
"Archie!" suara renta Ayana terdengar menggema, membuat semua orang kaget, bahkan Angga pun kaget, Ibunda Ratu Ayana bisa mengeluarkan suara seperti itu untuk menegur cucunya ini. Archie yang mendengarkan suara neneknya segera berhenti sejenak, menatap Ibunda Ratu Ayana yang tampak marah karena kelakukannya yang kurang ajar, dia tahu benar neneknya sangat menjunjung tinggi peraturan istana.
"Maafkan aku, tapi aku harus melihat keadaan istriku," kata Archie dengan tegas sambil memberikan salam hormat yang formal, namun setelah itu dia segera keluar dengan cepat dari ruangan itu.
Semua orang di sana yang mendengarnya langsung memunculkan wajah kaget, ada yang membesarkan matanya, ada pula yang berkerut wajahnya, setelah Archie keluar mereka saling berpandangan.
"Apa aku tidak salah, Archie mengatakan istri?" tanya Nakesha yang masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya, mungkin saja telinganya ini sudah menurun fungsi pendengarannya, dia mencoba bertanya pada suaminya.
"Aku juga mendengar itu," kata Bella dengan wajah tak percaya menatap wajah Angga yang berkerut.
Suri pun mengenrutkan dahinya? Istri?
Ibunda Ratu Ayana yang tadi berdiri menegur Archie langsung memegangi dadanya, ada rasa sesak di dadanya, dia tampak lemas mendengar apa perkataan Archie, dia lunglai seperti ingin pingsan, Archie benar-benar membuat jantungnya ingin berhenti berdetak. Bagaimana tiba-tiba cucu satu-satunya itu mengaku memiliki istri?
"Ibunda," ujar Neksha yang langsung menangkap tubuh Ibunda Ratu Ayana yang roboh ke arahnya, Angga pun kaget, semua orang yang melihat itu langsung panik dan cemas mencoba untuk menyadarkan Ibunda Ratu Ayana yang terlihat setengah sadar, Suri segera memanggil dokter kerajaan untuk melihat keadaan Ibunda Ratu.
"Archie! Archie!" lirih Ibunda Ratu Ayana yang syok.
" Berarti dia sudah sadar, Aku harus melihat istrinya kak Archie," ujar William kecil, namun cukup bisa di dengar oleh Daihan, William langsung ingin pergi, namun kerah bajunya langsung di tarik oleh Daihan, membuat perhatian semua orang teralihkan melihat Daihan dan William.
"Apa yang kalian sembunyikan dari ibu dan ayah?" tanya Nakesha yang jadi tidak fokus melihat keadaan Ibunda Ratu, Ibunda Ratu Ayana pun jadi melihat ke arah William, seakan sejenak lupa akan dadanya yang sesak karena kaget.
"Tidak ada, ehm, kakak tak bilang apa-apa, dia hanya sudah menikah," kata William dengan gayanya yang tampak polos, namun pernyataaannya itu malah membuat semua orang makin syok, ternyata benar Archie sudah punya istri, mereka yang di sana semua hanya bisa saling memandang, bagaimana mereka sekali lagi bisa kecolongan?
Archie berjalan sangat cepat ke arah istananya, bahkan dia tak perduli dengan peraturan bahwa tidak ada yang boleh berlari di sana apalagi seorang pangeran mahkota. Dia segera menerobos masuk bahkan tidak menunggu para penjaga pintu membukakan pintu untuknya, dia langsung membukanya sendiri, dia berlari masuk langsung menuju kamarnya, di depan kamarnya Gerald berdiri menunggu.
"Dia sudah sadar?" tanya Archie dengan menarik napas yang mulai terengah-engah.
"Baru saja Pangeran, silakan," kata Gerald segera membuka pintunya.
Archie segera masuk ke dalam kamarnya, perlahan masuk ke dalam kamarnya dan langung masuk ke ruangan kamar utamanya, dia melihat perlahan, Ceyasa sudah teduduk dengan bersandar bantal, wajahnya tampak jauh lebih baik tidak lagi terlalu pucat, ketika melihat Archie yang masuk ke dalam ruangan itu, Ceyasa langsung tersenyum manis yang langsung ditularkan pada Archie.
Lusy yang ada di sana segera memberikan salam dan keluar.
__ADS_1
"Bagaimana kabarmu?" tanya Archie dengan senyuman sumringah dan suara lembut penuh perhatian, berjalan perlahan namun matanya tak sedikit pun berkedip, memandang Ceyasa.
"Baik," kata Ceyasa juga sangat senang menatap wajah pria yang saat dia tidur tadi muncul dalam mimpinya.
Archie duduk di sisi ranjang Ceyasa, terdiam sesaat hanya memandangi wajah Ceyasa, serasa tak jemu untuk melihatnya, mungkin sudah terlalu merindukannya dan kemarin dia belum bisa menyalurkannya dengan baik.
