
Pagi menyingsing cepat, setelah menyelesaikan sarapan yang hening, Jared harus mengantar adiknya kembali ke istana, dia tetap saja bersikukuh untuk pergi dari rumah karena tidak tahan dengan adanya Siena di sana. Aurora tak bisa menahan keinginan anak gadisnya itu.
Aurora mencoba untuk merapikan baju yang sudah dipakai oleh Jofan, wangi parfum yang maskulin tercium menusuk hidungnya, namun dia begitu nyaman menciumnya, Jofan tersenyum melihat wajah kecil istrinya.
"Aku akan mengantarnya sebentar, setelah itu mengurus sedikit pekerjaan di perusahaan, ehm, nanti siang aku sudah berjanji untuk bertemu dengan Angga dan Daihan, mungkin aku tidak akan makan siang di rumah, setelah itu aku akan segera pulang, " jelas Jofan, baru kali ini dia menjelaskan dengan detail kemana dia akan pergi.
"Baiklah, tolong jangan minum alkohol jika bersama Angga dan Daihan nanti, kalian harus menjaga tubuh kalian mulai sekarang," ujar Aurora lagi melihat mata suaminya. Jofan menatap Aurora lembut, senyuman manisnya mengembang.
"Baiklah, sepertinya aku sudah harus pergi," kata Jofan merangkul tubuh istrinya dan berjalan keluar dari kamar mereka segera menuju ke pintu utama.
Sesampainya di sana, Jofan mencari ke segala arah, Siena belum terlihat sama sekali.
"Siena?" panggil Jofan sedikit lebih keras, mencoba mencari anaknya.
Tak lama Siena muncul dari arah dapur, dia membawa segelas susu di tangannya, dengan wajah yang sudah jauh lebih membaik dari yang kemarin, dia sedikit mengulas senyuman sangat tipis, namun Aurora dan Jofan bisa melihat hal itu.
"Aku baru dari dapur, dan pelayan mengatakan untuk mengingatkan, Anda belum minum susu Anda pagi ini," ujar Siena menyerahkan segelas susu putih itu.
"Oh, ya ampun, benar, aku lupa meminumnya, pasti sudah dingin," kata Aurora mengambil segelas susu itu dari tangan Siena.
__ADS_1
"Apa ingin diganti dengan yang hangat, aku akan katakan pada pelayan," ujar Siena lagi.
"Tidak perlu, aku akan meminum ini saja, Siena terima kasih," ujar Aurora tersenyum manis, Jofan pun senang dengan hal ini, walau pun masih memanggil Aurora dengan Anda, namun sikap Siena yang berangsur-angsur membaik itu, membuat Jofan semakin lega.
"Baiklah, ayo kita pergi, setelah ayah dari perusahaan ayah akan menjemputmu dan mengenalkanmu dengan sahabat-sahabat ayah," ujar Jofan tersenyum manis melihat ke arah Siena, lalu berpindah pada Aurora yang wajahnya dihiasi senyuman yang menenangkan.
"Ya, aku pergi dulu, Bibi," ujar Siena yang canggung dan bingung memanggil Aurora siapa. Mendengar Siena memanggilnya bibi, Aurora tersenyum sedikit lebih lebar dan Jofan pun merasa sedikit lebih senang, walaupun belum bisa mengganggapnya ibu, setidaknya itu artinya Siena sudah menerimanya.
Aurora mengantarkan Jofan dan Siena, mereka segera masuk ke dalam mobil, Siena duduk di samping ayahnya. Jofan meletakkan ponselnya di bagian tengah mobilnya. Siena yang melihat itu melirik ke arah ponsel ayahnya.
"Ayah," ujar Siena melirik ke arah ayahnya yang baru bersiap-siap untuk melajukan mobilnya.
"Bolehkah aku meminjam ponsel ayah, aku belum pernah punya ponsel sebelumnya," ujar Siena lagi tersenyum sedikit lebih lebar, membuat matanya yang masih terlihat bengkak itu menjadi segaris.
"Tentu, nanti setelah ini kita akan membeli ponsel untukmu," ujar Jofan mengambil kembali ponselnya dan menyerahkannya pada Siena, setelah itu dia membuka jendela mobilnya, melambaikan sedikit tangannya pada Aurora yang masih menunggu mereka pergi.
