
"Maafkan Aku."
Sayup-sayup suara lembut nan lirih itu terdengar, bagaikan berbisik merayu Aurora untuk segara membuka matanya, Aurora yang merasa saat ini dia ada di ruangan kosong nan gelap tiba-tiba tersentak mendengarkan hal itu, Jofan?
Aurora mencoba mengerakkan tubuhnya, mengenggam perasaan hangat seolah pria itu ada di sampingnya, serasa baru saja dia membisikkan kata-kata itu tepat di telinganya, serasa tangannya ada di sana, menggennggamnya dengan erat.
Aurora seperti menyusuri lorong yang gelap, tak ada apapun ditempat itu, hanya kosong dan hampa? apakah ini akhirnya dia? apa ini perasaan Sania, terperangkap begitu lama di ruang gelap ini tanpa apa-apa?
"Aurora, bagunlah, aku membutuhkanmu," suara itu terdengar lagi, membuat Aurora seperti mendapatkan jalan, mengikuti suara yang dia dengar dan tiba-tiba dia terjatuh,
Aurora membuka matanya dengan cepat, terasa sangat berat dan kaku, cahaya lampu yang redup bahkan menyilaukan matanya, seluruh badannya terasa berat untuk bisa digerakkan, tenggorokannya sakit dan nyeri, Aurora mengerutkan dahinya, sudah berapa lama dia tidur hingga seluruh badannya terasa kaku dan kepalanya begitu pusing.
Dengan mata yang kabur, masih tak jelas, dia bisa melihat dirinya dikelilingi oleh orang-orang yang tampak sibuk, berbaju putih, pendengarannya masih berdengung, hanya mendengar suara-suara tak jelas.
"Nyonya Aurora, bisa Anda mendengar saya?" ucap dokter yang langsung mengarahkan pena cahaya ke mata Aurora untuk melihat keadaannya.
Itu kata-kata pertama yang dia dengar dengan jelas, sedikit panik melihat keadaannya, apalagi melihat mulutnya yang tersumpal selang ventilator. Membuat Aurora hanya bisa mengangguk pelan.
Matanya liar mencari, dimana sumber suara yang membangunkannya? dia sedikit mengangkat kepalanya sebisanya, menatap wajah-wajah yang ada di balik kaca, menatapnya dengan wajah haru yang bahagia.
Aurora mencoba untuk tersenyum, namun bibirnya tak bisa melakukan itu, dia bisa melihat wajah Jared yang tampak begitu bahagia, tapi ada yang kurang, dimana dia?
----***---
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangannya, Jared dan Liam segera keluar dan bertemu dengan dokter di luar ruangan itu, menatap dan berharap dengan cemas, ada kabar baik yang akan disampaikan oleh dokter.
"Keadaan Nyonya Aurora membaik, tanda vital dan semuanya sudah normal, kami akan mulai melepaskan alat-alatnya, saat ini kami akan tetap membiarkan dia di ruangan itu dan dia akan terus kami pantau, mudah-mudahan keadaanya tetap stabil sehingga pukul 7 nanti, Nyonya Aurora sudah bisa dipindahkan ke ruangan biasa," kata Dokter itu dengan sunggingan senyum puas telah melakukan tugas yang baik.
"Terima kasih Dokter," kata Jared begitu senang.
"Sama-sama, untuk saat ini mungkin kami akan meminta Anda untuk tidak melihat beliau dulu, biarkan dia istirahat. Besok pagi, kalian sudah bisa bertemu dengannya," kata dokter itu lagi.
"Baik," kata Jared lagi mengangguk kecil, berusaha untuk patuh apa yang dikatakan dokter itu.
"Baiklah, istirahatlah lagi," kata Liam pada Jared.
"Paman saja yang istirahat, aku akan menunggu di sini, aku rasa aku sudah tidak mengantuk," kata Jared dengan ulasan senyuman manis.
"Tidurlah, bibimu pasti bisa melihat wajah kelelahanmu, dia orang yang sangat peka, dia akan senang jika bisa melihatmu segar esok pagi," kata Liam lagi dengan senyuman kebapakannya.
