
"Tapi, aku rasa aku akan pulang secepatnya, dokter mengatakan aku sudah baik-baik saja, aku rasa malam ini aku akan pulang," kata Aurora lagi, tak ingin terjebak dalam suasana seperti ini lagi. Mendengar itu senyum Liam menghilang, dia memunculkan wajah diamnya, menatap dalam pada Aurora yang tampak sudah seperti biasa, matanya tajam melihat ke arah mata Aurora, dia tak habis pikir, kenapa Aurora seperti ini padanya.
"Kenapa harus pulang begitu cepat? Kau juga tak perlu pulang ke istana, aku bisa memberikanmu rumah, kalian bisa tinggal di sana bersama," kata Liam sedikit merasa tertolak,padahal dia hanya ingin membuat Aurora bahagia.
"Tidak perlu, aku tidak ingin lagi berhutang budi padamu, lagi pula anak-anak lebih suka di sana," kata Aurora lagi.
"Aurora, kenapa kau bertingkah seperti ini, kau tahu perasaanku padamu, sejak pertama kali bertemu denganmu hingga saat ini, perasaanku padamu tidak pernah berubah," kata Liam dengan wajah bertanya, dia menatap wajah Aurora yang tampak sendu. Aurora lalu tersenyum tipis.
"Tapi perasaanku sudah berubah padamu, Liam, bagiku kau hanya sebuah kenangan yang manis, aku tidak ingin kau berharap apapun padaku, karena bagaimana pun aku sudah memiliki keluarga," kata Aurora menatap wajah Liam yang tampak tak bisa menerima apa yang disampaikan oleh Aurora.
"Keluarga? bagaimana kau sebut semua ini keluarga, kau ingin kembali pada suamimu yang bahkan lebih memilih anak tirinya dari pada melihat kau meregang nyawa? Apa yang harus kau pertahankan dengan pria seperti itu? kau seharusnya bersama diriku, aku bisa membuatmu bahagia, bahkan aku bisa memberikanmu anak jika kau ingin," kata Liam tak habis pikir, apa yang kurang darinya, apa yang Jofan miliki namun dia tidak? kekayaan, ketampanan, kekuasaan, seluruhnya dia punya.
__ADS_1
Aurora kembali tersenyum tipis, seolah tak terpancing sama sekali walaupun Liam mengatakannya dengan nada yang emosi.
"Sebenarnya, aku yang tidak bisa memiliki seorang anak, aku memiliki sebuah penyakit yang membuat aku tidak akan punya anak selamanya, Jofan sudah tahu itu sebelum kami menikah, namun dia yang mengambil kesalahan itu dan mengumumkan pada keluarga kami bahwa dia yang memiliki masalah itu, karena dia tahu, jika orang tuanya tahu aku yang bermasalah, mereka akan memisahkan kami," kata Aurora lagi tersenyum mengingat dengan pasti kenapa dia bisa jatuh cinta kepada pria dingin yang tak pernah menganggapnya ada, karena walaupun sedingin itu, dia tetap menjadi pria yang bertanggung jawab, menutupi semua kesalahannya, selalu ada walau hanya sebatas raganya.
Liam mendengarkannya sedikit tak percaya, dia menatap Aurora kembali dengan dalam.
"Tak masalah, aku sudah punya Jhonatan, aku tidak akan meminta anak darimu, aku yakin begitu saja kita sudah bahagia, aku tidak akan menyia-nyiakan dirimu seperti yang Jofan lakukan," kata Liam lagi.
"Bahagia itu tergantung orang melihatnya, mungkin kau merasa kasihan melihat aku hidup seperti itu, menganggap aku tersia-siakan, tapi aku bahagia, aku punya 2 orang anak yang bisa ku banggakan, suamiku, hanya aku yang tahu bagaimana caranya mencintaiku, mungkin tak akan seekspresif dirimu, tapi bahkan jika aku harus mengulang hidupku, aku akan memilih untuk kembali bersamanya," kata Aurora lagi dengan senyuman tipisnya, benar-benar mengusik Liam yang rasa hatinya terkoyak mendengarkan hal itu, dia yang ada saat Aurora berjuang antara hidup dan mati, tapi kenapa? tak sedikit pun ada perasan Aurora padanya.
