
"Memangnya apa salahku?" tanya Ceyasa yang merasa dia tidak bersalah, bukan dia yang menggoda pria itu hingga pria itu datang, dia hanya duduk di sana sesuai keinginan Archie.
"Kenapa kau membiarkan pria itu mendekatimu?" tanya Archie kali ini melihat ke arah Ceyasa.
"Aku tidak membiarkan dia untuk mendekatiku, aku hanya duduk di sana dan memijit sedikit kakiku karena kakiku sangat sakit," kata Ceyasa membela diri, dia tidak membiarkan pria itu mendekatinya, dia bahkan tak tahu kenapa pria itu mendekatinya.
"Pantaslah, caramu yang seperti itu mengundang pria untuk bersimpati padamu sehingga pria akan datang dan menghampirimu, apa kau tidak memikirkan hal itu? tak bisakah kau hanya duduk dan menungguku? Atau memanng kau segaja melakukannya?" kata Archie yang cukup besar, membuat Ceyasa langsung menatap Archie dengan wajah kesal tidak terima, apa lagi dia mengatakannya saat ada supir mereka di depan, Ceyasa melihat supir itu yang memperhatikan mereka dari spion mobil, bisa saja supir ini mengira memang dia adalah wanita penggoda yang sengaja melakukan apa yang dikatakan oleh Archie, Ceyasa tak terima jika begitu.
"Apa maksudmu?" Tanya Ceyasa geram.
"Kau tahu maksudku," kata Archie memandang Ceyasa dengan tajam.
"Jadi kau berpikir, aku sengaja melakukannya untuk menggodanya?" tanya Ceyasa lagi yang sangat kesal dengan tuduhan Archie, dia juga ingin membela dirinya, tak ingin orang mengira dia adalah wanita penggoda.
"Jika bukan, kenapa kau melakukan hal itu?Oh! aku ingat sekarang, Anxel, anak Pedana menteri, apa kau tau itu? kau ingin menggodanya karena masalah anak itu bukan? kau berpikir kalau bersamaku kau tidak akan memiliki anakmu sendiri bukan?" kata Archie menghubungkan semuanya, otaknya benar-benar kacau sekarang karena bagaimana pun pembicaraan mereka tadi siang masih menghantui pikirannya, dia tak sadar dengan apa yang baru dia katakan, dia bahkan tak memikirkan Ceyasa akan sakit hati mendengarkannya.
Ceyasa mengertakan giginya, wajahnya memerah menahan kesal, Archie benar-benar keterlaluan kali ini, tega-teganya dia mengatakan hal itu pada Ceyasa. Ceyasa benar-benar marah dengan apa yang diucapkan Archie.
__ADS_1
"Berhenti!" kata Ceyasa pada supir itu, supir kerajaan itu langsung kaget dengan apa yang dikatakan oleh Ceyasa, dia melambatkan mobilnya ingin menepi.
"Jangan berhenti!" kata Archie memandang Ceyasa yang juga memandangnya kesal, di antara tatapan mereka terselip amarah.
"Berhenti, aku bilang berhenti!" kata Ceyasa dengan suara meninggi membuat supir itu kaget.
"Jangan berhenti, jika kau berhenti aku akan memecatmu," bentak Archie pada supir itu, membuatnya menekan pedal gas lagi, bingung harus apa dan yang mana harus dia ikuti, putri atau pangerannya.
"Berhenti tidak, jika tidak berhenti aku akan melompat dari mobil ini, jangan coba-coba," kata Ceyasa sambil memegang knop di mobil itu ingin membuka pintunya, wajah Ceyasa benar-benar tampak kesal dan marah pada Archie.
Archie memandang Ceyasa dengan wajah marahnya, namun dia sadar, Ceyasa bukanlah wanita yang suka mengancam, dia wanita yang akan melakukan apa yang dia katakan, jika dia mengatakan dia ingin melompat, dia pasti melompat.
Ceyasa langsung memegangi gaunnya yang panjang, Archie hanya melihat apa yang Ceyasa lakukukan.
"Apa yang mau kau lakukan? Ceyasa, aku tidak akan mengejarmu jika kau keluar dari mobil ini," ancam Archie melihat Ceyasa yang sudah bersiap keluar dari mobil itu.