---***---
Ceyasa membuka matanya, menatap ke arah lampu kristal yang sudah mati dan tampak memantulkan cahaya remang dari jendela kamar yang Ceyasa sengaja buka untuk menerangi kamarnya, dia mendongak sejenak, mengambil ponselnya yang dia letakkan atas bantal yang ada di sampingnya, melihat jam, masih pukul 4 pagi pantas saja sekarang pemandangan di luar masih sangat gelap, hanya bulan yang meneranginya.
Seperti prediksinya, dia sama sekali tidak bisa tidur, berulang kali dia terbangun dan tak bisa tidur lagi, merasa pukul 4 sudah cukup pagi untuk bangun, Ceyasa akhirnya memutuskan untuk keluar, menyibakkan selimut beludru marun yang mememeluknya semalaman ini.
Ceyasa turun, menginjakkan kakinya di marmer dingin itu, baju tidurnya yang berbentuk daster panjang berwarna putih itu menjuntai, dia mengikat rambutnya hingga bergaya ekor kuda dan perlahan menuju ke arah pintu kamarnya.
__ADS_1
Dia membuka pintu kamar itu, melihat sekitar yang tampak remang karena lampu yang masih dimatikan, Ceyasa tak tahu harus kemana, dia hanya ingat jalan dari kamarnya hingga ke ruang tengah, karena itu dia putuskan untuk berjalan ke arah ruang tengah.
Ceyasa menyusuri ruangan demi ruangan, benar bukan? rumah sebesar ini jika tinggal sendiri dan malam hari akan sangat menakutkan.
"Selamat pagi Nona Ceyasa," ujar Gerald yang langsung berdiri ketika melihat Ceyasa memasuki ruangan tengah rumah itu.
Mendengar saapaan itu Ceyasa hampir saja berteriak, namun untungnya dia bisa langsung mengontrol dirinya, dia hanya menutup mulutnya menahan teriakannya.
"Gerald, kau tidak tidur?" tanya Ceyasa yang merasa aneh, dia pikir hanya dia yang tak bisa tidur di rumah ini.
"Oh, aku orang yang punya masalah tidur, jadi terkadang aku sama sekali tidak tidur, Nona Ceyasa," kata Gerald lagi tak berani untuk kembali duduk di sofa itu, jika tadi ini adalah Archie, mungkin dia bisa lebih santai dan berlaku seperti sahabat Archie, namun pada Ceyasa, tidak mungkin dia menunjukkan sikap non-formalnya, apalagi seharusnya dia tidak boleh berbicara sembarangan dengan Ceyasa.
Ceyasa yang melihat kesungkanan Gerald itu sedikit mengerutkan dahi, Ceyasa langsung duduk di salah satu sofa di sana, ruangan itu masih terlihat remang-remang, dengan sigap Gerald menghidupkan lampu baca yang ada di dekatnya, membuat ruangan itu terlihat lebih terang.
"Saya permisi dulu Nona," kata Gerald yang merasa tak enak satu ruangan dengan seorang putri.
"Eh, tak bisakah kau di sini saja menemani?" kata Ceyasa lagi, tak bermaksud menggoda, hanya dia memang butuh teman di rumah asing ini.
"Eh, saya? Kita tidak boleh banyak bicara Nona, itu peraturan dari istana, seorang pelayan pria tak boleh terlalu banyak berinteraksi dengan seorang putri, begitu juga sebaliknya, saya akan panggilkan Lusy agar menemani Anda," kata Gerald sungkan, tetap berdiri di depan Ceyasa.
"Jangan, dia pasti sedang tidur pulas, lagi pula aku bukan seorang putri, kau kan tahu aku hanya menikah palsu dengan Archie, setelah ini aku dan dia tidak akan punya hubungan apa-apa, jadi setidaknya kita bisa jadi teman," kata Ceyasa dengan senyuman manis nan ceria di pagi dingin ini.
Gerald mendengar itu merasa cukup masuk akal, lagi pula siapa yang akan melihat mereka sekarang, jadi yah mungkin hanya untuk mengisi hari menanti matahari terbit, berbicara dengan Ceyasa mungkin hal yang menyenangkan.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan menemani Anda," kata Gerald masih dengan sikap formalnya, masih berdiri, tak enak untuk duduk tanpa permisi.
Ceyasa melihat ke arah Gerald yang masih saja mempertahankan posisinya, apakah tidak lelah hanya berdiri di depannya? pikir Ceyasa yang merasa cukup aneh.