"Bagaimana apakah masih sakit?" tanya Archie lagi.
"Tidak, sudah membaik," kata Ceyasa dengan suara lebih bertenaga.
Archie kembali hanya menatap Ceyasa, tak tahu apa yang harus dikatakannya, dia teramat senang melihat Ceyasa sekarang ada di depan matanya, namun tiba-tiba Archie langsung menggetok kepala Ceyasa, sebenarnya pelan, namun karena tiba-tiba, Ceyasa jadi kaget.
"Au, kenapa sih?" kata Ceyasa memegang kepalanya yang digetok oleh Archie, tidak sakit, hanya berlagak sakit.
"Itu hukuman karena meninggalkanku secara tiba-tiba," kata Archie dengan wajah pura-pura marah.
"Tapi aku kan meninggalkanmu pesan, itu bukan tiba-tiba," kata Ceyasa dengan wajah merengutnya, kesal yang dibuar-buat.
Ceyasa yang mendapatkan ciuman pagi yang hangat itu kaget bukan kepalang, namun entah kenapa dia menyukainya, ada rasa hangat yang menjalar keseluruh tubuhnya, yang membuat persaannya terasa tenang karena pertemuan bibir ini.
Archie menarik tubuhnya, tidak ingin melanjutkan ciumannya menjadi ciuman yang ganas, hanya ingin menumpahkan sedikit rasa rindu yang serasa ingin dikeluarkan karena dia takut jika dia mengikuti nafsunya, dia akan membuat Ceyasa kesakitan.
Archie menatap wajah Ceyasa yang tampak menikmati ciuman itu, tampak masih menutup matanya, lalu membukanya perlahan dan menatap wajah Archie yang tampak menatapnya dengan sangat lembuat.
"Maafkan aku karena apa yang terucap saat kita bertengkar kemarin, tapi tolong jangan pernah meninggalkanku saat aku seperti itu lagi nanti, aku tidak bisa berjanji padamu aku tidak akan mengulanginya, namun percayalah, aku akan berusaha, hanya aku minta, jangan pernah terlintas untuk pergi meninggalkan diriku lagi, apapun yang terjadi, tetaplah di sini," kata Archie dengan sangat lembut sambil menyentuh pipi Ceyasa yang halus.
Ceyasa terdiam mendegarkan perkataan dan permintaan Archie, menatap wajah pria itu dengan sangat dalam, hatinya terasa hangat sekaligus manis, membuat senyuman sumringah itu tidak dapat tertahan, hanya langsung terpatri di bibirnya, dia mengangguk dengan pelan.
Archie melihat itu langsung tersenyum tipis, kembali merasa wanita di depannya ini terlalu menggoda hanya untuk di pandangi, dengan cepat dia kembali memegang kedua sisi kepala Ceyasa, membuat Ceyasa kembali kaget, tapi baru saja dia ingin mencium kembali istrinya ini, tiba-tiba ….
"Yang Mulia Ibunda Ratu Ayana datang," teriak Gerald yang langsung memberitahu Archie, padahal dia tidak perlu melakukannya, Ibunda Ratu Ayana yang ditemani Nakesha pun langsung masuk saja tanpa menunggu persetujuan Archie, biasanya Ibunda Ratu Ayana adalah wanita yang bahkan berjalan terlihat begitu lemah lembut, apalagi sekarang umurnya yang sudah uzur itu memaksanya berjalan dengan perlahan, namun karena baru saja mendapatkan syok terapi pagi-pagi begini dari cucu kesayangannya itu, dia jadi bisa berjalan dengan cepat dan juga lincah.
Saat mendengar itu, baik Archie dan Ceyasa kaget, mereka saling menatap satu sama yang lain sesaat, namun Archie langsung sadar dan dia segera berdiri melihat neneknya hampir saja sampai di pintu kamar utamanya, Ceyasa pun kaget, apa yang harus dia lakukan? bertemu dengan keluarga Archie sama sekali tidak pernah dia bayangkan, apalagi keluarganya adalah keluarga kerajaan, Ceyasa ingat perkataan Gerald yang mengatakan bahwa keluarga kerjaan penuh dengan peraturan, bagaimana jika mereka tak menyukainya yang tak tahu aturan ini.
__ADS_1
Ibunda Ratu Ayana terhenti di pintu kamar utama Archie, wajahnya benar-benar tampak kaget, sekali lagi dia mendapatkan syok terapi ketika melihat Ceyasa ada di ranjang Archie, Nakesha yang ada di belakangnya pun tampak kaget, dia bahkan harus menutupi mulutnya karena terbuka, sejak kapan Archie membawa wanita ini ke istana?