Ceyasa menatap Archie sejenak dengan wajah marahnya, dia segera keluar dan menutup pintu mobil itu dengan keras, Archie hanya melihat ke arah Ceyasa yang langsung masuk ke keramaian orang-orang di sisi jalan itu, dia menggertakkan giginya, belum selesai rasa kesalnya karena melihat Ceyasa dengan pria itu, sekarang Ceyasa bertingkah seperti ini, dia jadi frustasi harus melakukan apa, keras kepala sekali wanita itu, pikir Archie yang melihat Ceyasa sudah mulai menghilang dari pandagannya.
__ADS_1
Archie melihat ke sekelilingnya, tempat itu benar-bener penuh dengan orang-orang, jika dia keluar pasti akan menjadi hal yang menghebohkan, dan nantinya akan membuat dia mengalami kesulitan.
"Pangeran, Anda jangan keluar, di sini banyak sekali orang-orang, aku sudah memerintahkan penjaga untuk mencari Nona Ceyasa, Anda tunggu di sini saja," kata Gerald yang membuka pintu bagian depan, dia memang mengikuti mobil Archie dengan mobil lain bersama para penjaga, saat melihat mobil Archie berhenti dan melihat Ceyasa keluar, dia langsung bertindak.
Archie hanya diam saja tidak merespon apa perkataan Gerald, dia hanya melihat lalu lalang orang-orang di sana, rasa kesalnya perlahan berubah menjadi cemas, saat itu pula dia melihat sepatu hak tinggi Ceyasa, dia meninggalkannya, itu artinya sekarang Ceyasa sama sekali tidak menggunakan alas kaki, sial! kenapa wanita itu seperti itu, pikir Archie yang langsung membuka pintunya, rasa cemasnya sudah mengantikan seluruh rasa kesalnya.
"Carikan sepatu berhak datar untuk Ceyasa," kata Archie yang langsung keluar.
Gerald kaget melihat Archie yang tiba-tiba keluar dari mobilnya, padahal dia sudah memperingatkan bahwa di sana banyak sekali orang, keselamatannya bisa saja terancam, belum selesai kagetnya dia langsung dibuat bingung dengan permintaan Archie, bagaimana dia mencari sepatu hak datar untuk Ceyasa, belum selesai bingungnya dia semakin tak bisa berpikir melihat Archie yang berlari memasuki kerumunan orang-orang di sisi jalan, Gerald geleng-geleng kepala, dia bisa dihukum mati jika terjadi sesuatu pada Archie.
Archie mencari Ceyasa ke segela arah, dia menerobos kerumunan orang-orang yang ada di sana, untungnya mereka cukup tidak perduli atau tidak memperhatikan siapa yang ada di sana, sehingga tidak ada yang mengenalinya atau menghentikannya.
Kerumunan jalanan itu bernar-benar padat, penuh dengan beribu orang yang lalu lalang, bahkan Archie sampai beberapa kali harus bersenggolan dengan orang lain, namun dia belum juga melihat keberadaan Ceyasa, bahkan beberapa penjaga yang diperintahkan Gerald pun ternyata kehilangan jejak Ceyasa. Hal itu membuat Archie semakin cemas, dia terus melihat dengan awas ke seluruh arah.
Kemana dia? apa jangan-jangan dia kembali diculik? Ceyasa, kemana kau? pikir Archie yang terus saja mencari bagaikan orang gila, kadang berlari, kadang berputar, kadang terhenti hanya untuk meredam rasa cemasnya yang sampai ke ubun-ubun.
"Pageran! di sana," kata seorang penjaga menunjuk sebuah arah di bawah jembatan yang sedang mereka seberangi.
__ADS_1
Archie melihat tempat yang ditunjuk oleh pengawalnya, melihat Ceyasa sedang duduk sendiri di tepian sungai, tempat itu sepi, sedikit remang dengan hanya sedikit lampu jalan, Ceyasa duduk di rumput sambil memeluk lututnya, melihat hal itu, akhirnya bahu Archie yang dari tadi terangkat tengang, turun juga, cukup lega melihat Ceyasa ternyata baik-baik saja.
Archie segera berlari untuk mendekati tempat Ceyasa duduk, saat dia sudah cukup dekat Archie mengeluarkan gestur agar para penjaganya tidak mengikutinya, para penjaga mengerti apa yang diinginkan oleh Archie, mereka lalu berjaga di sana.