
Ceyasa sampai tidak bisa menutupi wajah kagetnya, dia harus menutup mulutnya yang ternganga, di sana tertulis jelas bahwa ayahnya adalah Jofandra Downson dan ibunya bernama Sania, jadi selama ini dia sudah bertemu dengan ayahnya, Pria itu ternyata adalah ayahnya, bagaimana bisa? Ceyasa hingga sesak napas membaca semua yang tertulis di sana, dia akhirnya bisa melihat foto ibunya, wanita itu tampak begitu cantik, bibir Ceyasa bergetar, dia sama sekali tidak menyangka memiliki ibu yang begitu cantik, namun di akhir berkas dia melihat bahwa ibunya koma semenjak melahirkannya.
Dia kembali membuka berkas yang lain, membaca tentang Ayah Archie, Pangeran Aksa, dan di sana tertulis bahwa kematiannya disebabkan oleh tembakan oleh ayahnya Ceyasa makin membesarkan matanya, napasnya tertahan membaca hal itu, jadi yang menyebabkan kematian ayah Archie adalah ayahnya.
"Benar, kau adalah anak dari orang yang sudah membunuh ayah Archie, apa kau yakin dia tetap akan menerima dirimu jika dia tahu kau adalah sebabnya dia menjadi seorang anak yatim?" tanya Rain, suara Rain itu cukup lembut namun segera menyambar Ceyasa, seperti ada yang memukul kepala Ceyasa dengan palu gada, membuat kepalanya sakit seketika.
Rain mendekati Ceyasa yang hanya terpaku, matanya benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia baca dan juga dia dengarkan dari Rain.
"Dan kau tahu, Archie sudah tahu bahwa Ayahmu yang membunuh ayahnya dan percaya padaku, dia ingin membalaskan dendam ayahnya, dia akan membunuh ayahmu," kata Rain yang berhenti cukup dekat di depan Ceyasa, Ceyasa yang mendengar itu memandang mata Rain yang tampak teguh, Rain pun hanya mentap mata Ceyasa yang bergerak-gerak, tampak mengamati dirinya.
"Apa kau akan tetap ingin memiliki suami yang nantinya akan menjadi seorang yang mencabut nyawa ayahmu?" tanya Rain.
"Tidak, Aku percaya Archie bukan orang yang seperti itu, dia tidak akan melakukan hal itu pada ayahku, lepaskan aku sekarang! aku ingin bertemu dengan ayahku!" kata Ceyasa dengan nada cemas dan emosi.
"Tak perlu repot-repot, aku bisa membuat kau bertemu dengan ayahmu karena sekarang ayahmu ada di sini," kata Rain terrsenyum sinis, melihat senyuman sinis itu membuat Ceyasa kembali melebarkan matanya.
__ADS_1
"Apa yang sudah kau lakukan pada ayahku?" tanya Ceyasa yang kaget.
"Aku hanya menahannya, sedikit memberikannya pelajaran, dia datang ke sini ingin bertemu denganmu kemarin, tapi dia tak bisa melakukan apapun karena takut aku melakukan sesuatu padamu," kata Rain sambil berjalan lebih mendekati Ceyasa, melihat hal itu Ceyasa pun mundur selangkah demi selangkah, dari mata Rain, Ceyasa bisa melihat kilatan nafsu yang mulai muncul.
"Aku ingin bertemu dengan ayahku," kata Ceyasa mencoba untuk meneguhkan dirinya sendiri, padahal jauh dalam hatinya, dia sudah cukup takut melihat tatapan liar dari Rain itu.
"Aku tentu bisa melakukannya, tapi setelah kau setuju dan berjanji untuk menjadi milikku, Ceyasa, jadilah milikku, maka aku tak akan melakukan apapun pada ayahmu dan Archie, dua orang yang terpenting dalam hidupmu akan selamat," kata Rain yang semakin tak tahan untuk mendekati Ceyasa, memandang bibir Ceyasa yang benar-benar membuatnya ketagihan, ingin kembali mengecupnya, sensasi yang tak bisa dia tolak godaannya.
Rain menatap Ceyasa, wajah wanita itu benar-benar menarik sisi jantannya, wajah panik dan takutnya kembali membuatnya tertarik lebih dan lebih lagi terhadap Ceyasa walaupun sekarang ada perasaan kasihan melihatnya, namun nafsunya lebih mengalahkan apapun, bahkan akal sehatnya hilang seketika, dia terus berjalan mendekati tubuh Ceyasa, dia hendak memegang lengan atas Ceyasa namun Ceyasa dengan cepat mengayunkan lampu tidur itu, entah dari mana dia mendapatkan tenaga yang cukup besar hingga bisa mengayunkan lampu tidur yang berat itu.
__ADS_1
Bagian bawah yang berbentuk bulat dari lampu tidur itu langsung telak mengenai sisi samping kepala Rain, hal itu tentu membuat Rain langsung terhuyung jatuh, Ceyasa merasa hal itu belum bisa melumpuhkan Rain, dia segera memegang lampu itu lagi dengan kedua tangannya, dan sekali lagi dengan semua tenaga yang bisa dia keluarkan, dia memukul kepala Rain lagi, 2 kali dia memukulnya lagi hingga bagian bawah lampu itu yang terbuat dari keramik tebal pecah, tampak darah mengalir dan Rain terkulai tak sadarkan diri.
Entahlah, entah dia mati atau hanya pingsan, namun Ceyasa sama sekali tidak perduli, dia melangkahi tubuh pria itu, dia lalu segera berlari menuju pintu keluar, dia segera ingin membuka pintu itu, dan untungnya pintu itu tidak tertutup, dia mengintip sejenak, lorong di depan kamarnya sepi, apa karena sudah malam dan Rain ada di dalam, makanya ruangan ini tidak di jaga? Mungkin juga Rain memerintahkan penjaga untuk tidak menjaga kamarnya agar tak mendengar apa yang akan dia lakukan pada Ceyasa, membayangkannya saja Ceyasa sudah bergidik ngeri.
Ceyasa segera mengintip lebih jauh, lorong itu benar-benar kosong, dia segera keluar dari sana, dia pergi berlari entah kemana, dia belum mengerti seluk beluk dari istana utama ini, dia hanya pernah datang saat dia dipanggil ke ruang pertemuan dan saat pertunangan Suri dan Jared, tapi di dekat ruangan itu ada pintu samping dari istana utama yang langsung menuju ke taman-taman, mungkin dari sana dia bisa keluar.
Ceyasa segera berjalan ke jalan yang masih bisa dia ingat dan benar saja pintu ada di depannya sekarang, dia mencoba untuk melihat keadaan, tak ada penjaga di daerah sana, mungkin sekarang memang sudah sangat larut malam dan penjagaan cukup longgar, dia perlahan membuka pintu itu, untung saja kuncinya tergantung, dan dengan perlahan pula dia keluar dari pintu, kakinya menapak pada ubin luar istana yang terasa dingin, udaranya pun terasa lebih lembab, dalam remangnya malam, Ceyasa segera berlari, entah kemana dia berlari, tapi dia tidak bisa berlari menuju gerbang utama, dia yakin pergi ke tempat yang terbuka akan membuatnya mudah terlihat dan juga kembali tertangkap.
Dia terus berlari dan hanya mengikuti alur dari lorong di luar istana hingga dia melihat jalan yang menghubungkan istana utama dan istana pangeran.
__ADS_1