
Aurora membuka matanya yang indah, melihat ke arah tempat tidur yang ada di sampingnya, kosong dan masih sangat rapih, sejenak dia hanya menatap ke arah tempat tidur yang sudah hampir seminggu tak pernah ditiduri sama sekali, sayup-sayup wangi tubuh Jofan masih tertinggal di sana.
Semenjak Jofan menemukan Sania, dia tidak pernah lagi tidur di sana, pagi, siang, malam dihabiskannya di sana dan sampai sekarang Aurora belum diperbolehkan untuk bertemu dengan Sania. Entah apa alasannya, yang pasti dia tak berani bertanya.
Aurora segera duduk, melihat jam kecil berukir klasik di samping tempat tidurnya itu menunjukkan pukul 5 pagi, apalagi alasan yang akan dikatakannya jika Bella dan Angga bertanya ke mana Jofan sekarang? mudah-mudahan mereka sudah cukup lelah bertanya.
Aurora menapakkan kakinya ke lantai, memakai sandal rumahnya dan segera berdiri, namun saat dia berdiri dia sedikit kaget mendengar suara pintu kamarnya terbuka, dia mengambil kimono tidurnya dan melihat siapa yang datang.
Dia mengira mungkin Jenny yang datang pagi begini, anaknya yang satu itu memang masih sering manja padanya dan mencarinya pagi-pagi seperti ini, namun saat dia melihat sosok Jofan yang masuk ke dalam, Aurora terdiam sebentar, seminggu ini Jofan tak pernah pulang sepagi ini.
"Selamat pagi," sambut Aurora dengan sangat ramah.
"Selamat pagi, apa aku membangunkanmu?" tanya Jofan ramah, salah satu perubahan Jofan setelah pindah kemari adalah dia lebih sering berbicara pada Aurora.
"Tidak, aku sudah bangun duluan dan melihatmu masuk," kata Aurora mencoba melirik wajahnya di cermin di dekatnya, memastikan dia tetap terlihat cantik walaupun baru bangun tidur.
"Baguslah, aku ingin membersihkan diri dulu," kata Jofan sambil membuka jasnya, dengan cekatan Aurora segera berpindah ke arah belakang Jofan, mencoba membantu Jofan membuka jasnya perlahan.
Jofan yang melihat inisiatif dari Aurora hanya bisa melirik Aurora yang ada di belakangnya dan tampak tak memperhatikan Jofan hanya fokus membantunya menarik jasnya agar dapat terlepas dengan cepat.
Jofan tahu bahwa Aurora melakukan hal itu memang semata-mata untuk membantunya, dia tahu bagaimana cara wanita menggoda pria dengan cara ini, dengan lirikan mata dan senyuman mengoda, cara itu selalu dilakukan wanita-wanitanya dulu. Namun Aurora bahkan tak melihat lirikannya. Hal itu membuat perasaan Jofan sedikit bergejolak kembali.
Wangi khas tubuh Aurora kembali menarik perhatian Jofan, entah kenapa dia merasakan ketagihan akan wanginya, tak menemukannya di mana pun, namun begitu menciumnya membuat Jofan tenang.
__ADS_1
Aurora mengambil jas Jofan lalu membawanya ke tiang gantungan jas, dia benar-benar tak sadar seluruh gerak geriknya dari tadi menjadi perhatian Jofan.
Saat dia selesai menggantungkan jas itu, saat itu lah Aurora sadar bahwa Jofan menatapnya, melihat hal itu Aurora sedikit gugup.
"Apakah ada yang salah?" tanya Aurora, dia berpikir mungkin ada yang salah dari penampilannya.
"Tidak, terima kasih," kata Jofan mengulas senyuman manis, Aurora yang melihat hal itu jadi tersipu.
"Aku akan menyiapkan teh untukmu, sarapan akan dimulai pukul 7 di sini, Angga sering bertanya tentangmu, aku mengatakan bahwa kau memiliki proyek baru yang harus kau kerjakan segera jadi kau lebih banyak menghabiskan waktu di kantor," jelas Aurora dia takut jika dia tak mengatakannya akan ada ketidak cocokan nantinya antara alasannya dan alasan Jofan.
"Baiklah, aku akan mandi," kata Jofan lagi, dia segera masuk ke dalam kamar mandinya.
Aurora menghembuskan napas leganya, entah bagaimana sudah begitu lama mereka bersama tapi tetap saja hal kecil seperti senyuman Jofan masih membuat detak jantungnya tak bisa terkontrol.
Dia meletakkan teh itu di sisi ranjang Jofan, , Aurora harus keluar sekarang untuk melihat anak-anaknya dan dia tak mungkin berkeliaran dengan kimono satinnya ini.
Aurora melirik ke arah kamar mandi, karena mendengar suara air di kamar mandi masih terdengar deras, Aurora berasumsi Jofan masih lama di kamar mandi, karena itu dia segera membuka bajunya meninggalkan pakaian dalam dan segera mencari baju yang cocok dipakainya pagi ini.
