
"Bagaimana keadaannya?" kata Archie seketika membuat Gerald yang tadinya menunggu cemas tampak kaget, sedikit mengamati pria ini, baru sadar beberapa detik setelahnya bahwa yang berbicara padanya sekarang adalah Archie.
"Oh, kenapa kau keluar?" kata Gerald yang bingung.
"Aku tidak bisa menunggu di mobil saja, dia sudah sadar?" kata Archie lagi pada Gerald, mencoba mengesampingkan perasaannya yang sebenarnya masih tak enak.
"Belum, setelah aku katakan pada dokter dia terbentur di lantai, dia segera dibawa untuk pemeriksaan CT-Scan kepala, aku sedang menunggu pemeriksaannya," kata Gerald menunjuk ruangan yang ada di depannya, Archie melihat pintu ruangan itu, di atasnya tertulis CT-Scan.
"Jadi kita menunggu saja?" kata Archie lagi.
"Ya, tunggu saja," kata Gerald lagi.
Archie bersandar di samping Gerald, menunggu di sampingnya, jika seperti ini Gerald tak perlu bersikap formal pada Archie, toh tak ada yang mengenali mereka berdua jika di sini.
Tak lama dokter dan para perawat kembali mendorong ranjang Ceyasa.
"Bagaimana dokter?" tanya Archie buru-buru pada dokternya.
"Anda keluarganya?" tanya dokter itu pada Archie.
"Saya suaminya," kata Archie tanpa pikir panjang, membuat Gerald yang mendengarnya segera mengerutkan dahi, Kenapa mengaku begitu, pikirnya, namun tak bisa membantah.
"Oh, baiklah, Nyonya Ceyasa akan dipindahkan ke ruangan untuk menunggu observasi dan sampai dia sadar, tapi, bisakah kita bicara sebentar di ruangan saya?" tanya dokter itu menatap Archie, seolah ada yang dikatakannya pada Archie, Archie yang awalnya tampak penasaran sekarang terlihat cemas.
"Baiklah," kata Archie.
"Aku akan mengurus tentang ruangan Ceyasa, " kata Gerald yang meminta izin pada Archie, Archie hanya mengangguk.
"Silakan Tuan," kata dokter itu mengarahkan Archie ke ruangannya, Archie mengikutinya dengan patuh.
Archie segera duduk di depan dokter ketika dia sudah berada ruang dokter, dokter itu segera menghidupkan lampu X-ray untuk memperlihatkan hasil CT-Scan kepala Ceyasa. dia segera melihat ke arah foto itu.
__ADS_1
"Ada apa dok? Apakah keadaannya tidak baik?" tanya Archie sedikit cemas.
"Keadaan Nyonya Ceyasa baik-baik saja, tidak ada yang bermasalah dengan otaknya, mungkin dia hanya syok karena benturan di kepalanya, dan kelihatannya sebelumnya Nyonya Ceyasa juga pernah mengalami hal yang sama," kata dokter itu menjelaskan hasilnya.
"Pernah mengalami hal yang sama?" tanya Archie yang sedikit tak percaya, dia mengerutkan dahinya, membuat dokter yang sedang menulis status Ceyasa langsung melihat ke arah Archie.
"Ya, terlihat dari adanya garis yang sudah menyembuh, mungkin ini terjadi saat beliau masih kecil, dan kemungkinan benturan kepala yang dulu jauh lebih parah dari pada kali ini, namun tenang saja Tuan, sepertinya sudah sembuh sempurna, apa Nyonya tidak pernah mengatakannya?" tanya dokter itu sedikit penasaran.
"Tidak, kami baru saja menikah, dia tak pernah mengatakannya," kata Archie lagi mengerutkan dahinya lebih dalam, "Apa efek dari kecelakaannya saat kecil itu, Dok?" tanya Archie lagi.
"Saya tidak bisa memastikannya, karena saya tidak melihat seberapa parah cidera kepala yang di alami oleh Nyonya Ceyasa dulu, banyak yang bisa terjadi, namun jika semua saat ini normal, kemungkinan tidak ada efeknya, mungkin hanya akan sering sakit kepala, itu saja," kata Dokter menjelaskan.
Archie terdiam sebentar, melihat ke arah dokter yang dengan sabar menunggu Archie untuk mengeluarkan apapun yang ingin dia tanyakan lagi.
"Baiklah, terima kasih atas infonya dokter," kata Archie.
"Sama-sama, setelah Nyonya Ceyasa sadar, kita akan memeriksa kembali keadaannya," kata Dokter itu tersenyum.
"Dimana dia?" kata Archie memulai langkah.
"Lantai 5, ruang 5020, bagaimana keadaanya?" kata Gerald mengikuti langkah Archie yang segera menuju ke lift.
"Baik-baik saja, sudahkah kau memeriksa seluruh riwayat tentang Ceyasa?" tanya Archie lagi sembari masuk ke dalam liftnya.
"Sudah," kata Gerald mengerutkan dahi, sambil menekan tombol 5, pintu lift itu segera tertutup.