"Yang Mulia Ibunda Ratu," kata Archie segera memberikan hormat sempurnanya, bagaimana pun dia pasti sudah membuat syok keluarganya, Ceyasa yang melihat Archie melakukan hormat sempurna itu langsung bingung harus apa? dia ingin melakukannya namun rasa kaku di punggungnya membuatnya tak bisa melakukannya, dia meringis kesakitan saat mencoba membungkuk, mendengar itu Archie langsung memegangi tubuh Ceyasa, "tak perlu, biar aku saja," bisik Archie lalu membantu Ceyasa untuk kembali tegak bersender pada bantalnya, Ceyasa hanya mengulum bibirnya, dan tertunduk.
Selesai membantu Ceyasa, Archie kembali pada posisinya memberikan hormat sempurna, karena neneknya belum memperbolehkannya untuk bangkit.
Ibunda Ratu Ayana dan Nakesha memperhatikan mereka, Nakesha sedikit tersentuh melihat perlakuan Archie pada Ceyasa yang menurutnya sangat manis, Nakesha jadi tahu, anaknya ini benar-benar perhatian dengan wanita yang bahkan dia belum tahu namanya, namun melihat wajahnya dan tingkah lakunya, Nakesha sudah menyukainya.
Ibunda Ratu Ayana yang memperhatikan sosok Ceyasa, gadis yang terlihat mungil itu hanya menunduk, Ibunda Ratu Ayana pun melihat infus di antara Archie dan Ceyasa, apa dia sedang sakit? Pikir Ibunda Ratu Ayana.
"Bangkitlah," kata Ibunda Ratu Ayana yang tak tega melihat cucu kesayangannya itu membungkuk terus menerus walaupun sebenarnya dia masih marah atas kelakuan cucunya itu, bagaimana bisa dia tiba-tiba mengaku sudah memiliki istri, bagi seorang pangeran, memiliki istri bahkan pacar saja adalah hal yang sangat penting, tak bisa sembarangan memilih dan menikah, begitu banyak persetujuan yang harus dilaksanakan, Ibunda Ratu Ayana jadi pusing memikirkannya.
Archie menegapkan tubuhnya, dia melihat ke arah neneknya yang berwajah masam, dia lalu melirik ibunya yang sudah senyum-senyum sendiri, lalu melihat ke arah Ceyasa yang masih menunduk, takut.
"Naikkan dagumu, aku ingin melihat wajahmu," ujar Ibunda Ratu Ayana dengan sedikit nada ketus, mendengar itu Ceyasa sedikit kaget, perlahan menaikkan wajahnya, dia tak tahu sekarang penampilannya bagaimana, pasti sangat kacau, dia baru saja bangun dan lagi pula beberapa hari ini dia sama sekali tidak bersih-bersih.
Archie yang mendengar nada ketus dari Ibunda Ratu Ayana itu sedikit merasa kasihan pada Ceyasa, dia tak suka jika ada yang memperlakukan Ceyasa seperti itu namun mau apa lagi, dia tidak bisa membantah neneknya, dia jadi merasa bersalah membawa Ceyasa kelingkaran istana ini, tapi hanya di sini Ceyasa bisa aman, ini daerah kekuasaan yang tak mungkin siapa pun bisa masuk sembarangan.
Ibunda Ratu Ayana menatap Ceyasa, mengamati wajah Ceyasa yang tampak masih pucat, menilai semua yang terlihat dari Ceyasa.
"Bawa dia setelah acara pertunangan Suri dan Jared, aku mau dia bertemu dengan seluruh keluarga kerajaan malam ini, kita akan melakukan pertemuan keluarga di istana utama," kata Ibunda Ratu Ayana pada mereka dan dia segera meninggalkan pasangan itu, Nakesha tinggal sebentar dengan senyuman merekah, membuat Archie merasa ibunya menerima Ceyasa, Nakesha segera mengikuti Ibunda Ratu Ayana keluar.
Suasana tegang masih terasa, Archie lalu melirik ke arah Ceyasa, Ceyasa pun melirik ke arah Archie, wajah tegang masing-masing membuat mereka merasa lucu, dan tak lama mereka malah tertawa kecil mengingat hal yang baru saja mereka lewati. Archie segera kembali duduk di ranjang Ceyasa.
"Jangan takut, nenekku memang terlihat galak, namun dia pasti dengan cepat akan menyukaimu, ibuku, aku rasa dia sudah jatuh cinta padamu," kata Archie sambil menaruhkan anak-anak rambutnya ke belakang telinga Ceyasa.
"Ya," kata Ceyasa mengangguk, masih cukup malu-malu ketika Archie melakukan dan menatapnya seperti itu.
"Baiklah, beristirahatlah, aku akan menyuruh Lusy membawa makanan untukmu, nanti malam tak perlu di pikirkan, jika tak sanggup aku akan mengatakannya pada keluargaku," kata Archie tersenyum manis.
"Baiklah," kata Ceyasa lagi mengangguk.
Dan lagi keduanya tertawa kecil karena hal ini.
__ADS_1