Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
194 - Merelakan Cintanya Pergi.


__ADS_3

Aurora membuka matanya, melihat ke arah ranjang besarnya, sudah beberapa hari dia kembali harus tidur sendiri, namun entah kenapa rasanya terlalu kosong, padahal dia dulu dia selalu tidur sendirian, hanya karena beberapa bulan, rasa terbiasa itu hilang.


Aurora turun dari ranjangnya, satu hari lagi dia harus lewatkan dengan perasaan menerka-nerka, akankah Jofan akan pulang hari ini? kenapa pria itu? apa yang menjadi alasannya meninggalkan Aurora dan anak-anaknya? bahkan tidak ada kabarnya sama sekali, apa gunanya kata mencintai jika ternyata dia harus pergi, kenapa harus datang sejenak, memberikan sedikit harapan, namun ternyata dia tak bisa tinggal disampingnya.


Aurora mencoba untuk berpikir mencari sisi positifnya, namun dia tidak bisa menemukannya, semua orang di istana juga bertingkah seolah kepergian Jofan bukanlah masalah, mereka juga tidak pernah lagi membicarakan apa lagi menanyakan tentang dirinya. Ternyata perasaan tak dicintai dan diperlakukan dingin selama 18 tahun tak ada apa-apanya dengan perasaan ditinggalkan saat perasaan cinta itu menggebu-gebu, kali ini Aurora serasa menyerah.


Aurora tak bisa menahan dirinya lagi, rasa rindu, rasa sedih, rasa kecewa itu bergabung jadi satu terkadang menjadi emosi yang tak beraturan, dia jadi mudah merasa sedih, mudah merasa putus asa, bahkan dia bisa merasa kesal dan marah hanya karena hal kecil, terkadang menangis semalaman, namun dicobanya untuk ditahan, tak ingin orang-orang sekitarnya tahu seberapa frustasi dan depresinya dia sekarang.


Benarkah JofanĀ  lebih memilih anaknya dari pada Aurora, lalu kenapa harus mengatakan cinta? Agar Aurora mengerti betapa susahnya dia meninggalkan dirinya namun tetap harus memilih anaknya? Aurora ingin mengerti, ingin percaya hal itu, semudah dulu dia bisa menerima segala perlakukan Jofan, namun rasa cinta yang telah dibangunkan itu, yang awalnya seolah akan menjadi cinta indah tanpa akhirnya, seakan meronta, meminta lebih untuk porsinya, membuatnya menjadi egois ingin memiliki pria itu seutuhnya.

__ADS_1


Aurora menarik napasnya panjang, mencoba untuk meredam gejolak jiwanya agar tak meledak sepagi ini, masih pukul 4 pagi, namun dia sudah tak bisa lagi menutup matanya kembali jadi dia putuskan untuk segera masuk ke dalam kamar mandi dan sedikit membersihkan dirinya. Mungkin dinginnya air akan membuat dirinya lebih tenang.


Aurora segera keluar ketika dia merasa lebih segar, saat dia melangkahkan kakinya keluar, dia melihat ponselnya bergetar, dia tampak mengabaikannya, bukan sedang tidak ingin di ganggu, beberpa hari ini, Liam terus menerus menghubunginya, mengirimkannya banyak pesan yang bahkan tidak pernah dibacanya, dia juga tidak pernah mengangkat panggilan darinya, Aurora sedang tidak punya minat untuk melawani pria itu, bahkan mungkin pria mana pun lagi.


Namun getaran ponsel yang ada di meja kayu itu terdengar menganggu Aurora, dia segera berjalan untuk mengambil ponselnya dan ingin mematikan ponselnya, namun dia terdiam, menatap nomor yang sama sekali tidak dikenalnya, Aurora mengerutkan dahi, cepat-cepat dia mengangkat telepon itu sebelum panggilan itu mati.


"Halo?" sapa Aurora memberanikan diri, namun juga tak ada jawaban, hanya sesakali suara napas terdengar, berat sekali,"halo? ini siapa?" tanya Aurora sedikit meninggikan suaranya, entah kenapa merasa orang di ujung telepon ini adalah orang yang sangat ingin ditemuinya, namun kenapa? sepatah kata pun tak terucap.


