Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
347- bagaimana aku punya saudara sepertimu?


__ADS_3

Ceyasa berdiri dengan cukup anggun di depan kaca besar yang menampilkan dirinya yang berbalut gaun putih dari segala sisi, siang itu ibunya membawanya untuk fitting baju pernikahannya.


Ceyasa tersenyum manis,tak menyangka akan punya kesempatan untuk menggunakan pakaian pengantinnya, dulu dia berpikir pernikahannya akan sangat biasa saja, apa lagi setelah menikah palsu dengan Archie, dia pikir dia akan menjadi janda dan tak akan menikah lagi.


Tapi, hari ini dia benar-benar tak mempercayai matanya, dia sangat cantik menggunakan gaun pengantin berwarna putih dengan bentuk bodycon sedikit berbahan Lace yang tersusun rapi di sisinya, ekornya tak terlalu panjang dan bahan satin yang tetap membuatnya sederhana namun juga elegan dan mewah.


Aurora mencoba merapikan ekor gaun Ceyasa, lalu kembali melihat dengan puas gaun yang dipilihkannya, cantik dan cocok sekali dengan Ceyasa, pilihannya ternyata begitu tepat.


"Cantik sekali," kata Aurora bangga.


"Ini karena gaun yang ibu pilihkan," Senyum Ceyasa yang melihat wajah ibunya yang sumringah dari cermin, untung saja belum ada perubahan dari tubuh Ceyasa, sehingga walaupun menggunakan gaun pernikahan yang begitu pas di tubuhnya, dia masih terlihat begitu menarik.


Tiba-tiba pintu ruang fitting itu terbuka, Ceyasa mengintip dari cerminnya, matanya membesar melihat sosok yang muncul di sana, Nadia.


"Nadia?" kata Ceyasa tak percaya.


Nadia menatap Ceyasa dengan wajah yang cukup berlebihan, mulutnya ternganga besar karena tak percaya melihat Ceyasa begitu anggun dan cantik dengan gaun pengantin itu, tak pernah menyangka wanita yang dulunya tak pernah memperhatikan penampilannya, menggunakan pakaian seadanya, dan selalu saja marah-marah ini, ternyata begitu cocok menjadi seorang putri.


"Ceyasa kau cantik sekali!" kagum Nadia tak berkedip, gaun Ceyasa ini persis seperti yang digunakan orang-orang terkenal, seperti artis yang sering dilihat oleh Nadia. Dia mendekati Ceyasa ingin menyentuh Gaunnya, tapi Nadia cukup takut memegangnya, takut mengotori dan merusaknya.


"Apa yang kau lakukan di sini? kau belum pulang?" bisik Ceyasa namun dengan suara agak meninggi.


"Aku di sini sedang menemani calon ibu mertuaku," kata Nadia dengan wajah sumringah, penampilan Ceyasa boleh berubah, sifatnya ternyata sama saja, galak, pikir Nadia.


Ceyasa mengerutkan dahi tak mengerti, Calon ibu mertua? siapa?


"Ya ampun! Ceyasa? kau begitu cantik," Suara Nakesha langsung mengisi ruangan saat dia masuk ke ruang fitting itu, melihat menantunya yang sangat elegan itu, sangat pantas dengan Archie.


"Terima kasih Bu, Ibuku yang memilihkannya," kata Ceyasa bangga.

__ADS_1


"Benarkah? Aurora, kau benar-benar tahu memilihkan gaun yang cocok untuk Ceyasa," Ujar Nakesha terkesima dengan Ceyasa, dia yakin Archie akan sangat terkagum-kagum melihat Ceyasa nantinya, mereka sengaja melarang Archie untuk melihat Ceyasa sekarang.


"Itu juga karena Ceyasa begitu cantik," kata Aurora melempar senyuman pada Nakesha.


"Ibu, aku juga akan mendapatkan gaun, bukan?" tanya Nadia yang langsung mengalihkan perhatian Ceyasa? Nadia memanggil ibu pada siapa?


"Ya, kita semua akan memakai gaun di acara pernikahan Archie dan Ceyasa, Nadia, Carilah gaun yang kau inginkan," kata Nakesha dengan perlahan, membuat Ceyasa membulatkan matanya.


"Bagaimana kau bisa memanggil ibu mertuaku dengan ibu?" tanya Ceyasa sedikit berbisik pada Nadia yang ada di dekatnya.


"Memangnya kau belum tahu, aku dan William kan sudah pacaran, ibu William juga sangat menyukaiku," kata Nadia asal saja.


