rasanya dia lari lalu memeluk sosok indah itu, namun … dia harus menahan dirinya, dia sudah berjanji, jika memang Aurora bahagia bersama Liam, maka dia pun akan bahagia dan mengalah untuknya, tak ingin memaksa, karena itu adalah salahnya yang sudah menyia-nyiakan wanita sesempurna itu selama 18 tahun mereka bersama,  sudah cukup dia menyakitinya.


 


Aurora turun perlahan, dia lalu segera melepaskan tangan Liam yang mengenggam tangannya, dia hanya memberikan senyuman terima kasih yang terkesan kaku, Liam lalu membalasnya, Liam menggigit bibirnya, untunglah terlalu jauh untuk Jofan mengamati ekspresi Aurora.


 


Liam lalu mengarahkan ke dua wanita cantik yang dia bawa ke sebuah ruangan khusus, ruangan itu indah sekali karena benar-benar pas menyuguhkan seluruh pemandangan yang ada di sana, selain itu mereka juga bisa melihat sinar matahari yang kekuningan jatuh di atas danau yang tenang itu.


Saat pintu terbuka, seorang pria muda berdiri, dari belakang saja sosoknya tampak begitu gagah, tak jauh beda dengan postur tubuh Liam, Jenny yang sedari tadi sudah penasaran dengan sosok Jonathan yang walaupun sudah cukup lama dia ada di negara ini tak pernah dia temui, karena menurut Liam, Jonathan sedang mengurus perusahaan mereka di luar Negeri.


 


 


Jonathan berdiri, dia hanya memberikan sedikit senyumannya yang bahkan sudah meluluhkan hati Jennya, matanya yang coklat terang tampak bening menerawang, menunjukkan iris matanya, Jenny benar-benar tertegun.


 


"Jonathan, ini Bibi Aurora dan juga Jenny, keponakannya," kata Liam memperkenalkan Jonathan pada Aurora dan Jenny.


"Senang bertemu denganmu Jonathan, kau mirip sekali dengan ibumu," puji Aurora yang memang tak bisa dipungkiri, Jonathan pria yang sempurna, Jonathan hanya mengembangkan lebih senyumannya, lalu matanya tertuju pada Jenny yang tampak sedikit terdiam melihat ke arahnya.


 


"Hai," kata Jonathan mencoba menyapa Jenny, Jenny yang mendengar suara Jonathan langsung bergetar, suara berat itu terdengar begitu menggoda, ah, apa kurangnya pria ini? pikir Jenny yang melihat Jonathan dari atas hingga bawah, membuat wajah Jonathan langsung berkerut, namun saat Jonathan ingin lebih bertanya, ponselnya berbunyi.

__ADS_1


 


"Excuse me," kata Jonathan menunjukkan gestur menunggu pada Jenny, dia lalu mengangkat ponselnya lalu berjalan keluar.


 


"Maafkan aku, dia selalu sibuk dengan masalah perusahan kami, silakan duduk," kata Liam, Aurora duduk di depan Liam, sedangkan Jenny nantinya akan berhadapan dengan Jonathan.


 


Tak lama Jonathan akhirnya bergabung dengan mereka, membuat senyuman manis terkembang sempurna di bibir Jenny melihat sosok pria sempurnanya itu di depannya.


"Maaf ayah, Heiley menelepon," kata Jonathan yang melihat ayahnya yang menatap dirinya.


"Heiley?" suara Jenny terdengar, dia memang selalu ingin tahu dan tidak bisa menahan perasaan itu.


"Ya, kekasihku," kata Jonathan tampak bangga dengan hal itu, namun langsung memudarkan senyuman manis Jenny, pria  sempurnanya ini ternyata sudah ada yang punya, mood Jenny yang tadinya sangat bahagia berubah 180 derajat, dia langsung menegak champange yang sudah tertuang di sana, membuat Jonathan tersenyum sedikit melihat tingkah laku Jenny ini, setelah minum itu dia langsung bersandar dan mengibas-ngibas tangannya seolah dia kepanasan.


"Apa panas? " tanya Jonathan pada Jenny.


"Sedikit," kata Jenny acuh, dia tak suka mengganggu pacar orang, dia tak pernah mau jadi wanita kedua, dia harus jadi yang pertama, walaupun Jonathan adalah pria yang sempurna menurutnya, tapi kalau dia sudah punya pacar, jangan harap Jenny akan mendekatinya, masih banyak pria yang lebih pantas untuk dia perjuangkan dari pada harus memperjuangkan pria dengan pasangan.


 


Makanan mereka tak lama datang, Liam memesan makanan paling disarankan di tempat itu, dan mereka mulai makan perlahan, suasanannya sebenarnya sangat canggung dan kaku, Liam hanya menatap ke arah Aurora, sedangkan Jenny sudah tak mood walaupun dia ada di restoran termewah di negara ini.


 


Namun, bagi Jofan pemandangan ini sangat menyayat hatinya, merelakan orang yang kita sayangi bahagia ternyata tak semudah itu, bahkan rasanya lebih sakit dari pada semua luka yang pernah dia rasakan di tubuhnya, bahkan luka bekas peluru ini ternyata tak ada apa-apanya dari pada melihat cintamu dengan orang lain, pantas saja ada yang bisa sampai bunuh diri hanya karena ini.

__ADS_1


__ADS_2