Shameless Prince : Our Incomplete Love Story

Shameless Prince : Our Incomplete Love Story
152 -(C-A) Wanita Dengan Lumuran Darah.


__ADS_3

Archie terdiam, melihat ketulusan dari nada bicara Ceyasa, Ceyasa ini benar-benar membuatnya terhibur, bahkan perasaan sedih dan sakitnya hilang seketika berganti rasa geli yang mengelitiknya, wanita ini, ternyata hanya dia yang bisa membuat perasaan Archie menjadi lebih tenang.


"Tidak akan ku maafkan," kata Archie dengan suara ketus yang menyebalkan. Ceyasa mendengar itu segera mengerutkan dahinya.


"Kenapa kau tidak memaafkan aku? aku sudah basah-basahan begini loh," kata Ceyasa sebal, dia sudah seperti ini, basah kuyup ditengah terik matahari, namun pria menyebalkan ini malah tak memaafkannya.


"Aku tidak menyuruhmu melakukanya, jika kau sakit jangan harap aku akan menjagamu," kata Archie lagi dengan nada yang menyebalkan.


Ceyasa yang mendengar itu segera terpancing, masa dia sudah susah payah mencari cara agar Archie mau keluar dan turun, dia juga sudah dengan sangat tulus meminta maaf pada Archie, tapi pria menyebalkan ini malah tak memaafkannya, dasar pikirnya!


Ceyasa segera mengambil selang air yang ada di tangan Lusy, dia segera menyemprotkan air  pada Archie yang langsung menghindar dari semprotan air itu.


"Hei!" teriak Archie.


Namun percuma saja, baju dan celana panjang Archie langsung basah karena ulah Ceyasa.


"Haha, rasakan itu," kata Ceyasa puas melihat Archie yang tampak tak percaya baju dan celananya yang sudah basah karena Ceyasa. dia melirik Ceyasa dengan wajah kesal dan marah, wanita ini!


"Berani-beraninya kau ya!" kata Archie yang langsung berlari cepat ke arah Ceyasa, membuat Ceyasa kaget dan tak sempat menghindar, Archie langsung menyambar tubuh Ceyasa, dia mengangkat tubuh Ceyasa dan segera meletakannya pada bahunya, seperti seseorang menggendong karung beras.


"Archie, turunkan aku," berontak Ceyasa yang sekarang ada di gendongan Archie, Ceyasa memukul-mukul punggung Archie.

__ADS_1


Archie menggendongnya dengan satu tangan, Archie tersenyum nakal apa lagi dia mendengar Ceyasa yang berteriak-teriak ketakutan, Archie langsung membawa Ceyasa ke tepi kolam renang, dan tanpa aba-aba, dia langsung melemparkan tubuh Ceyasa ke dalam kolam renang, membuat Ceyasa langsung termakan dan terbenam oleh air kolam renang itu. Melihat itu Archie tertawa puas.


Archie menunggu di tepi kolam renang, tawanya yang tadinya lepas perlahan hilang berganti wajah cemas karena melihat Ceyasa yang tak kunjung muncul ke permukaan, Archie bisa melihat tubuh Ceyasa yang perlahan jatuh ke dasar, seolah dia tidak sadar.


"Tuan! kolam ini dalamnya 3 meter," kata Gerald yang juga cemas, kenapa Ceyasa seperti pasrah di dalam kolam itu? Mendengar kata-kata Gerald, Archie merasa ada yang tak beres, tanpa membuang waktu dia langsung melompat ke dalam air, segera mencoba melihat ke arah Ceyasa yang terlihat pasrah tenggelam, matanya tertutup, Archie segera memegang tubuh Ceyasa, saat dia memegang tubuhnya, Ceyasa langsung membuka matanya dan tersenyum puas, Archie masuk dalam jebakkannya, melihat itu Archie geram, dia langsung menarik tubuh Ceyasa ke atas, dan akhirnya mereka muncul di permukaan, Archie mengusap wajahnya, Ceyasa pun juga, setelah itu Ceyasa tersenyum dengan sangat senang dan puas, melihat wajah khawatir dari Archie tadi, dia tahu pria ini sudah memaafkannya.


"Kau ini," kata Archie memukul kecil kepala Ceyasa.


"Au, hahaha, kau terjebak ya? aku tumbuh di perairan,masa begini saja aku tidak bisa," kata Ceyasa sedikit kesakitan karena pukulan kecil Archie, namun kembali tertawa kecil, melihat tawa kecil Ceyasa yang tampak begitu manis, Archie pun jadi ikut tertawa.