"Hah! kau pacaran dengan adik ipar ku?" pekik Ceyasa kaget, dia tak percaya, masa dia harus bersaudara ipar dengan Nadia, jadi sahabatnya saja Nadia sudah sangat merepotkan. Membuat Nakesha dan Aurora kaget karenanya, Ceyasa hanya senyum-senyum sungkan pada keduanya, untungnya kedua ibunya itu kembali mengobrol.,


"Ya, kenapa? Kan sah-sah saja, aku suka dia, aku goda dia, dia mau denganku, apa yang salah?" kata Nadia enteng.


"Kau guna-gunai dia dengan apa?" kata Ceyasa memandang Nadia kesal.


"Ya belum, kan masih hamil muda, aduh, kenapa aku punya saudara seperti mu sih," kata Ceyasa mengeluh, Nadia hanya menyipitkan matanya memandang Ceyasa dengan kesal.


Aurora dan Nakesha yang hanya memperhatikan dua sahabat ini bercengkrama hanya senyum-senyum sendiri, walau tampak tak akur tapi terlihat mereka begitu dekat.


"Apa sudah selesai?" suara berat pria tampak mengisi ruangan.


"Tentu saja belum, Ibu dan Nadia belum melihat apa-apa, dia sedang berbicara dengan kakak iparmu," kata Nakesha menjawab pertanyaan William.


William melihat Nadia yang berdiri di samping kakak iparnya, cukup terpesona dengan kecantikan kakak iparnya ini, ternyata kakaknya benar-benar tahu memilih wanita, tak kalah cantiknya dengan Suri.


"Wow, kak ipar kau cantik sekali," puji William.

__ADS_1


"Lihatlah, William saja begitu terpesona olehmu, Archie juga pasti akan merasakan hal yang sama, dia pasti sangat terkejut melihatmu begitu cantik dengan gaun ini," kata Nakesha memuji, menantunya yang satu ini memang begitu cantik, sangat bangga memilikinya sebagai menantu.


"Kau memujinya? kenapa tak pernah memuji aku cantik?" tanya Nadia cemburu, melirik Ceyasa tajam, Ceyasa hanya mengerutkan dahinya melihat tingkah drama queen ini.


"Ya sudah kau juga cantik, ibu aku akan ada di cafe untuk minum kopi, jika kalian sudah selesai, hubungi aku," ujar William yang tak mau ambil pusing dengan ulah para wanita ini, lebih baik cepat meninggalkan mereka semua.


"Baiklah," kata Nakesha. William melemparkan senyum manisnya sebentar pada pacarnya, yang di balas senyum sedikit genit oleh Nadia, Ceyasa yang melihat tingkah Nadia merasa cukup mual, tapi dia tahan, sambil mengelus perutnya, jangan sampai kalau anaknya perempuan, sifatnya seperti Nadia ini.


"Hei, selamat ya, aku lupa mengatakannya, aku doakan kau dan bayimu sehat selalu, aku sudah tak sabar menjadi Bibi," kata Nadia akhirnya waras.


"Baiklah, aku terima itu, walaupun aku tak tahu dia mau punya bibi sepertimu atau tidak," kata Ceyasa lagi dengan ketus namun akhirnya tersenyum.


"Dasar, sudah ah, aku ingin mencari gaun, aku tidak mau kalah cantiknya, walau ini pernikahanmu," ujar Nadia pergi begitu saja dari sana untuk mencari gaunnya, Ceyasa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata permintaan Ceyasa dan Nadia dulu saat mereka kecil terkabulkan, mereka menjadi saudara.


"Kita pilih gaun ini saja ya," ujar Aurora lagi kembali ke tujuan utama mereka.


"Iya ibu, ini saja," kata Ceyasa sumringah.


"Baiklah," kata Aurora, memberikan gestur pada pelayan yang ada di sana, menunjukkan mereka akan mengambil gaun ini.


Setelah berganti pakaian biasa, Ceyasa hanya menunggu ibunya yang juga fitting baju untuk pernikahan mereka, melihat ibu mertuanya dan calon adik ipar yang tak ingin di akuinya itu juga mempersiapkan gaun mereka yang indah, tak di sangka Nadia juga jadi sangat menggoda ketika menggunakan gaun yang dipilihkan oleh Nakesha.


"Wow, aku tidak percaya aku juga bisa cantik," puji Nadia pada dirinya sendiri.


"Tentu, kedua menantuku pasti sangat cantik," kata Nakesha benar-benar puas, kedua putranya begitu tahu bagaimana memberikannya menantu.


"Lihat Ceyasa, aku tak akan kalah denganmu," kata Nadia.


"Memangnya kita sedang berlomba?" jawab Ceyasa yang hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Nadia ini.

__ADS_1


Melihat dan mendengar hal itu membuat Aurora dan Nakesha tertawa, Keluarga Nakesha dan Daihan pasti akan ramai dengan kedua menantu mereka yang tak punya aturan ini.


__ADS_2