"Aku sudah pernah mencobanya, itu saat-saat yang indah, namun akhirnya tak seindah itu, kau dan aku kita punya jalan hidup yang lainnya, dari awal seharusnya kita tidak bersama, lagi pula Liam, aku sudah punya suami, tolong bantu aku untuk menjadi wanita yang setia dengan suamiku," kata Aurora yang mulai merasa Liam tak bisa ajak bicara secara halus, karena itu dia mulai meninggikan suaranya namun tetap mengontrol dirinya.
__ADS_1
"Setia? apa yang kau dapat untuk menjadi setia? bukannya suami juga cinta dengan wanita lain? dia sudah berkhianat padamu, untuk apa kau setia pada pria yang mengkhianatimu," kata Liam lagi sedikit tersenyum sinis, Aurora ini? tak sadarkah dia?
"Sepertinya aku memang ditakdirkan untuk merebut seseorang dari pasangannya, Jofan tak pernah mengkhianatiku, akulah yang merebut dirinya dari Sania, sekarang aku sudah mendapatkannya seutuhnya, aku tidak akan melepaskannya, seperti dulu aku melepaskanmu," kata Aurora dengan wajah sangat serius, matanya tajam menatap pada Liam.
Liam terdiam, sorot mata itu, sorot mata terakhir kali Aurora berikan padanya saat dia bersikeras untuk mengakhiri hubungan mereka dulu, seberapa pun Liam memohon, memelas, bahkan bersujud di depan Aurora, dia tak pernah sedikit pun mengubah keputusannya, dia tetap teguh untuk melepaskan Liam, kali ini Liam melihat lagi tatapan itu, membuat hatinya begitu sakit, Aurora begitu mencintai Jofan.
"Beristirahatlah, kau masih butuh perawatan, pulanglah besok, aku tak akan menggumu lagi, selamat siang," kata Liam merasa sudah tak bisa berkata apapun setelah melihat hal itu dari mata Aurora, dia segera keluar, membuka pintunya dan meninggalkan Aurora sendirian. Aurora melihat itu hanya berwajah diam, ini memang harus dilakukannya, tak mungkin memberikan harapan pada Liam, karena cintanya memang hanya untuk Jofan.
----***----
"Selamat sore Tuan Liam," kata Asisten Liam melihat ke arah ke arah Liam yang hanya menatap jendala besar yang ada di belakang meja kantornya, dia tampak menarawang jauh, menggigit gagang kacamata yang hanya dia gunakan untuk bekerja. Liam tak sedikit pun bergeming maupun melirik ke arah Asistennya, dia hanya ingin sendiri sekarang, penolakan halus Aurora itu sangat menyakitkan hatinya, bagaimana dia tak percaya cinta dengan Liam.
__ADS_1
Selama ini dia hidup dalam kepura-puraan, bertolak belakang dengan Jofan yang bersikap dingin dan juga tak ingin memberikan harapan apapun pada Aurora, mencoba membiarkan wanita itu agar bisa tetap hidup sesuai keinginannya, Liam berbeda, walaupun tak pernah melupakan cintanya pada Aurora, Liam tetap berusaha menjadi suami dan ayah yang baik bagi istri dan anaknya, mencoba sebisa mungkin agar tampak menjadi suami yang benar-benar mencintai istrinya walaupun semua yang dia tunjukkan adalah kebohongan semata, dia benar-benar tak pernah mencintai istrinya hingga akhir hanyatnya.
"Tuan," kata Asisten Liam lagi, sekali lagi menegur Tuannya yang masih terperangkap oleh seluruh perasaannya, mendengar itu Liam akhirnya bisa kembali ke dunia nyatanya. Dia langsung memutar kursinya mengarah ke Asistennya.