Aurora melambaikan tangannya pada suaminya yang segera meninggalkan area rumah mereka, gerbang mereka yang otomatis terbuka dan tertutup segera ditinggalkan oleh Aurora, Aurora berjalan ke ruang tengah, segera duduk dan mulai meminum susunya yang dari tadi sudah di pengangnya.
Aurora meletakkan gelas itu di atas meja, dan memutuskan untuk rehat sejenak, dia sudah cukup sibuk dari tadi pagi, mengurusi makanan sarapan yang memang dari dulu selalu dipantau oleh dirinya.
__ADS_1
Dia mulai membaca sebuah majalah yang ada di atas meja ruang tengahnya, entah milik siapa, mungkin saja milik Jenny, sudah lama Aurora tidak pernah lagi membaca sesuatu, padahal itu adalah salah satu hobi dirinya dulu.
Setelah membaca beberapa beberapa menit, entah kenapa Aurora merasa suasana rumahnya terasa sangat sesak, Aurora baru sadar melihat kepulan asap yang keluar dari dapur, Aurora yang kaget langsung bergegas berdiri dan ingin melihat apa yang terjadi.
"Yana!" teriak Aurora memanggil pelayannya, namun tak ada sautan, ternyata asap sudah sangat tebal menumpuk di daerah dapur mereka, Aurora menutup mulut dan hidungnya, mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahnya, Aurora mencoba untuk melihat ke arah dapur mereka, dan dia langsung kaget melihat apa yang ada di sana, api yang cukup besar sudah membara, mengepulkan asap putih kehitaman, di lantai dapur itu Aurora melihat pelayannya terkulai lemas tak sadarkan diri.
Aurora terbatuk-batuk, kesusahan dalam bernapas, matanya pun perih, diantara kaburnya penglihatan dan asap tebal sudah menutupi seluruh area dapur itu, Aurora mencoba untuk tetap tenang walaupun matanya tak bisa lepas melihat kobaran api yang sangat besar, melahap dengan ganas bagian kompor di dapur mereka, dia mencoba untuk menolong pelayannya yang sama sekali sudah tak bergerak.
"Tolong!" teriak Aurora seraya menutup mulut dan hidungnya, sedikit mencoba menghalangi asap yang masuk dalam saluran pernapasannya, namun semakin dia mendekat, semakin ngeri dia melihat api yang sudah berkobar, namun tetap dilakukannya, dia segera menarik kedua tangan pelayannya yang tubuhnya lebih gempal darinya, mencoba menyeretnya lebih jauh dari sumber api yang benar-benar hampir menjilat tubuh pelayannya.
"Tolong!" ujar Aurora yang menyipitkan matanya, berulang-ulang mengedipkan matanya yang perih, terbatuk terus menerus, sebenarnya dia cukup sesak, panasnya udara di dalam ruangan itu memperparah keadaan, membuat Aurora cukup kesusahan.
Api terus membara, sekarang bahkan sudah mencapai plafon rumah mereka, Aurora melihat alat pendeteksi api, tapi tak ada yang terjadi, bukannya rumah ini dilengkapi alat pendeteksi api dan juga alat pemadam otomatis, kenapa semua tak berfungsi?
Aurora semakin sesak, dia sudah mulai merasa lemas, dia memutuskan untuk meninggalkan pelayan itu dan mencari pertolongan, setidaknya dia sudah menarik tubuh pelayan itu lebih jauh dari kobaran api itu.
Dia segera keluar dari dapur rumahnya yang ternyata seluruh ruangannya sudah penuh dengan kabut asap yang lumayan tebal, cukup menghalangi matanya untuk melihat, namun untungnya dia bisa melihat ke pintu utamanya.
Aurora segera berjalan menuju ke pintu utama itu, namun hampir saja dia ingin sampai ke pintu utama itu, Aurora merasakan tubuhnya sangat lemas, kepalanya begitu pusing, napasnya benar-benar terasa sangat tipis bercampur dengan bau asap yang menyesakkan, matanya berkunang-kunang, seolah semuanya bertambah buram, bahkan dia tidak bisa lagi melihat apapun, semuanya buram dan hitam, bersamaan dengan itu tubuhnya ambruk ke lantai.
__ADS_1