"Umur berapa dia mengalami cidera kepala?" kata Archie dengan wajah serius, melirik ke arah Gerald, Gerald segera mengerutkan dahi, sejauh yang dia baca, tidak ada sedikit pun mengenai hal itu.
"Cidera kepala?" kata Gerald segera mengambil ponselnya, kembali melihat data-data yang dikirimkan oleh orang yang dikirimkannya. Membaca seksama tentang semua hal tentang Ceyasa, namun dia yakin, hal itu tidak ada di dalam laporan itu.
"Kapan?" tanya Archie lagi.
__ADS_1
"Tidak ada, di sini tidak di sebutkan apapun," kata Gerald kembali mencari-cari.
"Itu artinya kau belum memeriksa semuanya, aku ingin kau mencari kapan dia mengalami cedera kepala? dan kenapa?" kata Archie lagi serius sambil keluar dari lift itu, dan segera melangkah menuju tempat yang Gerald arahkan.
"Baiklah, aku akan segera mencarinya," kata Gerald.
Gerald mendahului Archie dalam berjalan, dia segera membukakan pintu saat Archie hampir sampai di ruangan Ceyasa, begitu pintu terbuka, Archie langsung kaget melihat Ceyasa yang tiba-tiba bangun terduduk, wajahnya pucat, matanya menatap liar ke seluruh ruangan, dari wajahnya tampak mencekam, seolah dia baru saja mengalami sesuatu yang sangat mengerikan, membuatkan jejak-jejak trauma di wajahnya.
Archie yang melihat itu langsung bergegas mendekati Ceyasa, dia segera duduk di samping Ceyasa dan memegangi wajah Ceyasa yang tampak bingung, melihat ke segala arah, bahkan saat Archie melihatnya, Ceyasa seolah tidak sadar ada Archie di depannya.
"Ceyasa? Ceyasa?" kata Archie panik melihat wajah Ceyasa, wajahnya penuh dengan keringat dingin, mulutnya bergetar, namun dia kemudian melihat ke mata Archie, tak lama malah menangis. "Ada apa?" tanya Archie bingung, Ceyasa hanya langsung memeluk Archie, tubuhnya bergetar hebat.
"Dia, dia menatapku, wanita itu," kata Ceyasa yang masih terbata-bata, mengingat tatapan mengerikan yang kosong itu, wajah wanita itu, lumuran darah, luka tembakan, semuanya. Archie mendengar racauan Ceyasa hanya mengerutkan dahinya, wanita?
"Apa maksudmu?" kata Archie yang sedikit mendorong tubuh Ceyasa, ingin melihat wajah Ceyasa yang masih tampak pucat namun dia lebih menenang sekarang.
"Dia, dia melihatku, wanita dengan luka tembak, dia terkapar di sampingku," kata Ceyasa yang mencoba menghapuskan gambaran yang begitu jelas di kepalanya, seolah dia benar-benar baru ada di situasi itu, Archie terdiam, melirik ke arah Gerald yang juga menatap Ceyasa dengan kaget, Gerald langsung mengangguk kecil.
"Hei, sudah, sudah, itu hanya mimpi, tidak nyata," ujar Archie dengan lembut, menarik bahu Ceyasa, membawa Ceyasa untuk masuk ke dalam pelukannya, mencoba membuat wanita itu tenang dalam dekapannya, mengelus pelan rambut Ceyasa yang masih terasa lembab.
Ceyasa yang awalnya masih gemetar dan takut, perlahan tenang dalam dekapan Archie, cukup lama dia di sana, terselubung kehangatan dan mendengarkan detak jantung Archie yang teratur, membuat nada yang menenangkan bagi Ceyasa, lama kelamaan terbuai dengan semua kenyamannya.
Archie membiarkan Ceyasa tenang dalam pelukannya, membiarkannya selama mungkin ada di sana.
"Apa aku harus memanggil dokter?" bisik Gerald yang sebanarnya tak ingin mengganggu momen ini, namun dia merasa dia harus bertanya, Archie yang ingat perkataan dokter itu hanya mengangguk pelan, tetap berusaha agar Ceyasa tak terusik dalam pelukannya.
Gerald mengangguk, lalu menekan tombol untuk memanggil dokter, dan tak lama dokter datang.
"Kau sudah tidak apa-apakan? Sebentar, dokter akan memeriksamu, jangan takut aku akan tetap di sini menjagamu, genggam tanganku jika kau takut," bisik Archie pada telinga Ceyasa, terasa sangat halus hingga menyentuh hati Ceyasa, membuat rasa tenangnya lebih dan lebih.
Ceyasa melepaskan pelukkannya, hanya menghapus air mata dan sedikit mengangguk pelan, Archie segera berpindah tempat, mencari tempat di mana dia bisa tetap sedekat mungkin dengan Ceyasa tanpa harus mengganggu dokter, dan seperti janjinya, tangan mereka tetap terpaut selama pemeriksaan itu, Ceyasa menatap Archie yang ada di sampingnya, perasaan takutnya perlahan hilang, berganti rasa nyaman yang sangat nyata, Archie memberikan senyuman tipisnya, menggenggam erat tangan Ceyasa, berselimut kehangatan dari keduanya.
__ADS_1