Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
76 - 3 Hati Yang Terluka.


__ADS_3

"Terima kasih ya sudah menemaniku pergi," ujar Suri pada Jared yang mengantarkan Suri sampai ke dalam istananya, mereka berhenti di ruang tengah istana utama.


"Tentu, tidak masalah," ucap Jared yang tampak sedikit tersenyum.


"Baiklah, sekali lagi terima kasih ya, lain kali aku yang akan meneraktirmu makan siang," ujar Suri terseyum begitu manis.


Jared mengangguk sedikit, tak ingin meninggalkan kesan dingin yang ada padanya, tak terlalu banyak berbicara, namun sekali bicara semua benar-benar akan tersentuh karenanya.


Suri terus melemparkan senyuman manisnya, melambaikan tangannya saat dia melihat Jared sudah bersiap ingin pergi, Jared kembali menarik sudut bibir dan segera melangkah.


Namun, baru saja beberapa langkah Jared ingin keluar dari sana, seorang pelayan yang memang dekat dengan Suri datang dan langsung berbisik pada Suri, membuat mata Suri membesar.


"Benarkah? kau tidak bohong?" pekik Suri tiba-tiba, membuat Jared yang tadinya sudah ingin keluar, langsung melihat ke arah Suri yang tampak tak percaya sekaligus begitu senang.


Jared yang melihat itu langsung terdiam, wajahnya yang dingin terlihat datar. "Kapan dia pulang? lalu dimana dia sekarang?" tanya Suri lagi begitu bersemangat, tampak sekali begitu bahagia mendengarkan kabar yang baru dia dapatkan, bahkan dia tidak memperhatikan Jared yang memandangnya sendu di sana.

__ADS_1


"Aku harus bertemu dengannya sekarang," kata Suri langsung, dia segera berjalan pergi meninggalkan ruang tengah itu dengan wajah berseri-seri.


Jared langsung tahu apa yang terjadi sebenarnya, wajahnya yang tadinya diam, sekarang berubah sedikit menampakkan kekecewaan, namun langsung di ubahnya dengan sedikit senyuman terpaksa, Dia sudah pulang, pikir Jared, ternyata dia tetap tidak bisa membuat canda dan tawa Suri seindah saat dia dengan Archie. Jared segera keluar dari istana utama itu dan pergi meninggalkannya.


Suri tampak tak sabar, dia bahkan tak lagi mengindahkan apapun, kembali berjalan dengan sedikit cepat, sesekali tampak berlari kecil, dayangnya juga mengikutinya, wajah Suri terhiasi senyuman yang begitu manis, terus mengembang, kebahagiaan terpancar jelas, hari yang selama ini ditunggunya akhirnya datang, cintanya sudah pulang.


Suri segera menyusuri lorong yang  menghubungkan istana utama dengan istana pangeran, dia sudah bisa melihat pintu gerbang utama istana pangeran, benar-benar ingin sekali bertemu dengan pangerannya itu, rasa rindu yang memuncah malah membuatnya menangis bahagia, sebentar lagi, dia akan melapiaskan segalanya.


Namun langkahnya segera terhenti, di lorong istana yang membelah taman menghubungkan istana mereka, Suri terdiam, beberapa penjaga menghadangnya, tak mengizinkannya melanjutkan perjalanan, dia langsung bingung.


"Maaf Tuan Putri, Yang Mulia Raja tak mengizinkan Anda untuk masuk ke istana Pangeran," ujar penjaga itu terlihat tegas, mereka memang sudah ditegaskan untuk tidak mengizinkan Suri ke istana pangeran, dan Archie ke istana utama, semua akses yang menghubungankan istana itu di tutup untuk keduanya.


"Apa maksudmu? Izinkan aku lewat, ini perintahku," ujar Suri emosi mendengar perkataan penjaga itu, sudah lama dia menantikan hari ini, hari dimana akhirnya Archie pulang, tapi setelah dia pulang, dia malah dilarang untuk bertemu dengannya. Apa maksud semua ini? kenapa ayahnya malah melarang mereka bertemu?


"Maaf putri, namun kami hanya menjalankan perintah Yang Mulia Raja," ujar penjaga itu lagi.

__ADS_1


Suri menatap geram pada semua penjaga yang ada di sana, matanya merah, senyuman tadi berubah kemarahan, ingin rasanya dia menerobos mereka semua, namun saat ingin melakukannya dia melihat sosok yang begitu ingin dia temui keluar dari pintu utama, Suri terdiam, begitu merindukan sosok pangeran hatinya yang sempurna, melihatnya dari jauh saja sudah mengobati sedikit rasa rindu hingga air mata turun begitu saja dari matanya.


"Kakak! Kakak!" teriak Suri, tak mengindahkan peraturan seorang putri tak boleh berteriak seperti itu.


Dari jauh sayup-sayup suara Suri terdengar Archie yang baru saja keluar dari istananya, dia harus pergi menemui pamannya di perusahaan milik mereka, Archie yang mulai bisa mengontrol dirinya, refleks menoleh ke arah datangnya suara, wajahnya datar, menatap Suri yang melambai-lambai padanya karena di halangi oleh penjaga kerajaan, sesekali Suri malah melompat-lompat, meninggalkan sisi anggunnya sesaat.


Archie tak lama melihat wajah Suri, dengan wajah sedingin angin musim dingin Archie membuang pandangannya, seolah yang di lihatnya bukanlah siapa-siapa, dia lalu segera masuk ke dalam mobil yang sudah tersedia, dan mobil itu pergi begitu saja.


Suri yang melihat kelakuan Archie terdiam, begitu dingin seolah tak ada apapun di antara mereka sebelumnya,seolah bahkan tak saling mengenal, begitu dingin hingga membuat Suri menggigil, hatinya sedih sekali mendapatkan tatapan itu, apakah hanya dia yang tersiksa oleh kerinduan ini? apakah pria itu benar-benar sudah melupakannya? Tidak ada kah sedikit saja rasanya pada Suri? Air mata Suri mengalir begitu saja, khayalannya tentang pertemuan yang hangat, terhempas sudah, penantiannya untuk cintanya, ternyata hanya berbuah sebuah pengacuhan yang menyakitkan.


Archie di dalam mobil memandang wajah Suri yang terdiam melihat dirinya dari kaca belakang mobilnya, namun dia segera memalingkan wajahnya, menatap jendela mobil yang ada di sampingnya, menarik napas panjang, teringat akan senyuman manis yang bahkan sampai sekarang membuatnya tak bisa bernapas, seolah napasnya tertahan di tenggorokan, matanya kembali panas, namun sebisa mungkin ditahannya, hanya dia usap dengan kedua jarinya. Gerald yang melihat hal itu hanya bisa mamandang pangerannya dengan simpati. Rasanya pasti sakit sekali.


Jared mengendarai mobilnya dengan perlahan, memandang lurus ke jalanan, namun sebenarnya pikirannya tak ada di jalanan itu sama sekali, karena itu begitu lampu jalanan berubah merah, dia terlambat menyadarinya hingga hampir menerobosnya. Dia menginjak rem mobil itu dengan dalam, hingga dia berhenti mendadak, membuat tubuhnya terhempas.


Dia terdiam, merasa kesal dengan dirinya sendiri, kenapa perasaannya kacau sekali sekarang? tak bisa kah dia merelakan Suri lagi seperti dulu yang pernah dia lakukan. dia benar-benar kesal hingga memukul kemudi mobilnya, setelah lampu berubah hijau, dia segera menginjak gas dan pergi dari sana dengan penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2