"Halo? Jofan, apakah itu kau?" tanya Aurora memastikan, dia tidak peduli, bukankah bertanya itu tak apa-apa? namun sama seperti sesudahnya, tak ada suara sama sekali, hal ini membuat Aurora semakin frustasi, dia bahkan tak bisa manahan dirinya untuk menangis, namun bagimana pun Aurora menangis, panggilan itu tetap saja kosong, seolah tak sedikit pun ada suara yang keluar, hanya suara napas yang makin memberat seolah menahan sesuatu.

__ADS_1


"Jofan! Ini benar dirimu? Kenapa kau sepeti ini? kenapa kau pergi? apa salahku? Kenapa kau harus pergi? apa aku kurang menerimamu dan anakmu? Apa yang salah?" tanya Aurora yang frustasi, suaranya meninggi, kesabarannya akhirnya mencapai batasnya, tak lagi sanggup untuk merasakan rindu yang begitu meronta, dia bahkan lebih baik terus merasa diabaikan dari pada diberikan perasaan seolah dia sudah bisa mendapatkan pria itu seutuhnya namun ternyata dia dicampakkan, dan untuk kembali merasa dirinya bukanlah siapa-siapa, itu adalah perasaan yang paling menyiksanya.


Suara dari ponsel itu tetap kosong, sesekali suara napas berat itu kembali terdengar, membuat Aurora akhirnya berhenti menangis, dia menghapus air matanya yang membanjiri pipinya, menarik napas panjang karena rasa sesak yang tiada tara.


"Jika memang ingin pergi, baiklah, aku akan menerimanya, pergilah, tapi tolong jangan lagi kembali, jangan coba-coba untuk memberikan rasa seolah aku adalah cinta akhirmu, aku harap kau bahagia, mungkin dari awal, kita memang tak ditakdirkan untuk bersama, ya, aku hanya wanita bodoh yang berpikir kau akan menjadi milikku suatu saat nanti, ya, aku adalah wanita bodoh tapi aku bukan wanita yang lemah, 18 tahun aku bertahan untukmu, kali ini aku juga pasti bisa melewatinya tanpamu, kau tak perlu merasa bersalah atau khawatir, sudah cukup semua itu kau tunjukkan padaku, pergilah, aku akan bahagia," kata Aurora segera mematikan panggilan telepon itu, terdiam sesaat mematung, pikirannya kosong, sekali lagi, sifatnya yang paling dia benci ternyata muncul lagi, ini bukan karena Aurora sabar, bukan karena dia wanita yang paling baik hingga bisa tahan dengan pria yang seperti Jofan, dia hanya seorang wanita dengan sifat pemaksa, memaksakan sesuatu yang dia harap akhirnya akan seperti keinginannya, memaksa menunggu hingga pria itu luluh dan menjadi miliknya, namun akhirnya tetap saja, tak seperti yang diingikannya, kembali dia harus mendapatkan hasil dari sifatnya yang sangat dia benci itu.


Aurora membuang ponselnya ke atas tempat tidurnya, merasa sudah terlalu lelah, tak sanggup lagi menahannya, menangis tersedu dengan membenamkan wajahnya pada selimut, mencoba meredam suaranya agar tak seorang pun tahu, bagaimana pun, Jofan sudah memilih, dia memilih untuk pergi, meninggalkan semuanya yang ada di sini. Lagi pula mungkin semua perasaan yang diberikan Jofan padanya bukanlah cinta, itu semua hanya rasa bersalahnya, rasa bersalah sudah menelantarkannya selama 18 tahun dan rasa kasihan melihat Aurora yang seperti menghamba padanya, menerima Jofan apa adanya bahkan rela mengurusi wanita selingkuhan suaminya, ya, itu bukan cinta, itu hanya rasa kasihan, tapi Aurora tak butuh itu, bodohnya dia kira itu semua cinta hingga terjebak dengan semuanya.


Mulai sekarang, dia tidak akan lagi percaya akan cinta, cinta hanya membawa derita baginya, biar dia mencari bahagia, mungkin tak dengan sesosok pria, mungkin bahagia dengan keluarga disekelilingnya, pikirnya mencoba menegarkan diri sendiri, namun tetap saja akhirnya lunglai termakan sakit hati yang mendalam, sekali lagi ternyata dia harus merelakan cintanya pergi.

__ADS_1


__ADS_2