
Ceyasa baru saja mengangkat barang-barang belanjaan salah satu pembeli, menaruhnya dengan rapi di bagasi belakang mobil mereka dan setelah itu segera menutup pintu mobil mereka.
"Sudah semua, Pak, terima kasih sudah berbelanja di sini," ujar Ceyasa dengan senyuman sumringah sambil menepuk-nepuk kedua tangannya, seraya mengelap sedikit keringat dari dahinya sebelum meluncur jatuh ke pipinya.
"Wah, terima kasih Nak, saya puas dengan pelayanannya, ini, " ujar bapak separuh baya menyodorkan uang tips untuk Ceyasa, Ceyasa yang melihat hal itu segera menolaknya dengan halus.
"Maaf Pak, kami tidak diperkenankan untuk menerima uang apa pun," ujar Ceyasa tetap dengan senyuman seceria matahari yang mengintip diantara pepohonan di pagi hari.
"Saya ikhlas kok, lagi pula bos kamu tidak akan melihatnya, masukkan saja ke dalam sakumu," ujar bapak itu, merasa gadis ini terlalu sayang menjadi seorang pelayan toko, semangatnya sangat menular untuknya.
"Tidak Pak, terima kasih, saya harus kembali lagi ke tempat saya, silakan datang lagi Pak, permisi," ujar Ceyasa dengan sopan kembali menolak uang yang sebenarnya cukup besar hanya untuk sekedar tips.
Ceyasa segera meninggalkan bapak itu yang hanya tersenyum melihat Ceyasa, membuka topi yang dia gunakan sejenak, namun langsung memasangnya kembali, bahkan sepagi ini, badannya sudah basah oleh keringat, entah sudah berapa banyak kantong belanjaan yang dia sudah angkat, dan dari tadi pagi dia sudah banyak memindahkan barang, pekerjaan di kota memang sangat berat.
"Ceyasa!" teriak Tommy membuat perhatian Ayatha teralih.
"Ya?" jawab Ceyasa yang melihat Tommy sudah ada di depan salah satu mobil pengantaran barang mereka. Dia segera mendekati mobil itu dan berhenti di dekat pintu penumpang.
"Ayo ikut aku," ujar Tommy.
"Kemana?" kata Ceyasa yang mengerutkan dahinya, wajahnya masih saja penuh keringat.
__ADS_1
"Masuk saja, aku sudah izin membawa salah seorang, kata bos aku bebas membawa siapa pun, sekarang aku mengajakmu, hitung-hitung mengajakmu jalan-jalan, dari tadi pagi aku sangat kasihan melihatmu bekerja sangat keras, di sini juga kau bisa istirahat, kita punya 3 tempat untuk di antar," kata Tommy menjelaskan, sekaligus membukakan pintu mobil pengantar barang untuk Ceyasa. Ceyasa yang mendengar penjelasan itu mengangguk-angguk kecil.
"Baiklah," ujar Ceyasa, yang penting bosnya sudah mengizinkan, dan benar juga kata Tommy, hitung-hitung dia beristirahat dan sedikit berjalan-jalan sejenak.
Tommy tampak tersenyum sumringah, sedikit merasa beruntung Ceyasa benar-benar mau pergi dengannya, semenjak Ceyasa masuk, Ceyasa menjadi primadona diantara para pekerja di sana, semua pekerja pria di toserba itu sangat ingin bisa dekat dengannya, pembawaannya yang riang, pekerja keras plus wajahnya yang sangat manis itu, membuat semua pria di sana tertarik padanya, dan sekarang Tommy punya kesempatan beberapa jam berdua dengan Ceyasa, dan di gaji pula.
Tommy segera menjalankan mobilnya, Ceyasa yang merasa sangat kegerahan membuka sedikit jendelanya, membuka topi yang membuat panas kepaalnya, mengibas-ngibaskannya sebagai kipas untuk sedikit menghalau rasa panasnya.
Tommy yang melihat pemandangan seperti itu membuatnya tak konsentrasi menyetir, matanya selalu ingin bisa melihat ke arah Ceyasa yang tampak tak memperhatikan Tommy, dia hanya ingin menikmati semilir angin panas yang masuk dari jendela mereka, dan mengistirahatkan sedikit tubuhnya yang ternyata setelah diistirahatkan baru terasa begitu lelah dan pegal.
