
Jared yang berat hati terpaksa harus menyetujuinya, dia segera mengangguk.
"Aku akan siapkan air hangat, aku juga akan menyuruh pelayan membiarkanmu makanan," ujar Jared.
Baiklah, ehm, bolehkah aku meminta buah melon? tanya Suri masih dengan bahasa isyarat.
"Melon? sejak kapan kau menyukainya? bukankah kau tak suka baunya?" tanya Jared yang hampir ingin melangkah keluar, namun terhenti dengan permintaan aneh istrinya. Dari kecil Suri benci sekali makan melon.
Entahlah, hanya ingin saja, dan bisakan menambahkan buah kiwi? tanya Suri semangat dengan gerakan tangannya.
"kiwi? baiklah aku akan memerintahkan asistenku untuk membelikannya," kata Jared dengan wajah begitu penuh kerutan, namun dia tak ingin bertanya lebih jauh.
Suri mengangguk dengan semangat, entah kenapa membayangkan buah kiwi yang segar dengan airnya yang keasaman masuk ke dalam mulutnya yang terasa tawar itu sangat menyegarkan.
Jared hanya memperhatikan istrinya yang cukup lahap makannya, dia mengerutkan dahinya, sejak kapan Suri bisa menikmati buah melon seperti itu.
Suri menyisikan piring makanan yang sudah kosong, menatap Jared yang hanya diam saja menatapnya.
"Ada apa?" tanya Suri sedikit lancar.
"Tidak apa-apa, bagaimana keadaanmu?" tanya Jared yang meletakkan tangannya ke dahi Suri, sudah tak sehangat tadi,"demammu sudah turun," kata Jared.
"Ya, ehm .... " kata Suri yang merasa perutnya tiba-tiba bergejolak, dia menutup mulutnya, tanpa aba-aba turun dari kamarnya menuju ke kamar mandi mereka, Jared langsung cemas dan kaget melihat istrinya muntah-muntah di closet mereka, Jared berjongkok di sisi Suri yang mengeluarkan semua makanan yang sudah mengisi perutnya, Jared mengelus-ngelus punggung Suri.
"Aku tidak mau tahu, kita harus ke dokter setelah ini," panik Jared, Suri yang melirik sedikit ke arah Jared langsung kembali muntah, menguras semua isinya hingga membuat perutnya kembali kosong
Seperti perkataan Jared setelah Suri selesai mengosongkan perutnya, dengan segera Jared membawanya ke rumah sakit, bahkan Jared tidak mengizinkan Suri untuk mengganti baju, dia sangat cemas.
"Ibu aku akan membawa Suri ke rumah sakit," kata Jared menelepon Bella, melirik Suri yang cukup cemberut dan lemas karena dipaksa pergi ke rumah sakit, dia men-loudspeaker-kan ponselnya.
"Ada apa dengannya?" kata Bella cemas.
"Dia demam dan tadi muntah," ujar Jared.
__ADS_1
"Jangan-jangan ...." kata Bella sumringah.
"Jangan-jangan?" kata Jared bingung.
"Dia hamil?" pekik Bella senang, sudah menunggu begitu lama untuk menerima kabar baik itu, Aurora dan Nakesha sudah menjadi Nenek, dan mereka sangat bahagia dengan kehadiran Xander, Bella pun ingin merasakannya.
Jared mengerutkan dahinya, melirik ke arah Suri, Suri sedikit sensitif mengenai hal ini, beberapa bulan yang lalu bahkan dia sempat cukup depresi karena hasil pemeriksaannya selalu saja Negatif, mereka juga sudah pernah menjalani program, namun hasilnya nihil.
Suri melirik suaminya, dia segera menggerakkan tangannya.
Tidak mungkin, masih negatif, kata Suri yang merasa hal itu bukanlah kehamilan, karena baru 2 hari yang lalu dia tes, namun hasilnya negatif, ini mungkin dia kelelahan.
"Suri bilang tidak, dia sudah tes dan hasilnya negatif," kata Jared yang sekarang menjadi suara Suri.
"Oh, ya, baiklah, kalau begitu ibu akan ke sana," kata Bella mengulum kecewa, namun tak ingin dia tunjukkan, dia segera mematikan panggilan itu, sejenak bersiap diri dan segera pergi ke rumah sakit.
Dokter segera memeriksa Suri, karena suhu tubuhnya yang sedikit lebih tinggi dari yang biasanya, dokter menyarankan Suri untuk dirawat satu hari, ini karena Suri punya riwayat penyakit darah itu.
Dokter segera mengambil sampel darah Suri, dan memeriksanya, segala kemungkinan bisa terjadi, mereka hanya berharap Suri tak lagi kambuh.