"Ayo naik, ini sangat terik," kata Archie menyerahkan tangannya pada Ceyasa, Ceyasa memandang wajah Archie yang tampak berkilauan terkena pantulan cahaya matahari pada permukaan kolam renang itu, kenapa Ceyasa baru sadar pria ini begitu sempurna.


"Ya," kata Ceyasa mengenggam tangan Archie, hangatnya tangan Archie langsung menyelimuti tangan Ceyasa yang dingin, Archie tersenyum sejenak, menatap wajah Ceyasa yang selalu ceria itu, dia mulai berenang sambil menggiring Ceyasa, dan tak lama mereka segera tiba di tepian.


Ceyasa menggoyang-goyangkan kakinya di dalam air kolam, merasakan air yang mulai menghangat pada permukaannya, ternyata jika begini dia cukup merindukan lingkungan desanya.


Melihat Ceyasa menggoyang-goyangkan kakinya, Archie pun mengikutinya, Ceyasa yang melihat itu tersenyum manis, membuat Archie sedikit terkesima dengan manisnya senyuman Ceyasa, anak-anak rambutnya tampak menjalar di pipinya, tanpa aba-aba Archie segera membenarkan anak-anak rambut itu, meletakkannya ke belakang telinga Ceyasa, hal ini membuat Ceyasa terdiam, menatap Archie yang tampak bergitu berkilau karena sinar matahari, Archie pun memandang mata Ceyasa yang indah, membuat mereka terdiam sesaat, namun setelah itu mereka sama-sama tertawa kecil.


"Kau tahu, kemampuan menggambarmu sangat jelek," kata Archie sambil melihat ke arah depan.


"Itu karena wajah murammu sangat jelek, " kata Ceyasa lagi dengan tawa kecil ringan.

__ADS_1


"Tapi yang tersenyum juga jelek, dan mahkotannya, itu tak seperti itu," kata Archie protes lagi.


"Memangnya kau punya mahkota?" kata Ceyasa lagi, merasa Archie hanya tau protes saja.


"Tentu, bagaimana pangeran tidak punya mahkota, ayahku meninggalkannya untukku," ujar Archie.


"Aku sudah melihat ayahmu, aku rasa ayahmu lebih tampan dari dirimu," kata Ceyasa sedikit menggoda.


"Benarkah?" kata Archie melirik ke arah Ceyasa.


"Ya, karena aku yakin, ayahmu tidak semenyebalkan dirimu," kata Ceyasa mengejek.


"Kau ini," kata Archie dengan wajah kesal di buat-buat.


"Tuh, tuh, lihat wajahmu jelek sekali," kata Ceyasa sambil memercikkan air ke muka Archie, membuat Archie kaget kembali, saat dia sadar, Ceyasa sudah mulai berdiri ingin menjauh dari Archie yang dia tahu akan membalasnya. Ceyasa langsung melakukan gerstur mengejek pada Archie.


"Awas kau ya," kata Archie yang geram, bersiap untuk menangkap Ceyasa yang sudah mulai menjauh, Archie segera berdiri dan mengejar Ceyasa yang sudah mulai berlari, Ceyasa tertawa lepas begitu juga Archie yang mengejarnya, tawa mereka mewarnai suasana pagi menjelang siang itu.


"Wek! Kau memang tak akan bisa menangkapku! Eh …. " kata Ceyasa yang sedikit berlari mundur mencoba mengejek Archie yang masih gemas untuk menangkap Ceyasa, namun mungkin karena tak hati-hati dan pinggiran kolam yang licin, dia malah tergelincir.


Tubuh Ceyasa terpelanting ke lantai tepian kolam itu, kepala bagian belakangnya dengan cukup keras membentur lantai dingin itu, membuat matanya tertutup seketika.

__ADS_1


Sekilas gambaran tiba-tiba muncul dalam kegelapan saat dia merasakan hempasan kepalanya, dia tiba-tiba bisa melihat seorang wanita yang terbaring bersimbah darah, tangannya mengarah ke arahanya, matanya wanita itu terbuka, menatapnya kosong seolah dia sudah tak bernyawa namun raut wajahnya tampak marah dan tak berdaya, sebuah lubang bekas tembakan tepat di sisi dahinya, seolah menembus hingga memecahkan tengkoraknya yang penuh darah, Ceyasa  bergidik ngeri menatap wanita itu, namun entah kenapa wanita itu terasa familiar.


"Kita berhasil membunuhnya, aman gadis kecil itu," ucap seseorang tanpa raga, dan seketika tubuh Ceyasa serasa tertarik dan dia membuka mata dengan wajah pucat dan ketakutan yang sangat.


__ADS_2