"Lelah?" ujar Tommy yang membuka suara untuk mulai mengobrol dengan Ceyasa.
"Sedikit, bagaimana denganmu?" tanya Ceyasa mencoba ramah dengan rekan kerjanya, mendapat pertanyaan seperti itu, Tommy merasa sangat senang, Ceyasa seolah memperhatikannya.
"Wah, terima kasih, kau baik sekali," ujar Ceyasa mengambil dan langsung meminum air minum kemasan itu dengan sangat lahap seolah dia sudah tak minum 1 harian, sebenarnya gaya Ceyasa itu sangat tidak ada anggun-anggunnya, namun melihat Ceyasa minum seperti itu Tommy begitu senang.
Ceyasa mengelap bibirnya yang basah karena air minumnya sedikit tumpah, dia lalu melirik ke arah Tommy yang terus melihatnya dengan tatapan begitu senang, senyum suringahnya tak bisa ditutup-tutupinya, membuat Ceyasa mengerutkan sedikit dahinya, pria ini kenapa?
"Ada apa denganmu? apa ada yang salah denganku?" ujar Ceyasa melihat penampilannya, tak ada yang aneh, hanya sedikit air minum yang tumpah ke kemeja kerjanya.
"Ya, tidak, oh, hari ini kita akan mengantarkan pesanan di salah satu daerah elit di kota, semoga kau suka jalan-jalannya," kata Tommy masih dengan senyuman cengengesannya.
__ADS_1
"Ya, pasti akan ku nikmati," ujar Ceyasa memberikan senyuman lebar, membuat Tommy langsung salah tingkah.
Perjalanan selanjutnya hening, sesekali Tommy melirik ke arah Ceyasa yang tampak menikmati semilir angin yang menerbangkan anak-anak rambutnya, ah, wanita secantik ini, benar-benar tidak cocok jadi ‘kuli angkut’ di toserba itu, seandainya Tommy sudah cukup berada, dia pasti akan mengajak Ceyasa menikah.
Tak lama mobil mereka berhenti di dapan sebuah gerbang yang begitu besar. Ceyasa melirik ke arah gerbang itu, dari sana dia tidak bisa melihat bagaimana bentuk rumah di dalamnya.
"Wah, rumah ini, gerbangnya saja sangat besar, bisa kau tebak bagaimana dalamnya?" ujar Tommy yang bahkan kesusaha melihat puncak gerbang rumah itu, Ceyasa hanya mengernyitkan dahi, dia sudah tak lagi kaget melihat rumah-rumah besar di kota ini, mau rumah yang bak istana? Bahkan rumah yang halamannya 1 bukit penuh pun dia sudah melihatnya, tiba-tiba pikirannya sedikit ngeri mengigat Rain, pria itu dan dua singanya.
"Ayo turun," ujar Tommy
"Sudah, aku saja, aku akan melapor, kau di sini saja, nanti setelah gerbang terbuka, kau tinggal masuk ke dalam," kata Ceyasa tersenyum manis.
"Oh, baiklah, baik," kata Tommy yang terkesima dengan senyum Ceyasa, bahkan dia hanya manut saja apa yang dikatakan oleh Ceyasa.
Ceyasa turun dari mobil pengantar barang mereka, berjalan sedikit menuju gerbang rumah itu, tidak ada penjaga, hanya ada sebuah alat, sepertinya monitor untuk sampai ke rumah utama, Ceyasa menekan sebuah tombol untuk menyampaikan pesannya, dan juga menekan bel, namun setelah beberapa kali dia menekan, tidak ada respon di dalamnya.
"Bagaimana?" tanya Tommy yang melihat Ceyasa sedikit mengerutkan dahinya.
"Sepertinya tidak ada orang di dalam," ujar Ceyasa menatap Tommy.
"Baiklah, kita bisa datang lagi setelah mengantar yang lain, masuklah, di luar panas," ujar Tommy memanggil Ceyasa.
__ADS_1
Ceyasa yang merasa masuk akal, segera melangkah ke mobil pengantar barang mereka, namun saat dia baru saja ingin membuka pintu mobil itu, sebuah mobil mewah berhenti di belakang mobil pengantar barang mereka. Ceyasa memperhatikan sejenak mobil itu.