Jofan mematikan keran air, dia sudah selesai mandi dari tadi hanya tak menutup keran airnya, mencari jas mandinya yang biasanya ada di sana namun kali ini tak ada, dia ingin bertanya pada Aurora namun urung dilakukannya, kebiasan Aurora jika pagi dia pasti tetap mengurusi anak-anak, bahkan sebesar ini dia masih membangunkan mereka, apalagi Jenny yang begitu dekat dengannya.
Jofan perlahan membuka pintu kamarnya, saat dia melihat ke arah kamarnya, dia terkejut melihat pemandangan yang sudah lama sekali tidak dilihatnya.
Pagi ini, dia melihat kulit putih dan lekukan tubuh Aurora yang dengan perlahan membuka baju tidurnya membelakangi Jofan.
__ADS_1
Delapan belas tahun bersama, baru kali ini dia melihat tubuh polos istrinya yang jujur saja, siapa pun pria yang melihatnya pasti tak akan tahan oleh godaannya, lekuk tubuhnya sempurna, kulitnya yang putih mulus bagaikan porselen, terlihat sangat terjaga, sebagai pria Jofan tak bisa memungkiri, hal itu terlalu menggoda untuk tidak dinikmati, apalagi sudah terlalu lama dia tidak melihat dan mendapatkan sentuhan wanita ditambah dengan fisiologi normal seorang pria, pagi hari adalah saat di hormon testoteron pria paling tinggi.
Semenjak dia memutuskan untuk bersama Sania dari saat itu pula tak ada lagi wanita yang biasanya dulu selalu bergonta ganti dengan suka rela ada di sampingnya. Hal ini pasti langsung menggelitik sisi kejantanannya.
Jofan menggenggam gagang pintu kamar mandinya dengan erat, hanya mencoba menahan segala gejolak nafsu yang menguasainya hingga ke kepalanya, membuat kepalanya terasa mulai berat, dia sudah menahan hal ini begitu lama, namun kali ini benar-benar sangat menggugah dirinya, seakan otaknya tak lagi bisa berpikir, toh wanita itu sah adalah miliknya.
Jofan berjalan perlahan, karpet yang melapisi seluruh lantai kamar membuat langkahnya tak terdengar, dia berhenti di belakang Aurora, cukup dekat untukndapat mencium wangi tubuh wanita itu namun cukup berjarak hingga Aurora tak sadar kedatangannya.
Aurora mengambil semua gaun berwarna putih dengan aksen bunga-bunga kecil yang menurutnya cocok untuk pagi ini, saat dia menutup pintu lemari itu, dia kaget karena melihat sosok Jofan yang ada di belakangnya, Aurora spontan berbalik dan menutupi seadanya tubuh depannya dengan gaun yang digenggamnya.
Aurora menatap mata Jofan yang melihatnya dengan sangat erat, dalam dan tampak kilatan nafsu yang sangat, Jofan berjalan mendekati diri Aurora, melihat hal itu tentu Aurora kaget dan tak bisa apa-apa, seumur hidupnya dia belum pernah melihat tatapan mata itu.
Jofan berhenti tepat di depan Aurora, sangat dekat, bahkan mereka belum pernah sedekat ini, Aurora seakan terhipnostis untuk terus menatap mata Jofan. Napas Jofan terdengar berat, tubuhnya atasnya yang tak terbalut apa-apa itu menyerebakkan wangi segar yang begitu khas, feromon yang memikat, Jofan hanya menatap Aurora yang tampak ketakutan dan malu, baru kali ini ada pria yang melihatnya tak berbusana, bahkan suaminya sendiri pun tak pernah melihatnya.
Mereka terdiam, aura tubuh Jofan yang dingin bertemu dengan kehangatan yang terpancar dari tubuh Aurora, menebarkan suasana yang memancing kedewasaan keduanya, namun baik Jofan dan Aurora tak melakukan apa pun, tatapan tajam Jofan itu membuat Aurora ciut.
"Maafkan aku," kata Aurora polos yang berpikir Jofan marah karena dia mengganti pakaian sesukanya, pasti Jofan berpikir Aurora sengaja menggodanya.
Jofan menarik napas panjang, mencoba mencari sedikit akal sehatnya yang masih tersisa, tak ingin melakukan hal ini untuk mengikuti nafsu, jika dia melakukannya itu sama saja membuat Aurora menjadi pemuas nafsunya, walaupun tak bisa dipungkiri gejolak di dadanya bahkan sangat memuncah.
"Pakailah bajumu," kata Jofan dia melepaskan pandangnya dari tubuh Aurora yang pagi ini berhasil membuatnya menggila, Jofan mengambil bajunya dan segera masuk kembali ke kamar mandi, mencoba mencari pelampiasan yang lain.
Aurora yang mendengar hal itu segera menggunakan pakaiannya dan segera keluar dari kamar itu, mencoba menenangkan diri dengan menghirup udara luar, sejenak dia merasakan hal yang belum pernah di rasakannya, takut, malu, namun juga rasa ingin yang kuat, tak boleh, yang tadi hanya kesalahan. Aurora menarik napas panjang lalu berusaha kembali bersikap seperti biasa.
__ADS_1