"Jangan Cemberut seperti itu, setelah hasil darahmu keluar, dan tidak ada masalah, aku janji kita akan pulang," bujuk Jared pada Istrinya.
Suri hanya mengangguk, melirik ibunya yang sedang memotong buah apel untuknya, buah kesukaannya.
"Ini," kata Bella pada Suri, dia lalu memberikannya pada Angga yang ternyata sama saja, sibuk dengan urusannya yang sangat banyak.
"Aku suapi," kata Jared lagi, sekali lagi Suri mengangguk.
Jared tersenyum tipis, dia memberikan sepotong apel itu, namun baru saja Suri mengunyahnya, perutnya langsung kembali bergejolak, dia langsung menunjukkan sikapnya yang ingin muntah, memegang perut dan juga menutup mulutnya, Jared tanggap, mengambil wadah yang memang disiapkan oleh rumah sakit, dan membiarkan Suri untuk muntah yang sekian kalinya, membuat Jared dan Bella khawatir, bahkan Angga berhenti sejenak meninggalkan pekerjaannya.
"Kenapa hasilnya lama sekali? aku akan tanya pada Dokter," ujar Jared yang merasa istrinya tak membaik sama sekali.
"Baiklah," kata Angga.
__ADS_1
Jared segera ingin keluar namun baru dia membuka pintu, dokter tampaknya juga baru mau masuk ke dalam ruangan itu.
"Selamat sore Tuan Jared, saya membawakan hasil tes Nyonya Suri," kata dokter itu.
"Baiklah, aku sudah menunggu itu, dia muntah kembali, sepertinya keadaanya tidak membaik," kata Jared yang mengeluh tentang hal itu.
"Ya, tentu tidak akan membaik, maaf kami tidak bisa mengobati hal ini," ujar dokter itu berwajah prihatin, membuat Jared, Suri, Angga, dan Bella menekuk wajahnya, bagaimana bisa? Apa Suri kembali kambuh.
"Maksud Anda?" tanya Jared dengan suara sedikit meninggi terlalu cemas karena istrinya ini, jika terjadi lagi, entah Suri bisa bertahan atau tidak.
"Ya, Nyonya Suri harus merasakan hal itu minimal 3 bulan ke depan, karena saat ini yang dialami Nyonya mual karena kehamilannya, tak mungkin kami bisa mengobatinya, karena ibu hamil lebih baik tak mengonsumsi obat apapun," ujar Dokter itu dengan sumringah.
Suasana yang tadi tegang hening seketika, mereka terlalu cemas hingga tak bisa mencerna semua perkataan itu dengan baik.
"Maksudnya? Suri?" kata Bella yang menyadari pertama, dia sampai menutup mulutnya kaget, namun langsung tertawa kecil, senang sekali.
"Ya, Nyonya Suri hamil, kami memeriksa darahnya dan mendapatkan hormon hCG, itu menandakan Putri suri hamil, oh, tentang penyakitnya, sudah sembuh sempurna," kata Dokter itu senang bisa memberitahukan kabar bahagia ini, dia tahu bagaimana inginnya Suri dan Jared memiliki momongan.
Semua orang di sana masih tak percaya, mereka segera menatap Suri yang juga kaget.
"Tapi dia melakukan tes urin sebelumnya, dan hasilnya negatif," kata Jared.
"Tes Urin memang bisa dilakukan, namun dengan tes darah, hormon itu lebih cepat di deteksi, karena itu tes ini bisa mendeteksi padahal urin negatif," ujar dokter itu.
Bella langsung terpekik senang, dia segera memeluk anaknya, mencium pipinya, menatap wajah anaknya yang masih sedikit syok.
"Selamat ya, semoga semua lancar hingga kau melahirkan," ujar Bella menatap wajah anaknya, Suri mengangguk senang.
"Mulai saat ini jagalah dia dengan lebih, selamat untuk kalian berdua," kata Angga, masih begitu kaku, padahal dia sangat senang, sebentar lagi dia akan menyusul ke dua sahabatnya untuk menyandang status Kakek.
"Terima kasih Ayah," kata Jared.
Jared melihat ke arah Suri, tanpa segan dia memeluk istrinya itu, mengecup dahinya.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah memberikanku kado ulang tahun pernikahan kita yang paling indah, tolong jaga dirimu, kau dan dia yang terpenting bagiku sekarang," kata Jared, Suri hanya mengangguk, tangannya dan Jared saling bertumpu, mengelus perutnya yang masih rata. senyum tak bisa hilang dari wajah semua orang yang ada di dalam sana.